
Satu minggu kemudian.
Reihan mengajak Rara ke sekolah cabang, tempat nantinya ia akan mengajar. Reihan menemani Rara untuk mencari kos khusu wanita dan ternyata letaknya sangat jauh dari yayasan cabang milik Reihan itu.
Akhirnya, Rei menyarankan Rara untuk menyewa apartemen. Kebetulan Yayasan cabang milik Rei yang ada di daerah itu dekat dengan perumahan elite yang Reihan tinggali dan juga berhadapan dengan apartemen cukup mewah, sehingga nantinya Rara hanya menyeberang saja untuk sampai ke sekolah itu.
“Bagaimana? Kamu suka?" tanya Reihan saat melihat apartemen itu.
Rara berjalan menyusuri isi tempat itu. Ia memang sengaja menyewa unit yang paling kecil. Mengingat ia akan tinggal di apartemen ini sendiri.
Rara mengangguk. “Cukup nyaman.”
Apartemen itu sudah di lengkapi barang-barang rumah tangga. Saat membuka pintu apartemen, langsung disuguhkan mini bar lengkap dengan kitchen set yang menggabung menjadi sebuah lingkaran beerbentuk huruf L. Maju sedikit ke dalam, maka langsung memasuki sebuah kamar dengan perabotan lengkap. Ranjang king size, lemari besar dan sofa kecil juga televisi yang menempel di dinding. Kamar mandi pun berada di dalam kamar itu.
Rara berdiri di balkon yang masih terletak di dalam kamar. Tangannya memegang besi pagar balkon itu sembari melihat ke arah jalan. Dapat Rara lihat Mall dan Yayasan milik Reihan dari tempatnya berdiri.
“Lumayan ‘kan?” tanya Reihan tepat di telinga Rara, membuat wanita itu terkejut.
“Oh, ya. Lumayan,” jawab Rara tersenyum sembari menoleh ke arah Reihan.
“Di sini agak susah kalau mencari tempat kos, Ra.”
“Tapi lingkungannya memungkinkan ‘kan? Maksudnya rata-rata yang menghuni apartemen ini, oke?” tanya Rara ragu.
“Hmm ... menurut hasil pantauanku sih, sejauh ini oke. Ngga ada berita buruk yang terjadi di sini,” ujar Reihan.
Rara mengangguk dan memberikan senyumnya. “Aku percaya padamu.”
Reihan pun ikut tersenyum. “Di sini, penjagaannya cukup ketat dan privasimu juga terjaga. Tenang saja. Lagi pula dari rumahku juga tidak jauh. Jadi kalau ada sesuatu, jangan sungkan untuk meneleponku, oke!”
Rara mengangguk lagi dan kembali tersenyum hingga jejeran gigi rapihnya terlihat. “Oke, terima kasih Pak.”
“Sama-sama.”
“Aku ngga tahu harus balas apa untuk semua kebaikanmu,” kata Rara dengan menatap wajah Reihan.
Reihan berdiri di samping Rara dan ikut memegang pagar besi balkon sembari mengarahkan pandangannya pada jalan yang berlalu lalang kendaraan.
Reihan menoleh ke arah Rara dan menatap dua bola mata Rara yang indah. “Panggil aku Mas.”
“Apa?” tanya Rara bingung.
“Oh, tidak. Lupakan.” Reihan mengibaskan tangannya.
“Terima kasih, Mas.” Ucap Rara dan Reihan pun tertawa sembari menoleh lagi ke arah Rara.
“Loh kok ketawa sih?” tanya Rara tersenyum. “Tadi katanya mau dipanggil Mas.”
Reihan tertawa lagi. “Ngga apa-apa lucu aja. Aku seperti tengah memanfaatkan kondisi.”
__ADS_1
“Maksudnya?” Rara bertanya lagi, karena terkadang Reihan berkata dengan perkataan ambigu dan tersirat.
“Ya, aku tidak mau kalau kamu mengira aku memanfaatkan kondisimu yang baru saja bercerai.”
“Aku juga tidak menilaimu seperti itu,” jawab Rara.
“Sungguh?” Reihan menatap ke kedua mata Rara lagi.
Padahal ia memang sedang memanfaatkan kondisi ini. Ia sedang mencoba masuk ke dalam hati Rara perlahan dengan mulai membuat wanita itu nyaman dengannya.
Rara mengangguk. “Kita teman ‘kan?”
Reihan tersenyum dan ikut mengangguk.
“Ya, walaupun kata orang pertemanan antara wanita dan pria tidak akan tulus sebagai teman. Di antara salah satunya ada yang menyukai, entah itu si pria atau wanitanya,” ucap Rara dengan pikiran menerawang membayangkan Zayn.
“Yap, kamu benar. Biasanya memang seperti itu.”
Sontak Rara langsung kembali menoleh ke arah Reihan setelah mereka masing-masing kembali memandang jalan. “Kamu?”
Reihan mengangguk.
“Setiap pria pasti terpesona pada kecantikan wanita. Aku pun salah satunya. Sejak pertama Yasmin mengenalkanku padamu, aku terpesona. Tapi aku tahu kamu sudah memiliki suami. Dan, jujur aku terkejut saat kejadian di hotel itu. Kedua kakak beradik menyukai wanita yang sama.”
“Kamu tahu?” tanya Rara menyipitkan mata. Pasalnya ia tak pernah menceritakan pada siapapun alasan dirinya dan Reza bercerai.
Rara menarik nafasnya, menghirup udara yang semakin gelap. “Entahlah, Mas. Aku hanya mengikuti kata hati. Aku hanya melakukan yang membuatku nyaman.”
“Setuju, be your self. Karena sejatinya kenyamanan itu adalah menjadi diri sendiri.”
Rara tersenyum, begitu pun Reihan. Mereka saling pandang.
“Oh ya, ngomong-ngomong kenyamanan. Keterbukaanku tadi tidak membuat kamu menjadi tidak nyaman ‘kan?” tanya Reihan.
Rara menggeleng. “Sama sekali tidak. Justru aku suka, Mas berkata jujur.”
“Oh, Syukurlah. Aku pikir setelah ini kamu benar-benar resign dan menghindariku.”
Rara tertawa. “Ekstrim sekali.”
Kemudian keduanya tertawa.
“Oh ya, kedua anakku juga sekolah di sana, mungkin nanti kamu akan menjadi guru mereka,” ujar Reihan.
“Oh, ya? Wah suatu kehormatan mengajari putra putri pemilik Yayasan.”
“Ah, lebay.” Reihan tertawa. “Tapi mereka sedikit nakal, Ra. Terkadang aku sulit mengaturnya. Ya mungkin karena mereka lama tidak mendapatkan sentuhan ibu. Kamu tahu menjadi single parent itu ternyata sulit. Mungkin jika perempuan bisa kuat dan mengambil peran ayah untuk anaknya, tapi pria sepertinya hanya bisa menjadi ayah dan tidak bisa berperan lembut menjadi sosok ibu.”
“Kenapa tidak menikah lagi?” tanya Rara asal.
__ADS_1
“Karena aku menunggumu.”
Rara membulatkan matanya.
“Becanda, Ra.” Reihan tertawa dan Rara ikut tertawa.
Mereka terdiam sesaat sambil menikmati suasana yang semakin malam.
“Well, hari semakin malam. Ayo aku antar pulang!” Reihan berjalan lebih dulu untuk masuk ke dalam dan hendak meninggalkan balkon.
“Mas,” panggil Rara.
Reihan pun menoleh.
“Terima kasih.” Rara tersenyum.
Bibir Reihan ikut menyungging senyum. “Sama-sama.”
****
“Apa? Kamu mau tinggal di apartemen? sendirian?” tanya Sanjaya pada putrinya.
Rara mengangguk.
“Nak, nanti kamu di sana bagaimana?” Mia juga bertanya. "Bunda khawatir."
“Ayah, Bunda. Rara mohon, Ra bukan anak kecil lagi. Bahkan Rara sudah pernah menikah.”
“Justru karena statusmu itu, Bunda khawatir kamu di lecehkan,” ucap Mia.
Rara tersenyum dan memeluk ibunya. “Tenang Bunda, Insya Allah Rara bisa jaga diri.”
“Kenapa harus pindah sejauh itu?” tanya Sanjaya lagi.
“Ingin suasana baru, Ayah. lagi pula, kalau Ayah dan Bunda rindu Rara. Ayah Bunda bisa menginap di apartemenku.”
Sanjaya dan Mia saling bertukar pandang. Mereka sangat menyayangi putrinya, hingga apapun akan mereka lakukan untuk kebahagiaan sang putri, termasuk menyembunyikan semua hal buruk yang dapat membuat putrinya menderita, termasuk kejadian malam itu yang sudah Rara ingat dan satu lagi hal besar yang belum putrinya ketahui.
Rara memeluk Sanjaya. “Percayalah Ayah. Aku akan baik-baik saja. Bukankah Ayah yang menyuruhku untuk mencari kebahagiaanku sendiri?”
Sanjaya mengangguk.
“Rara tengah memulai untuk itu, Yah. mencari kebahagiaan Rara sendiri.”
Lalu, Sanjaya memeluk erat putrinya dan Mia pun berdiri untuk ikut memeluk ayah dan anak itu.
“Ayah dan Bunda akan mengantar kepindahanmu dan kami akan sering menginap di sana.”
Rara pun mengangguk. Lalu, mengeratkan pelukan itu
__ADS_1