
Ting .. Tong
Sam menekan bel yang ada di dinding pagar rumah Manda di tengah terik matahri. Setelah Zayn memberitahu keberadaan kasir bar yang sedang ia cari, keesokan harinya pria itu langsung meluncur menuju alamat yang diberikan Zayn.
Beberapa menit kemudian, pengasuh Noah sekaligus asisten rumah tangga Manda keluar.
Si Bibi menongolkan kepalanya ke arah gerbang dan berjalan menghampiri Sam yang berdiri di luar. “Cari siapa, Pak?”
“Ini benar rumah Sarasmanda?” Sam balik bertanya.
“Betul. Tapi ibu sedang tidak ada di rumah,” jawab si Bibi.
“Ke mana?” tanya Sam dengan raut wajah kecewa. Padahal ketika berangkat dari Jakarta, Sam tampak bahagia.
“Pergi sama ibu mertuanya.”
“Mertua? Bukannya dia sudah bercerai?” gumam Sam dengan suara yang bisa di dengar si Bibi.
“Eh, maksud saya mantan ibu mertua.” Si Bibi meralat omongannya.
“Kira-kira kapan mereka pulang?” tanya Sam lagi.
Si Bibi mengerdikkan bahunya. “Kurang tahu, Pak.”
Sam semakin kecewa. Hari ini, ia lagi-lagi sia-sia. Kemudian, Sam kembali berjalan menuju mobilnya dengan lemas. Susah sekali bertemu dengan wanita itu. Sejak pertama kali memaksa Manda empat tahun lalu, Sam sebenarnya akan bertanggung jawab, tapi sayang ia harus berangkat ke Paris, karena jika tidak maka kesempatan itu tak akan didapat lagi. Dan kini, ia tak mau kehilangan kesempatan untuk bertanggung jawab pada Manda, terlebih ada anak dari hasil kelakuannya waktu itu. Walau menurut Zayn, mantan suami Manda tengah melakukan tes DNA terhadap anak itu, tap untuk Sam itu tak masalah. Darah daging atau bukan, anak itu tetap akan ia anggap sebagai anaknya, karena Sam memang menyukai Manda sejak ia merasakan bahwa dirinya adalah orang yang pertama menyentuh wanita itu.
Di sebuah tempat dataran tinggi yang sejuk dan asri, Manda tengah bersama Mirna. Mantan mertua perempuannya itu mengajaknya berlibur di Vila Kemal. Walau semula Mirna tak menyukai Manda, tetapi melihat perlakuan putranya terhadap wanita itu, membuat hati Mirna terketuk. Di tambah, Manda adalah seorang anak yatim piatu.
Mirna dan Kemal memang orang tua yang baik. Mereka selalu ikut andil dalam memperbaiki setiap kesalahan yang dilakukan putranya. Terlepas dari status Noah cucu mereka atau bukan, Mirna dan Kemal tetap menyayangi anak itu.
“Ma, terima kasih.” Manda menatap ibu mertuanya yang berdiri di samping.
Manda membantu Mirna menata perkebunannya di Vila ini.
__ADS_1
Mirna yang semula tengah membungkuk sambil memotong beberapa tangkai bunga di sana pun terbangun dan berdiri tegak. Ia menoleh ke arah Manda.
“Mama memang tidak menyukaimu, saat kamu membuat rumah tangga Reza dan Rara hancur.” Mirna menghela nafasnya. “Tapi, Mama juga perempuan. Mama tidak tega kamu diperlakukan seperti itu dengan putra Mama.”
Lagi-lagi Manda menangis.
“Ini semua memang salah Manda, Ma. Manda telah membohongi Mas Reza, tapi sebenarnya Manda juga tidak menginginkan hal itu.” Manda mendekat tubuhnya pada Mirna. “Ketika Manda ingin mengenakan pakaian, tiba-tiba tangan Manda mengenai jarum pin nama yang biasa menempel di seragam kerja Manda, Ma. Lalu, tangan Manda berdarah hingga mengenai seprei di sana.”
Manda mencoba menjelaskan malam di mana Reza tengah memaksanya ketika mabuk dan ia yang semula menolak pun terbuai dengan sentuhan Reza.
Mirna diam sambil menatap wajah Manda, mencoba melihat kejujuran wanita itu dari sorot matanya.
“Mungkin di sana, Mas Reza mengira bahwa darah itu adalah darah kehormatanku.”
“Dan, dia merasa bertanggung jawab akan hal itu,” sambung Mirna. “Mama tahu Reza memang keras. Tapi putra Mama sangat bertanggung jawab.”
Mirna menempelkan tangan kanannya pada bahu kiri Manda. “Mama tahu kamu begitu mencintai Reza. Tapi cinta tidak bisa dipaksakan. Kamu tahu bagaimana Reza memaksakan cintanya untuk Rara? Tetap tidak berhasil.” Mirna menggeleng.
Sontak air mata Manda kembali mengalir, hingga mereka terdiam beberapa menit.
“Ma,” panggil Manda.
“Hmm ...”
“Boleh Manda memeluk Mama?”
“Tentu saja.” Mirna melebarkan kedua tangannya dan tubuh Manda pun masuk ke dalam pelukan itu.
“Terima kasih, Ma.”
“Sama-sama.”
Mereka berpelukan cukup lama hingga pelukan itu pun terlerai.
__ADS_1
“Apa jika Noah bukan cucu Mama, Mama masih akan bersikap seperti ini pada Manda?” tanya wanita malang itu.
Mirna langsung mengangguk dan tersenyum. “Tentu saja.”
Manda kembali memeluk mantan ibu mertuanya. Pertanyaan ini yang selalu berputar di benak Manda. Ia sudah menyukai Mirna dan menganggap wanita itu sebagai ibunya sendiri, terlebih ketika sikap Mirna yang semakin baik padanya beberapa bulan terakhir. Ia sedih jika harus kehilangan sosok ibu seperti Mirna jika benar-benar Noah bukanlah darah daging Reza. Tapi jawaban Mirna, membuat kegundahannya pun hilang.
“Terima kasih, Ma. Terima kasih.” Manda terus berkata itu sambil memeluk Mirna.
Jika saja, hati Reza bisa terbuka untuknya, mungkin Manda akan menjadi wanita paling bahagia di dunia. Namun sayangnya, itu tidak terjadi.
Di gedung pabrik yang bersebelahan dengan gedung kantor, Reza berjalan menuju kantin. Tidak biasanya Reza makan langsung di kantin. Biasanya ia akan meminta office girl atau office boy untuk memesan makanan di kantin dan memakannya di ruangannya sendiri.
“Pak, yakin mau makan di sini?” tanya Vando yang juga heran dengan tingkah bosnya.
Entah mengapa akhir-akhir ini, ia sedikit memperhatikan wanita yang dulu pernah menjabat sebagai sekretarisnya. Dulu, saat menjadi sekretarisnya, Reza tidak terlalu peduli dengan urusan pribadi Essy, tapi setelah melihat wanita itu di rumah sakit membuat Reza ingin tahu lebih jauh tentang wanita itu. Di tambah, semalam ia pun melihat Essy bekerja di sebuah Cafe.
Apa penghasilannya sebagai karyawan tetap di perusahaan ini kurang? Sehingga ia harus bekerja lagi sebagai kasir Cafe di sore hingga tengah malamnya.
Reza semakin tertarik dengan kepribadian Essy Pratiwi. Padahal ketika wanita itu menjadi sekretarisnya, Reza juga tidak pernah melihat wanita itu mengeluh.
“Silahkan, Pak.” Vando menarik kursi dan mempersilahkan bosnya untuk duduk.
“Saya tidak ingin duduk di sini.” Reza mengedarkan pandangannya dan melihat Essy yang duduk di paling belakang. “Saya ingin duduk di sana.”
Reza menunjuk tempat yang strategis untuk bisa melihat Essy dalam jarak pandang yang cukup dekat.
“Oke,” jawab Vando yang kemudian mengikuti langkah bosnya.
“Saya pesan makanan dulu ya Pak,” kata Vando pada Reza.
Reza pun mengangguk dan duduk di kursi itu. Ia menoleh ke arah Essy yang tengah tertawa, membuat ia pun ikut tersenyum. Tawa Essy mengingatkannya pada Rara.
“Cantik,” gumam Reza yang kemudian meluruskan kembali pandangannya ke arah lain.
__ADS_1