Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Pemiliknya sudah mengizinkan


__ADS_3

“Mommy ...” teriak Zoey dan Zac bersamaan.


Mereka berlari ke arah dapur untuk menghampiri sang ibu yang tengah menyiapkan sarapan pagi bersama si Bibi.


Zac dan Zoey berlari dan langsung memeluk erat pinggang sang ibu.


“Oww ...” Rara tertawa mendapat serangan dari kedua anaknya yang menempel, padahal saat ini ia sedang menumis capcay sesuai permintaan Zoey.


Rara melepaskan alat masak yang tengah ia pegang tadi untuk menumis, lalu mengusap kepala Zac dan Zoey. Ia mengecilkan api di kompor itu.


“Anak Mommy, pagi-pagi sudah bangun.”


“Zoey ingin berenang, Mom.”


“Zac juga.”


“Boleh, tapi sarapan dulu. Oke!” sahut Rara.


“Tapi Mommy ikut!” pinta Zac menengadahkan kepalanya mengarah ke wajah Rara.


“Iya, Mom. Ayo temani kami!” pinta Zoey dengan posisi yang sama.


Anak kembar yang tingginya masih sepinggang Rara itu merengek sambil memeluk erat kedua sisi pinggangnya.


“Hmm ... Mommy sudah mandi, Sayang.”


“Yah.” Zac dan Zoey menampilkan wajah sedihnya.


Rara berpikir, sebenarnya ia malas sekali berenang pagi-pagi, tapi melihat wajah Zac dan Zoey yang memelas membuatnya tak tega.


Pagi ini, Rara hanya menggunakan kaos yang longgar dan panjangnya hanya sampai menutupi bagian bulat belakangnya saja. Ia tak menggunakan celana pendek atau bawahan lagi. Kerah kaos itu pun tampak kebesaran hingga menampilkan bahu kanan Rara yang mulus dan memperlihatkan tali Bra yang berwarna ungu. Kaos Rara yang berwarna putih menerawang itu mencetak jelas pakaian d*l*m Rara yang berwarna ungu. Entah mengapa ia senang menggoda Zayn dengan menggunakan pakaian sexy di depan suaminya.


“Daddy belum bangun?” tanya Rara sambil kembali memasak.


“Nanyain aku? Kangen ya?” tiba-tiba tangan Zayn langsung melingkar di leher istrinya dan mengecup kepala Rara.


Rara tersenyum sambil memegang lengan kokoh Zayn yang berada di lehernya. Ia dikerubungi oleh anak dan suaminya. Zac dan Zoey yang memeluk pinggangnya dan Zayn yang memeluk lehernya dari belakang.


Si Bibi hanya tersenyum melihat kebahagiaan keluarga kecil ini sambil menyiapkan bahan makanan yang lain.


“Dad, temani Zac dan Zoey berenang ya!” kata Rara.


“Mom, aku ingin berenang dengan Mommy,” ujar Zac.


“Aku juga,” sambung Zoey.


“Aku juga, Mommy,” ucap Zayn tak mau kalah dengan nada seperti Zac dan Zoey.


“Apaan sih, kamu ikut-ikutan.” Rara memukul lengan Zayn, membuat pria itu tertawa dengan bibir yang menempel pada rambut istrinya.


“Daddy ingin mandi bareng Mommy,” kata Zayn ditelinga Rara dan mengecup daun telinga itu, membuat Rara meremang.


“Zayn,” panggil Rara lirih. Namun untuk Zayn suara lirih itu terdengar sensual.


“Udah, Mom. Masakan biar Bibi yang lanjutin. Mommy temenin Non Zoey sama Den Zac saja,” ucap si Bibi yang sigap menggantikan posisi Rara di dapur, karena suami dan kedua anak itu terus menggelayuti tubuh Rara.


Rara mematikan kompor dan membalikkan tubuhnya. “Oke, ayo kita berenang!”


“Yeaay ...” teriak senang Zac dan Zoey yang langsung berlari ke arah kolam renang yang letaknya tak jauh dari ruang makan.


“Yeaay ...” Zayn pun berteriak senang menirukan kedua anaknya.

__ADS_1


Rara menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat ke arah Zayn.


“Ayo, Mom!” Zayn menarik tangan Rara menuju kolam renang.


“Tunggu, celemekku belum dibuka.”


Zayn membantu membuka kain untuk masak yang melekat di tubuh istrinya dengan tergesa-gesa. “Bajunya sekalian dibuka?” tanyanya.


“Ish mesum, malu sama Bibi.” Rara menoel pipi Zayn hingga bergeser ke kanan.


Zayn pun tertawa, begitu juga si Bibi.


“Maaf ya, Bi. Tolong lanjutin masaknya.” Rara menyerahkan celemek itu pada si Bibi.


“Iya, Mom. Beres. Yang penting si Daddy dimandiin dulu,” ledek si Bibi, membuat Rara tertawa.


Rara berdiri di depan kolam renang, lalu membantu Zac dan Zoey memakai paju renangnya.


Byur


Zac dan Zoey langsung turun dan menceburkan diri di sana. Rara masih berdiri hingga tubuhnya dipeluk Zayn dari belakang. Sebelumnya, Zayn memperhatikan lekuk tubuh sang istri dari belakang. Rara terlihat begitu sexy dengan kaos yang ia kenakan saat ini. Apalagi ia tidak mengenakan bawahan, membuat kaki jenjang nan mulus itu terpampang sempurna.


“Kamu sexy sekali, Sayang.” Zayn memeluk erat pinggang Rara dari belakang dan menempelkan bibirnya di telinga Rara.


Rara tersenyum dan menoleh ke arah Zayn. “Kamu suka?”


“Tentu saja. Aku menyukai semua yang ada padamu.”


Rara tersenyum dan kembali melihat ke arah Zac dan Zoey di sana. “Kalau begitu aku akan berpakaian seperti ini di rumah.”


“Oh, aku pasti tidak akan tahan nanti.” Zayn merintih karena miliknya kembali bereaksi dan Rara pun merasakan itu.


“Itu namanya menyiksa, Sayang. kalau dulu selama lima tahun aku kuat karena tidak ada kamu. Kalau sekarang aku tidak yakin akan kuat. Ini sangat menggoda, Sayang.” Tangan Zayn berani meremas dua gunung kembar milik Rara yang padat dan kenyal.


“Ah, Zayn. Tanganmu nakal.” Rara menerima sentuhan itu dan hal itu membuat Zayn tersenyum.


“Daddy ... Mommy ... Come on!” teriak Zoey dari dalam kolam yang luas itu dengan banyak pancuran air kecil-kecil di sisi sisinya.


Zac pun berteriak mengajak ayah dan ibunya bergabung bersama mereka.


Kedua tangan Zayn berada di ujung kaos Rara dan langsung membuka kaos itu.


Srek


Seketika, tubuh Rara terpampang sempurna yang hanya dibalut oleh Bra dan segitiga pengamannya saja.


“Zayn,” teriak Rara sembari memegang gunung kembarnya yang tampak terlihat belahannya itu.


Zayn tersenyum. “Kamu cantik, Sayang.”


“Zayn, Ih, nyebelin.” Rara memukul dada bidang suaminya. “Balikin kaos aku.”


“Ngga. ayo nyebur!” Zayn melempar kaos Rara sembarang dan ia langsung masuk ke dalam kolam.


Kini, Zac, Zoey, dan Zayn sudah berada di dlam kolam renang. Mereka berteriak memanggil Rara untuk masuk ke dalam bersama mereka.


“Ayo, Sayang. tidak apa seperti itu,” teriak Zayn ke arah Rara karena Rara masih berdiri menutupi tubuhnya yang terbuka.


Rara sungguh malu. Namun, beberapa saat kemudian ia pun berani dan turun ke kolam itu, lalu bergabung bersama suami dan anak-anaknya.


Mereka tertawa bermain bersama di dalam kolam renang itu.

__ADS_1


Zayn memperhatikan istrinya yang sedang tertawa bersama Zac dan Zoey. Sungguh, ia benar-benar tak tahan dengan pemandangan ini. Rara yang sexy, Rara yang cantik, Rara yang tertawa mempesona, membuatnya ingin mencium bibir itu dan memakannya habis. Jika bukan karena cintanya yang besar pada sang istri, mungkin sejak semalam ia langsung menerkam tubuh itu.


Rara menoleh ke arah Zayn dan merasakan pandangan Zayn yang tak beralih darinya. Rara mendekati suaminya, hingga tubuh mereka benar-benar dekat.


“Kok ngga berenang lagi,” kata Rara.


Zayn tersenyum dan melingkarkan tangannya pada pingga Rara yang berada di dalam kolam. “Aku ingin menciummu, Sayang. Boleh?”


Rara tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Zac dan Zoey. Ia pun melihat anak-anak itu tengah asyik bermain berdua dan tak menghiraukan keberadaan orang tuanya.


Cup


Melihat kondisi yang kondusif, Rara langsung mencium sekilas bibir Zayn.


Zayn tersenyum lebar hingga jejeran giginya pun terlihat. Ia mendekatkan wajahnya lagi pada sang istri.


“Bukan begitu caranya berciuman.” Tangan Zayn menahan tengkuk Rara dan ******* bibir itu.


Rara pun membuka mulutnya, membiarkan Zayn mengeksplore semua yang ada di dalam sana. Zayn menyesap lidah Rara, memakan bibir bawah dan atas istrinya dengan rakus. Tangan Zayn pun mulai berani bergerilya di bagian-bagian sensitif tubuh itu, membuat Rara semakin hanyut.


Ciuman Zayn benar-benar buas. Namun, Rara berusaha mengimbangi ciuman itu. Rara merasakan perbedaan yang sangat jauh antara suaminya dulu dengan suaminya sekarang.


“Mmpphh ...” gumam Rara yang merasa pasokan oksigennya sudah sangat menipis.


Zayn melepaskan pautan itu.


“Ah, Hmm ...” Rara menetralkan jantung dan deru nafasnya yang tersengal sengal. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Zayn melihat ke arah Zac dan Zoey yang masih asyik bermain tanpa menoleh ke arah orang tuanya di sudut kolam itu.


Zayn tersenyum menatap Rara yang masih tersengal.


“Kamu jahat Zayn, aku kehabisan nafas,” kata Rara.


“Bibirmu enak, Sayang. Strawberry. Aku jadi ngga bisa berhenti.”


Tubuh mereka masih menempel dan jari Zayn mengusap sisa saliva di bibir Rara.


“Sepertinya, aku memiliki suami yang jago berciuman. Sudah berapa bibir yang kamu perlakukan seperti ini?” tanya Rara dengan menaikkan alisnya.


“Hmm ... berapa ya? Sepertinya tak terhitung,” jawab Zayn bohong.


Walau ia memang beberapa kali berciuman dengan lawan jenis. Namun, hanya kali ini ia begitu buas dan ganas.


“Zayn, aku beneran tanya,” rengek Rara.


“Aku juga beneran jawab,” ledek Zayn.


“Bohong.”


Zayn tertawa. Ternyata Raar sangat mengenalnya. Ia memang tidak mungkin melakukan hal ini pada wanita manapun selain wanita yang sedang berdiri dekat dihadapannya ini.


Zayn kembali mendekatkan wajahnya pada Rara hingga hembusan nafas keduanya saling menerpa. “Ya, aku bohong. Ciuman seperti ini hanya padamu.”


Rara tersenyum.


“Boleh aku meminta ciuman seperti ini kapan pun yang aku mau?” tanya Zayn.


Rara menganggukkan kepalanya pelan. “Bibir ini milikmu. Kamu boleh memainkan sesukamu.”


Zayn tersenyum lebar. Hah, kalimat itu terdengar indah. Satu gerbang sudah terbuka karena pemiliknya sudah mengizinkan Zayn masuk ke pekarangannya, tunggu hingga Zayn diizinkan untuk memasuki rumah itu ke bagian terdalam. Dan, Zayn akan sabar menanti.

__ADS_1


__ADS_2