Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Foto-foto Miss Rara


__ADS_3

Zayn mendial nomor Rara. Ia hendak menelepon kembali wanita pujaannya. Tak biasanya Rara menelepon, mengingat setelah pasca Rara mengetahui kejadian itu, Rara praktis tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Zayn.


Tut ...


Baru satu nada panggilan itu terdengar, tiba-tiba sudah ada suara Rara di sana.


“Kemana aja sih kamu? Dari tadi ditelepon ngga bisa-bisa?” tanya Rara kesal.


Di seberang sana, Zayn tersenyum sembari tetap menempelkan ponsel itu di pipinya. “Kenapa kamu kangen?”


“Ish, apaan sih?”


Zayn tertawa. “Lagian tumben banget telepon sampe udah lima kali.”


“Kamu dimana?” tanya Rara to the poin. “Aku mau ketemu.”


“Aku ngga lagi mimpi kan?” tanya Zayn tak percaya, pasalnya sejak ingatan Rara kembali, wanita itu tak mau sama sekali menemuinya. Apalagi mengajaknya bertemu.


“Aku ngga lagi becanda, Zayn,” kata Rara.


“Aku juga ngga lagi becanda, Rara.”


“Zayn,” teriak Rara.


“Apa, Sayang?”


“Zayn, aku serius.”


“Ya, aku lebih serius.”


“Pokoknya nanti malam, aku tunggu kamu di cafe xxx jalan alternatif cibubur jam delapan malam.”


“Tapi, Ra...”


Tut ... Tut ... Tut ...


Baru saja Zayn akan protes, tapi telepon itu sudah Rara tutup terlebih dahulu.


“Dia galak sekali sekarang,” gumam Zayn.


“Siapa yang galak?” tanya Jack yang menghampiri bosnya.


“Siapa lagi?” Zayn menghempaskan tubuhnya ke kursi tunggu yang tersedia di sana.


“Rara?” tanya Jack dan Zayn mengangguk.


“Ini waktunya untuk membuktikan pada dia kalau lu memang cinta seratus persen,” jawab Jack dengan ikut duduk di samping Zayn.


Zayn terdiam. Ia akan membuktikan cinta itu dengan caranya. Jika Reza mencintai Rara dengan selalu ingin memilikinya, walau wanita itu tersakiti, tetapi berbeda dengan Zayn. Zayn tidak akan memaksa keinginan Rara, ia akan lebih membebaskan wanita pujaannya itu dengan pria pilihannya, yang penting Rara bahagia.


Zayn tidak memaksa Rara untuk menjadi istrinya walau ia memiliki peluang besar karena adanya Zac dan Zoey di sisi Zayn, tapi ia tak akan memanfaatkan kondisi itu. Sungguh, yang Zayn inginkan adalah kebahagiaan Rara. Cukup selama ini ia telah melakukan kesalahan besar pada wanita itu. Dan, ia akan menebusnya dengan selalu membuat wanita itu bahagia, apapun caranya.


****


Sore harinya, Reihan tiba di jogya bersama sang ibu. Pria itu langsung membeli tiket ke kota ini dan berangkat dengan ibunya sesaat setelah mendapat telepon dari Zayn siang tadi. Perasaannya campur aduk, ketika Zayn mengatakan bahwa dia tengah bersama wanita yang wajahnya seratus persen mirip dengan Chintya.


“Zayn,” panggil Reihan saat melihat Zayn duduk di ruang tunggu bersama asistennya.


“Mas.” Zayn bangkit dan bersalaman dengan Reihan beserta ibunya.


“Kamu yakin dia Chintya?” tanya Reihan antusias.


“Kalian bertemu dimana?” tanya Ibunya Reihan.


“Mari saya antar ke ruang perawatan Chintya,” kata Zayn sembari mengajak Reihan dan ibunya menuju ruang perawatan wanita yang mirip dengan istri Reihan yang hilang.


Lalu, di sela-sela langkah kaki yang menuju tempat itu, Zayn menceritakan kronologis peristiwa pertemuannya dengan Chintya.


Ceklek


Zayn membuka pintu ruangan itu perlahan, karena sejak tadi Chintya tertidur akibat obat yang diberikan dokter.


Seketika Reihan dan ibunya pun menganga. Mereka tak percaya bahwa yang ada di hadapan mereka adalah ibu dari Bulan dan Bintang. Wanita yang sudah tiga tahun dicari oleh Reihan hingga pria itu putus asa dan menemukan semangatnya kembali saat bertemu Rara.


“Tapi, dia amnesia,” kata Zayn sambil menceritakan ulang pada Reihan hasil dari pemeriksaan MRI dan CT Scan.


Reihan dan ibunya terdiam.


“Untuk lebih jelasnya, besok dokter akan memberikan hasil konkrit. Ini baru dugaan ketika dokter itu memeriksa kondisinya tadi.”


“Chintya,” panggil Reihan lirih. Ia mendekati sang istri dan duduk di dekatnya. Lalu, mencium punggung tangan itu.

__ADS_1


“Terima kasih, Zayn.” Reihan menoleh ke arah Zayn.


“Terima kasih, Nak.” Ibu Reihan pun melakukan yang sama.


“Aku akan mengobati Chintya hingga pulih,” kata Reihan.


Zayn mengangguk. “Kalau begitu, saya permisi. Kebetulan pesawat saya pukul lima.”


“Kamu balik ke Jakarta?” tanya Reihan lagi.


Zayn mengangguk.


Reihan melihat jam di tangan kanannya. “Satu setengah jam lagi, Zayn.”


“Ya, tim ku sudah membereskan barang-barangku di hotel dan kami langsung ketemu di bandara.”


“Syukurlah, Baik kalau begitu.” Reihan bangkit dan menjabat tangan Zayn sembari memeluknya. “Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih.”


“Sama-sama, Mas.” Zayn menepuk punggung Reihan.


Ibu Reihan ikut mengangguk dan tersenyum ke arah Zayn, lalu kembali berjabat tangan. Zayn mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dan pamit.


Sepertinya, ia tidak akan sampai pukul delapan malam di cafe xxx seperti yang diinginkan Rara. Namun, jika Rara tidak ada di tempat itu saat ia sampai, maka Zayn akan menemuinya langsung ke apartemen Rara.


“Yuk, Jack. Kita balik!” ajak Zayn pada Jack yang hanya menunggu bisnya di ruang tunggu.


“Sudah selesai?” Jack balik bertanya dan Zayn pun mengangguk.


Di rumah Zayn, Zac dan Zoey asyik bermain petak umpet. Sedangkan Michelle masih belajar dengan guru les-nya.


“Zoey, kita main di ruang kerja Daddy, yuk!” Ajak Zac pada adik kembarnya, karena Zac lahir beberapa detik lebih dulu sebelum Zoey.


“Nanti Daddy marah.” Zoey tahu bahwa ruangan itu tidak diperbolehkan masuk untuk siapapun kecuali Jack.


“Aku pernah melihat ruang kerja Daddy. Di dalamnya ada gambar bunga, pepohonan, dan ada foto Miss Rara,” jawab Zac antusias.


Ruangan itu memang sengaja Zayn design dengan walpaper dinding bergambar alam, agar ia lebih refresh ketika berada di ruangan itu dan memunculkan ide kreatif.


“Oh, ya? Kapan kamu melihat ruang kerja Daddy?” tanya Zoey.


“Pagi, sebelum Daddy berangkat keluar kota.”


“Di kunci,” kata Zac ketika tangannya memegang handle pintu.


“Tadi siang, aku lihat Bibi masuk ke ruangan ini. Pasti dia memiliki kuncinya,” jawab Zoey.


Zac kembali menuruni anak tangga dan melangkah ke dapur, karena kamar si Bibi terletak di dekat sana.


Zac dan Zoey berdiri di depan pintu si Bibi. Mereka melihat kunci yang tergeletak di meja kecil kamar si Bibi.


“Eh Den Zac dan Non Zoey. Ada apa?” tanya si Bibi saat melihat anak kembar itu berdiri di puntu kamarnya.


“Bi, tolong buatkan kami susu,” ucap Zoey.


“Loh, bukannya tadi pulang sekolah udah Bibi buatin ya.”


“Kurang, Bi. Kami mau lagi,” sahut Zac.


“Baiklah, Bibi buatin ya.” Si Bibi keluar dari kamar, lalu menuju dapur.


Zac mengikuti langkah si Bibi, sementara Zoey menyelinap sebentar dan menyambar kunci itu.


Zac tanpa rasa bersalah mengajak si Bibi berbincang sembari si Bibi membuatkan susu untuk anak majikannya itu. Di belakang si Bibi, Zoey menunjukkan kunci itu ke atas dengan tawa sumringah tanpa suara. Zac hanya tersenyum dan mengangguk.


“Bi, kami tidak jadi minum susu. Aku kenyang. Ingin main game saja di kamar,” ucap Zac membuat si Bibi bingung. “Ayo, Zoey.”


“Ih, terus ini susunya bagaimana, Den. Non,” panggil si Bibi pada Zac dan Zoey.


“Di taruh kulkas saja, Bi,” jawab Zoey yang di angguki Zac.


Lalu, mereka kembali menaiki tangga dan beralih ke ruang kerja sang ayah. kebetulan Michelle dan si Bibi berada di lantai satu, sehingga mereka tidak memperhatikan aktifitas Zac dan Zoey yang berada di lantai dua.


Zac berhasil membuka ruang kerja sang ayah. Zac dan Zoey memasuki ruangan itu dan mengunci pintu itu kembali. Mereka terperangah melihat dekorasi ruang kerja sang ayah yang begitu indah.


“Lihatlah Zoey! Foto-foto Miss Rara ada di sini,” kata Zac.


“Wah ... iya, banyak Zac.” Zoey menganga karena hampir semua dinding berisikan foto Rara dengan berbagai pose candid.


“Ini, ada foto Daddy sama Miss Rara.” Zoey menunjuk foto sang ayah yang sedang merangkul Rara.


Foto yang sama dengan foto yang Rara pajang di meja apartemennya. Itu adalah foto remaja orang tua mereka.

__ADS_1


Puas dengan melihat-lihat isi ruangan itu, Zac dan Zoey pun bermain. Mereka memainkan benda-benda ayahnya di sana.


Zayn yang juga senang melukis, menyiapkan peralatan lukisnya di ruangan itu. Dan, Zac pun mencoba peralatan itu.


Mereka memainkan kuas dan tinta cat air yang tersedia di sana.


“Memang kamu bisa menggambarku,” kata Zoey pada sang kakak.


“Aku bisa.” Zac mencoretkan beberapa warna di kertas putih yang sudah menempel di papan lukis.


“Itu jelek,” ucap Zoey mencela hasil coretan tangan sang kakak.


“Ini bagus,” sanggah Zac.


“Jelek,” sahut Zoey.


Lalu, Zac kesal dan meledek sang adik dengan mencoretkan kuas yang berisi warna biru itu ke wajah Zoey. “Kamu yang jelek Zoey. Hidungmu seperti badut.”


Zac tertawa dan Zoey cemberut.


“Zac, kau menyebalkan.” Zoey mencoba menghindari Zac, karena sang kakak terus meledeknya dengan mengacungkan kuas berwarna itu agar kembali mewarnai wajahnya.


“Zac, Jangan! Nanti wajahku kotor.”


Zoey menghindar dan Zac mengejar. Mereka pun berlarian hingga Zoey yang semula kesal menjadi tertawa, karena mereka berkejaran.


Saat berlari, kaki Zoey tersandung karpet tebal di lantai itu dan ....


Bugh


Dahi Zoey terbentuk ujung meja kecil yang cukup lancip hingga berdarah. Lalu, Zoey menangis kencang.


Suara tangis Zoey menggemparkan rumah itu, hingga si Bibi langsung naik kelantai dua dan Michelle yang baru saja selesai belajar pun langsung mengikuti si Bibi.


“Aaaa .... Sakit ...” rengek Zoey sambil berteriak.


“Maafkan aku, Zoey.” Zac panik.


Kemudian, pintu itu digedor si Bibi dan Michelle.


“Zac ... Zoey ... Buka pintu,” teriak Michelle.


“Den ... Non ... Buka pintunya. Si bibi pun berteriak.


Lalu, Zac bangkit dari karpet itu dan membuka pintu.


“Ya ampun Zac, ada apa dengan Zoey?” tanya Michelle panik karena ujung dahi Zoey mengeluarkan darah yang cukup banyak.


“Non, sepertinya kepala Non Zoey robek. Ini harus dijahit,” kata si Bibi yang langsung menghampiri Zoey yang terduduk di karpet itu.


Zoey terus menangis, sedangkan Zac hanya terdiam.


“Ayo Zoey! Kita ke klinik.”


Zoey menggeleng. “Tidak mau.”


“Ayo, Zoey. Kalau tidak kamu akan kehabisan darah,” ucap Michelle panik.


“Tidak mau!” teriak Zoey.


Zoey memang pobia dengan rumah sakit. Ia paling anti yang namanya ke dokter atau minum obat.


“Zoey,” teriak Michelle. Ia bingung harus berbuat apa? Karena Zoey sama sekali tidak bisa dibujuk untuk ke dokter.


“Non, telepon bapak? Atau telepon siapa saja yang bis membawa Non Zoey ke klinik,” kata si Bibi.


Tiba-tiba di otak Michelle tertuju pada Rara, karena ia tahu Rara adalah ibunya. Lalu, Michelle menekan nomor Rara. Kebetulan nomor itu masih tersimpan di panggilan keluar karena siang tadi ia menelepon Rara untuk menanyakan kabar pria yang ia tabrak di sekolah itu.


“Halo.” Dengan dua kali nada panggilan, Rara langsung menjawabnya.


“Oh, Miss Rara. Syukurlah langsung menajwab teleponku.”


“Ada apa, Michelle?” tanya Rara yang mendengar suara panik adik Zayn.


“Miss, tolong datang ke rumah kami. Zoey terbentur sudut meja dan dahinya banyak mengeluarkan darah. Tapi dia tidak mau diajak ke klinik.”


“Baiklah, share rumah kalian. Aku akan datang,” jawab Rara cepat. “Dan, tekan luka Zoey agar darahnya tidak keluar banyak. Oke.”


Michelle mengangguk. “Oke Miss.”


Mereka semua tidak menyadari, bahwa mereka tengah berada di ruang kerja Zayn yang di penuhi dengan foto-foto Rara.

__ADS_1


__ADS_2