
“Ayo, Cel. Kita mulai, sekarang. Kamu ganti baju dulu,” ujar Sammy, biasa dipanggil Sam. Fotografer Handal kedua setelah Zayn.
Bidikan Sam juga tak kalah bagus dengan Zayn, walau Zayn masih jauh lebih bagus. Mereka memiliki karakter sendiri. Oleh karena itu, Zayn sering mempercayakan Sam untuk menggantikannya jika mendesak.
“Aku ga mau. Aku mau tunggu Zayn saja,” jawab Cellin.
“Sampai kapan?” tanya Sam. “Ini udah selesai makan siang tapi si Bos masih belum nongol. Udah lah sama gue aja.”
“Iya, sih. Cel. Si Bos bakalan lama di ruangannya kalau ada istrinya,” sahut Jack.
“Emang se istimewa apa sih istrinya? Dia tidak lebih sexy dari aku, tidak lebih cantik juga dari aku. Kenapa Zayn begitu tergila-gila padanya hingga aku diabaikan,” ucap Cellin.
Jack tertawa. Begitu pun Sam. Walau Sam tidak kenal Rara, tetapi ia tahu bahwa Rara adalah wanita baik-baik.
Sammy memang bukan pria baik-baik. Profesinya yang sering bersinggungan dengan berbagai jenis wanita cantik, membuat Sam memanfaatkan itu. Ia sering tidur dengan model-model baru yang ingin naik daun. Kelakuan Sam berbanding terbalik dengan Zayn. Dan, hal itu membuat para model cantik itu justru semakin tergila-gila pada Zayn karena Zayn pria yang sulit didekati.
Namun, kelakuan Sam yang seperti itu, sangat menginginkan wanita baik-baik seperti istri bos nya itu.
“Memilih pasangan hidup bukan sekedar cantik, Cel,” sahut Jack dan Sam pun mengangguk.
“Maksudnya?” tanya Cellin.
“Yah, susah lah ngejelasinnya. Yang jelas, kamu udah ngga usah ngejar-ngejar Zayn lagi. Dia udah punya istri. Titik,” jawab Jack tegas.
Sam pun kembali menganggukkan kepalanya sambil memegang kamera. “Jadi gimana nih? Mau mulai ngga?”
“Ngga. Aku ke ruangan Zayn dulu.” Cellin tetap keras kepala. Ia pun keluar dari studio dan berjalan menuju ruangan Zayn.
Di dalam ruangan Zayn, Rara tengah merapikan rantang yang kosong. Isi makanan itu telah berpindah ke perut Zayn. Pria itu nampak semangat memakan dari suapan tangan istrinya hingga makanan yang Rara bawa pun tak bersisa.
“Sepertinya, aku akan gendut kalau dimanjain seperti ini terus.” Zayn menatap istrinya yang tengah berbenah.
Rara tersenyum. “Dari dulu makan kamu banyak tapi ngga pernah gendut. Soalnya cacingnya banyak.”
Zayn tertawa. Memang sejak sekolah, ia kurus. Makanannya tidak menjadikan ia melebar ke samping tapi lurus ke atas.
“Kamu dulu sering menghabiskan makanan ku, tapi ngga pernah gemuk.”
“Aku melebar ke atas ngga ke samping.”
“Sombong.” Rara mencibir suaminya dan Zayn pun tertawa lagi.
“Eh mau ke mana?” tanya Zayn sambil menahan lengan Rara yang hendak beranjak dari sofa.
“Pulang. Kan kamu udah selesai makan siang.”
“Jangan! Aku masih kangen.” Zayn menarik tangan Rara hingga tubuh Rara duduk di pangkuan suaminya.
Zayn pun segera menyambar bibir itu. ********** dengan rakus, lagi dan lagi.
__ADS_1
Sesampainya Cellin di depan pintu ruangan Zayn. Ia langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk sehingga ia dapat melihat jelas apa yang sedang Zayn dan wanita yang tidak ia sukai itu lakukan. Cellin semakin geram, melihat Zayn yang dengan buasnya memakan habis bibir Rara. Zayn tampak semangat dengan menekan tengkuk Rara agar ciuman itu tak cepat selesai.
Cellin menutup kembali pintu itu dan mengentakkan kakinya lagi menuju ruang studio. Zayn tidak pernah menciumnya seperti itu dulu. Padahal ia selalu lebih dulu mencium Zayn, tapi Zayn hanya membalasnya sekilas. Ia benar-benar iri pada Rara. Sepertinya kali ini, ia memang sudah tidak memiliki harapan untuk mendapatkan Zayn.
Sesampainya di ruang studio yang berada di lantai dua. Cellin duduk lemas.
“Hei, kenapa?” tanya Sam.
“Bos kamu, ga punya etika. Mesum di ruangannya,” jawab Cellin, membuat Jack dan Sam tertawa.
“Udah aku bilang, Cel. Udah lah lupain si Bos. Dia udah ketemu pawangnya. Waktu belum ketemu pawangnya aja doi udah nolak kamu. Apalagi sekarang,” sahut Jack.
“Jack, tutup mulutmu!” teriak Cellin.
“Bener kata Jack, Cel. Mending lu sama gua,” kata Sam.
“Ish, ogah. Yang ada aku dipake terus tiap malem.”
Jack dan Sam kembali tertawa.
Di ruangan Zayn, bunyi kecipak kecipuk menggema. Mereka masih menikmati tautan yang sudah tak terhitung berapa banyaknya.
“Mmpphh ...”
Zayn melepaskan ciuman itu saat menyadari pasokan oksigen di dada Rara berkurang. Namun, sesaat setelah melepaskan tautan itu, Zayn pun ingin mengulanginya lagi, tetapi Rara menahan dada itu.
“Zayn aku masih ngos-ngosan,” ucap Rara yang tersengal setelah berciuman panas dan cukup lama dengan suaminya.
“Aku suka ini.” Tangan Zayn masih membersihkan bibir Rara yang menyisakan saliva mereka tadi.
“Aku juga suka ini.” Zayn meremas dada Rara.
“Aww ... Zayn.” Pekik Rara karena tiba-tiba Zayn meremas payud*r*nya.
“Apalagi ini. nagih banget.” Zayn kembali meremas bagian kewanitaan Rara.
“Daddy,” teriak Rara dan memukul bahu Zayn dengan brutal.
Rara langsung berdiri. “Itu namanya pelecehan, tau.”
Sontak Zayn tertawa dan memeluk Rara dari belakang sambil memasukkan tangannya ke dalam celaan jeans Rara. “Kalau seperti ini juga pelecehan?”
Rara memutar tubuhnya dan memukul Zayn lagi. “Zayn ih, kamu tuh. Udah ah. Aku ngga mau ke sini lagi.”
Zayn menarik lengan Rara. “Iya deh, aku minta maaf. Emang tangan aku jahil. Abis gemes.” Lalu, Zayn meletakkan rantang yang Rara pegang itu ke meja. “Sekarang ikut aku.”
“Kemana?” tanya Rara menahan tangannya yang semula ditarik oleh Zayn untuk keluar dari ruangan itu.
“Ke studio. Lihat suamimu kerja.”
__ADS_1
“Ngga ah, pasti cewek gatel itu godain kamu, terus kamu diem aja.” Rara merajuk. Sungguh, ia kesal melihat Cellin tadi bergelayutan di lengan Zayn.
“Kalau tadi, aku hanya ingin melihat ekspresimu aja, Sayang.”
“Kamu ngga tertarik sama dia? Masa? Dia tuh cantik, Dad. Sexy lagi,” kata Rara.
“Kalau aku mau, kenapa ngga dari dulu?”
“Kenapa?” tanya Rara.
Zayn menepuk jidat Rara. “Masih nanya.”
“Dad, ah.” Rara mengelus jidatnya.
“Lagian ngga ngert-ngerti apa? Kalau wajah kamu, tubuh kamu, udah penuh di sini dan di sini.” Zayn menunjuk otak dan hatinya. “Jadi cewek lain udah ngga bisa ada yang masuk. Ngerti!”
Rara tersenyum. “Masa?”
“Masa?” Zayn mengulang perkataan Rara dengan gaya yang sama. “Sebel banget denger kata itu. Ngga percaya banget.”
Zayn kembali menarik Rara untuk menemaninya bekerja. Rara pun tersenyum senang. Walau, ia yakin dengan cinta Zayn, hanya saja ia berjaga-jaga mengingat dahulu ia pernah disakiti.
Untuk hari ini, Rara mempercayakan Zac dan Zoey oleh si Bibi. Rara pun menelepon kedua anaknya bahwa ia akan pulang bersama sang ayah setelah ayahnya selesai bekerja. Dan, untungnya Zac dan Zoey anak yang pintar juga pengertian.
“Yang penting, nanti malam Mommy tidur dengan Zoey.”
“Dengan Zac juga.”
Ucap keduanya di sebuah panggilan video call, ketika Rara dan Zayn menaiki tangga menuju ruang studio.
“What, No. Mommy tidur dengan Daddy.” Zayn menyambar ponsel Rara ketika mendengar ucapan Zac dan Zoey tadi.
Rara tertawa dengan menutup mulutnya. Ia hanya menjadi saksi pertikaian anak dan suami yang merebutkan dirinya nanti malam.
“Daddy sudah bersama Mommy seharian. Nanti malam, kami ingin bersama Mommy semalaman. Titik,” ucap Zac tegas.
“Tidak bisa. Titik.” Zayn menyahut Zac.
“No debat. Fix.” Zac memutus panggilan video call itu.
“Ah, ****.” Zayn mengumpat kesal.
Rara hanya tertawa. “Udah sih, ngalah sama anak.”
Zayn mengembalikan ponsel itu pada Rara. “Tapi aku udah nahan dari tadi, Sayang. Kamu janji mau memuaskannya nanti malam.”
Rara memeluk pinggang suaminya. Tangan Zayn pun langsung melingkar di Rara dan memberikan ponsel itu ke tangan Rara.
“Kalau begitu, setelah ini kita mampir sebentar ke hotel. Gimana?” Rara menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Zayn tersenyum lebar. “Ide bagus.” Ia pun mencium seluruh wajah Rara dan kembali ceria.