Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Kembali menetap di tanah air


__ADS_3

Satu bulan kemudian, Rara beraktifitas seperti biasa. Ia pun masih tinggal di rumah orang tuanya. Rara, kini membawa kendaraannya sendiri.


Kendaraan roda empat yang semula tidak diperbolehkan suami yang telah menjadi mantan, karena kecelakaan yang membuat Rara harus kehilangan rahimnya. Tapi, saat ini ia berhasil membujuk Sanjaya untuk memperbolehkan menyetir lagi dan ayah Rara itu memperbolehkan.


Mobil Rara keluar dari rumah dan separuh perjalanan, ia melihat mobil yang sangat ia kenal dari kaca spion dalam.


Benar seperti apa yang dikatakan Husna waktu itu, Reza mengintainya. Hari ini Rara menyaksikan sendiri mobil Reza yang berada persis di belakang mobilnya. Ternyata seperti ini keseharian Reza sebelum tiba di kantor. Ia akan menyempatkan diri menunggu Rara keluar dari rumah dan menemaninya di jalan dengan mengikuti mobil Rara hingga sampai di Yayasan.


Sungguh, Rara kesal dengan hal ini. Mereka sudah tidak ada urusan tetapi Reza masih saja mengurusinya. Padahal pria itu punya keluarga yang lebih prioritas untuk diurusi.


Setiba di Yayasan itu, Rara melihat mobil Reihan juga tengah memarkirkan persis berbarengan dengan dirinya, walau tidak bersebelahan.


“Pak Reihan.” Rara buru-buru keluar dari mobilnya dan memanggil pemilik Yayasan itu.


Reihan tidak setiap hari ada di Yayasan ini, karena Yaaysan ini memilii cabang di berbagai kota. Dan, Reihan juga memiliki bisnis tempat makan yang cukup terkenal di beberapa mall besar di Jakarta.


“Ya.” Reihan menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara itu.


Ia tersenyum melihat Rara yang tengah berlari kecil menghampiri. Rara terlihat semakin cantik dengan balutan pasmina yang ujung kanan dan kirinya di sampirkan ke belakang bahu dan tampak anggun menggunakan rok sepan berwarna senada dengan seragam dan blouse itu.


“Maaf, ganggu waktu bapak sebentar,” kata Rara lagi saat ia sudah ebrhadapan dengan Reihan.


“Iya, ngga apa-apa.”


“Ya, mumpung bapak lagi ada di sini. Saya ingin meminta bantuan, bisa?” tanya Rara.


“Selagi saya bisa, pasti saya bantu,” jawab Reihan. “Oh, kalau begitu kita bicara di ruangan saya saja.”


Reihan mengajak Rara menuju ruangannya dan mereka pun berjalan beriringan. Orang-orang yang melihat Rara dan Reihan berjalan beriringan itu pun mulai bergunjing. Secara, saat ini status Rara janda dan Reihan duda. Mereka di sana seolah mengiyakan keserasian Rara dan Reihan karena keduanya cantik dan tampan.


Namun, Rara masih belum sadar bahwa saat ini ia tengah memunculkan gosil baru.


“Silahkan masuk, Ra.” Reihan membuka pintu ruangnnya dan meminta Rara untuk masuk.


Entah mengapa hanya dengan Rara, Reihan langsung memanggil nama tanpa embel-embel ‘Bu’ sedangkan dengan yang lain ia pasti memanggil dengan panggilan depan ‘Bu’. Mungkin Reihan ingin terkesan akrab atau dekat dengan Rara atau membuka hubungan yang lebih dari sekedar atasan dan bawahan. Mengingat saat ini Rara bukan lagi miliki orang.


“Apa yang bisa saku bantu?” tanya Reihan sembari mendaratkan dirinya di kursi kerja itu.


Satu lagi, Reihan kini juga menggunakan aku-kamu.


Rara ikut duduk di hadapan Reihan. “Begini, bisa ngga kalau saya di pindahkan di cabang mana gitu.”


“Makdusnya?” tanya Reihan.


“Hmm ... gimana ya bilangnya?” Rara ragu untuk menceritakan maslaah pribadinya pada Reihan, karena selama ini mereka tidak begitu dekat secara pribadi, hanya dekat dalam urusan pekerjaan saja.


Lalu, akhirnya Rara menceritakan kondisi rumah tangganya yang sudah selesai dan ia pun menceritakan mantan suaminya yang masih mengikuti aktifitasnya.


“Saya ingin di tempatkan di cabang saja, Pak. Jangan di pusat!”


Yaaysan tempat Rara berada memang Yayasan pusat.


“Hmm ... nanti coba aku pikirkan.”

__ADS_1


“Tapi bisa kan?” tanya Rara dengan menatap kedua bola mata Reihan, membuat pria itu meleleh. “Please!”


Reihan tersenyum dan mengalihkan pandangannya. Sungguh, wanita dihadapannya itu begitu mempesona.


“Mau ditempatkan di dekat komplek rumahku?”


Rara langsung mengangguk.


“Tapi letaknya cukup jauh dari rumahmu, Ra.”


“Ngga apa-apa, aku bisa ngekos kok.”


“Baiklah, nanti aku akan urus secepatnya.”


Rara tersenyum lebar. Senyum yang begitu manis yang mampu menghipnotis kaum adama, termasuk Reihan.


“Makasih, Pak. Makasih banget.”


“Tapi ada syaratnya,” sambung Reihan.


“Apa?”


“Temani saya makan siang nanti.”


“Ya ampun, saya kira ngapain.” Rara tersenyum. “Oke.”


Lalu, Rara pamit dan hendak keluar dari ruangan itu. Tetapi, ia kembali menoleh ke arah Raihan.


“Pak, bisa tidak Bu Yasmin itu taunya saya resign dan bukan pindah ke cabang?” tanya Rara.


“Karena suami Bu Yasmin teman bisnis mantan saya itu. Saya tidak ingin ada yang tahu keberadaan saya nanti.”


Reihan terdiam sejenak. Kemudian mengangguk. “Baiklah.”


Rara kembali tersenyum.


Entah mengapa Reihan mudah sekali menyutujui permintaan Rara, hanya karena senyum manis itu. Reihan pun tersenyum sesaat ketika melihat Rara keluar dari ruangannya dan menutup kembali pintu itu. Reihan memegang dadanya yang berdetak kencang. Rasanya ia sedang jatuh cinta.


****


Di Paris, Zayn berada di rumah ayah kandungnya. Michelle, adik Zayn yang lahir dari istri kedua Marco yang bernama Clara.


Clara juga berasal dari Indonesia. Dua puluh dua tahun, ia bekerja di perusahaan Marco, lalu sembilan belas tahun lalu, ayah Zayn menikahi Clara dan lahirlah Michelle. Usia Michelle saat ini delapan belas tahun.


“Dad, aku ingin kuliah di Indoensia. Aku ingin temani Mommy di sana,” rengek Michelle pada Marco.


Bulan depan, Clara memang akan berangkat lagi ke Indonesia. Ayah Clara yang berada di Indonesia mengalami kesehatan yang tidak baik dan saat ini kondisinya semakin memprihatinkan. Dua bulan lalu, Clara sudah menjenguk ayahnya di negeara yang jauh dari tempat tinggalnya saat ini. Namun sekarang, kondisi sang ayah kembali memburuk dan Clara ingin menjenguk sekaligus merawatnya selama beberapa minggu.


“Ya sudah, Mommy yang berangkat dulu ke sana, nanti kamu menyusul. Bagaimana Dad?’ tanya Clara pada suaminya.


Marco yang mahir berbahasa Indonesia pun, saat ini berbicara dengan bahasa negara asal sang istri. begitu juga dengan Michelle yang juga sudah mahir berbahasa itu.


“Ya sudah terserah. Tapi setelah itu kamu tinggal dengan Zayn.”

__ADS_1


“Yeeayy ...” Michelle bersorak. Gadis itu memang ingin sekali tinggal di negara ibunya. Ia sengaja ingin menjauh dari mantan pacarnya yang selalu menganggu.


“Bulan depan projekmu mulai tetap di sana ‘kan?” tanya Marco pada putranya.


Zayn mengangguk. “Ya, Dad.”


Zayn sudah menandatangani kontrak kerja dengan rumah produksi nomor satu di Indonesia selama lima tahun ke depan. Zayn dan Jack juga sudah membeli ruko di kawasan ujung Jakarta timur. Ia sengaja membeli ruko yang tak jauh dari kawasan perumahan yang akan ia tinggali. Zayn membeli sebuah rumah minimalis di kawasan perumahan elite Cibubur. Ia sengaja membeli rumah yang dekat dengan sekolah. Perumahan itu juga berdekatan dengan rumah beberapa artis terkenal dan pengusaha juga pengacara sukses.


Zayn sudah mempersiapkan semua untuk menetap kembali di negara kelahirannya itu. Ia sengaja membeli rumah di kawasan yang sangat jauh dari kediaman Kemal dan apartemen Reza yang berada di pusat kota.


Zayn dan Jack juga sudah memperluas keahliannya dengan bekerjasama pada even organizer ternama yang sering digunakan artis terkenal juga para pejabat di Indonesia. Jack mengumpulkan beberapa photografer kompeten untuk bergabung dalam tim mereka dan setibanya di sana, kantor itu akan diresmikan langsung oleh Zayn.


“Mommy akan sering ke sana untuk melihat kalian,” kata Clara.


“Yeay, akhirnya. Aku bisa jauh dari Justin,” ucap Michelle senang.


“Jadi, kamu ingin kuliah di sana hanya untuk menghindari pria itu?” tanya Marco.


“Iya, Dad.” Michelle nyengir dengan menampilkan jejeran giginya yang putih kepada Marco. Sedangkan Marco hanya menggelengkan kepala.


“Oh, iya. Saat kami di .... Hmm ... dimana itu Mom? Pantai apa yang kita kunjungi saat di kota kakek?”


“Bandung,” jawab Clara.


“Pantainya, Mom.”


“Pantai jayanti.”


“Ah iya, pantai jay ... jay ... apalah itu. aku melihat wanita cantik sekali,” kata Michelle terhadap ayah dan kakaknya.


“Wanita siapa?” tanya Marco pada sang istri.


Clara mengangkat bahunya. “Entahlah, mereka berbincang dengan orang asing di sana.”


“Pantai Jayanti? Kalian ke sana? Kapan?” tanya Zayn yang baru sadar perbincangan itu, karena sedari tadi ia terus diganggu oleh kedua anak kecil.


“Saat kamu ada projek di Lembang, Zayn,” jawab Clara.


“Loh, kok kalian tidak bilang?”


“Michelle, Zac dan Zoey bosan dan aku membawanya ke pantai itu.”


“Tunggu ... Tunggu ... tadi kalian bertemu wanita, wanita siapa?” tanya Marco.


“Dia sangat cantik Daddy.” Celetuk gadis kecil berusia lima tahun yang duduk di samping Zayn.


Zayn pun mengelus kepala gadis kecil itu. “Siapa namanya? Kalian berkenalan?”


Gadis kecil itu menggeleng. “Tidak.”


“Mommy memanggil kami, jadi kami tidak sempat berkenalan,” ujar anak kecil berjenis kelamin laki-laki yang se usia dengan gadis kecil itu. Mereka duduk di sisi kiri dan kanan Zayn.


“Iya, Mommy terlalu buru-buru. Kamu tahu, Kak. Matanya sangat indah. Aku menyukainya. Kalau kakak lihat, pasti kakak juga menyukainya,” sambung Michelle antusias menceritakan saat ia bertemu Rara kepada Zayn.

__ADS_1


Zayn hanya menggeleng sembari mengelus dua kepala anak kecil yang berada di sampingnya tengah mewarnai bermain dengan i-pad masing-masing.


Sejak dulu keluarganya memang selalu menyodorkan wanita pada Zayn. Entah itu dari teman-teman Clara atau kakak dari teman-teman Michelle. Namun, tidak ada satu pun yang Zayn suka, karena di hati dan otak Zayn cuma ada satu wanita yaitu Cleopatra.


__ADS_2