
"Buka ngga atau kacanya gue pecahin!” Zayn mengancam supir taksi itu sambil berteriak.
Rara langsung membuka pintu mobil itu. “Mau apa kamu? Hah!”
Zayn mendekati Rara dan mencoba merangkul bahunya, tetapi lengan Zayn langsung Rara tepis.
“Ra, aku akan bertanggung jawab. Aku akan menjelaskan semuanya pada Kak Reza.”
“Aku antar kamu pulang, Ra.”
“Tidak perlu.”
Rara memilih berlari cepat, menyeberangi jalan itu.
“Ra,” teriak Zayn yang mencoba mengikuti Rara. Namun, sayang. kejadian itu lebih cepat dari Zayn.
“Aaa ....” teriak Rara ketika ia menyeberang ternyata truk besar itu melintas dengan cepat.
“Rara ...”
Sontak kedua mata Rara langsung terbuka.
“Sayang, kamu sudah sadar?” tanya Reza yang langsung berdiri menghampiri Rara.
Zayn pun langsung medekati tempat tidur rumah sakit yang diisi Rara. “Kamu sudah lebih baik?”
Rara hanya diam sembari memandang wajah Zayn dan Reza bergantian. Memori yang hilang itu kembali berputar. Suara Zayn menari-nari di kepalanya.
“Aku mencintaimu, Ra. Sungguh Aku tulus mencintaimu.”
“Tapi tubuhmu tidak berkata tidak. Dia menerimanya.”
“Aarrgg ...” teriak Rara sembari memegang kepalanya yang sakit karena berusaha mengingat kejadian itu.
Melihat hal itu, Zayn langsung berlari keluar dan memanggil perawat, sedangkan Reza mencoba menenangkan istrinya dengan memeluk tubuh itu.
Di perjalanan, Kemal, Sanjaya dan Mia tengah menuju ke rumah sakit ini. Baru satu jam lalu, mereka dikabarkan oleh Zayn tentang kondisi Cleopatra.
Sementara di tempat berbeda, Manda hanya menunggu di rumah itu bersama putranya. Sejak kejadian itu, Manda praktis tidak berkomunikasi dengan Reza, hanya satu kali ia memberi pesan dengan menanyakan kabar Rara, tetapi Reza tidak membalas pesan itu. Ia membiarkan suaminya mengurus urusannya, karena ia pun berharap sang suami tidak berpisah dari istri pertamanya.
Dokter jaga di rumah sakit itu pun berlari menuju ruangan Rara. Ia langsung meemriksa keadaan pasien yang baru saja masuk UGD.
“Semua baik. Bu Cleo hanya syok saja,” kata pria berjas putih itu.
“Apa perlu istri saya melakukan ct scan, Dok?” tanya Reza.
“Tidak perlu. Benturannya tidak terlalu keras kok. Tapi jika sebelumnya pernah ada masalah dengan kepala bu Cleo, seharusnya memang harus ct scan untuk memastikan," jawab dokter itu. "Tapi ibu sendiri bagaimana? kepalanya masih sakit?"
__ADS_1
Rara menggeleng. "Kepala saya tadi sakit karena terlalu keras mengingat sesuatu."
Pyar ...
Wajah Zayn langsung pias. Apa Rara sudah mengingat kejadian itu?
"Ibu hanya butuh istirahat. Lekas sembuh ya," ucap pria berjas putih itu lagi.
Rara kembali mengangguk.
Bibirnya serasa kelu. Ia tak ingin bicara. wajahnya tampak dingin menatap ke arah Zayn dan Reza, terutama pada Zayn. Rara tidak menyangka bahwa orang yang selama ini ia anggap sebagai sahabat sekaligus kakak, justru telah mengambil kehormatannya.
Zayn yang merasa mendapat sorotan tajam dari kedua mata Rara pun ikut menatapnya. Rara diam tanpa ekspresi. Bibirnya yang sering tersenyum itu, tiba-tiba pudar. Tidak ada sosok ramah dan lembut pada wajah itu.
“Baiklah, saya rasa pemeriksaan sudah selesai. Jika ingin ke bagian ct scan, besok pagi suster akan mengantarkan,” kata dokter itu dan pergi.
“Syukurlah, kamu tidak apa-apa, Sayang. sungguh aku khawatir. Maaf.” Reza menyatukan keningnya pada kening Rara yang sedang duduk menyandarkan punggungnya pada dinding ranjang pasien itu.
“Maaf, Sayang.”
Rara masih terdiam. Di seberang sana, Zayn melihat keanehan pada Rara. Biasanya wanita itu sangat ramah padanya. Apa Rara sudah ingat peristiwa itu? sekilas pertanyaan itu melintas di batin Zayn.
Melihat Rara yang sudah dijaga Reza, Zayn pun berdiri hendak pamit. “Kalau begitu aku permisi. Untunglah kalau keadaanmu baik-baik saja, Ra.”
Reza menoleh ke arah Zayn. “Ya, lebih baik lu pergi. Lu ngga dibutuhin di sini. Gue akan jaga Rara.”
Sontak Reza dan Zayn terkejut.
“Sayang, aku akan menjagamu di sini,” kata Reza.
“Tidak perlu. Aku tidak ingin melihat wajah kalian.”
“Ra,” panggil Reza lirih. Sungguh hatinya sakit melihat wanita yang dicintai begitu membencinya.
Sementara Zayn hanya berdiri mematung tanpa berkata apapun. Pikirannya semakin berkecamuk dan penuh tanya, apa ingatan itu kembali?
“Ra, kepalamu masih sakit. Jadi biarkan Kak Reza menjagamu,” ucap Zayn.
“Aku bilang tidak perlu. kalian punya telinga kan!” ucap Rara dengan anda tinggi disertai wajah memerah.
Lagi-lagi, sikap Rara membuat Reza dan Zayn terkejut. Sungguh, ini adalah kali pertama seumur hidup mengenal Rara dan melihat wanita itu mengeluarkan membentak dan marah.
“Ra, kamu baik-baik aja kan?” tanya Zayn mendekati Rara dan menyentuh bahunya.
Rara langsung menepis tangan itu. “Jangan sentuh aku!”
“Sayang,” panggil Reza dan hendak memeluk tubuh Rara.
__ADS_1
“Kamu juga, Jangan sentuh tubuhku dengan tubuhmu yang kotor itu. Aku jijik!”
“Sayang,” panggil Reza lagi dengan lirih.
“Tolong, pergilah kalian! Aku ingin sendiri.” Rara menarik nafasnya kasar. Dadanya bergemuruh.
Ya, saat ini Rara sedang marah dan sangat marah pada kakak beradik itu. Dua pria yang sedari kecil menjaganya, tapi justru kini telah menghancurkan hidupnya berkeping-keping. Mereka telah menebar luka yang dalam di hati Rara. Zayn yang mengambil paksa kehormatannya di detik-detik hari bahagia Rara dan Zayn yang mematahkan kepercayaannya dengan memiliki istri yang sudah ia nikahi sejak dua tahun lalu,
Yang Rara butuhkan bukan kedua pria ini, tapi ayah dan bundanya. Ia butuh penjelasan dari kedua orang tuanya atas peristiwa yang ia ingat sekarang. Ia seperti yang baru bangun dari mimpi, mimpi buruk yang selalu menghantui. Ternyata, mimpi itu bukanah mimpi, melainkan kenyataan buruk yang pernah ia alami.
“Baiklah, kalau begitu aku pamit, Ra.” Zayn memandang wajah Rara yang pemandang lurus ke depan. “Aku minta maaf.”
Kemudian, Zayn membuka pintu ruangan itu dan berjalan cepat. Hatinya dag dig dug, ia takut menerima kenyataan bahwa Rara telah mengingat semuanya. Mungkin, ia tidak bisa lagi dekat dengan wanita itu. Rara tidak mungkin bisa digapainya lagi, walau hanya sekedar menjadi teman. Ia tahu kesalahan itu akan membuat Rara membencinya.
Reza masih mematung di dalam ruang perawatan. Ia masih memandang wajah istrinya yang tak lagi lembut.
“Sudah aku bilang, pergi!” kata Rara lagi.
Reza menggeleng. “Tidak akan. Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Rara menoleh ke arah Reza. “Sejak kamu meniduri Manda. Kamu sudah meninggalkanku.”
“Sayang.” Reza kekeh ingin memeluk tubuh istrinya yang sedang marah. Ia masih yakin untuk bisa memperbaiki semua kekacauan ini.
“Stop! Rara menahan pergerakan Reza yang hendak mendekatinya lagi. “Kak, tolong ngertiin aku. Kali ini, saja.”
Reza pun menyerah. Akhirnya ia keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai.
Zayn terus memukul setirnya di dalam mobil. Ia melampiaskan kekesalannya pada benda itu. Andai ia tak melakukan kesalahan itu, mungkin saat ini ia bisa menjadi penenang untuk wanita yang sedang rapuh itu. Andai ia tidak egois untuk bisa memiliki Rara waktu itu, mungkin ia masih dianggap sahaabat oleh Rara.
Sedangkan Reza terus berjalan hingga luar lobby rumah sakit. Ia terduduk lesu di bawah lantai anak tangga itu.
Reza merogoh celananya dan mengambil bungkusan rokok di saku itu. Ia sematkan satu puntungnya di bibir dan memantiknya. Sejak kekacauan ini terjadi, ia menjadi perokok aktif untuk menghilangkan sakit kepala yang serasa ingin pecah. Ia tak ingin kehilangan Rara, wanita pujaannya. Kalau boleh memilih, lebih baik ia menceraikan Manda dibanding berpisah dari Rara.
“Arrrggg ....” teriak Reza ke udara sembari meremas rambutnya.
Andai waktu bisa diputar, ia ingin menerima takdir bahwa dirinya bukan pria pertama yang menyentuh Rara. Andai waktu bisa diputar, ia ingin memberi nafkah batin yang benar pada Rara sejak pertama kali mereka menikah, hingga memiliki anak yang banyak.
Ini semua karena dirinya yang menerima keadaan Rara tetapi tidak bisa berdamai dengan takdir. Reza terlambat menyadari.
Sedangkan di dalam ruang perawatan. Rara merenung sendiri, mengingat semua yang terjadi. Ia baru menyadari mengapa selama ini, Reza seperti orang impot*n. Ternyata, ini semua karena dirinya telah melakukan kesalahan, walau disini ia adalah korban, tetapi ia kenal prinsip sang suami yang tidak mentolerir kesalahan.
Rara pun ingat ketika di puncak, dua tahun lalu. Reza sangat aktif dan bergairah bercinta. Itu karena ia telah melakukan kesalahan.
“Bunda,” tangis Rara pecah di tengah keheningan ruangan itu, karena Mia belum sampai di tempat ini.
Semula, Rara beruntung memiliki Reza, suami yang sangat mencintainya dan Zayn, sahabat yang begitu menjaga dan menyayanginya. Ternyata kedua pria itu sangat egois. Rara merasa dibodohi selama ini.
__ADS_1