
“Zayn, semua sudah beres?” tanya Mirna kepada putra angkatnya.
Zayn menoleh ke arah sang ibu dan mengangguk. Ia duduk di tepi ranjang bertingkat sembari mengelus kepala gadis kecil yang tengah terlelap.
Mirna masuk ke dalam kamar itu dan duduk di kursi belajar.
“Tidak ada yang tertinggal?” tanya Mirna lagi dengan suara pelan karena khawatir membangunkan kedua anak kecil yang tidur di ranjang bertingkat berwarna biru laut itu.
“Iya, Ma.” Zayn tersenyum dan kembali menatap wajah meneduhkan dari gadis kecil yang berada di depannya.
Wajah gadis ini mirip dengan wanita yang amat ia cintai dan rindui itu. Beruntung Zayn memiliki gadis ini sebagai penawar rindu.
“Mama dan Papa kapan akan menyusul?” tanya Zayn pada Mirna.
“Entahlah, Zayn. Mama dan Papa masih kecewa dengan kakakmu. Apalagi Papa, dia malu jika pulang dan bertemu Sanjaya.”
“Tapi, kasihan Kak Reza. Ma. Pasti dia butuh support dari Mama dan Papa.”
“Itu salahnya,” jawab Mirna kesal.
“Mama tidak mau melihat cucu Mama.”
Mirna menatap Zayn lalu menunduk. “Mama tidak tahu, Zayn.” Kemudian, Mirna kembali mengarahkan matanya pada putranya. “Kamu sendiri bagaimana? Kamu nanti akan menemui Rara?”
Zayn menggelng. “Belum tahu, Ma. Zayn rasa, Rara masih benci Zayn.”
“Tahu dari mana? Rara itu bukan orang pendendam. Buktinya dia juga bisa memaafkan Reza.”
“Zayn sudah beerapa kali mengririm pesan saat di Bandung. Tapi tidak ada satu pun balasan darinya. Zayn juga mengajak bertemu untuk meminta maaf. Tapi dia juga tidak menjawab. Dia tidak ingin bertemu Zayn, Ma. Makanya Zayn memilih tidak mengganggunya.”
“Kamu tidak ingin memperkenalkan Zac dan Zoey pada Rara?” tanya Mirna lagi.
Zayn menggeleng. “Zayn sudah janji pada Ayah Sanjaya.”
Mirna menepuk bahu putranya. Ia bangkit dari tempat duduk itu dan berdiri di depan Zayn. “Walau Rara sudah tidak bersama Reza, kamu masih enggan mendekatinya?”
“Kesalahan Zayn begitu besar terhadapnya, Ma. Itu yang membuat Zayn tidak percaya diri mendekatinya. Apalagi Ayah Sanjaya juga sangat membenci Zayn.”
Mirna menarik nafanya kasar. “Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, untuk Reza, Zac dan Zoey.”
Zayn mengambil tangan Mirna dari bahunya. Ia mengecup pucuk tagan itu. “Terima kasih, Ma. Terima aksih atas kasih sayang dan perhatian Mama untuk Zayn.”
Mirna memeluk putranya. “Andai Reza memiliki hati yang lembut sepertimu. Mungkin tidak akan se rumit ini jadinya.”
Zayn terdiam.
“Kamu akan tidur di sini?”
__ADS_1
Zayn mengangguk. “Iya, Ma. Zayn ingin di sini bersama Zoey. Zayn rindu Rara.”
Mirna tersenyum dan mengelus sekilas rambut putranya. “Baiklah kalau begitu, Mama ke kamar. Selamat tidur, Sayang.”
Zayn tersenyum dan mengangguk. “Selamat tidur, Ma.”
Kemudian, Mirna keluar dari kamar itu dan menutup kembali pintu kamar. sedangkan Zayn, meluruskan tubuhnya untuk berbaring dengan putrinya. Ia memeluk Zoey yang terlelap lucu.
“Andai kamu tahu, Ra. Sebenarnya kamu bukanlah perempuan tak sempurna, karena kamu telah melahirkan anak-anak yang lucu seperti Zac dan Zoey. Mereka buah hati kita. Walau lahir dari sebuah kesalahan, tetapi aku beruntung memiliki mereka,” gumam Zayn dengan suara lirih sembari mengelus pucuk kepala Zoey. Lalu, ia tersenyum dan mulai memejamkan mata.
“Flashback on#
Setelah truk menghantam tubuh Rara hingga koma, Zayn ikut berbaring di rumah sakit beberapa hari. Wajahnya yang tak terbentuk akibat pukulan Reza membuatnya harus di rawat. Belum lagi dirinya yang tampak depresi dan tidak mau makan sama sekali.
Satu bulan, Sanjaya dan Mia bergantian menunggu putrinya di ruang ICU. Sementara Zayn masih di ruang perawatan. Sebenarnya Sanjaya juga ingin sekali menghantam wajah Zayn saat pria itu mengakui perbuatannya. Namun, urung ia lakukan karena melihat Zayn yang terlihat lebih mengenaskan dari putrinya.
Selama satu bulan itu, Reza juga pergi entah kemana, karena pria itu masih syok atas apa yang terjadi.
Hingga satu bulan lagi berlalu, saat itu Reza sedikit lebih pulih dan hendak menemui Rara di ruangannya. Namun, sesaat ketika kakinya akan melangkah ke ruangan itu, ia mendengar percakapan dokter kepada orang tua Rara dan orang tuanya.
“Apa dok? Hamil?” tanya Mia tak percaya.
Pria paruh baya berjas putih itu pun mengangguk. “Benar, Bu. Usianya memasuki enam minggu.”
Deg
“Apa dokter tidak salah diagnosa? Apa bisa orang koma hamil?” Mirna pun bertanya.
“Bisa, Bu. Karena secara fisik, asupan yang ada dalam tubuh Cleo tidak ada yang kurang.”
Ya, walau Rara koma, tetapi ia mendapatkan asupan yang cukup untuk tubuhnya melalui cairan infus.
Mia menangis. Mirna pun memeluk sahabatnya. Sedangkan rahang Sanjaya mengeras, ia sangat membenci Zayn yang telah merusak putrinya.
“Saya akan bertanggung jawab atas kekacauan ini,” ucap Marco sembari mendorong kursi roda yang di duduki Zayn.
Marco langsung ke Jakarta ketika mengetahui keadaan putranya yang cukup memprihatinkan di sini.
“Lahirkan anak itu dengan selamat, Dok. Berapapun biayanya akan saya tanggung. Kalau perlu, Cleo akan saya bawa ke Paris jika tim medis di sini menyerah,” ucap Marco lantang. “Saya akan bertanggung jawab atas semua kesalahan putra saya.”
Di balik tembok, Reza mendengarkan perdebatan itu.
“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada anda Mr. Sanjaya. Saya mohon maaf atas apa yang dilakukan putra saya,” kata Marco lagi pada Sanjaya dan Mia.
Pria yang seusia dengan Sanjaya dan Kemal itu memandang ke arah orang tua Rara bergantian. Sedangkan Zayn tampak berbinar mendengar menuturan dokter bahwa Rara hamil. Ia tak menyangka sama sekali bahwa benih yang ia tanam, langsung membuahkan hasil.
“Setelah anak itu lahir, Saya yang akan mengurusnya,” ujar Marco.
__ADS_1
Sanjaya terdiam dan berpikir.
“Ya, itu bagus. Bawa anak itu dengan segala kesalahnmu Zayn. Setelah itu Aku akan tetap menikahi Rara,” ucap Reza yang muncul dari balik tembok itu.
“Kamu akan tetap menerima Rara?” tanya Sanjaya pada Reza.
“Ya, Pa. Aku akan tetap menerima Rara. Asal tak ada hal yang tersisa dari kejadian buruk itu,” jawab Reza.
Sanjaya pun mengangguk. Ia berada dalam posisi sulit. Yang ada di otaknya hanya bagaimana Rara pulih dan ketika ia bangun nanti, tidak ada hal yang membuatnya sedih atau pun terpuruk. Ia berharap, semua impian yang putrinya susun akan kembali berjalan. Oleh karena itu ia setuju dengan penawaran Marco dan Reza.
Setelah mengetahui kehamilan Rara, Zayn kembali bersemangat. Perlahan ia pulih dan kembali bugar. Lalu, ia meminta pada kedua orang tua Rara untuk menjaga Rara hingga wanita itu melahirkan. Semua asupan bergizi masuk melalui infusan untuk wanita yang terbaring koma itu.
Kemudian, Marco memberi kompensasi pada Sanjaya dengan sejumlah uang yang cukup besar hingga Restoran yang semula sedikit goyang itu kembali bangkit dan bertambah menjadi beberapa cabang.
Bulan berganti bulan. Perut Rara semakin besar. janin itu tumbuh sempurna. Rahim Rara yang kuat tak mempermasalahkan kondisi ibunya yang tidak dalam keadaan baik. Asalkan jantung Rara berdetak, maka janin di sana pun tetap berdetak.
Lambat laun, kondisi fisik Rara semakin baik. Namun, entah mengapa ia masih nyaman berada di bawah alam sadar. Rara enggan untuk membuka mata dan terbangun.
“Anda akan memiliki bayi kembar,” ucap dokter kandungan yang memeriksa Rara melalui USG.
“Apa dia sehat, Dok?” tanya Zayn yang di temani Mirna, Mia, dan Clara.
Clara tersenyum senang. “Wah, Mommy suka anak kemabr Zayn.”
Zayn ikut tersenyum.
“Ya, mereka sehat. Bahkan sangat lincah di dalam sana,” jawab dokter itu sembari menggerakkan alat pada perut Rara.
“Syukurlah.” Semua roang di sana bernafas lega. Begitu pun Zayn. Ia tak menyangka akan menjadi seorang ayah di usainya yang baru memasuki 26 tahun. Sedangkan Rara 24 tahun.
Selama sembilan bulan, Zayn begitu telaten mengurus Rara. Dari mulai mengelap tubuh itu, memotong kuku tangan dan kaki Rara rutin, juga merawat rambutnya.
Tubuh Rara selalu bersih. Wanita yang sedang koma itu, tampak tidak terlihat koma, karena justru tubuhnya nampak berisi dari cairan nutrisi yang sering di salurkan melalui selang ke mulut dan tangannya.
“Sayang, Maafkan aku,” ucap Zayn.
Hampir setiap hari, Zayn mengatakan maaf pada Rara. Sejak tubuh Rara mulai terbaring di ruangan ini hingga wanita itu akan melahirkan, Zayn tak pernah absen mengucap kata itu.
“Setelah ini, aku tidak akan menganggumu. Aku janji. Kamu bisa kembali bahagia bersama Kakak. Aku akan merawat anak kita dengan baik. Terima kasih karena telah memberiku dua malaikat ini. Sungguh, mereka adalah penyemangat hidupku, Ra.”
Zayn menitikan airmata, menunggu Rara yang akan dipindahkan menuju ruang operasi, karena Rara akan melahirkan caesar. Zayn menggenggam erat tangan Rara hingga sampai menuju ruang operasi dan dengan tak rela ia melepasnya.
“Semua akan baik-baik saja, Sayang,” bisik Zayn di telinga Rara saat tempat tidur yang membawanya hendak masuk ke dalam ruangan.
Sebelum jadwal kelahiran Rara, Marco mengundang dokter terbaik dari Paris untuk menangani caesar dengan kondisi ibu yang koma, karena di sana hal itu pernah terjadi. Sedangkan di negara ini, kasus semacam Rara belum pernah terjadi.
Mirna dapat melihat besarnya cinta Zayn pada Rara. Mungkin lebih besar dari putranya sendiri. Kemal pun melihat itu. Begitu juga Mia dan Sanjaya yang melihat keseriusan Zayn untuk menebus dosanya. Namun, tetap saja Sanjaya benci Zayn, karena telah membuat kekacauan ini.
__ADS_1
#Flashback off#