Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Maafkan aku, Ra


__ADS_3

Rara membawa Reza menuju ruang Unit Kesehatan Sekolah. Mereka berada di ruang itu berdua.


“Duduk, Kak. Sini aku obati lukamu!”


Rara meminta Reza untuk duduk dihadapannya. Lalu, ia menyiapkan alkohol dan kapas untuk membersihkan luka itu. Terlihat baretan panjang dan mengeluarkan sedikit darah di bagian siku dan lengan kanan Reza yang terluka karena goresan aspal.


Reza menurut dan duduk di depan Rara.


“Kamu ngapain sih, Kak? Masih aja nyariin aku.” Rara bersuara sembari mermeletakkan peralatan obat itu di meja yang berada di samping Reza.


“Aku rindu kamu, Ra.”


Rara menghela nafasnya. “Kak, please. Jangan mulai lagi!”


“Aku benar-benar rindu kamu, Sayang.” Tatapan Reza begitu lirih dan sendu.


“Kak,” panggil Rara untuk memperingatkan pria itu bahwa, kini mereka memiliki hidup masing-masing.


“Maaf. “ Reza menunduk. “Tapi aku tidak pernah bisa melupakanmu, Ra.”


“Kasihan Manda, Kak. Dia lagi hamil besar. Mereka butuh perhatianmu.”


Rara mulai memberikan alkohol pada luka itu.


“Aww ... Ssshh ...” Reza merintih kecil saat luka itu terasa perih.


Arah matanya tertuju pada Rara yang serius membersihkan luka di lengannya itu. “Jadi, kamu pindah ke sini untuk menghindariku?”


“Tentu saja. Bahkan aku meminta Pak Reihan untuk berbohong pada Bu Yasmin dengan mengatakan aku sudah resign.”


“Tega kamu, Ra.”


“Ini demi kamu dan keluargamu, Kak.”


Reza menggeleng. “Aku tetap ingin kamu, Sayang.”


Rara kembali menghelakan nasanya kasar. Sesekali ia melirik ke arah Reza yang tidak lepas memandangnya.


Rara fokus mengobati lengan Reza hingga terbungkus rapih. “Oke. Selesai!”


Rara segera beralih dari hadapan Reza dan mengembalikan kembali obat-obat itu pada tempatnya.


“Sayang, bisa kan kita balik lagi?” tanya Reza.


Rara melirik lagi ke arah Reza sembari menggelengkan kepala. Lalu, setelah ia menarik kursi dan duduk di hadapan Reza.


“Pernah kamu panggil Manda Sayang?” Rara balik bertanya.


“Tentu tidak. Sama sekali.”


“Bagaimana hubungan kalian? Kamu tidak pernah menyentuhnya setelah kita bercerai?”


Reza terdiam.


“Kamu menyentuhnya?” tanya Rara lagi.


“Hanya pelampiasan, setiap pria butuh itu, Ra.”


“Kalau begitu lanjutkan. Kakak membutuhkannya, membutuhkan Manda sebagai istri dan ibu untuk membesarkan anak-anak kakak.”


“Tapi aku juga butuh kamu,” ujar Reza.


Rara menggeleng. “Kamu ngga butuh aku, Kak. Kalau pun kita bersama, aku hanya figuran yang ngga ngapa-ngapain.”

__ADS_1


“Kamu bukan figuran, Ra. Kamu perempuan satu-satunya yang ada di hati aku.”


“Tapi kamu bukan pria yang ada di hati aku, Kak. Seharusnya aku sudah sadari itu sejak dulu,” jawab Rara dengan menatap kedua mata Reza.


Deg


Reza terkejut. “Maksudmu?”


“Aku salah mengartikan perasaanku. Mungkin karena saat itu aku masih remaja, jadi tidak bisa membedakan rasa cinta dan rasa kagum,” ucap Rara seraya menundukkan kepalanya, lalu kembali menenggak dan menatap Reza. “Ternyata sejak dulu, aku hanya mengagumi, Kak. Bukan cinta.”


“Ra.” Reza menggeleng. Matanya berkaca-kaca.


“Kalau cinta, pasti tidak akan semudah ini melupakanmu. Sedangkan ada orang lain yang sejak dulu tidak pernah bisa aku lupakan. Walau dia sudah berbuat kesalahan yang besar, tapi aku tetap tidak bisa membencinya.” Rara menangis.


Seketika, hati Reza ternyuh. Tangis Rara pecah dihadapannya. Baru kali ini Reza melihat Rara menangis. Bahkan saat ketuk palu dan hakim menyatakan mereka berpisah, tak sekalipun Reza melihar Rara menangis.


Kalau pun Rara menangis saat pertama kali mengetahui hubungan Reza dan Manda, itu hanya karena sedih telah dikhianati.


Reza memeluk tubuh Rara.


“Aku ingin membencinya, Kak. Tapi ngga bisa.” ucap Rara lagi.


“Maksudmu? Zayn?” tanya Reza mempertegas orang yang Rara maksud.


Reza melonggarkan pelukannya dan memegang kedua bahu Rara. “Kamu mencintai Zayn?”


Rara mengangguk. “Mungkin, sejak dulu. Dan aku baru menyadarinya sekarang.”


Airmata Reza pun tumpah. Pipinya basah seiring terpejamnya mata itu perlahan.


“Maaf, Kak. Maafkan aku,” ucap Rara.


“Harusnya aku menyadari itu dari awal,” jawab Reza.


“Kak, maafkan aku,” ucap Rara lagi.


Reza menggeleng. “Tidak apa, memang sudahs eharusnya kamu menjadi diri sendiri.”


Rara pun ikut mengangguk.


Dret ... Dret ... Dret ...


Tiba-tiba ponsel Rara berdering dan di sana hanya tertulis sebuah nomor, tidak ada nama pemiliknya yang tertera.


“Halo,” jawab Rara.


“Miss, bagaimana orang tadi? Apa dia tidak apa-apa?” terdengar suara remaja yang lembut.


“Ini?”


“Ini Michelle, Miss. saya dapat nomor Miss dari sekolah.”


“Oh, iya. Tidak apa-apa. Hanya luka ringan dan sudah Miss obati.”


“Oh, syukurlah. Terima kasih Miss. Zac dan Zoey merindukanmu.”


Rara tersenyum. “Miss juga. salam untuk si kembar.”


“Baik, Miss. sekali lagi terima kasih.”


Panggilan telepon itu pun terputus setelah masing-masing mengucap salam. Rar kembali memasukkan ponsel itu ke dalam blouse-nya.


“Mischelle menanyakan keadaanmu,” kata Rara.

__ADS_1


“Gadis yang menabrakku?” tanya Reza dan Rara mengangguuk.


“Zac dan Zoey muridmu?” tanya Reza lagi.


“Ya.” Rara mengangguk. “Mereka pintar dan menggemaskan. Kamu tahu, gaya mereka itu seperti orang dewasa.” Rara begitu antusias dan sumringah saat menceritakan Zac dan Zoey, tidak seperti ketika menceritakan muridnya yang lain.


Reza melihat itu. Ia pun ikut tersenyum. Sepertinya, ia tidak ingin egois lagi terhadap Rara. Tidak seharusnya ia mengorbankan kebahagiaan Rara untuk keegoisannya. Ya, mulai hari ini ia akan melepaskan mantan istrinya itu. Ia akan merelakan sang mantan untuk mencari kebahagiaannya.


“Ra.”


“Za.”


Keduanya sama-sama memanggil orang yang di hdapannya masing-masing.


“Kamu dulu.” Reza mempersilahkan Rara untuk bicara lebih dahulu.


Rara kembali menarik nafasnya panjang. “Manda sangat mencintaimu. Dia wanita sempurna, tidak seperti aku. Jangan sia-siakan dia, Kak! Sungguh kamu akan menyesal kalau dia pergi.”


Reza terdiam. Ia sadar bahwa Rara pun wanita sempurna, hanya saja dia tidak melahirkan anaknya.


“Kamu tadi mau ngomong apa?” tanya Rara mempersilahkan Reza bicara.


Namun, Reza malah menggeleng. “Tidak jadi. Lupa.”


“Dasar.”


Reza tersenyum. “Ya sudah, aku pulang. Senang melihatmu baik-baik saja.”


Rara pun ikut tersenyum dan berdiri dari kursi itu menuju pintu UKS dan membukanya. Reza mengikuti langkah Rara dan Rara emngantar Reza hingga sampai di parkiran mobilnya.


Mereka berjalan beriringan.


“Kita tetap bisa jadi teman?’ tanya Reza.


“Aku selalu menganggapmu kakakku, Kak. Dan, tetap akan seperti itu.”


Reza menoleh ke arah Rara dan kembali tersenyum.


Kaki Rara terhenti, saat sudah berada di depan mobil Reza. “Sampaikan salamku untuk Manda.”


Reza mengangguk sebelum ia masuk ke dalam mobil. “Akan aku sampaikan.”


Reza sudah berada di dalam mobil, memakasi sabuk pengaman dan mulai menyalakan mesin mobil itu Rea memundurkan mobilnya dan Rara masih berdiri di sana.


Lalu, Reza membuka kaca jendela. “Ra, Maafkan aku.”


Suara Reza tak terdengar hingga Rara sedikit maju mendekati kaca jendela itu. “Apa?”


“Aku minta maaf, karena aku terlalu terobsesi padamu. Aku memaksa tetap menikahimu, padahal saat itu Zayn bersedia bertanggung jawab.”


Rara terdiam. Ia tahu itu.


“Aku tidak memberi kesempatan Zayn untuk meminta maaf padamu dan bertanggung jawab. Aku memisahkanmu dengan orang yang kamu cintai. Aku juga memisahkanmu dengan buah hatimu. Maafkan aku.”


Seketika, Rara mematung. “Apa? Apa maksud perkataan itu? buah hati?”


Sementara Reza sudah menutup kaca jendela itu dan menjalankan mobilnya.


“Kak, apa maksudmu?’ teriak Rara sembari melambaikan tangannya.


Namun, Reza tetap tak berhenti walau ia melihat Rara memanggil dari kaca spion dalam. Tapi, ia tak bisa mengatakan itu karena hal itu terlalu menyakitkan untuknya dan untuk Rara nanti. Ia memang jahat. Seketika air mata Reza kembali jatuh dan ia mengusapnya kasar dengan tetap fokus pada kemudi setirnya.


“Maafkan aku, Ra.”

__ADS_1


__ADS_2