
Setelah pertemuan terakhirnya dengan Rara beberapa hari lalu, Reza hanya bekerja dan mengurung diri di apartemen. Sudah satu minggu ia tidak ke Bandung dan menemui putranya. Selain memang di sini, ia juga harus menangani perusahaan pusat, ia juga ingin menyendiri, menelaah setiap perkataan Rara waktu itu.
Sungguh, ia terkejut dengan pengakuan Rara yang menyatakan bahwa mantan istrinya itu hanya kagum padanya, bukan cinta.
Malam ini, Reza mengambil keputusan. Ia akan menyimpan rapat cintanya pada Rara. Ia tahu kini Rara tak mungkin lagi diraih. Rara tidak mungkin lagi menjadi miliknya. Apalagi terang-terangan wanita itu meminta agar dirinya berubah dan mencoba untuk menerima kehadiran Sarasmanda.
“Aku akan melakukan apa yang kamu mau, Ra,” gumam Reza sembari memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper besar.
Apartemen ini tetap akan seperti ini. Reza tidak berniat menjual atau menyewakan apartemen ini pada siapa pun, karena tempat ini menyimpan banyak kenangan indah yang tak terlupakan bersama sang mantan. Ia tidak akan pernah bisa melupakan Rara, karena Rara adalah wanita pertama yang ia cintai. Ketika ia tahu wanita cantik dan itu adalah Rara. Sayangnya, ia tidak bisa menjaga cintanya dengan baik. Ia tidak bisa membahagiakan cintanya hingga cintanya pergi.
Srek
Reza meresleting koper itu hingga tertutup sempurna dan menyimpannya di dalam lemari. Ia berniat akan menetap di Bandung. Reza sudah meminta sang ayah untuk kembali ke tanah air dan memegang kembali perusahaan di Jakarta. Ia hanya akan fokus dengan perusahaan yang di Bandung saja.
Setelah selesai memasukkan semua barang-barangnya di dua koper itu. Reza kembali menatap ke sekeliling sudut ruangan. Ia tersenyum ketika bayangan Rara yang sedang tertawa di sofa itu. Mereka memang sering bercanda di tempat itu. Seketika Air mata Reza kembali membasahi pipinya. Ia telah melakukan kesalahan besar yang tak bisa membuat cintanya kembali.
Reza masih menjadi stalker di sosial media Rara untuk menghilangkan kerinduannya pada wanita itu. Ia baru menyadari, mungkin ini yang dirasakan Zayn saat itu, ketika harus meninggalkan Rara demia kebahagiaannya. Walau sayang, ia tidak cukup baik memberi kebahagiaan itu.
“Aku akan mencoba menjadi ayah yang baik untuk Noah dan suami yang baik untuk Manda. Walau sampai kapan pun aku tidak akan bisa mencintai wanita itu,” ucap Reza lirih pada dirinya sendiri.
Ya, ia juga harus menata hidupnya kembali. Ia tidak ingin terus terpuruk dalam penyesalan yang tak berujung.
****
Di rumah Zayn. Rara masih berada di sana. Ia baru saja selesai membacakan dongeng untuk Zac dan Zoey. Si kembar yang tidak identik itu terlelap di pelukan kiri dan kanan tubuh Rara.
Sejak pindah ke rumah ini, Zac dan Zoey memang sudah memiliki kamar masing-masing. Zayn sengaja membiasakan Zac dan Zoey untuk tidak lagi satu kamar, mengingat mereka berlainan jenis dan sudah semakin besar, sehingga Zayn perlu memisahkan kamar tidur mereka sejak sekarang.
Rara mengelus pucuk kepala Zac, lalu menciumnya dua kali. Ia juga melakukan hal yang sama pada Zoey. Rara tersenyum. Ia masih tak menyangka bahwa kedua anak kecil yang menggemaskan ini lahir dari rahimnya. Sungguh, ia sangat senang. Kini, ia tak lagi merasa wanita yang tak sempurna.
Perlahan, Rara bangkit. Ia meletakkan tangan Zac dan Zoey yang berada pada tubuhnya dengan perlahan. Hari semakin malam, Ia harus kembali ke apartemen.
Rara kembali menoleh ke arah Zac dan Zoey, setelah ia berhasil terlepas dari kedua anak yang sedang terlelap itu. Lalu, Rara melangkahkan kakinya keluar. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, ternyata rumah ini sudah sepi. Michelle dan si Bibi mungkin sudah tidur di kamarnya masing-masing. Kebetulan, Michelle, Zac, Zoey, dan si Bibi memiliki kamar di lantai bawah. Sedangkan Zayn dan ruang kerjanya ada di lantai dua.
Rara ingin pulang, tapi ia tak mungkin langsung pulang dan tidak pamit pada pemilik rumah ini. walau sebenarnya ia masih enggan bertemu Zayn. Entah mengapa ia tak bisa menolak jika berhadapan dengan pria itu. Entah pelet apa yang Zayn gunakan sehingga membuatnya selalu luluh dan tidak bisa marah pada pria itu.
Rara menaiki tangga dan melihat foto-foto di dinding itu saat melintas perlahan. Ia meraba wajah ketiga orang yang tersentak dalam bingkai itu. lalu, tersenyum. Sepertinya selain Zayn, kini ada Zac dan Zoey yang mengisi hatinya.
Rara berjalan menuju ruang kerja Zayn. Entah mengapa perasaan Rara mengatakan bahwa pria iu ada di dalam sana.
Tok ... Tok ... Tok ...
Rara mengetuk pintu yang tidak tertutup rapat itu. Sekarang, Zayn tidak lagi merahasiakan isi ruangan itu, karena hampir semua penghuni rumah ini sudah mengetahui di dalamnya.
Zayn yang duduk di dalam ruangan itu, langsung menoleh ke arah pintu yang terketuk.
“Masuk, Sayang.” Zayn bisa melihat kehadiran Rara dari tempat duduknya saat ini.
__ADS_1
Kemudian, Rara masuk ke dalam ruangan itu dengan memasang tampang garang, walau tampang itu tak pantas sama sekali untuk Rara. Namun, Rara kesal karena Zayn terus memanggilnya dengan sebutan sayang.
Zayn bangkit dari kursinya dan menghampiri Rara. Sedangkan Rara kembali melihat foto-fotonya yang terpajang di dinding itu.
“Kapan kamu mengambil foto-fotoku?” tanya Rara angkuh tanpa menoleh ke arah Zayn. Ia fokus pada pose dirinya yang terbingkai di sana.
Padahal hati Rara berbunga. Ia tak menyangka Zayn begitu memujanya hingga membuat ruangan ini penuh dengan foto dirinya.
“Di setiap kesempatan,” jawab Zayn.
“Aku tahu ini saat di pantai kan?” tanya Rara sembari menunjuk satu foto.
Zayn tersenyum dan mengangguk.
Rara seperti orang yang tengah melihat pameran fotografi, sementara Zayn menjadi guide-nya. Zayn menjelaskan lokasi dan momen setiap foto candit Rara yang ia ambil.
“Ini dimana? Kok aku ngga ngeh kamu foto aku disana.” Rara menoleh ke arah Zayn.
Itu adalah foto mereka saat SMP.
Saat itu Rara ikut dengan Zayn ke puncak bersama teman-teman Zayn. Dan, itu adalah kali pertama Rara menginjak tempat itu, yang akhirnya menjadikan tempat itu sebagai tempat favoritnya dikala hendak menyegarkan diri.
“Puncak. Waktu sama Dion, Anjas, dan Vega.”
“Sekarang mereka dimana?” tanya Rara.
“Katanya sih, Dion jadi kontraktor di Kalimantan. Terus Vega udah jadi dokter dan menetap di Bali. Kalau Anjas, dia udah jadi Make Up artis terkenal, sampe ke hollywood,” jawab Zayn tertawa.
“Oh, iya. Aku juga pernah lihat Anjas di Infotainment. Keren banget, dia pernah make up in Taylor Swift.”
Zayn mengangguk. Mereka tidak menyadari bahwa saat ini mereka tengah bercengkerama ria. Tertawa sembari mengenang kisah remajanya dulu. Sesaat Rara lupa kalau dirinya masih marah atas apa yang dilakukan Zayn sebelumnya.
“Kamu ingat ngga, waktu itu aku pernah janji apa sama kamu?” tanya Zayn, membuat tawa Rara memelan dan menoleh ke arah pria itu.
Rara menggeleng.
“Tuh kan, pasti kamu lupa.”
“Memang kamu pernah janji apa?” Rara balik bertanya.
“Waktu kita lagi makan jagung bakar dan duduk di atas puncak. Kamu lupa sama kata-kata aku?” tanya Zayn lagi.
Rara menggeleng.
“Waktu itu aku bilang, kalau udah dewasa nanti, aku ingin jadi suami kamu. Terus kamu malah ketawa dan menganggap perkataanku itu candaan,” jawab Zayn lirih sambil tersenyum.
Walau saat itu, Zayn menyadari bahwa sang kakak sudah menyatakan suka dengan Rara sejak kecil dan mengklaim wanita itu adalah istri masa depannya. Namun, ketika itu entah mengapa Zayn pun pernah berucap demikian, tapi sayangnya Rara tidak menanggapi karena bagi Rara Zayn adalah sahabatnya.
__ADS_1
“Saat itu, kita masih remaja. Aku juga belum mengerti tentang cinta,” kata Rara lembut.
Pandangan Rara beralih pada foto-foto itu lagi.
“Sekarang udah tahu tentang cinta?” tanya Zayn sontak membuat Rara kembali menoleh ke arah pria itu.
Seketika pandangan mereka bertemu dan saling mencari kesungguhan itu dari kedua bola mata masing-masing.
Lalu, Rara memutuskan kontak mata itu. “Aku mau pulang, Zayn. Sudah malam.”
Rara berjalan menuju pintu dan hendak keluar dari ruangan itu. Zayn mengikutinya. “Menginaplah!”
Rara menggeleng. “Besok aku mengajar. Seragamku ada di apartemen.”
“Habis subuh, aku akan mengantarmu ke apartemen. Istirahatlah di sini!” pinta Zayn memohon.
“Tapi kamu tidak memaksaku untuk tidur di kamarmu kan?” Celetuk Rara.
Entah pertanyaan apa itu? Ia sendiri merutuki pertanyaan yang terlontar spontan dari bibirnya.
Zayn tertawa. “Kalau mau boleh. Dengan senang hati malah.”
“Bercanda,” sahut Rara.
“Serius juga ngga apa-apa.”
“Apaan sih, Zayn?” Rara membulatkan matanya dan Zayn kembali tertawa.
“Kamu yang mulai loh. Bukan aku.” Zayn masih tertawa hingga ia memegang perutnya. Rara sungguh menggemaskan.
“Kan aku bilang bercanda. Udah ah, ngga usah diperpanjang.”
“Tapi aku mau diperpanjang, katanya yang panjang itu enak.”
“Zayn,” bentak Rara. Ia cemberut dan mengentakkan kakinya keluar ruangan itu, lalu berjalan cepat menuruni tangga.
“Oke ... Oke ... Maaf. Aku juga bercanda. Aku antar pulang ya!” kata Zayn sembari mengejar Rara hingga berada di lantai bawah.
“Ngga usah, aku pesan ojol aja.” Rara menolak dan mulai membuka aplikasi itu.
Dengan cepat, Zayn menyambar ponsel yang Rara pegang. “Aku ngga izinkan kamu pulang kalau naik ojol. Ini udah malam, Sayang.”
“Zayn, apa sih, main ambil Hape orang.” Rara mengambil lagi ponselnya dari tangan Zayn. “Pake panggil sayang segala lagi.” Rara kembali merungutkan bibirnya.
“Biarin. Pokoknya ngga boleh pulang pake ojol. Aku yang antar atau menginap di sini.”
“Kok kamu ngatur.” Rara bertolak pinggang di depan Zayn.
__ADS_1
“Ya, karena aku calon suami kamu. Kita akan menikah minggu depan,” jawab Zayn santai dengan memasukkan kedua tangannya di celana Nike sport yang ia gunakan saat ini.
Rara langsung mengernyitkan dahinya. “Apa?”