Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Mencintai dan dicintai


__ADS_3

Reza kembali ke Bandung. Ia pun kembali menempati apartemen. Sedangkan Manda masih tinggal di rumah minimalis yang ia belikan itu bersama Noah. Rumah itu memang sudah Reza belikan atas nama Manda. Sama seperti Rara yang juga mendapat sebuah apartemen mewah di Jakarta sebagai tempat tinggal mereka dulu sebelum Reza memiliki pabrik di kota kembang dan akhirnya mendua. Reza melakukan itu justru setelah beberapa bulan palu di sidang cerainya bersama Rara diketuk. Kemudian, ia memilih menetap di Bandung dan tinggal bersama Manda.


Reza memberikan hak itu pada Rara melalui Mia dan hingga sekarang apartemen pemberian Reza itu disewakan. Sebelum disewakan, Reza beberapa kali datang ke apartemen itu hanya untuk melepaskan kerinduannya pada Rara yang dikabarkan menghilang dan tak dapat ditemukan hingga Reza menyewa seorang detektif untuk mencari keberadaan mantan istrinya itu.


“Kami akan mengabari bapak secepatnya, jika hasil selesai,” ucap seorang wanita yang menggunakan seragam putih.


“Baik, terima kasih.” Reza mengangguk setuju.


“Yang penting ponsel bapak selalu aktif,” ujar petugas medis itu lagi.


Reza pun kembali mengangguk dan pergi dari hadapan petugas medis itu.


Saat ini Reza berada di sebuah rumah sakit. Ia baru saja menyerahkan sample darah dan rambut Noah kepada bagian yang berkepentingan di sana untuk di test dan disamakan dengan miliknya. Setelah menyelesaikan rangkaian aktifitas itu , Reza pun hendak kembali ke kantor.


Ketika ia berdiri di depan lift, arah matanya iseng menoleh ke kanan seteleh membalas pesan dari Vando, sekretaris Reza yang dipilihkan Kemal. Arah mata Reza, lama berada di sana, melihat seorang wanita yang ia kenal tengah berdiri di depan kasir.


“Essy,” gumam Reza memanggil nama mantan sekeretarisnya itu.


Tidak banyak yang ia tahu tentang Essy Pratiwi, sekretaris Reza yang satu itu memang sangat berbeda dari sekretaris wanita yang pernah ia miliki selama ini. essy adalah wanita yang cuek. Ia hanya bekerja dan tidak pernah macam-macam. Bahkan wanita itu tidak tampak menggida Reza, padahal sebelumnya Reza selalu berurusan dengan sekretaris yang genit dan berusaha mencari perhatian dengannya, tetapi Essy tidak. Ia murni hanya bekerja. Sempat terlintas dibenak Reza untuk memanfaatkan Essy saat ia sedang suntuk dengan pikiran dan rumah tangganya bersama Manda waktu itu, karena paras Essy juga lebih cantik dari Manda, menurutnya.


Reza mencoba memancing Essy untuk lebih dekat melalui chat whatsapp, tetapi jawaban Essy hanya datar dan hanya membalas seputar pekerjaan saja, karena ketika itu Reza pun hanya memberi pesan tentang pekerjaan saja. Pria itu berharap Essy menggodanya lebih dulu, tetapi nyatanya tidak.


“Tolong, Sus. Hari ini saya belum bisa membayar semuanya. Tanggal 28 saya baru gajian. Boleh menunggu sampai tanggal itu?” tanya Essy pada petugas di sana.


Essy yang sedang berinteraksi dengan petugas di sana, tidak memperhatikan kehadiran Reza yang berdiri tak jauh darinya.


Reza memperhatikan mantan sekretaris yang sekrang menjadi bagian administrasi itu. Ia pun mendengar percakapan Essy dan petugas medis itu dengan jelas. Namun, saat Reza hendak menghampiri wanita itu, tiba-tiba ponselnya kembali berdering dengan nama Vando yang terlihat di layar itu. Vando kembali mengingatkan Reza untuk segera datang ke kantor karena klien mereka akan segera tiba dalam lima belas menit. Bunyi dering ponselnya pun bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Alhasil Reza mengurungkan niatnya untuk menghampiri Essy dan memilih masuk ke dalam lift. Saat Reza sudah masuk ke dalam lift, wajah Essy pun menoleh ke arah lift. Ia merasa sedari tadi ada orang yang memperhatikannya. Lalu, Essy kembali mengarahkan wajahnya pada petugas medis di depannya.


****


Siang ini, di kota berbeda Zayn sedang menikmati makan siang bersama Sam dan Jack. Jack tengah berdiri mengantri untuk memesan makanan sekalian membayar makanan yang mereka pesan. Sementara Zayn dan Sam sudah duduk di kursi restoran itu. Zayn dan Sam sama-sama berkutat dengan ponsel masing-masing.


Namun, Zayn lebih dulu selesai dengan ponselnya. Kepala Zayn mendongak dan melihat ke arah Sam. Ia menatap wajah Sam dengan seksama, mencoba menyamai wajah Sam dengan Noah. Memang Sam memiliki bentuk dan bola mata yang sama seperti Reza. Sejak pertama Zayn bertemu pria ini, memang selalu membuat Zayn teringat akan sang kakak karena memang bentuk dan warna bola mata Sam dan Reza sama.


Walau Sam dan Reza tidak lahir dari rahim yang sama atau tidak dari darah yang sama tapi di planet ini memiliki jutaan miliar manusia, sehingga ada satu di antara mereka yang memiliki wajah yang sama atau mirip.


Pepatah di banyak negara menyebut kalau setiap orang itu punya doppleganger, kembaran yang tidak berhubungan darah, hanya mirip pada bentuk mata, hidung atau bentuk wajah saja. Dan Reza adalah doppleganger Sam.


Sam pun merasa diperhatikan Zayn, lalu ia juga mendongakkan kepalanya dan menatap mata Zayn.


“Ada apa sih sama gue?” tanya Sam dengan menunjuk dirinya sendiri. “Dari tadi lu liatin gue mulu. Jadi takut nih gue. Lu ngga lagi suka kan sama gue?”


Zayn tertawa. “Sarap apa gue? Di rumah ada yang cantik dan enak malah milih temapt buang hajat.”


Kedua pria itu pun tertawa lepas.


“Gue kirain.”


Zayn masih tertawa dan menggeerdikkan bahunya. Ia jadi geli sendiri membayangkan hal itu.

__ADS_1


“Terus kenapa lu liatin gue?” tanya Sam lagi.


“Gue mau kasih info penting buat lu. Lu masih nyariin mantan kasir di bar itu kan?” Zayn balik bertanya.


Sam mengangguk. “Masih lah.”


Tak lama kemudian, Zayn mengirim pesan pada ponsel Sam. Lalu, Sam pun langsung membuka pesan itu.


“Alamat siapa nih?” tanya Sam bingung.


“Cewek kasir bar itu.”


“Seriusan?” tanya Sam lagi dengan mata berbinar.


“Serius lah. Mana pernah gue bohong.”


Sam langsung berdiri dan memeluk Zayn yang tengah duduk di seberangnya.


“Thank you, Zayn. Thank you.” Sam memeluk kepala Zayn dan meciumnya. “I love you, so much ... much ... more.”


Kelakuan Sam pun mengundang orang-orang yang duduk di sekelilingnya untuk menoleh ke arah mereka. Tatapan orang-orang itu terlihat jijik, karena mengira Sam dan Zayn pelaku LGBT.


“Lepas, ah! Lu malu-maluin gue aja, Sam.” Zayn mendorong tubuh Sam untuk duduk kembali.


“Ya ampun kalian mesra sekali sih, gue kan jadi ngiri,” ucap Jack dari kejauhan sambil membawa nampan.


“Ah, ini lagi. Nambah reputasi gue semakin jelek aja,” ujar Zayn kesal.


“Lu seneng kenapa sih, Sam?” tanya Jack. “Tidur sama perawan lu?”


Sam tertawa. “Zayn ternyata tahu alamat cewek yang gue ceritain itu.”


“Petugas kasir bar yang lu perwanin empat tahun lalu?” Jack kembali bertanya.


Sam pun langsung mengangguk.


“Lu kenal, Zayn?” kini Jack bertanya pada Zayn sambil menoleh ke arahnya.


“Dia itu istri Reza kaka gue.”


“Apa?” Sontak Sam dan Jack terkejut.


“Jadi pengusaha kaya itu kakak lu? Oh my Good.” Sam menepuk jidatnya.


Zayn mengangguk. “Dunia sempit ya.”


Jack menggaruk kepalanya yang tak gatal. “kok bisa sih?”


“Terus ngapain lu kasih alamat rumah kakak lu ke gue. Lu pengen gue jadi pebinor?” tanya Sam.

__ADS_1


“Kakak gue udah ceraiin Sarasmanda. Sekarang dia juga lagi test DNA anak itu,” jawab Zayn.


“Anak?” Tanya Sam lagi.


Lalu, Zayn pun menceritakan kronologis pertemuan Reza dengan Manda, hingga akhirnya Reza menikahi wanita itu dan Manda menjadi penyebab perceraian Reza dengan Rara.


“Ya ampun rumit banget ya,” ujar Jack yang hanya menjadi pendengar.


Zayn tersenyum tipis dan mengangguk. “Gue akui, dengan hadirnya cewek yang lu cari itu, gue jadi dapetin Rara.”


Jack mengangguk sambil memakan makanannya.


“Tunggu! Jadi anak itu, anak gue?” tanya Sam.


“Gue enggak tahu. Karena kak Reza juga baru melakukan tes DNA minggu ini, kemungkinan hasilnya minggu depan.”


“Oh my Good.” Kedua tangan Sam memegang kepalanya.


“Makanya lu, jangan suka celap celup. Jadinya punya anak dimana-mana.” Ledek Jack yang memang dikenal dengan pria bersih.


“Si*l lu. Gue kan udah bilang kalau gue ngga pernah ga pake pengaman kecuali sama cewek itu.”


Jack tertawa.


“Zayn, gue jadi pengen cepet-cepet ke Bandung.”


“Lari lah lu ke sana,” jawab Jack.


“Beneran. Gue pengen banget liat anak gue. Pasti dia udah gede.”


Zayn mengangguk. “Ya. Dia sudah besar dan pandai bicara. Zac dan Zoey sering bermain dengannya.”


“Namanya siapa Zayn?” Sam terus bertanya.


“Noah.”


Sam mengusap wajahnya kasar. Akhirnya doa yang selalu ia panjatkan terkabul juga. Ingin rasanya ia menangis jika tidak sedang berada di ruang publik seperti ini.


“Jack, gue udah jadi bapak,” seru Sam pada rekan kerjanya itu.


“Gue izinin lu cuti beberapa hari, Sam. Lu urus urusan lu sampe selesai di sana,” kata Zayn bijak.


“Eh ga bisa, Zayn. Harus ada tenggang waktu. Dua hari, cuti lu dua hari,” sambung Jack.


“Tega lu, Jack.”


“Tiga hari dah,” jawab Jack lagi.


“Kenapa lu yang repot sih. Si bos aja ngizinin,” ucap Sam kesal dan Jack tertawa karena pria itu hanya meledek temannya saja.

__ADS_1


Zayn pun ikut tertawa.


Ternyata wanita malang itu memiliki seseorang yang mencintainya, terlihat dari cara Sam bercerita bahwa pria itu tulus mencintai Manda. Zayn pun berharap sang kakak menemukan kebahagiaannya. Zayn selalu berdoa agar Reza mendapatkan wanita yang mencintainya dan ia cintai.


__ADS_2