
“Mama ...” teriak Bulan dan Bintang kearah wanita yang tengah duduk di atas ranjang pasien.
Chintya dipindahkan ke rumah sakit terkenal dan memiliki alat medis yang cukup canggih di kota ini oleh Reihan. Wanita yang merupakan ibu dari Bulan dan Bintang itu melakukan terapi sebagai bentuk awal untuk memulihkan kondisinya.
Chintya masih bingung, tapi perasaannya begitu hangat ketika memeluk Bulan dan Bintang. Kedua anak itu langsung diantar Ke kota ini kemarin sore oleh orang suruhan Reihan, sebagai upaya penyembuhan Chintya, karena menurut dokter wanita itu harus terus dirangsang ingatannya dengan menghadirkan orang-orang masa lalunya yang ia sayangi.
“Ini anak-anakku?” tanya Chintya.
Reihan mengangguk dan tersenyum.
Arah mata Chintya beralih pada Ibu Reihan. Wanita paruh baya itu pun mengangguk dan tersenyum.
“Oh.” Chintya memeluk erat kedua anaknya. “Maaf, Sayang. Mama masih belum ingat kalian.”
Bulan dan Bintang memandang sang ayah dan Reihan mengangguk. Sebelum bertemu Chintya, Reihan sudah memberi pengarahan pada kedua anaknya tentang kondisi sang ibu.
“Aku Bintang, anak Mama paling ganteng dan paling sering bikin teman-teman Bi nangis,” ucap Bintang membuat Chintya tertawa.
“Kalau aku Bulan. Mama dulu sering menguncir Bulan dengan satu kuncir kuda seperti ini. tapi sejak Mama pergi, Aku tidak bisa menguncirnya sendiri, jadi rambutku tidak lagi panjang,” ujar Bulan sedih.
“Oh, maaf. Sayang.” Chintya pun ikut sedih mendengar penuturan Bulan. Ia melihat rambut Bulan yang kini sepanjang bahu. “Kalau rambutmu sudah panjang lagi, Mama akan membantu menguncirkannya.”
Bulan tersenyum. “Mama cepat sembuh ya.”
“Semoga Mama bisa mengingat semuanya,” sahut Bintang.
Chintya kembali memeluk kedua anaknya. Walau ingatannya belum kembali, tetapi ia merasa bahwa ini memang keluarganya. Hatinya hangat begitu mendapati kedatangan Reihan, ditambah Bulan dan Bintang sekarang.
Rencananya, lusa Reihan akan membawa sang istri ke Jakarta. Mereka akan membawa pulang istrinya. Sesuai dengan saran dokter, lebih banyak berinteraski dengan masa lalunya kakan memudahkan pasien untuk sembuh. Dan, Reihan berharap demikian.
Kesibukannya kini, membuat ia lupa dengan Rara. Ia pun lupa rencananya yang akan melamar Rara minggu depan. Tapi sepertinya rencana itu tidak akan ia lakukan, mengingat sang istri sudah ditemukan. Ia memang menyukai Rara, tetapi statusnya kini bukan lagi seorang duda karena istrinya telah kembali. Padahal Reihan sudah membeli cincin untuk Rara, yang semula akan ia berikan sewaktu mengundang Rara dan orang tuanya makan malam. Namun, Tuhan memiliki rencana lain, makan malam itu tidak jadi terjadi, sehingga Reihan pun belum melakukan hal yang jauh untuk Rara.
Ibu Reihan mengelus punggung putranya. “Untung kamu belum melamar Rara, Nak.”
“Iya, Bu. Rei tidak bisa bayangkan jika Rei sudah menikahi Rara ternyata Chintya masih hidup,” sahut Reihan.
“Berarti kamu akan poligami,” ledek sang ibu, membuat Reihan tertawa.
“Rei bukan pria seperti itu, Bu.”
Ibu Reihan tersenyum. “Iya, Ibu mengenalmu. Kamu mirip sekali ayahmu. Setia.”
Reihan tersenyum. “Tapi Ibu juga bisa tahu, kamu menyukai guru itu.”
Reihan terdiam. Ya, ia memang menyukai Rara. Bahkan dengan interaksi mereka selama ini bisa dibilang cukup dekat. Reihan sadar ada benih-benih cinta di sana, walau masih sedikit. Namun, dengan kehadiran Chintya sekarang. Ia pun harus menghilangkan rasanya terhadap Rara. Ia ingin fokus dalam penyembuhan Chintya.
Reihan dan sang ibu hanya menonton interaksi Chintya dengan kedua anaknya di sana.
“Oh, iya. Ngomong-ngomong Rara. Reihan belum memberi kabar padanya tentang ini. Rei juga belum izin untuk Bulan Bintang karena mereka tidak sekolah hingga weekend.”
__ADS_1
Ibu Reihan pun mengangguk dan Reihan segera keluar dari ruangan itu dengan membawa ponselnya di tangan. Chintya melihat kepergian suaminya yang tak pamit. Ia masih canggung dengan suaminya sendiri, tetapi ia ingin tahu apa yang pria itu lakukan. Mengingat dahulu, Chintya sangat posesife pada suami tampannya itu.
****
“Syukurlah, Mas. Alhamdulillah. Akhirnya Mbak Chintya ketemu. Rara sangat senang mendengarnya,” ucap Rara di telepon.
Rara keluar dari kelas dan menerima telepon dari Reihan.
“Iya, Ra. Aku sangat berterima kasih pada Zayn, karena dia yang menemukan Chintya,” jawab Reihan di seberang sana.
“Oh, ya? Ya ampun ternyata dunia tidak selebar daun kelor.” Rara menghelakan nafasnya.
“Ada yang terjadi denganmu? Kamu juga kembali dengan suamimu?” Entah mengapa tiba-tiba Reihan bertanya demikian.
“Bukan, bukan itu.”
“Lalu?”
Rara terdiam.
“Cerita, Ra,” kata Reihan.
“Akhirnya aku bertemu dengan kedua anakku, Mas,” jawab Rara.
“Anak? Kamu punya anak dengan Reza?” tanya Reihan bingung.
“Bukan. Hah, ceritanya panjang. Tapi kamu tahu, Zac dan Zoey anakku, Mas. Sekarang aku merasa menjadi wanita sempurna karena telah memiliki anak yang pintar dan lucu.”
Reihan terkejut dan bingung. “Jadi kamu dan Zayn?” tanya Reihan lagi.
“Ceritanya panjang, Mas. Nanti kita bercerita. Yang penting sekarang Mas harus fokus pada menyembuhan Mbak Chintya. Amnesia itu sangat tidak enak. Aku pernah mengalaminya.”
“Ternyata, banyak yang tidak aku tahu tentangmu, Ra.”
Rara tersenyum. “Ya.” Ia pun tertawa.
“Baiklah, kalau begitu lanjutkan aktifitasmu. Lain waktu kamu harus cerita padaku semuanya, karena aku adalah kakakmu.”
Rara tersenyum. “Oke!”
“Oh, ya. Aku izin Bulan Bintang tidak masuk hingga jumat besok.”
“Siap, Bapak yayasan yang terhormat.”
Reihan tertawa. “Lebay kamu.”
Keduanya pun tertawa dan tak lama kemudian menutup komunikasi itu.
Reihan menggelengkan kepala setelah menutup telepon itu dan menatap ponselnya. Sepertinya ada yang berubah dari Rara. Suara wanita itu begitu riang, bahkan kali ini ia sering tertawa dan bercanda.
__ADS_1
Rara melihat lagi ponselnya. Ternyata sejak kemarin ada panggilan telepon dari sang ayah beberapa kali, hingga tadi pagi juga. Namun, Rara mengabaikan telepon itu.
Setelah tiba di apartemen semalam, ia mengecek ponselnya sekilas, lalu melihat notif panggilan dari sang ayah.
“Hah, Ayah ... Bunda ... mengapa kalian ikut merahasiakan ini dariku,” gumam Rara dan memasukkan kembali ponselnya.
Ia masih belum ingin berbicara dengan Sanjaya dan Mirna. Entah mengapa, ia merasa kecewa dengan orang tuanya.
Rara kembali masuk kelas dan bergabung dengan anak-anak di kelas ini. ketidak hadiran Bintang, membuat kelas ini jauh lebih tenang. Rara melihat ke arah Zac. Anak kecil itu mirip dengan Zayn kecil. Rara tersenyum, seketika rasa rindunya pada Zayn terobati hanya dengan menatap wajah Zac Ternyata ini cara Zayn dalam mengobati rindu padanya. Cukup dengan memandangi Zoey, seperti yang pernah Zayn katakan.
Rara kembali tersenyum ke arah Zac dan anak kecil yang sedang asyik menulis itu, tiba-tiba mengangkat kepalanya, lalu melihat ke arah Rara yang sedang memandanginya dengan senyum. Anak laki-laki yang sudah terlihat tampan itu pun menyungging senyum yang manis pada Rara. Senyum yang sama persis dengan senyum ayahnya yang membuat Rara kesal.
Di rumah Zayn, Zoey dirawat oleh Bibi dan Michelle. Zayn pun ikut merawat putrinya. Kebetulan job-job penting sudah selesai, selanjutnya ia mempercayakan job-job yang lain pada Jack dan timnya.
“Zoey, ayo minum obatnya!” pinta Zayn pada sang putri.
“Aku mau Mommy yang menyuapiku obat ini.”
“Sama saja, Sayang.” Zayn terus membujuk putrinya. “Mommy akan kesini bersama kakak nanti siang.”
“Mommy tidak bisa libur mengajar?” tanya Zoey lirih.
“Tidak bisa mendadak, Sayang. Kasihan bu guru yang lain kalau Mommy izin mendadak. Mungkin besok Mommy bisa izin.”
Hari ini Rara memang meminta izin selama dua hari kedepan untuk tidak masuk. Dengan terpaksa ia pun menceritakan hal pribadinya kepada kepala sekolah dan memberitahu bahwa Zac dan Zoey adalah putra dan putrinya. Kepala sekolah itu pun sangat terkejut.
Rara yakin Bu Zahra adalah kepala sekolah yang bijak dan amanah. Oleh karena itu, Rara percaya menceritakan privasinya pada wanita paruh baya yang ramah dan memiliki banyak keilmuan itu.
“Benarkah? Jadi besok Zoey akan ditemani Mommy?” tanya Zoey antusias.
Zayn mengangguk. “Iya.”
“Nanti juga akan ada Oma dan Opa,” kata Zayn.
“Oh, ya? Asyik.” Sorak Zoey.
“Akan ada Nenek dan kakek juga,” kata Zayn lagi.
“Nenek kakek? Who?’ tanya Zoey.
“Ayah dan Ibu nya Mommy. Berarti Nenek Kakek Zoey.”
“Oh ya?”
Zayn mengangguk. “Kalau begitu minum dulu obatnya. Ayo! Setelah itu Daddy pergi jemput Oma dan Opa di bandara.”
Zayn sudah memberitahu kepada Mirna dan Kemal tentang semua yang terjadi antara dirinya, Rara, Zac, dan Zoey. Mirna dan Kemal juga tahu bahwa saat ini sudah tidak ada satu rahasia pun yang tidak Rara ketahui.
Sanjaya dan Mia pun sudah mendengar kabar itu dari Mirna dan Kemal. Namun, telepon dari Sanjaya tak kunjung ditanggapi oleh Rara. Sanjaya sadar bahwa putrinya pasti marah. Setibanya di tanah air, ia ingin sekali bertemu cucunya. Cucu yang selama ini mereka abaikan dengan alasan untuk kebahagiaan Rara. Walau mereka sering mendapat informasi dari Mirna dan Kemal yang kerap menceritakan kepintaran dan kelucuan si kembar ketika mereka berkomunikasi melalui telepon atau bertemu langsung.
__ADS_1
“Oke,” jawab Zoey riang dan anak kecil yang cantik itu pun dengan semangat meminum obat itu.
Michelle yang melihat interaksi kakak dan keponakannya itu tersenyum. Ia bahagia melihat keluarga sang kakak yang sebentar lagi akan sempurna dengan kehadiran ibu untuk Zac dan Zoey juga istri untuk sang kakak yang begitu mencintai wanita yang melahirkan keponakannya itu. Ia adalah saksi betapa sang kakak begitu memuja Mommy double Z itu.