
Minggu ini, Zac dan Zoey ikut lari padi dengan nenek dan kakeknya. Sanjaya sengaja mengajak Zac dan Zoey berkeliling kompleks dan berakhir di sebuah taman. Sanjaya dan Mia sangat senang olahraga bersama kedua cucunya, karena biasanya di setiap minggu pagi mereka hanya jalan pagi berdua saja.
“Bi, yang lain kemana?” tanya Rara pada Bi Inah ketika ia sampai di dapur.
Saat menuruni anak tangga, suasana di bawah tampak sepi.
“Iya, tadi pagi Non Zoey sama Den Zac ikut Ibu Bapak jogging,” jawab Bi Inah.
“Oh, ya? Kok mereka ngga bilang?” tanya Rara lagi.
“Tadi Den Zac pengen ketuk kamar Non Rara, tapi sama Ibu di larang katanya Non Rara masih istirahat karena ngga bisa tidur,” jawab Bi Inah sambil menatap ke arah Rara dari ujung kaki hingga rambut.
Pandangan Bi Inah juga tertuju pada beberapa bercak merah di lehet dan dada Rara, karena saat ini Rara tengah menggulung tingga rambutnya. Di tambah, Rara hanya menggunakan gaun tidur kimono berbahan satin tipis dan sangat pendek, hingga Bi Inah menelan salivanya.
“Di kamar banyak serangga ya Non?” tanya Bi Inah. “Padahal Bi Inah selalu beresin kamar Non Rara loh.”
“Ah, ngga.” Rara bingung dengan menjawab pertanyaan Bi Inah. Kepalanya menggeleng sambil membuatkan kopi susu untuk suaminya. “Emang kenapa bi Inah tanya gitu?”
“Itu, badan Non Rara merah-merah.” Bi Inah menunjuk ke arah leher dan belahan dada Rara yang terlihat karena tidak tertutup kimono itu.
Rara langsung menutupi bagian berwarna di kulitnya yang ditunjuk Bibi tadi. “Ah, masa sih?”
Bi Inah penasaran dan mendekati Rara. Pasalnya ketika ia menikah, ia tidak pernah mendapat gigitan seperti ini, membuat Bi inah benar-benar tidak tahu bahwa kemerahan di kulit Rara akibat ulah Zayn semalam.
“Ini loh, Non.” Bi Inah menyentuh kulit Rara. “Ini merah banget.”
Rara yang sdar bahwa kemerahan itu adalah ulah suaminya pun mencoba menghindar. “Udah ngga apa-apa kok, Bi. Nanti juga hilang.”
“Ih, Non. Ini pasti sakit. Serangganya pasti gede banget.”
Rara tertawa dan mengangguk. “Iya gede banget, malah sampe kepalanya item.”
Kemudian, Rara mengambil cangkir itu dan hendak membawanya ke kamar.
“Emang ada Non, serangga kepala item?” tanya si Bibi polos. “Bi Inah belum lihat.” Ia menggelengkan kepalanya bingung.
Rara semakin tertawa sesaat sebelum meninggalkan Bi Inah. “Berarti adanya cuma di kamar aku aja, Bi.”
__ADS_1
Rara melenggangkan kakinya kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya. Di dalam kamar itu, ia melihat Zayn yang masih tertidur.
Rara meletakkan kopi Zayn di meja kecil di samping ranjangnya, lalu mendekati cermin meja rias. Ia membuka tali kimono itu dan menurunkan gaun itu separuh tubuhnya. Rara hanya ingin memastikan seberapa banyak Zayn membuat kemerahan di tubuhnya yang putih itu.
“Ya ampun, Zayn.” Gumam Rara saat melihat banyak bercak merah di tubuhnya.
Bibir Rara kembali merungut. Ia mengenakan kimono itu kembali dan mengikat tali yang berada di pinggangnya. Kebetulan Rara memang belum sempat memakai pakaian d*l*mnya. Tubuhnya hanya ditutupi oleh gaun kimono pendek itu. Lalu, Rara menoleh ke arah Zayn yang masih terlelap. Rara tersenyum mengingat aktifitas bercinta mereka yang selalu mengesankan.
Zayn sangat kuat dalam urusan ranjang. Jika dituruti, mungkin mereka tidak akan tidur hingga subuh menjelang. Untung saja, Zayn selalu mengalah, jika Rara meminta untuk berhenti. Ia selalu mengalah jika melihat Rara lelah. Hal itu, kembali membuat Rara tersenyum, cinta yang pria itu berikan benar-benar sampai di hatinya. Rara beruntung memiliki Zayn dan tanpa disadari Zayn pun merasa beruntung memiliki Rara.
Arah mata Rara tertuju pda kotak besar yang belum terbuka itu. Kemudian, Rara menghampiri kotak itu dan mengangkatnya dan ia letakkan di atas sofa.
Perlahan, Rara membuka kotak itu. Dahinya berkerut ketika ia melihat isi kotak besar itu. Rara terkejut, karena isi kotak ini adalh semua hal tentang dirinya. Foto-foto Rara yang sangat banyak. Ada juga Foto Rara bersama Zayn dari kecil hingga mereka remaja. Rara melihat foto itu satu persatu sambil menyungging senyum.
Lalu, Rara tertawa ketika menemukan foto Tk nya bersama Zayn, Foto itu menampilkan dirinya dengan senyum tanpa gigi dua di depan. Foto itu tertulis “Gigi ompong, gak boleh makan coklat.”
Ia ingat saat itu, Zayn memberikan sebuah bekal makan padanya. Saat itu, Mia sedang sakit, sehingga Mirna membuatkan dua bekal makan untuk Zayn dan Rara. Ketika Rara membuka bekal itu, ia melihat foto disertai tulisan itu. Memang Rara selalu menangis jika bekal yang ia bawa tidak ada coklatnya. Kemudian, Rara marah dan memberikan foto itu kembali pada Zayn. Ia tak menyangka bahwa Zayn masih menyimpan foto itu.
“Membuka barang orang itu harus izin.” Suara serak Zayn di belakang telinga Rara membuatnya menoleh.
Rara merasakan kedua tangan Zayn tengah melingkar di perutnya. “Kamu masih menyimpan foto ini?”
“Kamu simpan ini semua?” tanya Rara yang antusias melihat barang-barangnya di dalam kotak itu.
“Aku gila ya,” ucap Zayn.
Rara tersenyum dan menoleh ke samping. Kepala Rara dan kepala Zayn sangat dekat hingga bibir mereka ujung hidung mereka pun bersentuhan. “Kamu baik Zayn. Kamu rela memendam perasaanmu untuk Kak Reza.”
Zayn mendekatkan bibirnya pada bibir Rara. Ia ******* bibir ranum itu sebentar. Lalu, Rara kembali melihat isi kotak yang belum ia sentuh.
Rara menemukan dua tiket nonton dengan warna kertas yang sedikit menguning. “Ini, kapan?” Rara menunjukkan kertas itu pada Zayn.
“Ini? Kamu tidak ingat?”
Rara menggeleng.
“Ck, kamu memang mudah sekali melupakanku,” ujar Zayn meledek istrinya.
__ADS_1
“Eum ... Zayn. Engga gitu.”
Zayn pun tersenyum. Ia tahu Rara tidak berniat melakukan hal itu.
“Coba lihat lagi lagi.” Zayn meminta Rara untuk melihat tiket itu lebih dekat dan Rara membaca judul film yang tertera di sana.
Tiba-tiba Rara mengingat sesuatu.
“Kamu meninggalkan aku di bioskop sendirian, karena lebih memilih menemani Kak Reza ke toko buku. Padahal kita udah merencanakan nonton film itu dari film itu belum muncul.”
Rara menatap sedih wajah Zayn.
“Aku sengaja datang ke bioskop satu jam sebelum tayang. Aku mengantri cukup lama dan membeli makanan yang banyak juga minuman untuk di dalam saat kita nonton. Tapi tiba-tiba ponselku bunyi dan wanita itu membatalkannya dengan alasan yang membuat hatiku sakit.”
“Zayn,” panggil Rara sedih agar Zayn tidak meneruskan kata-katanya.
Rara bisa merasakan kesedihan Zayn saat itu. Kala itu, mereka masih remaja dan masih sekolah di menengah atas. Zayn kelas dua belas, Rara kelas sebelas dan Reza baru mulai masuk kuliah. Saat itu, Reza meminta Rara untuk menemani membeli buku-buku kuliah yang tidak ada di perpustakaannya. Dan, Rara yang saat itu tengah mengagumi Reza pun lebih memilih pria itu dibanding Zayn.
“Akhirnya, aku memberikan makanan dan minuman itu pada sepasang kekasih yang ada di sana. Aku pergi dari sana dan ...”
Cup
Rara mencium bibir Zayn. Ia tak kuasa mendengar penuturan Zayn sampai tuntas, karena ia bisa merasakan sakit itu ketika Zayn menceritakan kembali kenangan itu.
Rara ******* bibir Zayn sebentar dan melepasnya. “Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud menyakitimu.”
Zayn tersenyum dan mengelus pipi Rara. “Seperti katamu. Aku juga tidak bisa marah padamu.”
“Eum ...” Rara memasang wajah imut. “Aku siap kalau kamu mau hukum aku, atas kesalahanku yang dulu itu.”
Zayn kembali melebarkan senyum. “Sungguh?”
Rara mengangguk genit. “Kebetulan pagi ini Zac dan Zoey sedang dibawa jogging keluar oleh Bunda dan Ayah.”
Zayn kembali menyeringai sambil memeluk pinggang itu. Kedua tangan Rara pun mengalungkan leher Zayn.
“Kamu tahu hukuman yang aku mau?” tanya Zayn.
__ADS_1
“Tentu saja, aku harus puaskan si rudal paris kan?” Rara balik bertanya dengan wajah yang lebih genit.
Zayn tertawa, kali init awanya cukup kencang, membuat Rara pun ikut tertawa.