
Rara tersenyum tipis dan tetap berjalan lenggak lenggok menuju suaminya.
“Masih sibuk?” tanya Rara dengan tubuh yang berada di samping Zayn persis dan menunduk untuk melihat laptop di meja itu.
Zayn menoleh ke samping, ke tempat Rara berdiri. Pandangannya langsung disuguhkan oleh belahan dada Rara yang isinya hampir mencuat keluar.
“Kenapa?” tanya Rara polos.
“Kamu ya, kalau aku khilaf aja, nanti nangis.”
Rara tertawa. “Katanya bisa tahan?”
“Pria bodoh yang bisa tahan dengan godaan sedahsyat ini,” jawab Zayn dengan senyum yang masih mengembang.
Zayn menggigit ujung ibu jarinya. Ingin sekali ia menggigit tubuh itu, memberinya tanda pada semua bagian itu.
Kemudian, Rara mengalihkan topik pembicaraan dengan mengambil salah satu cetakan foto model yang berserak di meja Zayn. “Waw, cantik sekali.”
Rara mengambil lagi foto yang lain. “Setiap hari kamu dikelilingi wanita cantik ya Zayn. Muda-muda lagi, fresh banget.” Lalu, Rara mendekatkan wajahnya pada Zayn. “Sexy.”
“Tidak kalah cantik denganmu. Tidak kalah sexy juga darimu,” ujar Zayn santai sambil menatap istrinya dan tersenyum.
“Masa? Ngga percaya.” Rara bertolak pinggang dan kembali mengambil cetakan foto di meja itu hingga tubuhnya menungging tepat di samping Zayn.
Zayn tidak bisa duduk normal. Arah matanya tak beralih sedetik pun dari tubuh molek yang terpampang sempurna di depannya itu.
“Mana lagi fotonya? Ah, begini doang.” Rara melempar asal foto-foto wanita di dalam cetakan itu kembali di atas meja bersama dengan cetakan yang lain yang tergeletak di sana.
Kemudian, Rara beralih pada laptop Zayn dan kini kembali memosisikan menunduk dan menempel pada bahu Zayn sehingga dada Rara yang kenyal sangat terasa di bahu Zayn.
“Ra, sejak kapan kamu nakal seperti ini sih?” tanya Zayn.
Rara menoleh ke arah suaminya. “Sejak punya suami seorang fotografer terkenal.”
Zayn tertawa. “Kamu cemburu?”
“Ih, ngga banget. Di dalam kamus Cleopatra ngga ada ya kata cemburu.”
“Tapi nangis,” ledek Zayn.
“Ih, nangis apa sih.” Rara memukul bahu Zayn, membuat pria itu tertawa. “Aku bukan wanita cengeng.”
“Iya, iya. Kamu bukan wanita cengeng. Percaya,” ucap Zayn.
“Mana foto dia?” tanya Rara sambil mengotak atik laptop Zayn.
“Dia siapa?” tanya Zayn.
“Model yang tergila-gila sama kamu,” jawab Rara. “Siapa deh namanya.” Rara berdiri dan berpikir.
Sungguh tingkah Rara semakin membuat Zayn gemas.
“Oh, iya. Namanya Cellin.”
“Tahu dari mana nama itu?” tanya Zayn.
“Dari Michelle.”
“Wah, ngga beres,” kata Zayn kesal pura-pura kesal.
“Kamu udah ngapain aja sama dia?” tanya Rara melirik suaminya.
“Mau tahu banget apa mau tahu aja?” Zayn balik bertanya dengan tersenyum.
“Ngga tahu, Ah.” Rara kembali beralih pada laptop itu.
“Kok fotonya ngga ada?” tanya Rara yang tidak menemukan wajah Cellin seperti yang diberitahu Cellin.
__ADS_1
“Emang ngga ada. Ngga penting. Orang yang penting, fotonya ada di situ semua.” Zayn menunjuk foto Rara yang terpajang di dinding-dinding ruangan ini.
“Gombal.” Rara mendorong bahu Zayn dan berjalan ke benda lain yang membuat Rara penasaran sejak berada di ruangan ini.
Zayn berdiri dan mengikuti langkah istrinya.
“Pasti, kamu sama dia udah begituan ya? Sering ciuman juga?” tanya Rara.
Zayn tertawa geli, hingga memegang perutnya. “Begituan itu apa?”
“Ish, Zayn. Nyebelin banget sih.” Rara kembali memukul suaminya yang menyebalkan.
Zayn memang tidak bisa di bully, karena jika dirinya di bully bisa jadi malah sebaliknya, lawannya yang akan menjadi bulan-bulan objek pembuly-an berikutnya.
Zayn memeluk tubuh sexy Rara. “Hampir begituan.”
“Serius?” Terus kenapa ngga jadi?’ tanya Rara yang ingin tahu tentang Zayn ketika hidup di negara asal ayahnya.
“Hmm ... gara-gara waktu itu ke pikiran muka istri orang yang udah aku hamilin pas koma.”
“Zayn.” Rara kembali memukul dada suaminya. “Aku serius.”
“Aku juga serius, Sayang. Muka kamu tuh nempel disini aku.” Zayn menunjuk kepalanya. “Ngga mau ilang. Bikin orang ngga bisa ngapa-ngapain tau ngga?”
“Bohong.” Rara melepas pelukan Zayn dan berdiri pada satu lukisan yang berada di sana, tetapi tertutup oleh kain putih.
“Ini lukisan siapa?” tanya Rara. “Kok ditutup terus?”
“Buka aja,” jawab Zayn santai dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam celana panjang sport itu.
Tangan Rara meraih ujung kain putih itu dan perlahan membukanya.
Srek
Lukisan itu pun terlihat sempurna. Lukisan yang menampilkan wajah seorang wanita yang sedang tertawa lepas. Siapa lagi kalau bukan Rara. Ya, itu adalah lukisan wanita pujaan Zayn.
“Bukan, itu si Bibi,” jawab Zayn asal. “Ya, iya kamulah, Sayang.”
Rara tersenyum ke arah suaminya. ia mendekatkan diri pada papan lukisan itu dan meraba kanvas yang sudah menggambarkan dirinya.
“Ini baru selesai beberapa hari lalu. Sengaja aku mau kasih kamu setelah kita resmi menjadi suami istri. tadinya mau aku jadikan seserahan tapi nanti dibilang lebay.”
Cup
Rara membalikkan tubuhnya dan mencium bibir Zayn. “Sebesar itukah cintamu padaku?”
Zayn langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Rara. “Haruskah aku jawab lagi?”
Rara tersenyum dan menggigit bibirnya.
“Jangan digigit, Ra!”
“Apa?”
“Bibir kamu,” jawab Zayn.
“Kenapa?” tanya Rara bingung.
“Ck ... itu bagian aku.”
“Zayn,” teriak Rara dan Zayn pun tertawa.
Zayn memeluk erat tubuh Rara dan mencium bibir ranum itu. Ciuman yang semula lembut menjadi menuntut. Benar saja, Zayn melakukan tugasnya. Ia menggigit bibir Rara hingga sang empunya itu berdesis.
Suara kecapan saat mereka bergelut lidah pun terdengar nyaring di ruangan tertutup itu. Bibir Zayn turun ke leher dan menggigit lagi bagian itu hingga berbekas.
Zayn mendorong Rara hingga ia terjatuh di sofa dan Zayn kembali menerjang tubuh itu. Kali ini, Zayn memainkan dua gundukan kenyal yang sedari tadi menggodanya.
__ADS_1
“Zayn, ah,” rintih Rara ketika Zayn menghisap bagian titik kecil di tengah dua gundukan kenyal itu bergantian.
Zayn terus mencumbui bagian atas tubuh Rara, menggigit dan memberi jejak di semua bagian itu.
“Eum ....” lenguh Rara yang baru merasakan nikmatnya bercumbu dengan cukup lama.
“Zayn, Ah.” Dada Rara naik turun, nafasnya memburu.
Begitu pun dengan Zayn. Pria itu menyudahi aksinya dan kembali menyejajarkan wajahnya pada wajah Rara. Mata Rara terlihat sayu, wajahnya semakin sexy karena diselimuti gairah membara dan hal itu membuat libido Zayn pun meningkat.
“Boleh aku melakukannya?” tanya Zayn.
Rara membuka matanya sempurna. Ia menatap wajah Zayn lekat dan tanpa jarak. Rara teringat kembali saat masih menjadi istri Reza, Reza menyudahi cumbuan hanya karena tidak ingin menyentuhnya lebih dalam karena dirinya yang sudah disentuh oleh pria lain.
“Kamu tidak jijik denganku?” tanya Rara.
Zayn mengerutkan dahinya. Ia bingung dengan pertanyaan Rara. Jijik? pertanyaan apa itu? Apa Rara tidak tahu betapa inginnya Zayn menyentuh tubuh itu?
“Aku bekas Reza,” ucap Rara.
“Memang kenapa?” tanya Zayn dingin.
“Dulu, dia jijik padaku karena aku pernah disentuh olehmu. Mungkin saja kamu juga jijik padaku karena pernah disen ....”
Zayn langsung ******* bibir Rara yang terlalu banyak bicara. Lalu, Zayn kembali melakukan aksinya dengan sangat ganas. Ia tak membiarkan Rara merintih merasakan nikmat sentuhan bibir Zayn yang menelusuri tubuhnya dari kepala hingga kaki. Zayn sengaja ingin memberikan sensasi berbeda yang ia yakini bahwa dengan Reza dulu, Rara belum merasakannya.
Kini, kepala Zayn sudah berada di antara kedua kaki Rara yang terbuka. Zayn melepaskan benda yang menghalangi bagian sensitif milik istrinya. Lalu, ia memakan dengan rakus bagian itu hingga yang punya pun merintih keenakan.
“Zayn, apa yang kamu lakukan. Ah.” Rara mencoba menyingkirkan suaminya dari sana.
Namun, rasa yang luar biasa membuat Rara pasrah dengan apa yang dilakukan Zayn.
“Zayn, aku .... Ah, Zayn. Ini apa?”
Zayn tetap melanjutkan aksinya. Ia menyukai aktivitasnya saat ini, karena bagian ini adalah bagian favoritnya. Bagian yang pernah ia renggut dengan paksa dan kini ia bebas untuk memainkannya lagi tanpa paksaan. Perlu digaris bawahi, tanpa paksaan.
“Zayn, Stop! A ... ku ... Ah,” racau Rara yang ingin meledakkan sesuatu dari bagian sensitif itu. “A ...”
Zayn melepaskan aktivitas itu. Ia tersenyum melihat Rara yang sedang menikmati pelepasannya. Zayn kembali menyejajarkan kepalanya pada kepala Rara.
Zayn mengelus wajah yang sangat cantik dan semakin cantik karena sensasi gelora yang meledak tadi. Ia juga mencium seluruh wajah Rara yang nafasnya masih tersengal.
“Enak, Sayang?” tanya Zayn.
Rara mengangguk. “Tadi itu apa?”
“Kamu baru merasakannya?” tanya Zayn lagi dan Rara pun kembali mengangguk.
“Aku akan buat kamu merasakan seperti ini setiap hari,” ucap Zayn tersenyum dan menggendong tubuh istrinya seperti koala.
Rara tak sadar jika saat ini, ia sudah tak mengenakan apapun. Zayn kembali mencium bibir Rara dan membawa tubuh itu ke kamar mereka. Untung saja lantai ini hanya ada mereka. sedangkan penghuni yang lain berada di lantai bawah, sehingga tidak ada satu pun yang melihat kegilaan pasangan pengantin baru ini.
Sesampainya di kamar, Zayn meletakkan tubuh Rara dengan hati-hati bgai porselen yang mudah rapuh, di atas ranjang King size itu.
“Boleh aku melakukannya?” tanya Zayn lagi untuk meminta izin kedua kalinya.
Rara mengangguk.
“Aku tidak akan bisa berhenti, Sayang.”
Kata-kata itu pernah Zayn ucapkan. Ya, Rara ingat, hanya saja kondisi kali ini berbeda. Kali ini, Rara tidak terdiam setelah mendengar kalimat itu. Justru Rara menganggukkan kepalanya tanda setuju dan siap diperlakukan apa pun pada pria yang sedang menindihnya ini tanpa paksaan.
Zayn semakin bersemangat. Ia pun tak melewatkan kesempatan emas ini, karena inilah hal yang paling ia tunggu-tunggu, menjadikan Rara miliknya utuh dan tanpa paksaan.
Zayn membolak-balikan tubuh itu, menggunakannya dengan lembut dan terkadang sedikit kasar ketika kegemasannya muncul. Namun, hal itu malah membuat Rara tersenyum. Ternyata istrinya menyukai tidak marah sama sekali. Rara benar-benar menikmati percintaan ini.
Berjam-jam mereka bergulat dalam peluh. Kini, Zayn memiliki semua yang ada pada Rara. Zayn memiliki hati dan tubuh itu. Zayn akan menjaganya, menjaga kebahagiaan ini hingga ia menutup mata. Sungguh, ia benar-benar menjadi pria paling beruntung di dunia, karena mendapatkan wanita yang selama ini ia puja. Memang, usaha tidak mengkhianati hasil. Setiap kesabaran dan keikhlasan pasti akan berbuah manis.
__ADS_1