Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
END - TAMAT


__ADS_3

Dua minggu berlalu. Sam hendak berniat untuk menemui Reza secara langsung di kantornya di Jakarta. Hampir satu minggu Reza juga tidak datang ke kantor Bandung, karena ia sibuk mengurus Mirna di jakarta. Reza harus mengurus kantor pusat bergantian dengan sang ayah yang mengurus Mirna.


Keadaan Mirna semakin membaik, walau ia masih duduk di kursi roda. Tapi keadaan Manda justru lebih memprihatinkan. Manda baru saja selesai menjalani operasi pengangkatan rahim. Benturan hebat dibagian perut membuat rahim Manda rusak dan harus diangkat. Sejak ia kecelakaan dan masuk rumah sakit, Sam yang selalu menemaninya. Sam juga sudah tahu tentang Noah. Pria itu sangat bertanggung jawab pada Noah dan Manda.


Sebelum menuju kantor Reza, Sam menemui Manda terlebih dahulu di rumah sakit. Setiap pagi, pria itu memang selalu berada di sini untuk mengurus Manda.


“Aku akan menemui Reza dan mengembalikan rumahnya,” ucap Sam pada Manda yang baru dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit, sore nanti.


“Setelah itu, aku akan ke sini lagi untuk menjemputmu,” ucap Sam lagi.


Manda terdiam. Ia bingung harus tinggal dimana setelah Sam mengembalikan rumah yang biasa menjadi tempat tinggalnya bersama Noah. Sam tidak ingin Manda menerima rumah itu, karena Noah adalah putranya. Dia yang harus bertanggung jawab untuk itu.


“Sam, aku nanti tinggal dimana?” tanya Manda lirih.


“Bersamaku,” jawab Sam mantap.


“Aku wanita cacat, Sam. Aku tidak pantas untukmu,” kata Manda lirih. Kini ia merasakan apa yang Rara rasakan dulu.


Sam menggeleng. “Tidak, Manda. Kamu tidak cacat. Ada Noah bersama kita.”


“Aku ga sempurna, sam. Kamu berhak mendapat wanita yang jauh lebih sempurna dari aku.”


“Manda,” panggil Sam lirih. “Oke, aku tidak akan membahas ini. biar waktu yang akan menjwabnya. Tapi yang jelas aku akan bertanggung jawab padamu dan pada putra kita.”


Manda hanya diam. Saat ini ia masih terguncang dengan kehilangan rahimnya. Ia tak bisa berpikir hal lain.


****


“Si*l. Apa ini?” tanya Reza marah ketika ia mendapat email dari Essy.


Lebih tepatnya email pengunduran diri Essy. Reza segera bangkit dari kursi kebesarannya dan bergegas keluar dari ruangan itu sambil memakai jas dan menelepon Essy.


“Angkat Essy,” gumam Reza.


Sudah dua minggu ia memang tidak berkomunikasi dengan Essy. Ralat hanya satu kali mereka berkomunikasi lewat telepon dan itu pun satu sama lain tidak memberitahu kondisi mereka masing-masing. Mereka hanya bercengkrama tentang pekerjaan dan basa basi saja.


Reza mengendarai mobilnya langsung ke Bandung. Untungnya siang ini, kondisi jalanan sangat sepi membuat ia sampai di Bandung dengan cepat.


Reza berlari menuju ruang administrasi. “Mana Essy?”


“Essy sudah tidak ke sini lagi dari satu minggu yang lalu, Pak.”


“Ah, ****.” Reza bergegas kembali keluar gedung itu dan masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobil itu ke rumah Essy.


Di sana ia baru mengetahui bahwa ibu Essy meninggal dunia dua minggu lalu dan saat ini Essy baru saja pamit pada tetangga untuk pergi ke Jepang, karena keluarga besar sang ayah berada di sana. Essy pergi bersama pengacara ayahnya dan orang kepercayaannya.

__ADS_1


Sudah lebih dari sepuluh tahun, Essy tidak ke kampung sang ayah.


Reza bergegas ke bandara untuk menemui Essy. Ia mengendarai mobil dngan kecepatan tinggi. Baru saja ia menyadari bahwa ia bisa menyukai seorang wanita setelah Rara. Walau Rara tidak bisa dilupakan dan tetap disimpan di dalam hatinya, tapi kehadiran Essy mampu memberi getaran lain di sisi hatinya yang lain.


Reza terus menghentakan setir kemudi. Ia bodoh karena telah mengabaikan Essy dalam dua minggu terakhir ini. Ia terlalu larut dalam masalahnya sendiri.


Kemudian, Reza sampai di Bandara. Ia berlari mencari keberadaan wanita yang saat ini menurutnya sangat penting.


“Essy ...” teriak Reza frutrasi karena tak menemukan wanita itu.


Sejenak aktivitas bandara itu terhenti krena teriakan Reza yang menggema. Semua mata tertuju pada pria gila itu. Begitu pun Essy yang masih berdiri untuk mengantri pemeriksaan pasport sebelum ruang boarding pass.


Essy menoleh ke suara yang memanggilnya. Sontak, Reza pun melihat wajah itu dan langsung berlari menghampiri.


Reza memeluk tubuh itu. "Maaf, Sy. Maaf, aku baru tahu kabar itu. Aku turut berduka."


Essy mengangguk pelan. Sesaat mereka berpelukan erat hingga Essy melonggarkan pelukan itu.


"Jangan pergi, Sy!" Reza menahan tubuh Essy yang hendak pergi.


“Maaf, Pak. Ada urusan yang harus aku urus di sana.”


“Apa kamu akan kembali?” tanya Reza.


Essy menggelengkan kepalanya.


Sontak air mata di pelupuk mata Essy pun tak terasa mengalir.


“Aku menyukaimu, Sy. Aku ingin menikahimu. Aku ingin menjadikanmu istriku dan ibu untuk anak-anakku kelak.” Entah sejak kapan, Reza pun ikut menangis.


“Aku masih belum percaya tentang pernikahan, Pak.”


“Reza. Panggil aku Reza,” kata Reza. “Aku tahu kamu masih trauma. Aku pun begitu. Aku sudah dua kali gagal menikah. Untuk itu, aku ingin kita sama-sama saling menguatkan. Aku tidak ingin berjanji padamu, tapi aku akan melakukan yang terbaik untukmu. Percayalah.”


Essy tersenyum mendengar perkataan Reza yang sulit ia percaya. Pasalnya selama ini Essy hanya bisa menyukai Reza dalam diam, mengagumi Reza dalam kejauhan.


“Aku menyukaimu sejak pandangan pertama. Sejak kamu menggendongku saat aku pingsan pas orientasi sekolah waktu itu. kamu juga memberikan ini padaku saat aku mulai sadar.” Essy memberi sapu tangan pada Reza.


“Sapu tangan ini?” tanya Reza bingung.


Reza berpikir sejenak dan mengingat masa itu.


“Ini punyamu. Waktu itu kamu menjadi ketua osis dan sangat terkenal. Aku ingin mengembalikan ini sejak dulu, tapi setiap kali ingin mendekatimu, itu sulit. Maaf aku baru mengembalikannya sekarang.”


Ah, Reza baru ingat. waktu itu ia panik dan menolong peserta orientasi yang pingsan karena belum sarapan. Reza pun membelikan Essy bubur dan menyuapinya saat Essy siuman. Ternyata Reza sendiri lupa kalau dirinya pernah berbuat baik pada orang lain, yaitu Essy. Kebaikan Reza pun menimbulkan benih cinta di hati Essy tapi Essy cukup tahu diri karena ia tahu ada Rara yang selalu dekat dengan Reza saat itu.

__ADS_1


“Essy, kembalilah. Aku tidak ingin kamu mengembalikan benda ini. Aku ingin kamu yang kembali.”


Essy kembali tersenyum. Lalu, pengacara Essy memperingatkan Essy untuk segera masuk ke dalam. Essy mengangguk dan meminta waktu sebentar lagi.


“Sy,” panggil Reza lirih.


Essy memegang tangan Reza. “Jika kamu memang serius sama aku. Cinta sama aku. Maka tunggu aku.”


Essy pun segera melepas genggaman tangan itu dan pegi dari hadapan Reza.


“Sampai kapan?” tanya Reza berteriak.


Essy mengangkat bahunya sambil tersenyum.


Reza pun tersenyum. “Aku akan menunggumu, Sy. Sampai kapan pun,” teriaknya lagi.


Essy pun tersenyum dan melambaikan tangannya dengan memberi kecupan pada Reza dari kejauhan.


Reza tersenyum dan mengambil kecupan itu lalu menaruhnya di dada. Ia melihat Essy tersenyum lebar di sana.


Reza pun menarik nafasnya kasar, setelah tak lagi melihat sosok Essy di sana. Lagi-lagi kebahagiaan belum juga berpihak padanya. Dan, lagi-lagi Reza harus sabar. Anggap saja ini sebuah konsekuensi dari kesalahan di masa lalunya yang harus ia terima. Tapi satu yang pasti yang ia tahu bahwa Essy mencintainya, menyukainya. Itu sudah cukup dan saat ini ia akan setia dengan wanita itu. seperti Zayn yang setia menunggu Rara hingga lima tahun.


Di tempat berbeda, Rara dan Zayn tengah bersama kedua anaknya. Siang ini, Rara sengaja mengajak Zac dan Zoey ke studio sang ayah. Mereka membuat foto keluarga, karena di rumah itu belum ada foto mereka berempat.


“Senyum dong! Cheerss ...”


Ceklek.


“Gaya bebas,” ucap Jack menjadi fotografer mereka.


“Yeay ...” Zayn, Rara, Zac, dan Zoey menampkkan jejeran gigi mereka di kamera itu dengan gaya Zayn yang tengah mencium pipi Rara dan Zac Zoey yang menggelayuti kedua orang tuanya di sisi kanan dan kiri.


T A M A T


 


Akhirnya selesai juga kisah Rara, Zayn, dan Reza. Maaf kali ini saya membuat cerita kontroversi yang membuat kalian ada di kubu A, B, atau C.


Memang setiap orang memiliki cara berpikir berbeda, itu bebas. Karena sudah pasti setiap kepala memiliki isi masing-masing, tergantung dari sudut mana melihatnya. Tapi di sini, sepertinya saya sudah menjelaskan detail kenapa Zayn begini, kenapa Reza begitu?


Satu yang pasti bahwa saya penganut cinta damai, jadi di setiap novel halu saya akan saya buat happy ending. Sebab setiap manusia pasti pernah berbuat salah dan setiap orang pasti ingin berubah menjadi lebih baik. Yang jelas semua kesalahan akan ada konsekuensinya dan itu sudah dijalani oleh semua tokoh yang melakukan kesalahan di sini.


So, terima kasih buat yang masih stay membaca cerita ini. Maaf kalo membuat kalian kecewa dengan tidak lagi mau membaca atau stop membaca hehehehe .... bebas. Saya tipe orang yang ngga ambil pusing. Yang penting tetap berjalan sesuai dengan alur yang sudah saya buat dari awal.


Terakhir, terima kasih buat semua... terima kasih atas dukungannya melalui vote, hadiah dan lain-lain.

__ADS_1


Ketemu di cerita selanjutnya ya guys, cerita anak-anaknya Kenan, Vicky, Gun, dan Dave.


Love you ... Muuaachhhh 😘😘😘


__ADS_2