Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Hilang dari jangkauan


__ADS_3

"Mbak Rara.” Husna menangis memeluk Rara.


Hari ini adalah hari terakhir Rara mengajar di sekolah pusat. Semua orang tahu, Rara megundurkan diri, padahal ia masih bekerja di Yayasan cabang dekat rumah pemiliknya. Ratmi, Nayra. Widya, dan Husna bahkan tidak mengetahui itu. Hanya Reihan yang mengetahui ini, karena jika salah satu di antara mereka yang mengetahui keberadaan Rara, maka tidak menutup kemungkinan Yasmin pun tahu dan ketika Yasmin tahu maka Reza pun akan tahu dimana Rara berada. Rara benar-benar ingin lepas dari pria itu. Ia ingin Reza bertanggung jawab dan fokus untuk keluarganya sendiri.


“Ra.” Ratmi, Widya, dan Nayra berpelukan bergantian.


“Ra, kenapa sih kamu harus resign?” tanya Nayra.


“Pengen suasana baru, Nay.”


“Tapi kita masih bisa ketemu ‘kan?” tanya Nayra.


“Tentu aja. Lagi pula sekarang teknologi tuh canggih. Kita bisa video call bareng-bareng.”


Nayra mengangguk.


“Aku pasti kehilangan kamu, Ra,” ujar Widya.


“Iya, Mbak. Aku juga. Jadi ngga ada yang traktir aku lagi kalau makan siang. Atau bawain aku kue buat camilan di kosan.” kata Husna.


Rara tertawa. Ia juga berat meninggalkan teman kerja yang sudah seperti saudara seperti mereka. Entah di tempat yang baru, ia akan mendapatkan teman seperti ini lagi atau tidak. Tapi yang jelas ia pindah bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi untuk Manda dan Noah.


Entah mengapa ketika mengetahui bahwa Reza masih mengikutinya, ia justru khawatir dengan Manda. Jujur, Rara tidak merasakan sakit hati lagi pada wanita yang tengah mengandung anak kedua Reza, justru ia kesal dengan sikap Reza. Pria itu harus berubah.


Plak


Ratmi memukul bahu Husna. “Serius apa, Na? Ini lagi sedih beneran.”


Rara tertawa, sedangkan Husna mengangguk serius.


“Saya juga serius, Bu. Nih lihat mata saya basah.”


Rara kembali tertawa dan menepuk bahu Husna. Mereka berlima berpelukan bersama layaknya teletubies.


“Sebagai salam perpisahan, kita ke Mall xxx. Aku traktir makan sepuasnya di Restoran jepang NN. Bagaimana?”


“Mauu ...” seru Widya, Nayra, Ratmi dan Husna.


Suara Husna pun paling keras.


“Giliran makan, kenceng banget ngomongnya, tadi di kelas suaranya pelan katanya lemes,” ujar Ratmi pada Husna.


Husna nyengir. “Ya kan emang lemes karena belum makan, Bu.”


“Alesan,” jawab Ratmi.


Kemudian, mereka pun bergegas menuju mall itu. Kebetulan kegiatan belajar mengajar telah usai dan waktunya mereka pulang, tetapi mereka bersenang-senang dahulu ke tempat yang rara tawarkan.


Rara kembali berpamitan pada Yasmin sebelum pulang.

__ADS_1


“Aku pasti kehilanganmu, Ra.” Yasmin memeluk Rara.


“Terima kasih atas semuanya, Mbak.” ucap Rara.


“Sama-sama. Aku dan Mas Ilyas benar-benar terkejut dengan kisah kalian yang tragis. Padahal selama ini, kamu dan Reza menjadi contoh buatku dan Mas Ilyas. Kalian tuh harmonis dan selalu mesra.”


Rara tersenyum. “Yah, begitulah hidup. Mbak.”


Yasmin mengangguk. “Ya. Benar. Yang penting tetap bersyukur, karena setiap jalan yang Allah berikan pasti yang terbaik untuk hambanya.”


Rara mengangguk. “Ya, benar.”


Mereka pun kembali berpelukan, lalu Rara keluar dari ruangan kepala sekolah itu.


****


Hampir satu minggu, Rara berada di sekolah baru, walau masih dengan pemilik dan nama yayasan yang sama. Beruntungnya, di sini Rara juga memiliki teman mengajar yang menyenangkan. Tidak jauh berbeda dengan Bu Ratmi, Nayra, Widya, dan Husna. Hanya saja, di sini tidak ada yang belum menikah seperti Husna. Dan si sini justru Rara yang menjadi paling kecil dalam segi usia. Bisa di ibaratkan di tempat ini justru ia yang menjadi Husna, jomblo dan bungsu.


Pengajar Taman kanak-kanak di sekolah ini memang tidak terlalu banyak, karena jumalh siswanya tidak sebanyak seperti di pusat. Yayasan ini memang baru berdiri empat tahun lalu. jumlah siswa terbanyak ada di program sekolah Dasar dan Menengah. Sedangkan untuk siswa menengah atas justru belum di mulai. Rencananya, Reihan akan mulai membuka program pendidikan itu tahun ini.


“Mbak Rara temannya Pak Rei, ya?” tanya Bu Risma.


“Iya.” Rara mengangguk. “Tapi jangan panggil Mbak, ya Bu. Panggil Rara aja, soalnya usia Rara di sini kan paling kecil.”


“Oh gitu. Ya udah kalau gitu. Tadinya saya kira takut ngga sopan.”


Di sini, semua pengajar saling bertegur sapa walau mereka mengajar di program pendidikan berbeda.


“Sore, Bu Rara.” Sapa seorang pengajar wanita yang keluar dari gedung Sekolah Menengah Pertama.


“Sore, Bu.” Rara ikut membungkukkan sebagian tubuhnya.


Rara menghentikan langkahnya tepat di taman sekolah dengan bunga yang sedang bermekaran. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya, sebelum meninggalkan gedung itu dan kembali ke apartemen.


Sungguh, tidak ada lagi rasa sesak di dada. Ia senang dengan suasana baru ini. Di tambah ia memiliki partner kerja yang usianya jauh di atas. Ia sering mendapat petuah-petuah menenangkan, karena setiap kata yang keluar dari bibir Bu Risma itu bermakna menurutnya. Dan, itu menjadi semangat baru untuk Rara.


Di sisi lain.


Brak


Reza membuka pintu rumahnya. Hari ini ia berada di Bandung dan ingin bermalam di rumah istri sirinya. Hingga saat ini, Reza belum meresmikan pernikahannya secara negara. Manda masih berstatus istri siri padahal Reza sudah tidak memiliki istri selain Manda. Namun, Reza enggan untuk mendaftarkan Manda ke kantor urusan agama, ia masih berharap Rara akan kembali dan mengisi posisi sebagai istrinya lagi. Padahal itu tidak mungkin.


Setelah membuka pintu itu, Reza langsung duduk di sofa tamu dan menekan pelipisnya. Ia pusing karena sejak satu minggu ini, ia tak bertemu Rara. Ia mencoba mendatangi beberapa tempat aktifitas mantan istrinya itu, tapi tidak juga menemukan Rara.


Rara tiba-tiba hilang dari jangkauannya. Apalagi setelah ia mencari info dari Yasmin dan mengatakan bahwa Rara sudah resign, lalu menetap di kota yang jauh. Reza percaya hal itu, karena ia pun tak melihat Rara di rumah orang tuanya lagi. Namun, ia masih belum menemukan dimana Rara berada sekarang.


“Kamu sudah pulang, Mas.” Kata Manda setelah melihat kedatangan Reza.


Reza diam dan tidak menjawab pertanyaan Manda.

__ADS_1


“Aku buatkan air hangat.”


Reza mengangguk. Lagi-lagi ia tak bersuara. Suara Reza hanya untuk Noah. Di depan Manda, ia hanya bersuara jika ada hal yang penting, selebihnya mereka hanya diam.


Manda pun hendak meninggalkan Reza menuju kamar mandi di kamarnya untuk menyiapkan keperluan suaminya yang baru pulang kerja.


“Di mana Noah?” tanya Reza hingga menghentikan langkah Manda yang hendak berlalu.


“Di kamarnya. Dia tidur siang jam tiga, jadi sampai sekarang masih belum bangun.”


Reza bangkit dan berlalu dari Manda menuju kamar putranya. Ia meninggalkan jas, dasi dan sepasang sepatu di ruangan itu.


Manda hanya menggeleng melihat kebiasaan sang suami.


Kemudian, Reza melihat putranya yang masih terlelap di kamar itu. ia memandang wajah Noah dan mengelusnya. Mungkin jika bukan karena anak ini, ia sudah pergi jauh. Mungkin jika bukan karena anak ini, ia tidak akan bertahan dengan rumah tangga ini dan tetap mempertahankan Rara. Tapi, apa yang mantan istrinya katakan adalah benar, faktanya ia memiliki anak ini dan anak yang masih ada dalam rahim Manda.


Reza menundukkan tubuhnya dan mengecup kening Noah beberapa kali. Lalu, ia keluar dari kaamr itu menuju kamarnya bersama Manda. Kamar yang menjadi saksi kecanggungan dua insan manusia.


Ceklek


Reza membuka pintu kamar dan melihat Manda tengah merapihkan pakaian yang akan ia pakai nanti setelah membersihkan diri. Manda menoleh ke arah Reza sekilas dan kembali meletakkan pakaian itu di tepi ranjang.


Reza menatap tubuh Manda yang semakin berisi. Perut Manda sudah terlihat buncit dan payud*r*nya pun sedikit lebih besar.


Reza mendekati Manda yang masih dengan aktifitasnya. Kemudian, ia melingkarkan kedua tangannya pada pinggang itu.


“Aku ingin,” bisik Reza tepat di telinga Manda.


Manda tersenyum. Akhirnya, Reza menginginkan dirinya kembali setelah sekian lama ia mengabaikannya. Manda senang bukan kepalang. Ia pun menerima setiap sentuhan yang diberikan sang suami.


Reza memulai aksinya. Cukup lama, ia tidak menyentuh Manda, terakhir ia menyentuh Manda di apartemen sehari sebelum Rara memergoki dirinya mencium kening perempuan dan anak kecil yang Rara kenal di Mall.


Reza mulai menuntun Manda ke ranjang dan merebahkan tubuh itu. Ia pun membuka semua benang yang melekat di tubuh itu dan tubuhnya sendiri.


“Ah,” lenguh Manda saat Reza terus menghujam miliknya.


Reza terus mencari kepuasan. Melepaskan hasrat yang memang sudah saatnya terlepas. Ia pria normal, ia pun membutuhkan s*x. Walau bercinta dengan Manda tidak sama dengan Rara, karena jika bersama Rara ia benar-benar merasakan bercinta. Sedangkan dengan Manda, hanya sebuah kebutuhan.


Hentakan demi hentakan Reza lakukan karena ia hendak meledakkan sesuatu dari dalam tubuhnya.


“Rara,” teriak Reza saat pelepasan itu tiba. “Oh, Rara aku sangat mencintaimu.”


Deg


Sontak Manda mematung. Kenikmatan yang semula ia rasakan pun hilang setelah mendengar Reza menyebut nama istri yang sudah tidak lagi menjadi istrinya.


Reza ambruk dan jatuh di samping tubuh Manda, lalu memejamkan matanya karena lelah. Sedangkan Manda, tiba-tiba airmatanya jatuh.


“Ini hukuman untukku yang telah mengambilnya darimu, Mbak. Dia tetap tidak bisa aku miliki walau Mbak sudah tidak lagi di sisinya,” ucap Manda dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2