Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Semakin jauh


__ADS_3

“Aku siapin makanan untukmu, Kak.” Rara mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Reza. Namun, Reza tetap mengeratkan pelukan itu seolah tak rela bahwa membiarkan Rara pergi.


“Aku ingin seperti ini, sebentar lagi.”


Reza yang masih duduk di kursi kerjanya memeluk perut Rara dan menyandarkan kepalanya di perut Rara yang sedang berdiri. Sementara Rara hanya mematung, biasanya ketika dalam posisi seperti ini, Rara akan mengelus rambut hitam sang suami.


“Kata Papa, kamu belum makan dari semalam. Aku siapkan makan ya.”


Reza tidak menjawab. Ia masih menikmati aroma tubuh Rara sembari memejamkan mata. Sungguh ia rindu tubuh ini.


“Kak.”


Reza menengadahkan kepalanya dan menatap wajah Rara yang saat ini tengah menunduk dan membalsa tatapan itu.


“Kamu tidak mengusap kepalaku?” tanya Reza.


“Kak, aku siapin makan dulu ya. Kamu harus makan.” Rara mengalihkan pembicaraan.


“Kamu belum bisa memaafkanku?” tanya Reza lirih. Wajahnya terlihat sangat sedih.


Rara menarik nafasnya kasar. “Aku tidak tahu, Kak. Aku butuh waktu.”


Reza kembali memeluk erat perut Rara. Ia kembali menangis.


Tangan kanan Rara bergerak ke atas hendak mengusap kepala itu dan menenangkannya, tetapi tangan itu hanya sampai di udara dan diturunkan lagi. Entah mengapa ia enggan mengelus rambut itu. Apa cinta itu sudah hilang? Atau memang sebenarnya Rara tidak begitu mencintai Reza dan hanya mengaguminya saja, entahlah?


Cukup lama, mereka berada di posisi itu dan Rara tetap tak mengelus rambut Reza. Padahal Pria itu sudah menunggu saat-saat itu, saat dimana sang istri selalu menenangkan dirinya dengan mengelus kepalanya ketika berada di posisi ini di setiap Reza tengah bermasalah, karena tubuh dan tangan lembut itu selalu berhasil membuat dirinya tenang. Namun, sekarang ia tak merasakan itu. Ia merasa semakin jauh dari Rara.


“Kak.” Rara kembali berusaha melepaskan lilitan tangan Reza di perutnya. “Aku siapin makan ya? Nanti kamu sakit.”


“Apa dengan aku sakit, kamu mau memaafkanku? Kalau begitu biarkan aku sakit.”


“Tidak begitu, Kak. Kamu punya Noah dan anak yang tengah ada di rahim Man ...”


“Stop, Jangan sebut nama wanita itu ketika kita sedang berdua!” Reza memotong perkataan Rara.


“Tapi, Kak. Kamu sekarang punya mereka, darah dagingmu. Kalau istri masih bisa disebut bekas istri, tapi kalau hubungan ayah dan anak, tidak ada bekas anak atau bekas ayah. Mereka membutuhkanmu, Kak. Kehidupan mereka baru di mulai. Kalau kamu sakit, siapa yang akan membiayai hidup mereka? Mau jadi apa mereka nanti?”


Reza terdiam. Lalu, melepaskan pelukan itu.


“Aku buatkan kamu makanan. Sebentar.” Rara segera keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Sementara Reza hanya menunduk dan menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja itu sembari menarik nafasnya kasar. Kini, dirinya yang melakukan kesalahan. Si mister perfect kini juga melakukan kesalahan. Bahkan kesalahan yang mengahsilkan dua nyawa sekaligus.


Hah. Rasanya kepala Reza penuh dan ingin meledak. Ia ingin mempertahankan Rara tapi tidak bisa menceraikan Manda karena wanita itu tengah mengandung. Sungguh betapa bodoh dirinya pada waktu, melampiaskan kekesalannya pada istri kedua yang tidak pernah ia sentuh sejak mereka resmi menjadi suami istri walau hanya berdasarkan hukum agama saja.


Rara beralih ke dapur dan memasak nasi goreng sosis kesukaan suaminya.


Di sana, Kemal melihat Rara. Ia pun terenyuh, karena wanita secantik dan sebaik Rara harus bernasib tragis karena putranya.


Rara berkitat di dapur hingga masakan itu matang dan menyajikannya di piring. Tak lupa ia juga membuatkan teh lemon hangat untuk Reza. Rara menaruh makanan dan minuman itu di nampan bermotif buah. Ia menenggakkan sedikit wajah lurus ke arah sofa runag televisi. Ia melihat Kemal yang tengah memperhatikan gerakannya sedari tadi.


Kemal tersenyum ke arah menantunya. Begitu pun Rara. Wanita cantik dan lembut itu tersenyum dan mengangkat nampan itu serta membawanya ke ruang kerja.


“Terima kasih, kamu masih memperhatikan Reza. Setelah apa yang terjadi, kamu masih mau memperdulikannya,” ucap Kemal ketika Rara hendak melintas.


Rara hanya membalas dengan senyuman. Walau bagaimana pun, saat ini Reza masih suaminya. Rara masih memiliki kewajiban untuk melayani pria yang selalu mengucap kata cinta dan setia itu.


Rara masuk ke ruang kerja dan di sambut oleh senyuman Reza. Pria itu senang karena sang istri masih melayaninya.


“Ayo makan, Kak!”


Rara meletakkan nampan yang berisi nasi goreng serta teh hangat itu di meja kaca yang satu set dengan sofa di seberang kursi dan meja kerja Reza.


Reza bangun dari kursi kerjanya dan menghampiri Rara di sana.


Rara hanya tersenyum tipis. “Makan ya! Aku akan menyiapkan air hangat untukmu di kamar.”


Setelah meletakkan makanan dan minuman itu, Rara hendak keluar lagi dari ruangan itu. Namun, Reza memegang pergelangan Rara agar wanita itu tetap di sini.


“Aku ingin disuapi,” kata Reza dengan menampilkan mata memohon.


“Kak,” panggil Rara lirih. Sepertinya Rara enggan melakukan itu.


“Aku mohon.” Reza menampilkan lagi wajah memelasnya.


Akhirnya, Rara menyerah dan kembali duduk di sofa itu. Ia pun mengambil piring yang dan menyuapkan makanan itu ke mulut Reza perlahan. Tak ada kata yang terucap dari keduanya. Rara yang hanya menjalankan tugasnya memenuhi keinginan suami dan Reza yang tak lepas memandang wajah sang istri sembari tersenyum serta menerima suapan itu.


****


Rara menyiapkan pakaian Reza di dalam kamar sang suami. Ia masih berada di rumah Kemal. Sedangkan Reza masih berada di dalam kamar mandi.


Rara juga menyiapkan beberapa baju kerja yang akan Reza gunakan nanti saat ia sudah memasuki hari kerja. Ia sengaja menggantungkan beberapa setelan baju kerja di tempat yang mudah dilihat oleh suaminya. ia pun menyematkan dasi pada beberapa setelan pakaian yang tergantung rapih itu.

__ADS_1


“Ah.” Rara terkejut ketika pingganggnya terlilit kedua lengan yang memeluknya dari belakang.


Ya, pelakunya adalah Reza. Siapa lagi?


Rara menoleh sedikit ke arah Reza. “Kamu ngagetin, Kak.”


Reza menelusuri leher jenjang Rara. Namun, Rara sedikit menghindar dan berkata, “Kak, aku udah siapin baju kerja kamu di sini.”


Rara menunjuk baju kerja yang tergantung rapih.


“Mengapa harus disiapkan sekarang? Ini masih hari Jumat, sabtu minggu kan aku libur.”


“Karena setelah ini aku akan kembali ke rumah Bunda.”


Reza membalikkan tubuh istrinya. “Kamu tidak menginap di sini?”


Rara menggelengkan kepalanya. “Aku masih rindu kamarku.”


“Kalau begitu, aku yang akan menginap dirumahmu.”


Rara kembali menggeleng. “Jangan, Kak! Tolong, beri aku waktu sendiri. Aku masih ingin sendiri.”


Reza kembali lesu.


“Oh, iya. Biasanya kalau weekend, kamu kan menemui Noah. Aku sudah siapkan koper kecil di sana. Nanti baju kerja ini tinggal langsung dimasukkan saja.”


Mendengar perkataan Rara seperti itu, justru membuat hati Reza perih. Reza langsung menarik tengkuk Rara dan ******* bibirnya.


“Eum ...” lenguh Rara saat ia tidak sipa menerima ciuman Reza yang menuntut dan memaksanya untuk membalas.


Cup ... Cup ... Cup ...


Kecapan itu terdengar sedikit nyaring karena Reza tak hanya mencium bibir Rara, tapi seluruh wajahnya lalu memeluk tubuh itu. “Maafkan aku, Sayang. tolong Maafkan aku.”


“Sudahlah, Kak. Semua sudah terjadi. Bangunan yang sudah diruntuhkan, pasti akan butuh waktu lama untuk menjadi bangunan yang bagus lagi.”


Reza melonggarkan pelukan itu dan menatap wajah istrinya. Ternyata selama ini, Reza belum mengetahui sisi lain istrinya. Rara juga bisa marah ketika ia tersakiti dan saat ini, Reza sedang mendapatkan amarah dari wanita yang selama ini ia nilai lembut dan selalu memaafkan kesalahan orang lain.


Rara hendak pergi meninggalkan kamar itu dan kembali menuju rumah orang tuanya.


“Oh iya.” Rara kembali menoleh ke arah sang suami yang masih mematung di sana, sebelum menutup kembali pintu kamar itu. “Aku mau izin, besok aku ada acara rapat kerja di Lembang. Aku hanya memberitahu saja.”

__ADS_1


“Ta ...”


Baru saja Reza hendak protes, tapi pintu itu sudah di tutup kembali oleh Rara. Hilang sudah harga dirinya sebagai suami. Ia tidak memiliki kekuatan untuk menuntut Rara lagi. Semua ini karena kesalahannya.


__ADS_2