
Malam ini, semua orang berkumpul di kediaman Kemal. Rumah itu tampak ramai. Kemal mengundang pengajian dan orang-orang sekitar kompleks terdekat untuk hadir memberi doa pada cucunya di hari ke empat puluh.
Zayn, Rara dan kedua anaknya pun sudah berada di rumah ini sejak pagi. Rara dan ibunya membantu Mirna dan Manda menyiapkan acara ini. Manda masih terlihat sedih, walau tidak seperti empat puluh hari sebelumnya. Manda tampak lebih tegar. Wanita itu sudah terlihat menerima takdirnya.
“Aku senang melihatmu jauh lebih baik, Nda,” ucap Rara yang selalu memberi support pada wanita itu.
Manda tersenyum. “Ya, untung ada Noah dan Mbak Rara. Terima kasih, Mbak. Padahal aku tidak pantas menerima perlakuan seperti ini dari mbak Rara, setelah apa yang sudah saya lakukan.”
Rara melingkarkan tangannya pada bahu Manda. “Jangan berkata seperti itu lagi, Nda. Selalu ada hikmah atas semua yang terjadi. Dan, aku juga berterima kasih padamu karena dengan jalan itu akhrinya aku juga menemukan kebahagiaanku.”
“Apa aku juga akan menemukan kebahagiaanku, Mbak?” tanya Manda.
“Pasti,” jawab wanita yang baik hati itu sambil tersenyum.
Manda ikut memeluk tubuh Rara yang sedikit lebih tinggi darinya.
Di luar sana, Reza dan Zayn sibuk bersama para tamu, karena pengajian kali ini di khususkan untuk laki-laki. Sedangkan para wanita berada di dapur dan bagian halaman belakang. sementara anak-anak dan pengasuhnya berada di lantai dua.
Satu, dua jam berlalu. Bapak-bapak yang hadir di acara empat puluh hari kepergian putri Reza yang baru dilahirkan pun akan segera berakhir. Reza tampak khusuk mendengar setiap lantunan doa yang terucap dari bibir pria paruh baya dengan memakai sorban putih yang biasa dipanggil Pak Ustadz.
Semua orang mengusap wajahnya lembut, setelah Pak Ustadz tadi selesai memanjatkan doa. Kini, hati Reza benar-benar tenang. Tidak setenang sebelumnya. Ia benar-benar sudah ikhlas atas semua yang terjadi dan ia pun akan memulai kembali menata hidupnya. Terlebih hubungannya dengan Zayn dan Rara pun semakin baik. Memang indah rasanya hidup tanpa dendam.
Tak lama kemudian, para tamu itu pun berdiri dan hendak pamit.
“Sabar ya, Pak Reza. Insya Allah ini akan jadi tabungan bapak di sana,” ucap salah satu bapak yang hadir di acara itu ketika berpamitan.
Reza menganggukkan kepalanya. Ia berdiri di apit oleh ayah dan adiknya. Selama keterpurukannya ini, Kemal dan Zayn memang orang yang selalu ada menemaninya.
“Aamiin. Terima kasih, Ustadz,” jawab Reza.
Pria paruh baya itu pun menepuk bahu Reza.
__ADS_1
“Insya Allah segera dapat gantinya lagi, Pak,” ucap salah satu bapak-bapak yang berdiri di samping Pak Ustadz yang tengah mengantri untuk bersalaman pada Reza. Pria itu adalah ketua rukun tetangga di kompleks rumah Kemal.
“Aamiin. Iya, pak terima kasih.” Reza hanya tersenyum tipis.
Semakin lama, orang-orang yang tadi memenuhi rumah Kemal pun berkurang, hingga tinggal hanya keluarga inti dan orang terdekat. Para wanita yang tadinya mengisi ruang dapur dan halaman belakang pun berpindah ke bagian tengah rumah itu. Mereka berkumpul di sana. Manda dan Rara juga terlihat di sana, tetapi mereka berjarak, karena Rara duduk di samping Zayn dan tengah mengupasi jeruk untuk suaminya.
“Oh, ya. Mumpung semua hadir. Saya akan mengucapkan sesuatu,” kata Reza menginterupsi.
Manda ditemani oleh sepupunya. Wanita itu memang sudah tak memiliki orang tua. Ia juga tak memiliki saudara karena terlahir tunggal, tetapi ia memiliki seorang sepupu dari ibunya yang cukup dekat da tinggal di Jakarta. Namanya Viska.
Viska datang bersama suaminya dan duduk di samping Manda. Setelah sekian lama, akhirnya Manda memberi kabar sepupunya itu.
Kini, mata semua orang yang ada di ruangan itu pun tertuju pada Reza.
“Pertama, saya berterima kasih pada Papa, Mama, Zayn, Rara juga Ayah Bunda yang selalu ada di saat musibah ini datang. Saya juga berterima kasih pada semua keluarga yang hadir untuk mendoakan putri kami.”
Kemal menatap putranya. Semua orang tampak serius mendengarkan perkataan Reza.
“Rasa berkabung kami pasti tidak akan selesai walau empat puluh hari sudah berlalu. Tapi di sini, saya ingin mengucapkan sesuatu. Berhubung semua berkumpul, sehingga bisa menjadi saksi atas keputusan saya,” ucap Reza lagi sedikit menjeda perkataannya.
Sontak semua orang di sana pun terkejut. Begitu pun Rara. Namun tidak dengan Zayn yang memang mengetahui rencana ini langsung dari bibir sang kakak.
“Reza, apa kau sudah gila? Huh!” ucap Kemal.
Reza menggeleng. “Tidak, Pa. Justru ini adalah awal yang baik untuk kami.”
“Bisa kah kamu bicarakan ini nanti? Baru saja acara empat puluh hari anakmu selesai.” Kemal benar-benar geram dengan sikap Reza, tapi untuk Reza hidupnya harus ditata dari sekarang.
Mirna mengelus punggung suaminya untuk sabar. Rara pun mengalihkan pandangannya pada Manda yang sudah sedari tadi menangis.
Rara hendak menghampiri Manda. Namun, tangannya ditahan Zayn dan menggelengkan kepala sebagai isyarat agar istrinya tidak perlu ikut campur. Dan, Rara pun menurut. Ia tetap duduk di samping Zayn.
__ADS_1
Reza kembali menarik nafasnya dan dengan lantang ia pun mengucapkan talak untuk Manda. “Bismillah, Sarasmanda Binti Ferdinan. Aku jatuhkan talak atasmu.”
Seketika air mata Manda tumpah. Ia menangis. Ia sadar bahwa cepat atau lambat Reza akan menalaknya, karena sejak meninggalnya putri mereka, mereka praktis tak saling bicara. Manda pun sadar atas kesalahan yang tak termaafkan dari Reza, apalagi pria itu tak mencintainya.
Kemal menynadarkan tubuhnya di punggung sofa sambil memegang kepalanya yang sakit. Ia tahu putranya ingin berpisah dari Manda, tapi tidak dengan kondisi seperti ini.
Tapi, Reza adalah Reza, seorang pria yang keras kepala dan ketika sudah mengambil keputusan, tidak bisa dirubah apalagi ditunda.
“Sabar, Nda.” Sepupu Manda memeluk tubuh rapuh itu dan mengelus punggungnya.
Perceraian Reza dan Manda memang hanya cukup dengan kata-kata dari Reza saja, berhubung Manda masih terikat istri siri dan belum terdaftar di kantor urusan agama, sehingga tidak perlu ada persidangan atau ketukan palu.
Semua orang di sana hanya diam. Mereka saksi bahwa saat ini, malam ini Reza tak lagi berhak atas Manda dan Manda tak lagi berhak atas Reza. Mulai malam ini pun mereka tidak diperkenankan satu kamar atau satu rumah. Walau Reza dan Manda memang jarang sekali berada satu kamar selama pernikahan mereka. Tidur satu ranjang pun dapat dihitung dengan jari.
Ketegangan dan kecanggungan rumah itu pun sangat kentara. Hal itu membuat para tamu akhirnya mengundurkan diri dan pamit, termasuk orang tua Rara. Rara pun pamit untuk ikut menginap di rumah orang tuanya bersama Zayn dan si kembar.
Zayn menghampiri Reza dan memeluknya. “Aku akan selalu mendukungmu, Kak.”
“Terima kasih.” Reza menepuk bahu adiknya.
Rara yang berdiri di belakang Zayn pun menggelengkan kepala ke arah Reza. “Aku tidak berharap akan seperti ini ujungnya.”
Reza tersenyum ke arah Rara setelah pelukannya dengan Zayn terlepas. “Dulu, aku juga tidak ingin ujung hubungan kita seperti ini. tapi inilah takdir. Harus aku jalani.”
“Bagaimana Noah? Kakak belum melakukan tes DNA padanya, tapi sudah mengambil keputusan ini.” tanya Rara tak mengerti.
“Hasil tes DNA Noah tidak akan mengubah keputusanku, Ra. Jadi buat apa menunggu hasil tes itu.”
“Tapi ...”
Tiba-tiba Zayn menahan istrinya untuk tak banyak bicara. Padahal Rara masih ingin bicara. Rara yang paling khawatir dengan Noah nanti, mengingat pekerjaannya yang selalu berkutat dengan anak-anak membuat Rara mengerti kondisi psikologi anak.
__ADS_1
“Tenang, Ra. Aku akan mengurusnya. Noah tetap tanggung jawabku dan aku akan selalu meluangkan waktu untuknya walau kami tak tinggal bersama. Aku dan Manda akan mengatur waktu agar Noah tidak kehilangan kasih sayang dari kami. Aku jamin,” kata Reza sambil tersenyum.
Terlihat aura berbeda dari diri seorang Reza. Pria itu tampak lebih dewasa dan tidak angkuh lagi. Senyum di bibir pria itu pun lebih sering terlihat walau hanya tipis.