Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Yang penting miliki dulu, urusan cinta belakangan


__ADS_3

Rara, Reihan dan kedua anaknya kini berjalan menuju parkiran. Mereka sudah selesai mengunjungi tempat itu. Rara juga sudah membeli beberapa bahan-bahan yang ia perlukan untuk memenuhi janjinya pada Bulan dan bintang.


Di dalam mobil, Rara sedikit lebih banyak diam. Arah matanya hany tertuju pada jendela atau kaca depan sembari melihat ke arah jalan. Rara mengingat pertemuannya dengan Zayn tadi. Ia juga mengingat pertemuannya dengan Zac dan Zoey. Entah rasanya Rara rindu dengan anak kembar itu. Berada di dekat mereka terasa menyenangkan, belum lagi cara bicara mereka yang terlihat lebih dewasa dari usianya.


Reihan melirik sekilas ke arah Rara yang diam saja sedari tadi.


“Kamu baik-baik saja, Ra?” tanya Reihan, tapi seeprtinya Rara masih melamun dan tidak mendengar pertanyaannya.


“Ra, kamu baik-baik saja?” Reihan bertanya lagi, tapi Rara masih belum menjawab hingga dengan terpaksa Reihan menyentuh tangan Rara.


“Oh.” Rara terkejut karena sentuhan itu.


“Maaf, Ra. Dari tadi kamu melamun dan tidak menjawab pertanyaanku.”


“Oh, Maaf. Ya. Aku melamun,” jawab Rara sembari mengusap wajahnya.


“Mikirin apa?” tanya Reihan.


Rara memngerdikkan bahunya. “Entahlah. Aku juga bingung.”


“Kalau mau berbagi. Aku bisa menjadi teman untuk berbagi cerita.”


Rara menoleh ke arah Reihan dan tersenyum. “Terima kasih.”


Reihan pun membalas senyum itu, lalu kembali fokus menyetir.


****


Sesampainya di rumah Reihan, mereka beristirahat sebentar, tapi tidak dengan Rara. Wanita itu langusng menata belanjaan yang Reihan beli tadi.


Reihan bersama kedua anaknya masih bersantai di ruang keluarga. lalu, beebrapa saat kemudian, ia menyusul Rara ke dapur.


“Ra, istirahat saaj, sudahlah ngga usah di bereskan,” ujar Reihan.


“Aku juga dibantu Bibi kok, Mas. Ngga apa-apa.” Rea tersenyum pada maid Reihan.


“Iya, tapi aku sudah merepotkanmu selama satu minggu ini.”


“It’s oke, Mas. Aku juga suka repotin kamu,” jawab Rara.


“Besok, Ibu pulang? Siapa yang jemput?” tanya Rara.


Reihan mengangguk. “Iya, nanti aku yang jemput langsung. Kebetulan kerjaan lagi ngga padat. Kamu mau ikut?”


“Jam berapa?” tanya Rara lagi.


“Landingnya sih jam satu lima belas.”


“Berarti ibu ke bandara Jogja dulu?”


Reihan mengangguk. “Iya, di sana Ibu diantar keponakannya.”


“Oh. Tapi jam satu, aku masih ngajar Mas.”


“Iya sih. Ya udah besok izin dulu aja sekalian kamu istirahat dulu paginya. Nanti aku jemput kamu jam sebelasan.”


“Emang tidak apa izin?” rara melirik ke arah Reihan.


“Ya ngga apa-apa dong. Nanti aku yang minta izin langsung ke kepala sekolah TK.”


Rara tersenyum. “Enaknya punya temen pemilik yayasan.”


Reihan pun tertawa.


Di rumah Zayn. Mereka pun baru saja tiba di rumah itu. Michelle mengambil alih barang belanjaan dan merapihkannya di dapur bersama asisten rumah tangga Zayn.

__ADS_1


“Zayn, lu kenapa? Dari tadi diem aja.” Tanya Jack yang sedari tadi melihat bosnya murung.


Zayn dan Jack duduk di ruang televisi.


“Gue ketemu Rara, Jack,” ujar Zayn.


“Oh, ya? Di mana?”


“Di mall tadi.”


“Huft. Lu sama dia emang jodoh sepertinya, karena kemana pun lu berpijak, dia selalu saja ada.”


“Bahkan dia ada setiap ahri sama gue, Jack.” Zayn berkata lirih. “Zoey itu duplikasinya dia banget.”


“lu tahu, dia udah maafin gue,” kata Zayn lagi.


“Semudah itu?” tanya Jack melirik. “Lu pasti maksa kan?”


Zayn tertawa dan mengangguk.


“Dasar.”


“Ngga da pilihan gue Jack.”


“Terus?” tanya Jack lagi.


“Dia lagi sama Reihan dan anak-anaknya. Gue lihat mereka akrab banget. Gua iri Jack,” ujar Zayn.


“Reihan itu siapa?” tanya Jack lagi.


“Dia itu pemilik yayasan tempat Rara ngajar. Yang nolong Rara pas di hotel itu,” jawab Zayn.


“Kalau gitu deketin dia sekarang lah. Sebelum keduluan orang lagi.”


“Gue ngga percaya diri, Jack.”


“Nah itu yang gue ngga mau. Gue pengen dia mau nikah sama gue karena dia cinta sama gue, Jack.”


“Halah, terlalu idealis lu. Sekarang mah yang penting miliki dulu, urusan cinta belakangan.”


Zayn tersenyum. “Gila lu. Eh, tunggu. Jangan-jangan lu deketin adek gue dengan cara kek gitu.”


Jack hanya nyengir. “Dasar kadal.”


“Mending gue baru kadal, kalo lu kan udah jadi buaya.”


Mereka pun tertawa.


****


Setelah berada di rumah Reihan cukup lama dan membuiat kue bersama Bulan Bintang. Akhirnya Rara pamit pada Reihan untuk kembali ke apartemennya.


“Aku pulang ya, Mas.”


“Oke. Masih banyak ya Ra, buat semuanya. Terima kasih udah senengin Bulan dan Bintang,” ujar Reihan mengambil jaket dan helmnya.


Ia akan mengantar Rara menggunakan motor sport, mengingat letak ke aaprtemen itu tidak jauh.


“Sama-sama, Mas.”


Kebetulan Bulan dan Bintang sedang tertidur, karena seharian ini mereka beraktifitas dan cukup melelahkan.


“Mas ngga apa-apa anter aku pulang? Padahal aku bisa naik ojol aja,” kata Rara.


“Apaan sih, Ra. Ya harus aku anter dong! Aku ngga tanggung jawab banget kalau membiarkan kamu naik ojol.”

__ADS_1


Rara hanya tersenyum dan memakai helm yang Reihan berikan.


“Sini, aku pasangin.” Reihan memajukan tubuhnya untuk memasangkan helm pada kepala Rara dan mengaitkan benda itu agar tidak mudah terlepas.


Di luar pagar, Zayn tidak sengaja melihat kedekatan antara Rara dan Reihan. Ia sebenarnya ebrniat untuk mampir ke rumah Reihan sore ini, sekalian memebrinya sedikit oleh-oleh dari Paris. Namun, sepertinya ia harus pulang lagi, karena ternyata waktunya tidak memungkinkan.


Lagi-lagi hati Zayn kembali perih melihat Rara dekat dengan pria lain. Dahulu, ia merelakan Rara untuk kakanya, apa sekarang ia juga harus merelakan Rara untuk pria baik seperti Reihan yang juga sudah ia anggap seperti kakak sendiri? Apa ia harus melakukan apa yang Jack katakan dengan mengeksploitasi kedua anaknya demi mendapatkan Rara? Entahlah.


Zayn kembali melajukan motor sportnya, hingga suara motor itu membuat Reihan dan Rara mengalihkan pandangannya keluar pagar.


“Tadi ada orang?” tanya Reihan pada Rara.


Rara menggeleng. “Ngga tahu. Aku juga ngga lihat.”


Reihan hanya mengangguk, karena ia pun tidak melihat kehadiran orang di luar sana, atau ia memang tidak menyadari kehadiran siapapun karena tengah asyik bersama Rara.


Kemudian, Rara menaiki motor sport yang sudah Reihan tunggangi. Reihan melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Lima belas menit kemudian. Motor Zayn berhenti di lobby apartemen. Lalu, Rara turun dan membuka helm yang dibantu oleh Reihan.


“Makasih, ya.” Rara tersenyum pada pria tampan yang selalu menghargai Rara.


“Aku yang terima kasih.” Reihan tersenyum. “Makasih banyak, Ra. Kamu udah buat Bulan dan Bintang tertawa sekarang.”


Rara mengangguk. “Sama-sama. Aku juga seneng kok. Aku jadi ngga kesepian.”


“Syukurlah. Ya udah kalau gitu aku langsung balik ya. Istirahat, Ra.”


“Oke.” Rara kembali menganggukkan kepalanya.


Lalu, Reihan menyalakan kembali mesin motor itu dan pergi.


Rara memasuki pintu utama apartemen dan berlari ke arah lift yang tengah terbuka. “Tunggu.!’


Seseorang di dalam lift itu pun menahan pintu lift dengan menekan tombol di dalam sana.


“Terima kasih.” Rara tersenyum sembari menganggukkan kepala tanda hormat pada pria yang tengah berbaik hati untuk menekan lift itu agar pintunya tetap terbuka.


Pria itu pun tersenyum dan juga menganggukkan kepalanya.


Rara berdiri di depan persis pria itu sembari memainkan ponsel. Sedangkan pandangan pria itu tak lepas dari Rara. Pria itu terus melihat waajh Rara dengan seksama karena selama ini ia hanya melihat Rara dari sebuah foto.


“Ternyata benar, dia mirip sekali dengan Zoey," batin pria itu sembari tersenyum.


Rara yang merasa diperhatikan pun sedikit menoleh. Namun, dengan cepat pria itu berpaling agar tidak ketahuan bahwa dia tengah meneliti wajah wanita ini.


Mereka memang hanya berdua di dalam lift itu.


Ya, pria itu adalah Jack. Baru kali ini Jack melihat langsung wanita yang dipuja bosnya. Wanita ini memang cantik, jika harus diberi nilai dengan angka mungkin nyaris mendapatkan angka sepuluh.


“Pantas saja, Zayn begitu tergila-gila pada wanita ini,” batin Jack.


Tring


Pintu lift terbuka tepat di lantai emapt. Lantai yang sama dengan Jack. Lalu, mereka keluar bersama.


“Ternyata kita tetangga,” kata Jack pada Rara.


“Ah, iya.” Rara tersenyum canggung.


Lalu ia langsung pamit untuk berjalan terlebih dahulu dan Jack sengaja membuntutinya dari jauh. Setelah Rara masuk ke apartemennya, Jack langsung memoto nomor pintu itu dan mengirimkannya pada Zayn.


“Kau tahu, Zayn. Dia tetanggaku. Wanita yang kau puja. Ibu dari Zac dan Zoey.”


Tulis Jack melalu pesan whatssapp setelah foto terkirim. Lalu, Jack tersenyum. “Semoga kali ini, kalian berjodoh.”

__ADS_1


Jack tersenyum, ia cukup tahu bagaimana perjuangan Zayn membesarkan Zac dan Zoey di tengah dirinya yang juga merintis karir. Juga, bagaimana Zayn menahan rindu, cinta, dan rasa bersalah yang besar pada wanita itu. Untung saja ada keluarga yang ikut menemani masa-masa sulit itu.


__ADS_2