Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Baiklah, kita bersaing


__ADS_3

Zayn berada tepat di depan gerbang rumah Reihan dengan tetap menunggangi motor sprotnya. Tak lama kemudian, asisten rumah tangga rumah itu pun berjalan menghampiri gerbang dan membuka pagar besi berwarna hitam itu.


“Pak Reihannya ada di dalam?” tanya Zayn.


Si Bibi mengangguk. “Ada, Pak. Ayo silahkan masuk!”


“Terima kasih,” ucap Zayn. Lalu, memasukkan motor sport itu.


Zayn memarkirkan motornya di sana. namun, baru saja ia beranjak dari kendaraan roda dua itu, Reihan sudah keluar menghampiri.


“Wah, Bro. Akhirnya sampe juga ke gubug reyot aku ini.”


Zayn tertawa. “Terlalu merendah kau, Mas.”


Ia berjalan mendekati Reihan yang sudah membentangkan kedua tangannya untuk berpelukan pada Zayn.


“Kamu tidak bawa anak dan istrimu?” tanya Reihan.


“Anak-anak lagi sibuk dengan dunianya. Tapi istri? Wait wait ... memang siapa istriku?” tanya Zayn setelah pelukan itu terlerai.


“Wanita pirang yang ada di sampingmu waktu itu.”


“Waktu aku mengeluarkan barang-barang itu?” tanya Zayn dan Reihan langsung mengangguk.


“Oh, ya ampun. Dia itu adikku, Mas.”


“Adik? Jadi Reza punya satu adik lagi dan itu perempuan? Kok aku ngga tahu.”


“Ceritanya panjang. Harusnya aku disuruh duduk dulu dan dikasih minum baru disuruh cerita,” jawab Zayn sembari tersenyum.


Reihan tertawa. “Ya ... Ya. Kamu benar. Maaf, maaf.”


Lalu, Reihan mempersilahkan Zayn duduk di ruang tamu dan ia kedapur untuk menemui asisten rumah tangganya meminta dibuatkan dua gelas kopi yang dicampur krimer.


Zayn memperhatikan semua foto yang terpajang di sana. Ia melihat foto pernikahan Reihan yang cukup besar di ruangan itu. Kebetulan foto itu memang ia yang membidiknya waktu itu.


“Ini hasil bidikanku?” tanya Zayn setelah melihat Reihan kembali menghampirinya dengan menunjuk foto besar itu.


“Yes. Itu hasil bidikanmu enam tahun lalu. bagus bukan?”


Zayn tersenyum dengan memperlihatkan jejeran giginya. “Padahal saat itu aku masih amatir. Aku harus menggantikan Dion, photografer andalan Even Organizer itu.”


“Ya, semula aku juga ragu, khawatir hasilnya tidak memuaskan. Tapi istriku sangat puas dengan semua bidikanmu.”


“Oh, iya. Dimana dia? Mba Chintya.”


Reihan terdiam. Rasanya menceritakan tentang mendiang istrinya sama saja kembali membuka luka lama. Ia sungguh terpukul dengan tragedi itu.


“Kita ke taman aja yuk, Zayn!” ajak Reihan dengan berjalan ke arah belakang rumahnya.


“Kamu tadi katanya mau cerita wanita itu? aku penasaran. Berarti kalian tiga bersaudara?”

__ADS_1


Zayn menggeleng. Keduanya duduk bersama di tempat itu dan saling berhadapan. “Dia itu adikku, bukan adik Reza.”


“Maksudmu?” tanya Reihan tak mengerti.


Kemudian, Zayn menceritakan semua hal tentang dirinya. Ia menceritakan bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari Kemal dan Mirna. Ia pindah ke Paris karena ayah kandungnya, walau pun di sana ia tetap tinggal bersama orang tua yang mengadopsinya yaitu orang tua Reza.


Namun, Zayn tidak menceritakan persahabatnnya dengan Rara dan tidak juga menceritakan kejadian buruk itu, karena baginya hal itu sangat privasi. Ia hanya menceritakan tentang jati dirinya saja.


“Maaf, Zayn. Aku tidak tahu hal itu," ujar Reihan.


“It’s oke. Semua orang punya masa lalu.”


“Ya, kamu benar semua orang punya masa lalu,” jawab Reihan lirih.


Zayn mengangguk setuju.


“Aku juga saat itu terpuruk. Kamu tahu aku tidak bisa jauh dari Chintya. Dia seperti separuh hidupku. Tapi takdir memisahkan kami dengan cepat dan tanpa isyarat,” kata Reihan lagi.


Zayn mengangguk. Ia juga saksi pernikahan yang digelar dengan penuh cinta itu. Sepasang pengantin yang selalu tersenyum karena sangat bahagia telah dipersatukan dalam ikatan suci. Seperti itulah Reihan dan Chintya. Zayn tahu tentang kecelakaan itu, karena ketika di Paris berita itu pun ada, tapi ia tidak tahu jika istri Reihan adalah salah satu penumpang pesawat naas itu.


“Mas tidak berusaha mencarinya?” tanya Zayn.


“Sudah Zayn, dua tahun lebih aku menyewa detektif untuk mencari keberadaan Chintya tapi nihil, hingga Tim Sar pun menutup kasus ini dan menyatakan bahwa lima orang tidak ditemukan dan salah satu dari lima itu adalah istriku,” jawab Reihan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Kamu hebat Zayn bisa berdamai dengan masa lalu. Hingga saat ini aku pun masih belum berdamai dengan masa lalu. Aku masih tidak percaya dengan kepergian Chintya, begitu pun kedua anakku. Untung saja ada Rara yang bisa merubah keadaan,” kata Reihan lagi.


“Maksudnya?” kini Zayn yang bertanya bingung.


“Entah aku disebut memanfaatkan keadaan atau tidak, tapi seeprtinya memang begitu. Kamu tahu pasca perceraian Rara dengan kakak angkatmu, Rara menjadi tidak tenang karena sekarang Reza menjadi penguntit.”


“Rara memintaku untuk dipindahkan dan menyatakan dirinya resign dari yayasan pusat.”


“Jadi teman-temannya tidak ada yang tahu bahwa Rara di sini?” tanya Zayn lagi.


Reihan menggelng. “Hanya orang tuanya dan aku yang tahu keberadaan Rara. Bahkan nomornya pun sudah ganti.”


Ah, pantas saja Zayn tidak pernah bisa mengirim pesan pada Rara. Kini ia tahu alasannya.


“Jadi sekarang Rara mengajar di yayasan milikmu yang ada di seberang?” tanya Zayn tak percaya.


Reihan mengangguk. “Ya, benar sekali. Rara mengajar di kelas Bulan dan Bintang. Zac dan Zoey juga akan berada di kelas itu.”


Jedar


Zayn semakin terkejut. Ah, inikah takdirmu Tuhan? Aku selalu menyembunyikan dua malaikat itu dari ibunya. Ternyata Engkau mengizinkan mereka bertemu. Sesaat Zayn terdiam.


“Zayn,” panggil Reihan, tapi Zayn masih tak menjawab panggilan itu.


Zayn termenung. Apa yang harus ia katakan ketika mereka bertemu?


“Zayn,” panggil Reihan lagi pada pria yang memandang lurus ke depan.

__ADS_1


“Oh, maaf. Maaf. Aku jadi melamun,” ujar Zayn.


“Hah, kamu seperti Rara. Tadi di mobil dia juga melamun sampai aku panggil berkali-kali tidak menjawab.”


Lalu, Zayn tertawa. Mereka memang sehati.


“Sebenarnya aku ke sini juga membawakan sedikit oleh-oleh.” Zayn baru memberikan goodie bag yang sedari tadi ia pegang itu pada Reihan.


“Wah repot-repot kamu Zayn.” Reihan menerima bingkisan itu.


“Hanya oleh-oleh kecil, tidak seberapa dibanding bantuan Mas yang memudahkan anak kembarku sekolah di sana.”


Zayn memang belum membuat kartu keluarga negara ini. Mungkin ia akan membuatnya jika Rara sudah resmi menjadi istrinya. Tapi apa mungkin Rara bisa menjadi istrinya? Semoga saja kali ini takdir berpihak padanya, apalagi angin sepertinya sedang mengarah padanya.


“Oh, iya. Ngomong-ngomong anak. Itu ibunya siapa?” tanya Reihan.


“Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...” Zayn tersedak mendapat pertanyaan ringan tapi berat itu.


“Sampe ke batuk gitu. Ya udah kalau ngga mau jawab ngga apa-apa,” ujar Reihan.


Sedangkan Zayn hanya bisa nyengir. Jujur, ia memang bingung menjawab pertanyaan itu.


“Ibunya ada, tapi masih ngga mau tinggal sama kami, Mas.”


“Kok bisa? Orang Paris?”


“Hmm ... ah, ngomongin Mas aja deh. Kalau kisah percintaanku mah rumit Mas,” jawab Zayn singkat.


Keduanya tertawa dan mulai mengambil cangkir yang sudah di antar asisten rumah tangga Reihan tadi. Mereka menyeruput kopi krimer itu bersama.


“Oh, iya. Mas lagi dekat dengan Rara?” tanya Zayn to the poin.


“Kok tahu?” Reihan balik bertanya.


Zayn tersenyum dan meletakkan cangkir itu di meja. “kebetulan kemarin aku ke supermarket di mall xxx dan aku melihat Mas sama Rara dan anak-anak di sana.”


Reihan tertawa. “Ya, sepertinya aku memang harus berdamai dengan keadaan dan memulai hidup baru.”


“Mas mencintai Rara?” tanya Zayn lagi.


Reihan terdiam. “Aku menyukainya. Mungkin tidak ada pria yang tidak menyukai wanita seperti Rara. Tapi untuk cinta, aku belum tahu. Tapi bisa dipastikan setelah kami menikah, cinta itu akan datang.”


“Menikah?” tanya Zayn terkejut.


“Ya, aku berniat akan melamarnya, setelah masa idah Rara selesai.”


Zayn mulai menghitung masa iddah Rara. Tangannya mulai bergerak dan berhitung.


“What minggu depan?” tanyanya dalam hati. Itu artinya masa iddah rara akan berakhir minggu depan dan akan dilamar Reihan.


“Memang Raranya setuju?” tanya Zayn lagi.

__ADS_1


“Belum tahu sih, hingga saat ini dia masih menganggapku teman.”


Hah, Zayn dapat bernafas lega. “Baiklah, mulai saat ini kita bersaing,” ujar Zayn dalam hari sembari memandang Reihan.


__ADS_2