Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Bonchap 7


__ADS_3

Hari ini adalah hari Sabtu. Sejak satu minggu lalu, Zayn dan Reza juga beserta istri mereka masing-masing memang sudah merencanakan untuk jalan-jalan bersama. Kebetulan, Zac dan Zoey juga selalu merengek untuk pergi dengan uncle Reza dan aunty Essy. Mereka pun meluangkan waktu untuk dua keponakan yang lucu-lucu itu.


“Uncle, Zoey ingin naik itu.” Zoey menunjuk pada permainan yang bertulis istana boneka.


Zayn bersama keluarganya sedang berada di tempat permainan dengan suguhan wahana permainan anak juga permainan dewasa yang memacu adrenalin. Tempatnya pun sangat luas.


Reza menggendong Zoey dengan menaikkan tubuh keponakannya itu ke punggungnya. Seemntara Essy menggandeng Zac. Sedangkan Zayn tidak lepas menggadeng istrinya yang berjalan jauh di belakang Reza dan Essy.


Zayn dan Rara melihat Reza dan Essy yang tampak akrab dengan kedua anak mereka.


“Okey, nanti kita ke sana ya Sayang,” jawab Reza.


“Tapi Zac ingin ke sana, Uncle.” Zac menunjuk ke wahana yang bertulis biang lala


“Ya, nant kita ke sana setelah memasuki tempat yang Zoey tunjuk dulu ya,” sahut Essy, karena kebetulan posisi mereka saat ini memang sedang berada lebih dekat dari permainan yang Zoey tunjuk.


“Tapi, aku tidak suka istana boneka,” ujar Zac.


“Tapi posisi kita saat ini berada lebih dekat dari yang Zoey tunjuk Zac,” ucap Reza.


“Baiklah.” Zac pun mengalah.


Sikap itu yang Reza dan Essy sukai terhadap kedua keponakannya. Selain pintar dan lucu, dua anak kembar ini penurut juga pengertian.


Reza menoleh ke belakang untuk menunggu istrinya yang masih ada jauh di sana. Lalu, ia melihat dari kejauhan adik bersama istrinya malah asyik berduaan di belakang sana.


“Wah enak banget mereka. Anaknya kita yang ngasuh, orang tuanya malah asyik berduaan. Dikira kita baby sitter apa?” gerutu Reza pada Essy.


Namun, Essy hanya menanggapi dengan senyuman sembari melirik sekilas melihat Zayn dan Rara yang memang seperti pasangan remaja yang tengah berpacaran.


“Padahal, kita yang pengantin baru. Kenapa jadi mereka yang berduaan?” gerutu Reza lagi.


Essy mengelus punggung suaminya.”Udah sih, ga apa-apa.”


Essy tersenyum, Reza yang semula menggerutu pun ikut tersenyum ketika tangan kanan Essy memeluk pinggang suaminya sembari berjalan beriringan. Sedangkan tangan kirinya tetap menggandeng Zac.


“Sayang, masih ingat kita berpanh duduk di sini?” tanya Zayn ketika melewati tempat duduk yang terbuat dari bebatuan kecil.


Rara mengangguk. “Ingat.”


“Kamu tahu, aku menuliskan sesuatu di dinding batu ini.” Zayn mencari-cari yang dulu pernah ia tuliskan di sana.


“Mana ya?” Zayn masih mencari tulisan itu.


“Memangnya masih ada?” Rara balik bertanya.”Itu kan sudah berpuluh-puluh tahun lalu. Pasti sudah hilang lah.”


“Ada. Karena aku menulisnya dengan kawat,” ucap Zayn.


“Itu sih namanya merusak.” Rara tertawa.


“Nah, ini dia,” teriak Zayn pelan. “Hah, ternyata masih ada juga.”


Rara mendekati suaminya dan ikut mebungkukkan diri untuk mellihat tulisan itu. Tulisan yang teramat kecil dan harus benar-benar mendekat untuk bisa membacanya.


“Apa tulisannya?” tanya Rara.


“Coba saja kamu baca,” jawab Zayn.


“Love you Rara,” ucap Rara perlahan.


Lalu, ia berdiri tegap dan menoleh ke arah suaminya. “Kamu menulis ini waktu itu?”


Zayn mengangguk.

__ADS_1


“Saat kita SMA?” tanya Rara lagi dan Zayn kembali menganggukkan kepalanya.


“Yup. Aku sudah mengagumimu jauh sebelum itu,” kata Zayn membuat pipi Rara bersemu merah.


Rara memeluk pinggang suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada itu. “Mengapa kamu bisa mencintaiku sebesar ini?”


Zayn menempelkan tangannya pada bahu sang istri. “Tidak tahu mengapa? Karena cinta datang memang tanpa alasan.”


Rara kembali menatap suaminya dan tersenyum. Zayn pun melakukan yang sama.


“Mungkin karena senyum itu,” ucap Zayn.


Rara pun kembali menampilkan senyum manisnya.


“Tapi jangan tampilkan senyum ini pada pria lain,” kata Zayn tegas.


“Ish, dasar posesif.” Rara mencubit pinggang itu.


“Aww...” Zayn tertawa. “Biarin.”


Rara melonggarkan pelukan itu dan berlari jauh dari Zayn.


“Sayang, tunggu!”


“Kita sudah tertinggal jauh dari Kak Reza dan Essy,” teriak Rara sembari tertawa.


Melihat kebahagiaan Rara, Zayn pun turut bahagia, karena memang itulah tujuan hidupnya, melihat Rara selalu bahagia.


Zayn berlari mengejar istrinya yang sudah berlari untuk menghampiri Reza dan Essy yang sedang bersama kedua anaknya.


Mereka sengaja berada di tempat wisata yang cukup populer itu sejak pagi, melewati waktu makan siang.


“Mommy, lapar.” Zac merengek.


Essy tertawa mendengar keluhan anak kembar itu. “Kenapa perutmu bunyi Zoey?”


“Karena cacing di sana belum dikasih makan, Aunty.”


Essy kembali tertawa. Rara pun demikian.


“Kita makan di sana,” ucap Zayn yang sedang berjalan bersama Reza.


“Yeay.... ayam,” sorak Zac dan Zoey saat Zayn menunjuk ke arah restoran siap saji yang menyuguhkan sebagian besar ayam goreng dengan kulit yang renyah.


Setelah sampai di dalam restoran itu, Reza memilih tempat duduk yang luas dan spot yang lebih dekat dengan taman.


“Biar aku yang pesan,” kata Zayn yang langsung berlalu dari keluarganya yang sudah duduk di kursi itu, lalu berjalan menuju tempat pemesanan makanan.


Zayn berdiri mengantri di tempat yang sama dengan yang lainnya. Kemudian, di samping tempat Zayn berdiri, ada seorang wanita yang ikut berdiri tepat di sampingnya dengan baris antrian yang berbeda.


“Zayn?” tanya wanita itu saat melihat Zayn sedang menunduk dan memainkan ponsel.


Sontak Zayn menengadahkan kepalanya ketika namanya disebut. Ia pun langsung melihat ke arah wanita yang berdiri tak jauh darinya.


“Eh, Hai ...” ucap Zayn yang memang kenal dengan wanita di hadapannya itu. “Gladis?”


“Wah beruntungnya aku, masih diingat oleh fotografer terkenal,” sahut wanita itu dengan senyum merekah.


“Halah, lebay. Aku masih amatir,” jawab Zayn.


“Amatir yang udah go internasional. Merendah sekali kamu,” ucap Gladis merupakan model yang pernah terlibat pekerjaan dengan Zayn beberapa waktu lalu.


Zayn dan Gladys tampak berbincang seru sembari mengantri di sana. Sedangkan Rara melihat pemandangan itu.

__ADS_1


“Wah, suami kamu lagi tebar pesona tuh,” ledek Reza memprovokasi Rara.


“Kak,” ucap Essy memperingatkan suaminya agar tidak melakukan hal itu, karena wajah Rara terlihat berbeda.


“Zayn sama siapa sih?” tanya Rara dengan arah mata yang terus tertuju pada tempat suaminya berdiri.


Rara melihat Zayn tertawa bersama wanita itu, seolah mereka memang sudah berteman dekat.


“Mungkin temannya Zayn,” jawab Essy menenangkan.


“Tapi sepertinya bukan hanya sekedar teman. Soalnya mereka akrab sekali,” ledek Reza lagi memprovokasi.


“Kak, ih kamu kompor banget,” sahut Essy.


Kemudian, Rara berdiri dan langsung menghampiri suaminya.


“Sayang, sudah selesai?” tanya Rara menghentikan obrolan Zayn dan Gladys.


Zayn pun langsung menoleh ke arah istrinya dan tetap mengulas senyum seperti yang semula tengah ia tampilkan pada Gladys.


“Oh, ya. Ini istriku, Dys.” Zayn memperkenalkan Rara pada Gladys.


“Oh, ternyata ini wanita beruntung yang dipersunting Zayn,” ucap Gladys mengulurkan tangan.


Rara tersenyum dan menerima uluran tangan itu. “Cleopatra.”


“Wah, nama yang indah,” ucap Glady lagi basa basi.


Sejak terlibat pekerjaan dengan Zayn, Gladys memang mengagumi suami Rara. Ketampanan, popularitas, serta kecerdasan Zayn membuat Gladys terpesona. Di tambah Zayn pria yang tak mudah didekati lawan jenis. Banyak model yang berusaha mendekatinya, tapi nihil. Zayn dikenal pria yang humble dan sayang keluarga. Pria yang anti selingkuh bahkan dijuluki suami takut istri.


“Ya, memang indah seperti orangnya,” sahut Zayn yang hanya ditanggapi oleh senyum tipis dari bibir Gladys.


“Indah, apaan. Cantik juga gue,” ucap Gladys dalam hati sembari menelusuri dari kepala hingga kaki Rara.


Rara memang tampil sederhana dengan kemeja panjang kotak-kotak dan celana jeans panjang. Kepalanya pun dibalut jilbab segi empat senada dengan warna kemeja yang ia kenakan. Sedangkan Gladys memakai kaos oblong tipis berwarna putih dengan celana hotpants berwarna biru laut. Gladys tampak sexy, berbanding terbalik dengan penampilan Rara.


“Oh, iya. Aku belum mengembalikan kemejamu waktu itu,” ucap Gladys membuat Rara menoleh ke arah suamnya.


Zayn terlihat sedikit canggung, saat Rara menatapnya tajam.


“Santai saja,” jawab Zayn pada Gladys.


“Rencananya, aku mau mampir ke studio mu kemarin. Tapi ternyata ada jadwal mendadak,” kata Gladys lagi.


“It’s oke. Tidak perlu dikembalikan pun tidak apa,” sahut Zayn yang kemudian dipanggil oleh kasir untuk maju dan mengucapkan pesanannya.


Tinggallah Rara berdiri bersama Gladys di sana.


“Memang dalam rangka apa, Zayn meminjamkan kemejanya?” tanya Rara pada rekan kerja suaminya yang menurut Rara cukup menggoda itu.


Gladys menatap Rara. Lalu menjawab, “saat break, tiba-tiba lokasi pemotretan kami hujan deras. Semua berhambur untuk mencari tempat berteduh. Lalu, aku berlari ke arah Zayn. Kebetulan di tempat Zayn berteduh hanya ada dia. Dan Zayn melepas kemejanya yang masih kering untuk aku gunakan karena pakaianku cukup basah.”


Rara terdiam. Zayn tidak pernah menceritakan hal ini padanya. Padahal, setiap malam menjelang tidur, mereka memang berkomitmen untuk berbincang terlebih dahulu untuk menceritakan tentang aktifitas masing-masing pada hari itu. Hampir tidak ada yang tidak Rara ketahui tentang aktifitas suaminya dan Rara terkejut mendapati fakta ini.


Zayn selesai memesan makanan dan membawa nampan makanan itu.


“Dys, aku duluan ya!” ucap Zayn saat meelwati Gladys.


Rara pun mengekori suaminya dari belakang dan sejak makan siang itu, wajah Rara ditekuk hingga sampai di rumah.


Zayn tak tahu dengan apa yang terjadi apda istrinya karena setiap ditanya, Rara menjawab tidak apa-apa. Rara pun tetap tersenyum dihadapan Reza dan Essy juga putra putrinya.


Setelah makan siang itu, Rara praktis tidak berjalan berduaan lagi dengan Zayn. Ia lebih memilih bersama kedua anaknya dan istri Reza. Zayn tahu sikap Rara itu terjadi karena Gladys.

__ADS_1


__ADS_2