Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Ponsel Rara tidak aktif


__ADS_3

“Bu, kita mau kemana?” tanya supir taksi yang membawa Rara.


Rara diam dan tidak menjawab supir itu. Pikirannya masih menerawang membayangkan semua yang telah terjadi.


“Bu ... Bu ...” panggil si supir hingga ia harus mengeraskan suaranya agar panggilan itu terdengar oleh Rara yang duduk di belakang.


“Oh, iya. Bagaimana Pak?” tanya Rara.


“Nuhun, Bu. Ini kita mau kemana? Saya teh liyer jadinya karena kita dari tadi cuma muter-muter aja.”


“Oh, iya pak. Maaf. Kita ke pantai Jayanti aja.”


“Waduh lumayan jauh itu Bu dan tadi tujuan ibu ngga kesana.”


“Saya bayar diluar aplikasi, Pak. Terserah bapak argonya berapa, akan saya bayar.”


“Oke deh, bu kalau begitu,’ jawab senang si supir.


Mobil itu akhirnya melaju ke pantai yang dua hari lalu diajak oleh Zayn. Rara memang menyukai sunset dan pantai itu menyuguhkan sunset dengan engel yang indah.


Entah mengapa ketika melihat pantai yang begitu luas, Rara merasa masalah yang ia alami tidaklah besar. Juga, ketika ia melihat sunset yang indah, seolah menunjukkan bahwa diluar sana banyak keindahan yang ia tidak ketahui. Dan, ia yakin bahwa setelah ini, Tuhan pun akan memberinya keindahan.


Di kantor, Reza mencoba menghubungi ponsel sang istri. Lagi-lagi ia hanya mendengar suara operator yang menjawab panggilan itu.


“Sh*t, kamu ngga aktifin ponselmu lagi,” gumam Reza.


Ia terus mengulangi panggilan itu dan mendapatkan hasil yang sama. Pikirannya mulai negatif, membayangkan Rara kembali janjian dengan Zayn dan jalan-jalan bersama.


Brak


Reza kesal dan melempar ponsel itu di mejanya.


“Ada apa ini?” tanya Kemal yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan putranya dan mendapati pemandangan tidak enak itu.


“Rara pasti jalan lagi sama Zayn.”


“Tidak mungkin,” jawab Kemal santai.


“Itu, buktinya. Dia tidak mengaktifkan ponselnya lagi. Sama seperti waktu mereka jalan seharian kemarin,” dengus Reza. “Anak angkat papa itu memang tidak tahu diri.”


“Fahreza.” Kemal membulatkan matnya ke arah sang putra.


Kemudian, Kemal langsung merogoh sakunya dan mengambil ponsel untuk menelepon Zayn.


Di Lembang, Zayn sibuk menjalankan projeknya.


“Cel, kaki kananmu agak di majukan sedikit,” kata Zayn dengan bahasa perancis, membrikan arahan pada modelnya yang sedang berpose.


“Yak, oke. One two ..”


Cekrek


“Bos, ada telepon untukmu,” teriak asisten Zayn.


“Who?” tanya Zayn.


“Your Daddy.”


“Oke, break.” Zayn pun menghentikan sementara aktifitasnya.


“Ayahmu ada di sini juga?” tanya Celine yang langsung menempel pada tubuh Zayn.


“Jaga sikapmu, Cel. Di depan ada Arthur.” Mata Zayn mengarah pada kekasih Celine.

__ADS_1


Celine kembali membenarkan posisinya. Lalu, Zayn menerima ponselnya dari tangan sang asisten.


“Ya, Pa.” sapa Zayn setelah menempelkan ponsel itu di telinganya.


“Rara bersamamu?” tanya Kemal to the poin.


“Tidak. Memang dia kemana?”


“Kata Reza ponselnya tidak aktif.”


“Sebelumnya dia pergi kemana?’ tanya Zayn khawatir.


“Entahlah, saat kami berangkat. Rara masih diapartemen.”


“Apa Rara menemui wanita itu lagi?” tanya Zayn.


“Wanita? Wanita mana?”


“Coba tanya pada kakak tentang wanita itu. mungkin dia tahu.”


Kemal semakin bingung. Sebenarnya apa yang terjadi lagi antara mereka? dan lagi wanita? Siapa wanita yang di sebutkan Zayn?


“Baiklah, Papa putus sambungan teleponnya,” ucap Kemal.


“Tunggu, Pa. Tolong kabari aku lagi tentang Rara. Aku khawatir, Pa.”


“Iya,” jawab Kemal dan mematikan ponselnya.


“Rara tidak bersama Zayn,” kata Kemal pada Reza.


“Bohong. Dia pasti bohong. Dia itu tidak pernah terima bahwa Rara memilihku.”


“Dia sudah terima itu. buktinya dia tidak muncul dihadapan kalian selama lima tahun.”


“Itu tidak di sengaja. Rara cerita seperti itu kan? Pertemuan mereka tidak di sengaja.” Kemal mencoba meluruskan jalan pikiran Reza yang terus menghardik sang adik.


“Zayn tadi tanya, apa Rara bertemu wanita itu lagi? Siapa wanita yang Zayn maksud?” tanya Kemal.


Reza menggeleng dan mengerdikkan bahunya.


“Tadi kamu lama berbincang dengan istrimu sebelum berangkat. Apa yang Rara katakan?”


“Dia hanya ingin menemui teman barunya hari ini,” jawab Reza.


“Nah, itu mungkin wanita yang Zayn maksud. Teman baru Rara seorang wanita dan dia sedang berada di rumah teman wanitanya itu,” kata Kemal.


Lalu Kemal mengajak Reza untuk keluar dari ruangan itu. “Ayo meeting! Staf yang lain sudah menunggu. Nanti kamu telepon Rara lagi setelah meeting, siapa tahu ponselnya nanti sudah aktif.”


Reza mengangguk dan mengikuti langkah sang ayah untuk keluar dari ruangan itu.


****


Setelah mendapat telepon dari Kemal, Zayn menjadi ikut tidak tenang. Ia memikirkan keadaan Rara di sana. Ia juga tahu pasti bahwa Rara merahasiakan kebohongan sang suami yang sudah ia ketahui dari Reza dan Kemal.


“Jack, berapa jam tersisa?” tanya Zayn pada asistennya untuk mengetahui kapan ia selesai dari pekerjaan ini.


“Three.” Jack menunjuk ketiga jarinya.


Di sana, Zayn tidak sendiri. Ia berangat bersama tim. Ada beberapa photografer yang Zayn bawa untuk bergantian, jika ia sedang lelah.


Tiga jam kemudian, Kemal dan Reza keluar dari ruang meeting. Mereka kembali ke ruangan Reza.


“Sepertinya, kita sudah mendapatkan solusi, Za. Kamu sudah tidak perlu pusing lagi,” kata Kemal.

__ADS_1


Reza mengangguk. “Terima kasih, Pa.”


“Ya, jika urusan di sini sudah selesai. Papa akan kembali ke Paris.”


Reza dan Kemal berjalan beriringan.


“Tapi Papa mampir ke rumah Ayah dan bunda dulu kan?” tanya Reza.


“Tentu saja, Papa akan menemui mertuamu dulu sebelum pulang.”


Reza tersenyum dan mengangguk.


“Kamu akan pulang besok juga kan?” tanya Kemal ketika Reza membuka pintu ruangannya.


“Hmm ... Papa pulang dulu saja bersama Rara. Reza harus mengurus beberapa keperluan lagi di sini,” jawab Reza. Ia ingin menemui Noah, sebelum kembali ke Jakarta.


Kemal mengeryitkan dahinya. “Urusan apa?”


“Ya, mempertegas dan memantau jobdes untuk orang-orang yang kita tugaskan tadi,” ucap Reza dengan sedikit gugup.


“Baiklah.”


Dret ... Dret ... Dret ...


Ponsel Kemal berdering menampilkan nama Zayn di sana.


“Ya, Zayn.”


“Bagaimana Rara, Pa? Ponselnya sudah aktif?’ tanya Zayn.


“Entahlah, Papa dan Reza baru saja selesai meeting. Reza belum menelepon istrinya lagi.”


Mendengar hal itu, Reza pun langsung ingat dan mendial nomor telepon Rara.


“Baiklah, kalau begitu aku akan menelepon Rara,” kata Zayn.


“Zayn. Ini urusan Reza. Biar dia yang menelepon istrinya.”


“Papa tidak tahu apa yang terjadi dengan Rara. Papa tidak tahu apa yang sudah Kak Reza lakukan pada istrinya.”


Reza menutup telepon itu sepihak, membuat Kemal bingung.


“Bagaiman?a apa ponsel Rara sudah aktif?” tanya Kemal.


Reza menggeleng dengan serius membaca pesan dari Manda, setelah menelepon ponsel Rara yang tak kunjung aktif.


“Apa yang kamu lakukan pada Rara, Za?” tanya Kemal lagi, tetapi Reza masih fokus pada layar ponselnya.


Reza membaca dengan serius pesan dari Manda yang terkirim tiga jam lalu.


“Mas, sebelumnya aku minta maaf. Aku mengacaukan semuanya. Aku tidak tahu kalau wanita yang aku kenal kemarin adalah istrimu. Sungguh aku tidak tahu.”


Deg


Jantung Reza berdetak tak karuan. Apa yang dimaksud dalam pesan manda? Ia tidak bisa menelepon Manda di depan sang ayah. Ia harus menemui istri keduanya itu segera dan meminta penjelasan.


Reza langsung mengambil jasnya dan hendak meninggalkan ruangan itu.


“Kamu mau kemana?” tanya Kemal dengan menahan lengan Reza.


“Ada urusan sebentar, Pa.”


“Apa ada yang kamu sembunyikan?” tanya Kemal menyelidik.

__ADS_1


Namun, Reza tak menjawab dan tetap pergi dari hadapan sang ayah.


__ADS_2