Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
welcome to Jakardah


__ADS_3

"Miss Rara, Bintang menyembunyikan penghapusku.” Gadis kecil itu merengek dan mengadu pada gurunya.


Rara tengah berada di kelas, menjadi guru dari lima belas anak yang ia ia pegang dengan usia empat sampai lima tahun.


Rara berdiri dan menghampiri gadis Bintang dan gadis kecil itu.


“Bi,” panggil Rara lembut pada anak laki-laki yang sangat jahil itu.


Dia adalah anak sulung Reihan.


“Bintang tidak sembunyikan penghapusnya, Miss.” Bocah lelaki itu membulatkan matanya di depan gadis kecil yang mengadu tadi. ”Uh, dasar pengaduan.”


Gadis itu pun cemberut dan ingin sekali menangis.


Rara berjongkok di hadapan Bintang. Ia mengambil tas Bintang. Namun, tidak ada benda itu. lalu, Rara meraih etmpat pensil Bintang, tapi dengan cepat Bintang menahannya.


“Miss ngga boleh buka sembarangan benda milikku.”


Rara tersenyum. “Kamu juga tidak boleh mengambil milik orang lain.”


“Bintang tidak mengambil penghapus itu,” ujarnya beralasan.


Bintang memang cukup di kenal liar dan susah diatur. Anak sulung Reihan ini pun suka menangisi teman-temannya yang lain. Bukan hanya jahil, ia pun tidak bisa diam walau sejenak. Keaktifannya membuat teman-teman di kelasnya terganggu. Padahal khusu untuk Bintang, Rara sudah memberi tugas lebih agar anak itu tenang mengerjakan tugasnya, tetepi entah mengapa dia selalu pertama mengumpulkan tugas dan hasilnya pun tidak asal-asalan.


“Pasti ada di tempat pensilnya, Miss.” Bulan, adik Bintang yang usianya berbeda satu tahun dua bulan itu pun berujar.


“Bulan,” teriak Bintang memperingatkan pada sang adik.


Akhirnya, Rara tetap mengambil tempat pensil Bintang dan anak lelaki itu hanya diam.


“Ini apa, Bi?” tanya Rara sembari memegang penghapus berbentuk lolipop yang dipastikan bahwa benda itu milik gadis kecil yang mengadu tadi.

__ADS_1


“Itu punyaku. Itu punyaku,” kata gadis kecil itu sumringah.


“Bisa kamu yang memberi ini pada Khanza dan minta maaf,” kata Rara lembut pada Bintang.


Dua minggu mengajar di kelas ini, membuat Rara semakin mengetahui karakter ke lima belas anak-anak di dalam ruangan ini, termasuk anak-anak Reihan.


Bintang menggelengkan kepala.


“Kenapa?”


“Karena Bintang tidak suka. Gayanya sok, mentang-mentang memiliki penghapus bagus. Dia selalu memamerkan benda ini, Miss. Makanya Bintang ambil.”


Rara tersenyum. “Tetap itu tidak benar, Bi. Ayo kembalikan pada Khanza.”


Bintang terdiam. “Ayo! Kemarin Bintang sudah janji sama Miss, akan bersikap baik selama satu minggu ini. Jika tidak, maka ...”


“Ya, ya. Akan Bintang kembalikan.” Bintang langsung ebrdiri dan menyerahkan penghapus itu dari ada harus pindah kelas, lalu tidak lagi diajarkan oleh Rara, lebih baik ia mengembalikan benda itu, karena begitulah perjanjian tertulis antara Bintang dan Rara.


Bibir Rara kembali menyungging senyum. Untuk menjinakkan anak seperti Bintang memang harus konsisten, jika Rara sedikit saja melakukan kesalahan, maka kesalahan itu akan menjadi senajat Bintang untuk membenarkan diri ketika melakukan kesalahan.


Di Bandara, Zayn dan Michelle baru saja tiba. Zayn pun membawa putra putrinya yang duduk di troli barang yang di dorong olehnya dan sang adik. Mereka membawa empat koper, juga beberapa oleh-oleh untuk diberikan pada tetangga di sebelahnya.


“Akhirnya, aku akan tinggal di sini,” ucap Michelle senang.


“Ya, tapi kamu harus jaga diri.”


“Iya, kakaku sayang.” Michelle menggandeng satu lengan kakaknya dan menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak sebentar, sebelum ia mendorong troli itu lagi.


Zayn mengelus sebentar rambut sang adik dan tersenyum. Walau mereka berbeda ibu, tetapi mereka sangat dekat hingga orang yang tak mengenal Michelle akan mengira bahwa Michelle adalah kekasih Zayn. Begitu pun Michelle. Banyak teman-temannya yang tidak mengenal Zayn menyangka bahwa Zayn adalah kekasih Michelle. Di tambah, Michelle sangat dekat dengan kedua anak Zayn dan wajah Michelle pun lebih boros dari usianya.


Mereka berjalan menuju lobby Bandar. Mereka tampak seperti keluarga kecil bahagia.

__ADS_1


“Welcome to Jakardah,” teriak Jack yang menunggu di depan lobby dengan membentangkan kedua tangannya ke arah Zayn.


Asisten Zayn itu memang sudah lebih dulu berada di kota ini. Ia sengaja menyiapkan segala sesuatunya di sini, sebelum Zayn tiba.


“Jack.” Zayn berjalan cepat menuju asistennya itu dan mereka berpelukan.


“Hai Jack.”


“Hai Jack.”


Zac dan Zoey melambaikan tangan kepada rekan kerja sang ayah.


“Hai boy.” Jack mengacak-acak rambut Zac dan segera dibenarkan rambut yang berantakan itu oleh pemiliknya. Lalu, Jack beralih pada Zoey dan mencubit pipi bulat itu. “Hai princes.”


“Aww, jangan cubit pipiku, Jack.” Protes Zoey.


Sedangkan Zayn dan Jack hanya tertawa.


“Kau tidak menyapa Michelle,” kata Zayn meledek.


Pasalnya sang adik dang asistennya itu seperti minyak dan air. Keduanya selalu saja bertengkar ketika bertemu.


Jack menatap ke arah Michelle yang sengaja memalingkan wajahnya hingga akhirnya menatap ke arah jack yang masih tetap menatap wajah Michelle.


“Apa?” tanya Michelle pada Jack seperti orang yang tengah mengajak perang.


Jack tersenyum. “Bukankah kita sudah damai?”


Jack mengulurkan tangannya pada Michelle.


“Cih, aku belum bisa memaafkanmu. Karena kamu, aku jadi putus dengan Justin.”

__ADS_1


Zayn dan Jack tertawa dan saling melirik.


Zayn memang tidak suka adiknya berpacaran dengan pria yang katanya paling terkenal di sekolah Michelle. Tetapi karena satu insiden itu, Michelle pun putus dengan kekasihnya dan dua hati kemudian posisi Michelle sudah digantikan oleh wanita lain. hal itu membuat Michelle kesal dan pergi ke kota ini, mengikuti sang kakak.


__ADS_2