
Di balik bahagia Rara, ada dua orang yang masih menderita. Reza dan Manda. Mereka harus membayar apa yang telah mereka lakukan. Reza terus hidup dalam penyesalan, sementara Manda hidup dalam bayang-bayang Reza yang tak pernah menganggapnya ada.
Reza dan Manda berada di sebuah mobil, mereka berangkat pagi-pagi menuju Bandung. Ada beberapa hal yang harus Reza kerjakan di pabrik hari ini. Pabrik sedikit mengalami kendala pada bagian salah satu mesin, sehingga ia harus ke sana walaupun hari ini hari minggu. Namun, kali ini mereka meninggalkan Noah bersama Mirna.
Sebelumnya, Manda sangat berat hati ketika Mirna meminta Noah tidak pulang. Ia berharap Reza bisa menolak permintaan ibunya, karena jika tidak ada Noah pasti rumah mereka di sana akan terasa sepi. Namun, Reza tidak menolak permintaan Mirna, membuat Manda pun tidak bisa menolaknya. Akhirnya, Noah tidak ikut pulang ke Bandung bersama mereka. Mirna dan Kemal berjanji akan memulangkan Noah minggu depan. Dan, Noah pun tampak seang-senang saja, karena rumah Kemal dilengkapi dengan kolam renang dan berbagai mainan anak sehingga Noah merasa betah berada di rumah itu.
Manda melirik sekilas ke arah suaminya yang tetap memandang lurus ke depan. Satu jam lebih mereka berada di dalam mobil, tapi belum ada satu pun diantara mereka yang mulai bicara. Di dalam mobil ini terasa suci, di tambah Reza juga tidak menyalakan musik, membuat suasana semakin sunyi.
“Mas,” panggil Manda memecahkan keheningan itu.
“Hmm ...” Reza hanya berdehem.
“Mbak Rara sepertinya sudah bahagia. Aku senang melihatnya,” ucap Manda, membuat Reza menoleh ke arah istrinya sekilas dengan tatapan tajam.
Bisa-bisanya Manda mengatakan hal itu di depannya.
Manda menoleh ke arah Reza. “Apa kita tidak bisa bahagia seperti mereka?”
Reza terdiam. Ia kembali fokus dengan pandangan ke depan.
“Mas.” Manda memanggil Reza kembali dan arah matanya tetap tertuju pada pria dingin itu. “Kita bisa kan seperti mere ...”
__ADS_1
“Stop! Jangan minta sesuatu yang tidak bisa aku wujudkan, Sar.”
Reza tetap memanggil Manda dengan panggilan Saras, seperti saat mereka dulu menjadi bos dan sekretaris.
“Tapi kenapa, Mas?”
Reza menoleh ke arah Manda. “Aku tidak mencintaimu.”
“Kamu bisa belajar mencintaiku, Mas.”
“Sudah berapa kali aku bilang, tidak bisa, Saras. Aku tidak bisa jatuh cinta padamu.”
Sontak Sarasmanda menangis.”Kenapa, Mas? Kenapa Mas tidak bisa mencintaiku tapi bisa menghamiliku?”
Manda memejamkan matanya berkali-kali, membuat air di pelupuk mata itu kian menetes.
“Seharusnya saat aku mabuk dulu, kamu tidak perlu membawaku ke hotel. Harusnya kamu langsung membawaku ke apartemen dan tinggalkan aku di sana.” Reza menatap tajam istri siri nya sekilas.
Reza tahu bahwa Manda mengetahui lokasi apartemennya di kota itu, karena Manda memang pernah satu kali di ajak Reza untuk meninjau lokasi yang saat itu belum menjadi gedung pabrik sempurna di kota itu. Dan, apartemen yang hendak ia beli.
“Aku pikir, Mas tidak jadi membeli apartemen di lokasi itu.”
__ADS_1
“Kamu tidak menjebakku kan?” tanya Reza dengan menyipitkan mata, karena jika Reza tahu bahwa Manda berniat menjebaknya kala itu, sudah dipastikan wanita itu akan tamat riwayatnya.
Sejak dulu, Reza ingin menanyakan hal ini.
Manda dengan cepat menggelengkan kepala. “Kejadiannya begitu cepat dan aku bingung saat itu.” Manda menggigit bibir bawahnya. Ada gurat ketakutan di wajahnya.
“Kalau pun Noah adalah kesalahan, tapi mengapa Mas melakukannya lagi? Aku pikir bayi ini bukan kesalahan,” ucap Manda lagi sambil mengelus perutnya.
Reza tersenyum tipis. “Waktu itu aku sangat cemburu, karena Rara didekati oleh pemilik yayasan tempatnya mengajar. Aku kesal dengan perhatian dan tatapan pria itu yang terlihat memuja Rara.”
“Dan, kamu melampiaskan kecemburanmu padaku?” Kini Manda yang tersenyum tipis.
Ia benar-benar naif karena menyangka pada saat itu Reza telah berubah dan mulai menyayanginya. Ah, benar-benar naif.
“Kamu jahat, Mas,” ucap Manda lirih.
“Ya, aku memang jahat. Aku pria jahat yang tidak pantas mendapatkan cinta, termasuk cintamu” jawab Reza, membuat Manda langsung terdiam.
Setelah percakapan panjang itu, akhirnya mereka kembali terdiam. Kedua insan ini sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Manda tidak lagi menoleh ke arah Reza. Ia memalingkan wajahnya dengan menoleh ke arah jendela. Sesekali Manda mengusap air mata yang jatuh ke pipinya dan Reza pun tidak menoleh ke arah Manda. Entah mengapa ia tak merasa iba dengan wanita yang tengah mengandung anaknya ini, karena menurut Reza, Manda juga salah karena membiarkan dirinya dimakan oleh buaya yang sedang kelaparan. Bukankah mendekati orang mabuk sama saja mendekati buaya lapar?
__ADS_1
Arah pandang Reza tetap lurus ke depan dan fokus pada jalan. Sejak pertama kali Manda melakukan kesalahan dengan menyelipkan dokumen rumah sakit yang menyatakan operasi pengangakatan rahim Rara, di situ Reza memang sudah tidak menyukai Manda. Menikahi Manda memang murni karena Noah, agar anak itu mendapat akte kelahiran atau pun surat-surat yang akan disertai ketika ia besar dan mulai bersekolah. Sementara bayi yang sekarang ada di perut Manda murni kebodohannya.