Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Curhatan Sam


__ADS_3

Reza tergesa-gesa memasuki lobby utama apartemen miliknya yang dulu menjadi tempat singgah bersama Rara ketika berada di kota ini.


“Mama ...” teriak Reza ketika memasuki apartemennya. “Mama ...”


Kemal pun muncul dan membentak putranya. “Apaan sih kamu, datang-datang teriak seperti orang kesetanan.”


“Mana Noah, Pa?” tanya Reza mendekati ayahnya.


“Lagi tidur sama Mamamu. Ada apa sih?” tanya Kemal.


“Noah bukan anakku, Pa. Selama ini Manda menjebakku,” ucap Reza.


Plak


Kemal menampar wajah putranya. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Reza. Ia cukup tahu putranya seperti apa? Dan, ia juga cukup menilai Manda selama ini selalu baik dan bisa bertahan dengan Reza yang sikapnya tak mengenakan sama sekali.


“Cukup Za. Papa mohon kamu harus realistis. Move on, Reza. Move on!” teriak Kemal yang kesal dengan putranya yang tidak bisa dinasihati. “Lama-lama kamu bisa gila kalau seperti ini,” kata Kemal lagi.


Kemal melihat gaya putranya yang acak-acakan.


“Ya, Pa. Aku memang sudah gila. Rara berhasil mengutukku menjadi seperti ini.” Reza pun tertawa sumbang, membuat Kemal mengernyitkan dahinya.


“Pa, ada apa ini?” tanya Mirna yang keluar dari kamar karena terganggu oleh suara ayah dan anak itu.


“Ma, sepertinya Reza sudah gila. Papa pusing melihat kelakuannya. Urus anakmu, Ma.” Kemal berjala ke arah sofa dan membantingkan tubuhnya ke sana. Ia menarik nafasnya kasar sambil melihat ke arah Reza dan Mirna.


Mirna mendekati putranya yang berantakan. Wanita paruh baya itu pun menyentuh tubuh putranya perlahan. “Kamu kenapa, Nak?” Mirna tak kuasa menahan tangis melihat putranya yang semakin tak karuan.


“Mama ...” Reza langsung memeluk tubuh ibunya. “Aku banyak dosa Ma. Pada Rara dan anak-anaknya. Sekarang aku menerima balasan karena telah memaksakan diri dan memisahkan ibu dan anak.”


Reza terisak di bahu ibunya. Baru kali ini Mirna melihat putranya sangat terpuruk dan baru kali ini, ia melihat Reza mengakui kesalahan.


Mirna mengusap punggung putranya yang lebih tinggi darinya. Reza sedikit membungkuk untuk memeluk tubuh ibunya. “Sudahlah, Sayang. Yang penting sekarang kamu harus bisa menata hidupmu kembali.”


Reza menggeleng. “Tidak bisa, Ma. Hidup Reza sudah hancur.”


“Belum, Sayang. jangan bicara seperti itu!”


Reza melonggarkan pelukan dan menatap wajah ibunya. “Mama tahu, Noah bukan anakku.”


Jedar


Mirna terkejut dan menoleh ke arah Kemal yang sedari melihat interaksi mereka. Kemal tampak menampilkan wajah yang sama tak mengerti dengan penuturan putranya.


“Reza menemukan buku harian Manda. Di sana dia menulis bahwa Reza bukan pria pertama yang menyentuhnya.”


“Tapi bukan berarti Noah bukan anakmu,” ucap Mirna.


“Reza yakin Noah bukan anak Reza, Ma. Perasaan Reza berkata seperti itu. karena ikatan Reza pada Noah tidak sedekat Zayn pada anak-anaknya.”


Mirna terdiam.


“Reza akan melakukan test DNA dan mengambil sample rambut Noah supaya lebih akurat.”


Mirna masih mematung. Sungguh, ia juga sama tak percaya seperti Kemal. Walau Mirna juga tidak menyukai Manda, tetapi secara fisik, tampang Manda tidak terlihat antagonis. Apalagi selama jadi istri Reza, wanita itu sangat penurut.


“Pa, bagaimana ini?” tanya Mirna ke arah suaminya.


Kemal menggelengkan kepala. “Entahlah. Papa pusing.”


Tak lama kemudian, ponsel Reza berdering. Namun ia mengacuhkan deringan ponselnya. Ia melangkah ke arah kamar tempat Noah yang masih terlelap sore ini.


“Za, teleponmu bunyi. Angkat dulu,” kata Mirna yang mengikuti langkah putranya dari belakang.

__ADS_1


Reza merogoh saku celananya dan melihat layar ponsel itu tertera nama Sarasmanda.


“Angkat dulu, Za,” kata Mirna lagi.


Namun, Reza enggan menjawab telepon itu. Ia sudah sangat benci wanita itu.


Setelah beberapa kali ponsel itu berdering. Reza tetap mengacuhkannya. Hingga tak lama kemudian, ponsel Kemal pun berbunyi.


Kemal langsung mengangkat telepon itu. “Apa? Iya, Bi. Saya akan ke sana.”


“Reza. Istrimu masuk rumah sakit. Ayo kita ke sana!” kemal mengajak putranya, tapi Reza hanya diam.


“Kenapa, Pa?” tanya Mirna panik.


“Tidak tahu, Ma. Tadi suara ART nya Reza.” Kemal segera memasuki kamarnya untuk mengganti baju.


“Za, ganti bajumu. Ayo kita ke rumah sakit!” pinta Kemal lagi pada putranya sebelum ia beralih ke kamar.


“Tidak, Pa. Aku tidak sudi melihat wanita itu.”


Reza geram dan berdiri di hadapan Reza. “Oke kalau kamu meragukan Noah. Tapi yang sedang dalam kandungan istrimu saat ini pasti anakmu.”


Reza terdiam. Ya, ia pun mengakui kalau anak yang sedang dikandung Manda kali ini memang benihnya, karena yang kedua, Reza memang melakukannya dengan sadar.


****


“Sayang, aku pulang terlambat malam ini,” kata Zayn di panggilan tele[pon melalui video call bersama istrinya.


Setelah libur panjang di sebuah hotel dengan pemandian air panas yang terletak di Gunung Pancar. Zayn membawa keluarga kecilnya ke Bandung, karena kebetulan ayah Zayn sedang bertandang ke rumah Clara untuk melihat keadaan mertuanya sekaligus putrinya, Michelle.


Kebetulan dua minggu ini Zac dan Zoey tengah libur semester. Begitu pun dengan Rara. Sebentar lagi, Zac dan Zoey akan memasuki sekolah Dasar.


“Kamu mau ke mana?” tanya Rara posesif.


Zayn tertawa. “Aku ngga bakal jalan sama model, Sayang.”


Rara cemberut. Ia memang pencemburu, apalagi profesi suaminya saat ini yang selalu dikerubungi wanita cantik dan sexy.


“Ck, jangan cemberut, Sayang. Nanti aku ngga bakal rela pulang malam.”


“Lagian ngapain sih pulang malam. Ayo ceept pulang ke sini!” rengek Rara yang membuat Zayn kembali tertawa.


Sungguh, Zayn gemas dengan tingkah Rara. “Sam ulang tahun. Dia merayakannya di sebuah club. Aku tidak enak jika tidak ikut.”


“Duh ... Club lagi. Kenapa harus di Club? Kenapa ngga di restoran aja sih?” tanya Rara.


“Iya, sekalian aja di Mcd supaya dapet balon.” Zayn tertawa, begitu pun Rara.


“Ih, kamu. Aku beneran. Atau di cafe gitu.” Rara masih menawar.


“Emang yang ulang tahun siapa, Sayang. Dia bookingnya di club. Ya mau ngga mau.”


Rara mendengus kesal.


“Aku ngga akan macam-macam, Sayang. Cukup satu macam aja.” Zayn menatap wajah Rara di layar ponselnya. “Yaitu kamu.”


“Hmm ...” Bibir Rara mencibir. “Gombal.”


“Kalau aku pulang, Jangan pakai apa-apa ya!”


Rara kembali mencibir. “Mau nya.”


Mereka pun kembali tertawa dan tak lama kemudian menyudahi komunikasi itu.

__ADS_1


Malam semakin larut. Zayn bersama tim nya memang tengah berada di kota ini untuk menyelesaikan proyek yang hanya satu sampai dua hari saja.


Zayn, Sam, dan Jack berkumpul di sebuah meja bar. Mereka bukan hanya bertiga, tetapi dengan beberapa teman yang lain yang sedang berjoget di sana.


“Hai, Sam. Lama sekali kau tidak ke sini,” ujar seorang wanita dengan pakaian super sexy menempelkan tubuhnya pada tubuh Sam yang tengah duduk bersama Jack dan Zayn.


“Hai.” Sam tersenyum.


Club ini memang club langganan Sam sewaktu dulu. Tetapi saat ia terbang ke Paris empat tahun lalu untuk menimba ilmu dan pengalaman di sana, ia tak lagi menginjak tempat ini. Oh, ralat. Beberapa hari setelah ia berada di negara ini untuk ikut kerja bersama Zayn, ia pernah mendatangi Club ini dan menanyakan seorang wanita yang tidak pernah lupa dalam ingatannya.


“Kamu tidak merindukanku?” tanya wanita bayaran itu.


“Not this time,” jawab Sam sambil melirik ke arah Zayn dan Jack.


“Oke.” Wanita itu pun pergi.


Zayn menggelengkan kepalanya. “Sampai kapan lu kaya gini, Sam. Ngga takut penyakit apa?”


Jack tertawa.


“Gue selalu pakai pengaman kalo sama mereka kecuali satu.”


“Jangan bilang itu Cellin,” celetuk Jack.


“Ngga lah. Gue ngga pernah tidur sama dia. Doi mau nya tidur sama Zayn.”


Pria itu tertawa, diiringi tawa Jack. Sedangkan Zayn hanya menggelengkan kepalanya lagi.


“Sepertinya lu bakal berhenti, kalau udah ngerasain perawan. Right?” tanya Zayn membuat Sam menghentikan aktivitasnya yang hendak meminum minuman beralkohol itu.


“Pengalaman ya Zayn<’ ledek Jack pada Bos sekaligus sahabatnya.


“Sepertinya begitu. Lu bener banget Zayn. Gue ngga bisa lupain dia. Mungkin ini yang lu rasain ke istri lu.”


Zayn mengernyitkan dahinya. “Jangan bilang, lu pernah merawanin orang!”


Sam mengangguk lemah. “Empat tahun lalu, persis sebelum gue berangkat ke Paris. Gue maksa seorang cewek yang kerja di Club ini. Dia memakai seragam kasir. Malam itu pasti menjadi malam naasnya dia, karena dia ada di depan gue yang lagi kena obat perangsang.”


Zayn dan Jack mendengar curahan hati Sam. Pria yang terkenal cuek dan tak pernah serius ini ternyata memiliki sisi serius.


“Terus?” tanya Jack.


“Waktu itu gue sama temen-temen lagi merayakan kepergian gue ke Paris. Eh dasar temen kurang ajar. Mereka malah ngerjain gue dengan ngasih obat perangsang di minuman gue. Terus gue lihat cewek itu dan gue langsung tarik dia ke kamar.”


Saat itu, Sam melihat petugas kasir yang baru saja selesai bekerja di tempat itu. wanita petugas kasir itu memang selalu pulang dini hari, karena wanita itu harus menghitung dan membuat laporan pendapatan hingga club itu tutup.


Tiba-tiba Sam memanggul wanita itu seperti karung beras dan memasukkannya ke dalam kamar. Saat itu, Sam memang tidak bisa menahan hasratnya. Ia pun mengambil wanita mana saja untuk menjadi pelampiasan. Saat itu, ia juga mengira bahwa wanita itu adalah kasir plus-plus yang juga bisa digunakan. Ternyata, Sam salah. Wanita yang ia gunakan masih perawan.


“Sesampainya di sini. Gue langsung cari cewek itu. dan menurut informasi, doi udah nikah sama pengusaha muda.”


Jack tergelak. “Sukurin.”


Sam menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Siapa nama wanita itu, Sam?” tanya Zayn santai setelah menyecap minumannya dan menaruhnya kembali ke meja itu.


“Sarasmanda. Ya, gue ga bakal lupa nama itu.” Sam memutar jarinya di ujung gelas miliknya. “Nama itu tercantum di pin seragam wanita itu sebelum gue membuka paksa bajunya.”


“Gila lu,” ucap Jack.


Kening Zayn berkerut, ia seperti mengenal nama lengkap itu, karena yang Zayn tahu nama istri kakaknya adalah Manda saja. Namun, Zayn pernah mendengar Rara menyebut nama panjang wanita yang pernah jadi madu istrinya dulu.


“Sarasmanda,” gumam Zayn, mengingat nama yang tak asing di telinganya

__ADS_1


__ADS_2