
Kemal dan Mirna, pulang lebih dulu sesaat setelah acara pernikahan itu selesai. Para tamu sudah tak ada lagi, hanya tinggal para pembersih yang membersihkan sisa-sisa pesta ini.
“Nak, Bunda sama Ayah juga pulang ya,” pamit Mia.
“Loh, Ra pikir Bunda sama Ayah menginap,” sahut Rara.
“Tidak, Sayang. Besok Ayah juga mau menghadiri pesta pernikahan rekan ayah,” jawab Sanjaya.
Rara menghela nafas lemah. “Yah.”
Sanjaya tersenyum dan mengelus kepala putrinya. “Sekarang Papa bisa tenang melepasmu, Sayang.”
“Ya, Bunda juga.” Mia pun tersenyum. Ia bisa merasakan kebahagiaan putrinya, walau Rara seperti masih malu-malu pada Zayn.
“Bunda sama Ayah mau pulang?” tanya Zayn menghampiri mertua dan istrinya.
“Iya, Zayn,” jawab Sanjaya.
“Mengapa tidak menginap?” tanya Zayn.
“Nanti saja, lain waktu pasti kami menginap. Kami pasti akan sering merindukan Zac dan Zoey.” Arah mata Sanjaya tertuju pada si kembar yang berada dalam pangkuan Marco.
Keluarga Zayn tengah berkumpul dan bercengkrama di seberang sana bersama Jack.
Lalu, Sanjaya dan Mia berpamitan pada orang tua Zayn. Mereka mengantar orang tua Rara hingga memasuki mobil dan meninggalkan halaman rumah itu.
Jack bersama tim yang bekerja dengan Zayn pun ikut pamit. Rumah ini tidak lagi ramai karena pestanya selesai.
“Mommy dan Daddy menginap kan?” tanya Rara.
Marco mengangguk, begitu pun Clara.
“Besok kami berangkat ke Bandung, sekalian mengantar Papi ke rumah.”
Kebetulan ayah Clara memang sudah membaik sejak ia bawa berobat ke Paris dengan dokter kenalannya. Dan, event ini sekalian membawa sang ayah kembali pulang ke rumahnya bersama saudaranya yang lain.
“Kamu ikut ke Bandung, Chel?” tanya Zayn pada sang adik.
Michelle mengangguk. “Iya dong. Nanti aku di sini ganggu pengantin baru,” ledeknya.
“Apaan sih, Chel.” Rara menyenggol lengan Michelle sembari tersenyum malu.
Marco dan Clara pun tertawa.
“Mommy ... Zoey ingin tidur bersama Mommy,” kata Zoey menyela di tengah-tengah Zayn dan Rara.
“Aku juga ingin tidur bersama Mommy,” sahut Zac.
“No, Mommy and Daddy tidur di kamarnya dan kalian tidur dengan Mommy Clara,” sahut Clara dengan merangkul Zac dan Zoey.
“Tidak mau.”
“Kalian tidak rindu Mommy,” ucap Clara pada dirinya sendiri.
“No.” Sahut Zac dan Zoey bersamaan.
“Jahat! Baiklah, Mommy Clara tidak akan main ke sini lagi.” Clara berjalan angkuh menuju kamarnya.
“No, Mom.” Zac dan Zoey pun mengejar Clara diikuti oleh Michelle.
__ADS_1
Zayn, Rara, dan Marco tersenyum. Rara yang lebih senang karena ternyata anak-anaknya tidak kurang kasih sayang. semua orang menyayangi Zac dan Zoey.
Hari semakin sore, bahkan langit mulai menguning dan sebentar lagi akan gelap. Rara duduk di depan cermin dan membuka aksesoris serta hijabnya, menampilkan rambutnya yang lurus panjang dan hitam. Rara masih menggunakan gaun pengantin yang berwarna putih itu. Ia hendak membuka resletingnya. Namun, tangan Rara tak mudah menggapai resleting yang berada di belakang tubuhnya itu.
Tiba-tiba tangannya tersentuh oleh tangan seseorang yang membantu membuka resleting itu. Rara pun langsung menoleh. Ternyata Zayn sudah berada di kamar ini. padahal semula ia masih melihat suaminya berbincang dengan Marco.
Zayn tidak melihat ke arah Rara yang menoleh ke arahnya. Ia terlalu fokus membuka resleting itu. Sejak membuka kamar ini, ia takjub melihat Rara yang tidak mengenakan hijab. Sejak ia mengenal Rara, wanita ini memang cantik dan sekarang semakin bertambahnya usia dan kedewasaan, Rara semakin cantik. Zayn semakin terpesona pada wanita yang telah menjadi istrinya ini.
Perlahan resleting itu terbuka dan memperlihatkan punggung Rara yang putih mulus. Zayn meneguk salivanya dan Rara memejamkan mata dengan posisi membelakangi Zayn saat merasakan tangan besar itu menyentuh punggungnya.
Rara belum siap, tapi tubuhnya menerima sentuhan itu.
Cup
Zayn mengecup punggung mulus yang terbuka itu.
“Mandilah, Sayang. aku tidak mengganggumu," bisik Zayn sensual tepat di telinga Rara.
Rara membuka matanya dan menatap Zayn dari balik cermin. Zayn pun menatapnya dari sana, ia tersenyum dan jarinya mengelus pipi Rara. Zayn sadar bahwa ia tidak boleh terburu-buru melakukan hubungan suami istri. Ia tahu bahwa Rara masih trauma akan kesalahannya dan ia akan melakukannya hingga Rara siap.
Rara terdiam dan melihat Zayn yang keluar dari kamar itu. lalu, Rara memegang dadanya yang berdetak kencang. sungguih, apa yang Rara rasakan jauh berbeda ketika ia pertama kali mendapat gelar istri Reza. Rara menarik nafasnya kasar. Dadanya naik turun seiring degup jantungnya yang tak karuan. Ia pun bangkit dari kursi rias itu menuju kamar mandi.
Di rumah ini selain Rara, Zayn, dan si kembar, hanya ada Marco, Clara, dan Michelle. Rara tidak menggunakan hijab di dalam rumah ini, ia pun memakai dres santai dengan panjang selutut dan lengan pendek yang berkerah neck.
Kini, Rara berdiri di dapur dan tengah menyiapkan makan malam bersama si Bibi. Rara menguncir kuda rambutnya hingga ke atas dan memperlihatkan lehernya yang jenjang dan mulus.
Si Bibi menatap ke arah Rara.
“Kenapa, Bi?” tanya Rara bingung dengan tatapan Bibi.
“Non Rara cantik banget.”
“Beneran, Non. Kaya artis India,” kata si Bibi lagi.
Rara tertawa. “Oh, ya? Siapa?”
“Itu loh, siapa ya namanya. Oh ya, Sarah Khan.”
Rara kembali tertawa. Ia tak tahu artis india yang disebut asisten rumah tangga suaminya itu. “Ada-ada aja sih, Bi. Saya ngga tahu, yang saya tahu artis india Cuma Shah Rukh Khan sama Kajol.”
“Ah, itu sih artis lama, Non,” sahut si Bibi dan Rara hanya menggelengkan kepalanya.
“Iya, benar kata si Bibi. Kamu memang cantik, Ra. Pantas saja Zayn tergila-gila,” celetuk Clara yang juga ternyata ada di dapur dan mendengar percakapan Rara bersama si Bibi.
Rara menoleh ke arah Clara. “Ih, Mommy bisa aja. Jangan denger omongannya si Bibi! Lebay.”
Clara mendekati Rara. “Kamu tahu Ra, banyak artis di Paris yang tergila-gila pada Zayn. Tapi mereka semua ditolak karena yang dia mau hanya kamu.”
“Iya, Mommy juga sering kenalin kak Zayn sama anak teman-temannya. Tapi Kak Zayn ngga mau karena katanya ngga ada yang secantik Kak Rara.” Kini, Michelle yang bercelatuk.
“Eh, rupanya para wanita sedang rumpi di sini,” ucap Marco.
“Iya, Dad. Ngerumpiin anakmu,” sahut Clara. “Anakmu kan ngga pernah mau sama perempuan manapun kecuali Rara.”
Rara tersenyum dan Marco menghampiri menantunya.
“Ra, maaf Daddy juga ikut andil dalam memisahkan mu dengan Zayn dan kedua anakmu,” ucap Marco.
Rara menggeleng. “Tidak, Dad. Memang sudah seperti ini jalannya.”
__ADS_1
“Maafkan Zayn, Sayang. Dia sangat mencintaimu,” ucap Marco lagi.
Rara mengangguk dan tersenyum. “Ya, Dad.”
“Kamu memang pantas dicintai begitu besar oleh putraku.” Marco memeluk Rara dan di sambung oleh Michelle juga Clara.
Mereka adalah orang yang bersama Zayn ketika kejadian itu terjadi dan mereka tahu bagaimana perasaan Zayn pada Rara.
“Hei, lagi pada ngomong in Zayn ya?” tanya Zayn tiba-tiba sembari mengajak Zac dan Zoey menuju meja makan.
Pelukan itu pun terlepas. Marco, Clara, dan Michelle berjalan menuju meja makan.
“Ish, ge er.” Rara meledek suaminya.
Zayn mendekati Rara dan berdiri di belakang istrinya yang tengah memindahkan makanan dari wajan ke piring berwarna putih dengan motif bunga.
“Mereka bilang apa?’ tanya Zayn tepat di telinga Rara.
“Katanya kamu nyebelin,” jawab Rara bohong sambil fokus pada pekerjaannya dan tersenyum.
“Kalau bohong, aku gigit leher kamu.”
Rara memutar tubuhnya. “Sejak kapan ngegantiin Edwar Cullen?”
“Sejak bisa dapetin Bella Kamila.”
Rara tertawa. “Sejak kapan aku ganti nama?”
Zayn menatap kedua mata Rara. Ia mengunci tubuh Rara dengan menyanggahkan kedua tangannya pada marmer kitchen set.
Sepersekian detik, Rara dan Zayn bertatapan tanpa jarak. Zayn memajukan tubuhnya dan hendak mencium bibir ranum itu. Kebetulan di dapur ini, hanya ada mereka berdua.
“Mommy ...”
“Daddy ....”
“Ayo makan!”
Teriak Zac, Zoey, dan Michelle.
“Kalau kalian tidak lapar. Ke kamar saja,” ucap Marco berteriak setelah anak dan cucunya yang juga berteriak tadi.
Sontak Zayn mengurungkan niatnya karena teriakan itu. Ia pun menempelkan keningnya pada Rara.
“Mereka bilang, kamu sangat mencintaiku,” ucap Rara lirih.
Zayn dapat merasakan hembusan nafas Rara. “Apa kamu juga merasakan hal yang sama?” tanyanya.
“Mom, Come on! Mana kepiting rajungan milikku?” tanya Zac yang akhirnya menghampiri orang tuanya di dapur.
Zayn pun melepas kungkungan itu.
“Ini, sayang.” Rara memperlihatkan makanan kesukaan Zac yang ada di piring itu.
Rara berjalan menghampiri Zac dan meninggalkan Zayn yang masih berdiri mematung. Namun, sebelum meninggalkan Zayn, Rara menoleh ke arah suaminya.
“Aku juga merasakan hal yang sama. Dan, aku menyesal karena telat menyadari ini,” ucap Rara pada Zayn lalu mengedipkan satu matanya.
Zayn tersenyum lebar. “Ah, ternyata dia juga mencintaiku,” gumamnya yang membuat senyum itu semakin lebar.
__ADS_1