
"Bulan ... Bintang ... Ayo pulang!” ajak Rara pada kedua anak Reihan.
Hampir semua karyawan di Yayasan sekolah cabang milik Reihan ini menghormati Rara. Semua orang mengira, Rara memiliki hubungan khusus dengan pria beranak dua yang sudah tiga tahun ditinggal istrinya meninggal.
Rara memang semakin dekat dengan Reihan dan keluarganya. Rara yang mengajar di kelas anak-anak Reihan pun membuat kedua anak Reihan semakin dekat dan menyukai Rara.
Seperti saat ini. Ibu Reihan yang biasa menjemput dan menjaga kedua anak Reihan, tengah mengunjungi kota kelahirannya di Wonosobo karena ada kerabatnya yang meninggal dunia. Alhasil, Salma, ibu Reihan meminta tolong pada Rara untuk menjaga Bulan dan Bintang hingga ayahnya pulang ke rumah.
Rara yang memang semakin dekat dengan Salma pun tidak menolak permintaan itu. Sudah satu minggu ini, Bulan dan Bintang menunggu di sekolah hingga Rara selesai bertugas dan pulang bersama gurunya sampai di rumah.
Di rumah Reihan, Rara yang tidak bisa diam pun memilih memasak, ketika Bulan dan Bintang tidur siang. Sehingga, tiap kali Reihan pulang, pria itu nampak seperti memiliki istri karena rumah ada seorang bidadari yang memasak untuknya juga menjaga kedua anaknya. Hanya saja, Rara tidak bisa disentuh seenaknya, mengingat hubungan di antara mereka hanyalah teman. Walau Reihan sudah mengungkapkan isi hatinya pada Rara, tetapi sikap Rara sepertinya biasa saja.
Namun, Rara tetap menghargai Reihan yang telah membantunya keluar dari masa sulit paska perceraiannya dengan Reza.
“Oke, Miss.”
“Iya, Miss.”
Bulan dan bintang yang masih asyik bermain ayunan itu langsung berlari ke arah Rara.
Rara tersenyum dan membentangkan kedua tangannya untuk memeluk Bulan Bintang, karena kedua anak itu berlari terlalu kencang.
Mereka bertiga tertawa.
“Miss, katanya nanti mau bikin kue,” kata Bulan sembari berjalan beriringan bertiga.
Rara merangkul bahu Bulan dan Bintang yang berada di sisi kanan dan kirinya.
“Mau sekarang? Tapi kita belum beli bahan-bahannya.”
“Bagaimana kalau kita mampir ke minimarket?” tanya Bintang.
“Atau besok saja pas Papi ada di rumah. Nanti minta tolong Papi untuk antar kita ke supermarket, karena kalau di minimarket kurang lengkap,” jawab Rara memberikan penawaran. “Bagaimana?”
“Asyik ... kita jalan-jalan ke mall,” kata Bulan.
“Boleh,” sahut Bintang dengan gaya so cool.
Rara tersenyum dan mengusap kedua kepala anak kecil yang aktif dan kritis itu.
Mereka pun menaiki mobil yang di supiri oleh supir pribadi Reihan. Mereka sampai di rumah setelah lima belas menit perjalanan. Walau jarak sekolah dan perumahan itu cukup dekat tetapi harus memutar terlebih dahulu hingga memasuki gerbang komplek perumahan elite itu dan setelah masuk gerbang itu menuju rumah Reihan juga cukup jauh.
“Yeeay ... besok libur.” Bulan membuka pintu mobil dengan riang. Pasalnya besok adalah hari weekend dan ia tak perlu bangun pagi.
Rara ikut membuka pintu mobil dan melihat Bulan yang sudah berlari ke dalam. Ia pun menoleh ke arah Bintang yang justru biasa saja. Raar merangkul bahu Bintang.
“Kok Mamas ngga se senang adek. Kan besok libur,” ujar Rara.
“Aku malah ngga suka libur,” jawab Bintang lesu.
“Kenapa?” tanya Rara.
“Karena ngga bisa ketemu Miss.”
Rara tertawa sembari keduanya melangkah masuk ke dalam. “Kan besok ketemu Miss lagi. Kita mau ke supermarket kan?”
__ADS_1
“Ya sih. Tapi hari minggunya Miss ngga ke sini.”
“Kan, hari minggu Eyang Uti udah pulang.”
“Kata Papi, Eyang Uti pulangnya hari Senin,” ucap Bintang.
“Oh.” Rara mengangguk sembari berpikir, pasalnya ia ingin menyelesaikan cucian yang menumpuk di apartemennya itu, karena satu minggu ini ia praktis tak ada waktu untuk dirinya sendiri. Walau bersama kedua anak Reihan juga menyenangkan.
Rara tidak masalah menjaga Bulan dan Bintang, karena bersama mereka ia seperti seorang ibu. Bintang tidak seburuk di sekolah ketika di rumah. Ia juga tidak jahil dengan adiknya, malah lebih sering mengalah.
“Mamas kok ngga tidur siang? Adek aja udah tidur.” Arah mata Rara menuju pada Bulan yang terlelap di sofa ruang televisi.
“Ngga ngantuk,” jawab Bintang. “Miss mau temenin Bintang main?”
“Main apa?”
“Lego, nih.” Bintang menunjukkan dua kotak besar. “Papi beliin ini udah lama, tapi Papi ngga ada waktu buat nemenin Bintang buat nyusun ini. Miss mau temenin kan?”
Rara menggangguk. “Tentu saja. Ayo!”
Rara tersenyum membuat Anak laki-laki yang tampan itu pun tersenyum. Lalu, mereka mulai menyusun mainan itu hingga menjadi bentuk yang sesuai dengan cover bungkusan yang tertera di sana.
Dua jam menemani Bintang menysun mainannya, kemudian anak kecil itu lelah dan ikut tidur di ruang televisi. Bedanya, ia tidur di karpet besar dan berbulu halus itu sedangkan sang adik di atas sofa.
Rara beralih ke dapur. Ia membuat makanan untuk makan malam Bulan, Bintang, dan ayahnya. Rara cukup tahu diri, mengingat Reihan yang membayar sewa apartemennya kala itu, tidak pernah mau untuk di ganti. Padahal Rara sudah memaksa dan meminta nomor rekening Reihan untuk membayar uang sewa itu, tetapi Reihan tetap tidak menyebutkan nomor rerkeningnya.
Waktu menunjukkan pukul empat tiga puluh sore. Mobil Reihan sudah memasuki gerbang komplek. Ia memelankan kecepatan mobilnya. Saat mobilnya melaju lurus, ia menangkap sosok yang sangat ia kenal. Persis seratus meter sebelum tiba tepat di depan rumahnya, Reihan menghentikan mobil dan turun untuk menyapa seseorang.
“Hei, apa kabar?” tanya Reihan sembari menepuk bahu pria itu yang sedang sibuk mengeluarkan koper dari mobil SUV sport.
“Ya, terakhir bertemu kau membuat kegaduhan di hotel,” ucap Reihan.
Pria itu tertawa. “Hahaha ... sudahlah jangan diingat!”
“By the way, kau tinggal di sini sekarang?”
Pria itu mengangguk. “Ya.” Lalu ia juga bertanya. “Tunggu, jangan bilang kau juga tinggal di sini!”
“Sudah hampir lima tahun aku tinggal di sini, Bos.”
“Ah, Bas Bos. Sebenarnya yang Bos itu kamu, Mas.”
Reihan tertawa. “Tapi kamu sekarang kan juga Bos phopograpy. Terkenal dan sukses. Dikejar banyak cewek seksi lagi.”
Pria yang berdiri di depan Reihan dalah Zayn. Zayn kembali tertawa. “Halah bisa aja sih.”
Reihan seangkatan dengan Reza, sehingga Zayn memanggilnya dengan sebutan Mas.
“Berarti kita tetangga?” tanya Reihan.
“Memang Mas Rei rumahnya dimana?” Zayn balik bertanya.
“Di sana. Blok F. Ya, masih seratus meter dari sini lah.”
“Wah, ngga jauh dong,” kata Zayn senang. “Oh iya, anak-anak aku juga sepertinya akan sekolah di sekolahan milik Mas nih. Tapi surat-suratnya belum lengkap karena msih di urus, jadi dipermudah ya.”
__ADS_1
“Anak?” tanya Reihan.
“Ya, itu anak-anakku.” Zayn menunjuk ke arah Zac dan Zoey yang asyik tertawa bersama Michelle sembari bekerja sama membawa barang-barang.
“Waw, ternyata kamu udah punya anak.” Reihan melihat ke arah Michelle dan mengira Michelle adalah istri Zayn.
Reihan tersenyum dan mengangguk. Ia semakin yakin bahwa saat kejadian di hotel itu, Reza hanya salah faham. Zayn memang hanya berteman dengan Rara dan sudah memiliki keluarga. Reihan juga tidak tahu tentang masa lalu yang terjadi antara Zayn dan Rara sebelumnya.
“Baiklah, kalau begitu aku pulang,” kata Reihan yang kembali menepuk bahu Zayn.
Lalu, Reihan berjalan menuju mobilnya.
“Oke, kapan-kapan aku mampir ke rumahmu, Mas.” Zayn melambaikan tangannya dengan posisi yang masih berdiri di belakang mobilnya.
Michelle pun menghampiri Zayn dan menemani kakaknya di sana. Gadis itu pun tersenyum ke arah Reihan.
Reihan menganggukkan kepalanya ke arah Michelle, ketika kedua mata mereka bertemu.
“Oh, harus itu,” teriak Reihan sembari memasuki mobilnya dan membunyikan klakson saat ia melajukan mobilnya kembali.
Sesampainya di rumah, Reihan sudah mencium aroma masakan. Ia tahu bahwa Rara tengah memasak. Wanita itu memang sangat baik. Ingin sekali Reihan meminang wanita cantik itu, karena selain cantik, Rara juga jago memasak dan keibuan. Terbukti, ia bisa menangani Bintang yang super aktif dan ngeyel itu.
“Assalamualaikum.”
Rara menoleh. “Eh, waalaikumusalam.”
“Masak apa, Ra?” tanya Reihan mendekati Rara yang berdiri di depan tungku.
Jika Rara istrinya, sudah pasti Reihan akan melingkarkan kedua tangannya di pinggang itu dan mengecupnya.
“Kemarin, Bulan minta dibuatkan opor ayam.”
“Wah ... Pasti lezat,” ujar Reihan sembari menggosok kedua tangannya.
“Tapi pasti ngga se enak buatan Eyang Uti ya.”
“Hmm ... buatanmu juga pasti ngga jauh beda.”
Rara tertawa. “Sejak kapan kamu jadi pria gombal.”
“Sejak kenal kamu pastinya.”
Rara masih tersenyum dan menoleh lagi ke arah Reihan setelah sebelumnya berfokus pada masakan yang tengah ia aduk itu. Rara menggelengkan kepalanya. “Perasaan Pak Reihan yang aku kenal dulu ngga begini.”
“Ya, karena dulu kan kamu masih punya orang.”
“Modus,” ujar Rara tertawa.
Ia tahu ke arah mana Reihan akan berkata, karena sebelumnya, Reihan pernah bicara akan serius pada Rara dan menjadikannya istri. Reihan juga sudah mengungkapkan niatnya yang ingin melamar Rara setelah masa idah wanita itu selesai.
“Oh iya, Ra. Tadi aku ketemu Zayn loh,” ucap Reihan tiba-tiba.
Deg
Rara terdiam sejenak. Lalu menjawab “Oh.”
__ADS_1
Rara hanya beroh ria, tanpa menanyakan kembali dimana Reihan bertemu Zayn. Rara justru mengalihkan pembicaraan dengan membicarakan kedua anak Reihan di sekolah tadi.