
"Apa Ayah dan Bunda juga mengetahui hal ini?” tanya Rara pada kedua orang tuanya setelah menceritakan apa yang telah ia ingat.
Mia yang duduk di samping putrinya itu pun menunduk.
“Sayang, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan,” kata Sanjaya.
“Mengapa Ayah dan Bunda bohongi Rara? Mengapa ketika Rara tidak ingat peristiwa itu, Ayah dan Bunda tidak menceritakannya?”
Mia menggeleng, begitu juga Sanjaya.
“Itu tidak mungkin, Sayang. Kami tidak mungkin membuatmu terpuruk,” jawab Sanjaya.
“Tapi saat ini Rara terpuruk, Ayah. Terpuruk bukan hanya karena peristiwa itu, tapi juga rumah tangga Rara yang hancur. Seharusnya Rara dan Kak Reza tidak menikah. Seandainya Rara ingat peristiwa itu, Rara juga tidak ingin dinikahi siapapun.” Rara menangis.
“Rara.” Mia langsung memeluk putrinya. Begitu pun Sanjaya.
Sedangkan Kemal hanya bisa berdiri mematung. Rara sudah seperti anak kandungnya sendiri. Ia dapat merasakan kesedihan itu.
“Pa,” panggil Rara pada Kemal setelah melepaskan pelukan dari tubuh kedua orang tuanya.
Kemal berjalan mendekati Rara.
“Maaf, Papa. Rara ingin bercerai dari Kak Reza.”
Kemal mengangguk.
“Ayah ... Bunda ... Setelah ini, Rara ingin tinggal sendiri dulu.”
Sanjaya dan Mia mengangguk.
“Terserah, apa yang ingin kamu lakukan, Nak. Ayah percaya kamu bisa membuat dirimu bahagia.”
Mereka kembali memeluk putrinya.
__ADS_1
“Rara, maafkan anak-anak Papa,” ucap Kemal.
Lalu, Kemal keluar dari ruangan itu. Ia tak kuasa menahan sedih. Ia harus memberitahu Mirna untuk secepatnya datang ke tanah air, karena situasi semakin genting. Ia pun tak melihat keberadaan Reza atau pun Zayn. Setibanya di rumah sakit ini, ia dan kedua orang tua Rara hanya melihat wanita itu termenung sendirian.
Kemal berjalan menelusuri area luar rumah sakit. Siapa tahu ia menemukan Reza atau Zayn di sana. Benar saja, ternyata ia menemukan Reza duduk di taman rumah sakit itu. Posisi Reza sudah beralih ke sana. Namun, Kemal tidak menemukan Zayn, karena Zayn sudah kembali ke hotelnya.
“Za,” panggil Kemal pada putranya.
“Papa.” Reza langsung memeluk tubuh sang ayah. Ia menumpahkan kesedihannya pada pria paruh baya yang begitu menyayangi keluarga.
“Maaf, Reza tidak bisa menjadi pria sejati seperti Papa. Reza selalu menginginkan kesempurnaan, padahal semua tak ada yang sempurna.”
Kemal menepuk punggung belakang putrnya. “Sudahlah, semua sudah terjadi. Kamu harus bisa bangkit. Seperti Rara yang mencoba bangkit.”
“Apa dia sudah mengingat semuanya?” tanya Reza sembari melonggarkan pelukan itu.
Kemal mengangguk.
“Ah, ****,” umpat Reza.
“Tidak bisa, Papa. Aku tidak bisa hidup tanpa Rara. Hanya dia wanita yang kucintai sejak dulu.”
“Za, ingat kamu tidak lagi sendiri sekarang. Ada bocah kecil dan janin di perut wanita yang sedang mangandung anakmu. Kamu harus menerima takdir ini demi mereka. Mereka membutuhkanmu sebagai ayah.”
“Tapi aku membutuhkan Rara sebagai istri.”
“Anak-anakmu mempunyai ibu yang melahirkannya dan Rara tidak mungkin mau menggantikan ibu untuk mereka selagi ibu kandungnya masih ada. Papa kenal Rara, kamu juga. Kalau pun kamu memilih Rara dan menceraikan istri siri mu, lalu membiarkan Rara mengasuh anak-anakmu, Papa yakin Rara tidak akan mau memisahkan anak dengan ibu kandungnya.”
“Kalau begitu biar mereka bersama ibu kandungnya. Reza akan tetap membiayai hidup mereka dan Reza tetap bersama Rara.”
“Terlambat, Za. Seharusnya kamu lakukan ini setelah Noah lahir dan tidak malah menambah anak kedua.”
Seketika, Reza terdiam. Kata-kata sang ayah sungguh menusuk hatinya. Kemal memang benar, seharusnya ia melepaskan Manda setelah Noah lahir dan tetap bertanggung jawab dari jauh. Ah, ia memang bodoh. Seandainya ia jujur dari awal tentang Manda, pasti Rara bisa memaafkan.
__ADS_1
“Ayo kita pulang!” Kemal mengajak putranya untuk pulang ke aparteemn di kota Bandung, karena Reza juga butuh menenangkan diri.
“Di sana, Rara ditemani Ayah dan Bunda ‘kan?”
Kemal mengangguk dan berjalan menuju tempat parkir. Semua orang memang buth istirahat dan merehatkan pikirannya. Kemal tidak ingin mengganggu Rara. Biarlah menantunya bersama kedua orang tuanya di sana dan Reza dengan orang tuanya. sedangkan Zayn, bersama teman-temannya. Jika ada Mirna, pasti istrinya yang menemani Zayn.
Malam semakin larut, Rara pun akhirnya bisa memejamkan mata setelah terus menangis bersama orang tuanya.
Sanjaya terus mengelus rambut putrinya dan mengecup kening itu. Ia dan sang istri baru bisa merebahkan diri di sofa panjang itu. Sungguh lelah pikiran dan tenaga mereka hari ini.
Di apartemen. Kemal dan Reza hendak memasuki kamarnya masing-masing.
“Pa, Rara bilang apa ke Papa?” tanya Reza sebelum ia memasuki kamarnya.
“Pasti kamu tahu apa yang Rara minta dari Papa,” jawab Kemal.
“Apa dia ingin bercerai dariku?” tanya Reza lagi.
Kemal menganggukkan kepalanya lemah.
Seketika tubuh Reza lemas. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding. Akhirnya, saat terburuk itu terjadi. Tidak ... Tidak ... itu tidak boleh terjadi. Dengan sekuat tenaga, Reza akan memohon pada Raar untuk tidak meninggalkannya.
“Papa, jangan pisahkan kami! Aku akan memperbaiki semuanya.”
“Masalahnya, Papa tidak tega melihat tangisan Rara. Dia sudah seperti putri Papa, Za. Papa bisa merasakan kesedihannya.” Kemal menghelakan nafasnya dan kembali mendekati Reza. “Papa tahu kamu sangat mencintai Rara, tapi Papa juga tidak tahu rasa cinta yang berlebihan itu menjadi obsesi atau tidak di sini.” Kemal menunjuk dada Reza.
“Sikapmu terhadap Zayn yang berlebihan, terkadang membuiat Papa bertanya apa iya kamu sangat mencintai Rara atau tidak ingin kalah saing dengan adikmu.”
Reza terdiam mendengar semua penuturan ayahnya.
“Jika lepas darimu membuat Rara bahagia dan tidak tersakiti lagi, maka lepaskanlah! karena begitulah seharusnya jika kamu mencintainya.” Kemal menepuk bahu putranya agar mengerti.
Lalu, Kemal kembali menoleh ke arah Reza. “Cinta itu membahagiakan, Za. Bukan menyakiti.” Kemudian ia melangkahkan kakinya kembali ke kamar.
__ADS_1
Reza termenung mendengar semua perkataan itu. Kemal memang selalu bisa menjadi penasehat yang baik untuk dirinya. Bukan hanya penasehat untuk perusahaan saja melainkan untuk urusan pribadinya dan kini ia mengerti, seperti inilah sosok ayah yang dibutuhkan seorang anak. Kelak, Noah pun akan membutuhkannya seperti ini. Hah, semua membutuhkan keikhlasan dan Reza tak pernah memiliki itu. Ia yang perfeksionis selalu merasa bisa menentukan takdirnya sendiri.