Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Merasa terjebak


__ADS_3

Dua bulan berlalu. Zayn dan Rara semakin harmonis, di tambah adanya Zac dan Zoey yang melengkapi kebahagiaan mereka. Hampir setiap weekend, Zayn meluangkan waktu untuk keluarga kecilnya. Mengajak mereka liburan ke tempat-tempat yang terjangkau dari tempat tinggalnya. Seperti saat ini, Zayn mengajak keluarganya ke pemandian air panas di daerah Gunung Pancar.


“It so beautifull,” ucap Zoey.


“I like this place,” sambung Zac yang memang belum pernah menemukan tempat pedesaan seperti ini.


Zayn menggandeng bahu istrinya sambil tersenyum ke arah Zac dam Zoey. Ia pun mengecup kepala Rara. Mereka senang melihat anak-anak mereka senang.


Kini, Michelle pun sudah mulai berkuliah. Ia diterima di perguruan tinggi negeri di Bandung. Jack yang sedih karena wanita yang diam-diam ia sukai ternyata tidak lagi tinggal di kota yang sama. Namun, Jack sering mendatangi kota itu dan bertemu adik tiri Zayn itu. Sepertinya keduanya kini sudah menjalin hubungan. Michelle tingga bersama Clara di rumah orang tua Clara yang memang bermukim di sana. Marco ayah Zayn dan Michelle tetap tinggal di Paris. Setiap satu bulan sekali, Marco selalu mengunjungi istri dan anaknya di Bandung dan pasti akan mampir ke tempat Zayn atau Zayn yang menghampiri Marco di Bandung. Clara menemani Michelle di sana sekaligus merawat ayahnya yang sudah sepuh. Rumah yang di tinggali orang tua Clara juga pemberian Marco saat ayah Zayn itu meminang istrinya.


Namun, kebahagiaan keluarga kecil Zayn berbanding terbalik dengan keluarga kecil Reza. Manda masih tidak bisa membuat suaminya jatuh cinta, walau ia sudah melakukan sejuta kebaikan. Terkadang Kemal dan Mirna justru yang merasa iba. Walau hingga saat ini, Mirna tidak begitu menyukai Manda tetapi sebagai perempuan ia pun merasa kasihan.


Sudah satu bulan lebih, Reza ditemani oleh sekretaris laki-laki yang di pilih Kemal. Sekretaris lama Reza yang bernama Essy Pratiwi kini dipindahkan ke bagian administrasi keuangan dengan gaji yang lebih tidak sebesar ketika menjadi sekretaris Reza. Essy pun menuruti perintah bos besarnya itu, karena ia pikir mencari pekerjaan tidak mudah sehingga ia menerima ketika harus turun jabatan menjadi staf administrasi.


“Za, kamu tidak menemani Manda memeriksa kehamilan?” tanya Kemal ketika mereka berada di satu ruangan.


Sudah dua hari, Kemal dan Mirna mengunjungi putranya. Usia kehamilan Manda kini sudah semakin besar. bulan depan adalah jadwal Manda melahirkan sehingga membutuhkan pemeriksaan yang lebih rutin saat ini.


“Rencananya besok,” jawab Reza datar.


Tidak ada yang berubah dari seorang Reza. Keadaan pria itu masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Penyesalan itu tidak lekas hilang. Namun, sedikit yang sudah ia kurangi yaitu menstalker media sosial Rara. Ia mencoba mengobati luka hatinya dengan tidak sering melihat kebahagiaan Rara dan Zayn yang terkadang di posting oleh mereka. Walau Rara lebih sering memposting Zac dan Zoey yang bahagia ketika di ajak liburan.


“Kapan kamu akan meresmikan pernikahanmu ke negara? Kamu akan memiliki dua anak, Za.”


Kemal terus mendesak Reza untuk meresmikan pernikahannya dengan Manda. Tetapi, entah mengapa Reza masih enggan.


“Belum tahu, Pa. Reza masih sibuk.”


“Itu bukan jawaban, Za. Kamu bisa menyuruh Vando atau bawahanmu yang lain untuk mengurus itu.”


Vando adalah sekeretaris Reza yang baru menggantikan Essy.


“Belum terpikir,” ujar Reza dengan tetap menatap layar laptop yang ada di meja kerjanya.


“Belum terpikir apa memang belum niat.”


Reza mengalihkan pandangannya menuju Kemal. “Please, Pa. Reza tidak ingin membicarakan hal ini. Reza butuh waktu.”

__ADS_1


“Sampai kapan? Sampai anak-anakmu besar?” tanya Kemal.


Kemal yang memang sayang keluarga, tidak habis pikir dengan sikap putranya saat ini. Lepas dari ini kesalahan atau kebodohan, menurut Kemal anak adalah anak, yang harus dijaga masa depannya. Cucunya adalah bagian dari darah mereka yang mengalir. Sebagai orang tua, mau tidak mau, suka tidak suka mereka mencoba menerima keadaan ini.


Reza mengerdikkan bahunya. “Entahlah, Pa.”


Entah mengapa hati Reza begitu sulit menerima kehadiran Manda sebagai istrinya. Kian hari, aktifitasnya yang padat pun membuat Reza sedikit memiliki waktu bersama Noah. Anak kecil itu semakin besar, wajahnya semakin tampak berbeda dengan Reza, padahal sewaktu masih berusia satu sampai dua tahun, wajahnya terlihat mirip Reza. Seperti yang pertama kali Rara lihat ketika bertemu anak itu di sebuah mall.


Kemal hanya menggelengkan kepalanya. Ia bingung menghadapi putranya yang keras kepala. Jika menurut Kemal justru sikap putranya sendiri yang membuat dirinya sakit.


“Malam ini, Noah menginap di apartemen ya. Supaya tidak merepotkanmu besok saat ke rumah sakit,” ucap Kemal lagi.


Reza mengangguk. “Terima kasih, Pa.”


Kemal berdiri dan menepuk bahu putranya sebelum meninggalkan ruangan itu. “Papa harap kamu bisa kelular dari zona ini. bahagialah, Nak.”


Reza hanya menampilkan senyum tipis pada sang ayah. Ia sendiri tidak yakin apa setelah ini ia masih bisa bahagia?


****


“Akhirnya, dia menanyakan kondisi bayinya. Aku senang sekali. Dia menggandengku saat berjalan. Setelah hampir genap tiga tahun, akhirnya dia tersenyum padaku. Mungkin, aku gila. tapi aku sungguh mencintainya. Aku sangat mencintainya dan rela menunggu. Walau terkadang aku pun lelah dengan keadaan ini.”


Manda menulis kata-kata itu di buku hariannya sambil tersenyum.


Manda tidak tahu saja, bahwa Reza melakukan itu hanya karena mereka sedang berada di tempat keramaian. Tentu saja Reza akan memainkan peran sebagai suami yang baik dihadapan orang lain.


Ting ... Tong ...


Suara bel rumah Manda berbunyi. Ia pun melihat jam di tangannya. Oh ya, ia lupa bahwa saat ini ia akan menghadiri arisan rukun tetangga di kompleksnya. Di depan sana, pasti ada beberapa ibu-ibu muda yang dekat denganya di lingkungan itu untuk mengajaknya pergi bersama.


Ting ... Tong ...


Bel itu terus berbunyi, membuat Manda kerepotan dan tidak sempat memasuki buku itu ke tempatnya, karena ia pikir ia tak lama berada di luar dan lagi Reza selalu pulang ketika hari sudah gelap. Sementara sekarang masih sangat sore.


Manda pun meninggalkan kamarnya dan menutup rapat kamar itu tanpa di kunci. Ia berjalan menuju pintu yang sudah dibuka oleh asisten rumah tangganya yang biasa mendampingi Noah. Mirna tidak menginginkan adanya pengasuh, ketika Noah bersamanya, karena ia lebih suka mengasuh anak itu sendiri.


“Duh, Jeng Manda lama banget sih,” ucap salah satu ibu muda yang menunggu Manda.

__ADS_1


Manda hanya tersenyum sambil berjalan mendekati tiga ibu muda itu. “Ayo!” ia pun langsung mengajak ketiga ibu muda itu untuk berangkat.


Sepuluh menit setelah kepergian Manda, tanpa di duga Reza pulang. Ia memang ingin beristirahat mengingat sejak beberapa minggu belakangan ini harinya terasa padat.


Reza membuka pintu rumahnya setelah memarkirkan mobil dan keluar dari kendaraan roda empat itu. Ia melihat di sana hanya ada si Bibi tanpa mellihat keberadaan Manda. Biasanya Manda segera keluar menghampiri Reza yang baru pulang kerja.


“Ibu ke mana, Bi?” tanya Reza pada si Bibi sambil melonggarkan dasinya.


“Ibu lagi arisan RT, Pak. Baru aja pergi sepuluh menit yang lalu.”


“Oh.” Reza mengangguk dan berjalan menuju kamar.


Ia melihat meja yang menghadap ke arah jendela itu tampak berantakan. Buku beserta pulpen dan laptop yang masih terbuka, bahkan masih menyala di atas meja itu.


“Ck, teledor sekali wanita itu,” gumam Reza yang kemudian mematikan laptop Manda.


Manda memang bukan tipe wanita yang Reza sukai. Sejak bekerja dengannya, Manda memang terlihat ceroboh dan beberapa kali melakukan kesalahan. Di tambah tubuh Manda yang kecil bukanlah tipe Reza. Sebenarnya Reza menyukai wanita yang sekal dan berisi, seperti Rara. Bagian depan dan belakang tubuh Rara terlihat lebih menonjol dibanding milik Manda yang memang lebih tipis.


Arah mata Reza tertuju pada buku bersampul tebal berwarna biru yang terlihat sedikit usang dengan kertas halaman yang cukup tebal. Ia pun meraih buku itu dan membuka di halamn yang terdapat kain pembatas berwarna merah.


Reza terdiam saat membaca beberapa kalimat terakhir di halaman itu yang Manda tulis. Kalimat itu sedikit membuat reza terenyuh, karena ternyata Manda memiliki cinta yang besar untuknya. Namun, sayang hingga detik ini ia tidak bisa membalas cinta itu.


Lalu, Reza membalikkan lembar demi lembar halaman itu hingga berada ke halaman depan. Reza tertarik pada satu halaman yang diberi judul dengan hurup kapital bertuliskan “TERNODAI LAGI” kemudian dibawahnya tertulis “Tapi kini dengan pria yang aku inginkan.”


Reza mengerutkan dahinya ketika membaca tulisan itu.


“Ini memang bukan yang pertama untukku, tapi kali ini aku senang melakukannya. Dia adalah bos kesayanganku. Wajahnya yang dingin dan kaku membuatku ingin menaklukannya.”


Tulis Manda membuat hati Reza mulai panas karena ternyata saat itu, Reza tidak memerawani perempuan itu. Tapi entah mengapa saat itu, Reza melihat ada bercak darah di ranjang yang mereka gunakan untuk bercinta.


“Malam itu aku melakukannya atas kesadaranku sendiri. Aku membiarkan dia menjamah tubuhku sesukanya, karena aku mencintainya. Walau aku tahu dia sudah memiliki istri, tapi aku tetap mencintainya.”


Tulisan Manda lengkap dengan tanggal dan tahun yang tertera hampir empat tahun yang lalu. Manda memang baru menemukan lagi buku biru itu dan ia pun baru mulai menuliskan segala kelluh kesahnya di sana akhir-akhir ini saja.


“Si*l. Ternyata aku memang benar-benar terjebak. Kurang ajar,” gumam Reza kesal.


Rahang Reza mengeras. Ia marah. Apalagi mengetahui bahwa dirinya bukanlah orang pertama yang menyentuh Manda. Padahal Reza menikahi Manda atas dasar tanggung jawab itu selain tanggung jawabnya kepada Noah.

__ADS_1


__ADS_2