Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Ternak teri


__ADS_3

“Dad, Oh.” Rara melenguh saat Zayn terus memberi kenikmatan itu.


“Eum.” Rara tak kuasa menahan rasa nikmat itu hingga ia menggigit bibirnya sambil kedua tangannya meremas seprei putih yang menjadi alas ranjang besar itu.


Zayn tersenyum melihat sang istri yang terus melenguh di bawah kungkungannya. Ia pun gemas dengan tubuh itu, gemas dengan suara lenguhan yang terdengar merdu itu. Bukan hanya Rara yang merasa terbang ke langit ke tujuh, Zayn pun merasakan hal yang sama. Ia pun menengadahkan kepalanya ke atas ketika ia merasakan pacuan gerakannya terhadap tubuh itu.


“Oh, Sayang. Kamu benar-benar nikmat,” racau Zayn. “Sungguh, Oh.”


Zayn melakukan ide gila Rara yang mengajaknya untuk mampir ke sebuah hotel terdekat sebelum mereka pulang ke rumah. Alhasil, saat ini mereka pun sedang memacu adrenalin dalam sejuta gelora dan lautan gairah. Keduanya seakan haus akan bercinta dan saling memuaskan satu sama lain, hingga akhirnya mereka tumbang setelah tiga jam bertempur dan itu pun terjeda oleh adzan maghrib saat ronde pertama. Kemudian, mereka mengulang ronde kedua setelah melaksanakan kewajibannya.


“Arrgghh ...” keduanya mengerang bersamaan saat pelepasan itu tiba.


Zayn ambruk di atas tubuh Rara. Lalu, Rara memeluk erat leher Zayn. Kedua insan tanpa busana sehelai itu pun saling berpelukan. Keduanya benar-benar menyatu seperti cinta mereka yang telah disatukan oleh ikatan suci.


“Aku cinta padamu, Cleopatra. Sangat mencintaimu,” ucap Zayn ketika tubuh polos mereka saling berpelukan.


“Aku juga mencintaimu, Zayn. Sangat mencintaimu.”


Keduanya pun tertawa.


Zayn hendak bangkit dari tubuh yang tengah ia tindih itu dan Rara melonggarkan pelukan. Tangan kiri Zayn digunakan untuk menyanggah tubuhnya agar tidak terlalu menindih tubuh Rara, sementara tangan kanan Zayn digunakan untuk menghapus peluh di kening Rara.


“Kamu lelah?” tanya Zayn lembut dengan tangan kanan yang masih bergerak mengusap wajah sang istri.


Tangan Rara ikut bergerak menghapus peluh di kening suaminya. Ia tertawa dan menggeleng. “Tidak.”


Zayn tersenyum. “Mengapa kamu enak sekali, Sayang?”


Rara tersenyum sambil menggigit bibirnya. Ia tahu bahwa menggigitnya sendiri adalah kelemahan Zayn, karena suaminya itu sudah tergoda ketika Rara melakukan itu.


Cup


Benar saja, Zayn mencium bibir Rara. Zayn memang tak pernah tahan melihat Rara menggigit bibirnya.


“Kamu benar-benar membuatku gila, Sayang.”


Rara kembali tertawa. “Sengaja.”


“Hmm ... coba ulang.”


“Aaa ... Daddy.” Teriak Rara karena Zayn menggelitiki pinggangnya.


Lalu, Zayn melakukannya lagi. Ia kembali menekan pinggang Rara dengan jari telunjuknya, membuat tubuh itu bergoyang.


“Aaa ... Daddy, Please. Jangan di gelitiki!” ucap Rara manja.


Zayn tertawa. “Habis aku kesal denganmu.”


“Kenapa?”


“Karena kamu selalu saja bisa membuatku tergila-gila.”


Rara tertawa.


Dulu, Zayn tergila-gila pada pesona Rara dan sekarang Rara telah berhasil membuat Zayn tambah tergila-gila dengan kenikmatan tubuh yang selalu ditawarkan olehnya. Apalagi Rara juga memberikan pelayanan maksimal, hingga membuat Zayn terbuai dan sangat ketagihan.


Perlahan Zayn bangkit dari tubuh itu dan ranjang itu. Ia pun langsung membopong Rara menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa percintaan mereka.


“Zayn mandi sendiri-sendiri aja,” rengek Rara sambil meminta Zayn untuk diturunkan dari gendongannya.


“Aku tidak akan macam-macam, Sayang. Supaya cepat, kita mandi bersama, setelah itu makan malam dan pulang.”


“Janji, hanya mandi bersama?” tanya Rara tersenyum.


“Janji, Sayang.” Zayn pun membalas senyum itu.

__ADS_1


Hari semakin malam. Rara gelisah karena telah lama meninggalkan Zac dan Zoey di rumah. Walau si Bibi mengatakan mereka aman dan baik-baik saja, tetapi Rara tetap merasa bersalah.


“Kita tidak akan pernah bisa honeymoon, Sayang. karena baru meninggalkan Zac dan Zoey beberapa jam saja, kamu sudah gelisah seperti ini,” ucap Zayn ketika mereka sedang menikmati makan malam di restoran hotel itu.


“Begitulah seorang ibu, Dad. Tidak akan bisa tenang meninggalkan anaknya. Tidak juga bisa bersenang-senang sementara anak-anaknya di sana tidak ikut bersenang-senang,” jawab Rara.


“Eum ...” Zayn terharu mendengar penuturan Rara dan mengecup keningnya.


“Ekhem ...” Terdengar suara deheman seorang pria.


Zayn dan Rara pun langsung menoleh.


“Hai, Mas,” sapa Zayn dan Rara bersamaan.


“Hai, pengantin baru. Dari tadi ngeliatnya mesra banget,” ujar pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Reihan.


Zayn langsung berdiri dan memeluk Reihan. “Sehat, Mas?”


“Alhamdulillah,” jawab Reihan.


“Duduk, Mas,” ucap Rara dan Reihan langsung mengangguk.


“Makin cantik aja kamu, Ra,” ucap Reihan pada Rara yang tampak berseri dan semringah.


“Wah, Mas. Jangan macem-macem ya! Godain istri aku,” ancam Zayn bercanda.


Reihan pun tertawa. Ia memang hanya meledek pasangan baru menikah ini.


“Ngapain di sini, Zayn? Abis ketemu klien?” tanya Reihan.


“Abis ngebooking cewek ini.” Zayn melirik ke arah Rara.


Reihan pun tertawa. Ia memang tahu Zayn suka bercanda.


“Zayn,” rengek Rara sambil memukul lengan suaminya yang berada persis di samping Rara.


“Ish, nyebelin.” Rara kembali memukul lengan Zayn, membuiat Zayn terus tertawa.


Melihat kemesraan Zayn dan Rara pun membuat Reihan tersenyum. “Kalian bahagia banget, ya. Aku senang sekali melihatnya.”


Zayn dan Rara menyudahi pertikaian itu dan mereka pun kembali berbincang dengan Reihan. Mereka berbincang tidak lama, karena Zayn bercerita bahwa mereka sudah lama meninggalkan anak-anak di rumah.


Selang tiga puluh menit kemudian, Akhirnya Zayn dan Rara pamit dengan Reihan.


“Mas, salam ya buat Ibu,” kata Rara dan Reihan pun mengangguk.


“Salam juga buat mbak Chintya,” kata Zayn yang juga membuat Reihan mengangguk.


Untungnya, saat ini kondisi istri Reihan semakin baik. Daya ingatnya pun berangsur pulih, walau belum sepenuhnya, tetapi sudah semakin banyak hal yang wanita itu ingat. Itu tadi yang diceritakan Reihan pada Zayn dan Rara saat berbincang tadi.


“Dad. Kira-kira Zac dan Zoey ngambek ga ya?” tanya Rara ketika mereka berada di dalam mobil menuju rumah.


“Entahlah. Mungkin saja.”


“Kita bawa apa gitu, supaya mereka ngga ngambek,” ucap Rara.


“Bawa kamu ke rumah aja, itu udah membuat mereka ngga ngambek kok,” jawab Zayn.


“Serius? Cuma itu aja?” tanya Rara.


Zayn mengangguk. “Dulu, aku paling tidak bisa menjawab pertanyaan mereka, ketika mereka menanyakan kamu. Aku hanya bilang jika ...”


“Mommy tidak marah lagi dengan Daddy, maka Mommy akan pulang.” Rara melanjutkan ucapan Zayn.


“Kamu tahu itu?” tanya Zayn.

__ADS_1


“Itu kalimat pertama yang aku denger dari mulut Zoey saat aku menanyakan ibunya.” Rara menghelakan nafas sambil bersandar pada punggung kursi mobil itu dan membayangkan saat pertemuan kedua dengan Zoey di toko aksesoris sebuah mall.


Zayn mengangkat tangan kirinya untuk mengelus kepala Rara. “Alhamdulillah, sekarang Mommy udah ngga marah sama Daddy.”


Rara melirik ke arah suaminya. “Ngga tahu kenapa Mommy ngga bisa marah ya sama Daddy. Pasti Daddy pelet Mommy nih.”


Rara menyalahkan suaminya.


“Iya dong. Kan Mommy udah kena pelet Rudal Paris.”


Sontak Rara pun tertawa kencang. Zayn memang selalu bisa membuatnya tertawa dan Zayn pun ikut tertawa.


****


“Weekend ini, kita akan menginap di rumah Kakek. Kalian mau?” tanya Zayn.


“Mau ...” teriak Zac dan Zoey bersamaan.


“Aku rindu Kakek.”


“Aku juga rindu Nenek.”


Zac dan Zoey saling bersahutan di sela aktivitas pagi mereka. Di meja makan ini, biasanya mereka saling bercengkerama. Ruang makan dan ruang televisi adalah ruangan kebersamaan Zac dan Zoey bersama kedua orang tuanya.


Hari ini, Rara pun sudah kembali mengajar dan mereka akan berangkat bersama. Zayn akan mengantarkan anak istrinya ke sekolah itu, sekalian ia berangkat ke studio.


“Dad, apa rumah Kakek besar?” tanya Zoey.


“Eum ... Iya, lumayan besar.”


“Sebesar rumah GrandPa?” tanya Zac.


“Eum ... Tidak.” Zayn menggeleng. “Tapi sangat nyaman.”


Rara tersenyum sambil mengambil makanan untuk anak dan suaminya.


“Rumah Kakek berdekatan dengan rumah Oma dan Opa. Kita akan mampir ke sana,” ucap Zayn lagi.


“Benarkah?” tanya Zac.


Zayn mengangguk.


“Rumah Kakek bersebelahan dengan rumah Oma dan Opa,” sambung Rara.


“Yeay ...” teriak senang Zac dan Zoey.


Mereka memang telah lama tidak bertemu Mirna dan Kemal. Mereka juga belum pernah menginap di rumah Sanjaya dan Mia.


Kebetulan Mirna dan Kemal saat ini memang masih berada di Bandung. Kemal sengaja ingin mendampingi putranya selama satu minggu sejak kemarin. Ia ingin memastikan agar Reza tidak mabuk-mabukan lagi. Dan, itu berhasil, karena pengawasan dari sang ayah, Reza tak lagi keluyuran ke Klub setelah pulang kerja.


Rencananya awal weekend, tepatnya di hari Jumat, Kemal dan Mirna akan membawa Noah ke Jakarta dengan membawa Manda dan Reza bersama mereka hingga hari Minggu. Sedangkan Rara dan Zayn akan menginap di rumah Sanjaya pada hari Sabtu nya. Akankah mereka akan bertemu saat Zayn membawa Zac dan Zoey ke rumah Kemal. Bagaimana kira-kira reaksi Reza ketika melihat Zayn dan Rara? Atau reaksi Manda ketika melihat Rara yang sedang berbahagia?


Pasalnya Zayn sengaja tak memberitahu rencana kedatangan mereka ke rumah itu. Rara pun tidak memberi tahu orang tuanya. Ia ingin memberi kejutan untuk sang ayah yang dikunjungi kedua cucunya yang menggemaskan ini. Pasti reaksi Sanjaya dan Mia akan sangat senang dan Rara pun tersenyum menanti hari itu, karena ia juga sudah merindukan kedua orang tuanya.


“Dah, Sayang. Nanti siang aku akan menjeputmu.” Zayn mengecup kening Rara setelah menurunkan Rara dan kedua anaknya di depan sekolah itu.


“Kalau tidak sempat, tidak usah dijemput. Aku naik taksi online saja. Deket kok,” jawab Rara.


“Studio ku juga tidak jauh dari sini, Sayang. Aku akan keluar dulu buat ternak teri.”


“Ternak teri?” tanya Rara bingung.


“Iya, anter anak anter istri.” Zayn mengusap kepala Rara dan bergantian pada kedua anaknya. Lalu, ia kembali ke dalam mobil.


Rara pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja suaminya itu. Rara, Zac, dan Zoey melambaikan tangannya ke arah Zayn sebelum pria itu pergi.

__ADS_1


Zayn juga melambaikan tangan ke arah itu dengan senyum yang lebar. Lalu, pergi.


__ADS_2