Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Hati yang panas


__ADS_3

Pagi harinya, mereka pun bersipa untuk pergi ke rumah Sanjaya. Zac dan Zoey sangat antusias karena ini adalah kali pertama mereka mengunjungi rumah orang tua sang ibu.


“Bi, jaga rumah ya. Kami akan menginap semalam di sana,” ujar Rara pada si Bibi.


“Oke, Mom. Beres.” Si Bibi mengangkat ibu jarinya ke atas.


“Awas ya, jangan bawa Asep malam mingguan di rumah ini! apalagi sampe berbuat mesum di sini. nanti jadi si*l,” celetuk Zayn yang langsung mendapat pukulan lengannya dari sang istri.


“Ya, enggalah, Tuan,” sanggah si Bibi langsung.


Rara tertawa. “Jangan di dengar, Bi. Saya percaya kok sama Bibi.”


“Makasih, Mom.” Si Bibi pun mengangguk patuh.


“Daddy, kamu.” Rara memberi peringatan pada suaminya agar tidak terlalu frontal dengan si Bibi.


Mereka memasuki mobil. Di dalam mobil Zac dan Zoey sudah duduk di kursi penump-ang belakang.


“Itu harus, Sayang sebagai warning. Tahu kan pacarannya zaman sekarang. Apalagi dia janda.”


“Aku juga janda,” ucap Rara.


“Makanya langsung aku nikahin. Aku tahu udah ngga kuat kan?” ledek Zayn yang langsung mendapat pukulan lagi dari Rara.


“Apaan sih, kamu. Nyebelin.”


“Apa Dad nakal?” tanya Zoey dari belakang melihat Rara memukul ayahnya.


Zayn tertawa. “Ya, Mommy sekarang yang nakal dengan Daddy.”


“Tidak apa. Yang penting bukan Daddy yang nakalin Mommy,” jawab Zoey santai.


“Setuju Zoey,” sambung Zac dan mereka pun bertos ria.


“Wah, ngga ada yang belain Daddy nih?” tanya Zayn memelas, sebelum ia menjalankan kendaraan itu.


“Daddy ngga pernah nakalin Mommy kok. Daddy tuh baaaaik banget sama Mommy.” Rara mendekati suaminya dan mengecup pipinya.


Zayn langsung mengecup bibir istrinya sekilas, sebelum Rara kembali pada tempatnya. “Makasih Mommy.”


“Yeay,” seru Zoey.


“Come on, Dad. Kita berangkat,” ucap Zac.


Zac dan Zoey berdiri di belakang kursi Zayn dan Rara.


“Oke, let’s go!”


Setelah satu jam perjalanan akhirnya, mereka sampai di kompleks perumahan itu. sepanjang perjalanan Zayn menceritakan tentang masa kecilnya berada di lingkungan kompleks ini.

__ADS_1


“Nah, di sini Mommy dan Daddy sering bermain sepeda waktu kecil.” Zayn menunjukkan taman yang saat ini tengah mereka lewati.


“Oh, jadi Mommy dan Daddy bestie?” tanya Zoey.


“Yoi,” jawab Zayn.


“Wah, tapi aku tidak punya bestie laki-laki,” ucap Zoey.


“Aku juga tidak punya bestie perempuan.” Ucap Zac.


Zayn dan Rara tertawa. Zayn memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Sanjaya dan Rara melihat seorang wanita yang sangat ia kenal tengah berada di depan gerbang rumah Kemal yang terbuka. Wanita yang sedang hamil itu tengah bermain bersama anak dan pengasuh anaknya di pekarangan gerbang itu.


Kebetulan gerbang rumah Kemal dan Sanjaya bersebelahan persis, tanpa jarak. Hanya dinding pembatas yang membatasi gerbang keduanya.


Rara turun dari mobil Zayn untuk membukakan gerbang rumah sang ayah. Begitu pun dengan Zac dan Zoey. Mereka ikut keluar dari mobil.


Wanita itu pun tampak melihat ke arah Rara. Ia sedikit terkejut dengan penampilan Rara yang berubah. Rara tampak semakin cantik dan anggun dengan penampilannya saat ini. di tambah senyum yang tak pernah lepas dari sudut bibirnya itu.


“Mbak Rara.”


“Manda.”


Rara menghampiri Manda sesaat setelah ia membukakan gerbang agar mobil Zayn masuk ke dalam sana.


“Apa kabar, Nda?” tanya Rara yang menghampiri Manda.


“Baik, Mbak. Mbak apa kabar? Makin cantik aja,” ucap Manda.


“Sudah lama di sini, Nda?” tanya Rara lagi.


“Baru kemarin, Mbak. Noah bosan di dalam rumah, jadi kami main di luar.”


Rara menoleh ke arah Noah yang sedang asyik bermain sepeda roda empat.


“Noah,” teriak Rara memanggil anak kecil itu. Noah pun mengayuhkan sepedanya menuju Rara dan Rara langsung menggendong anak itu.


“Noah, tante kangen.” Rara mencium pipi Noah dengan gemas.


“Mommy,” panggil Zoey.


Manda melihat kedua anak kecil mendekati Rara. “Ini pasti Zac dan Zoey,” ujarnya.


Rara mengangguk. “Ya, Nda. Mereka putra putriku.” Rara merangkul Zac dan Zoey ke sisinya. “Salim sama Tante Manda, Sayang.”


“Who is shs, Mom?” tanya Zac.


“Ini istrinya kakak Daddy.” Rara menunjuk ke arah Manda. “Dan, ini anaknya kakak Daddy.” Rara mengarahkan matanya ke arah Noah yang sedang ia gendong.


“Oh ya, Uncle Reza.” ucap Zac.

__ADS_1


Zac dan Zoey tahu bahwa Reza adalah kakak dari sang ayah. Dan, mereka pun tahu bahwa Reza adalah putra Kemal dan Mirna yang mereka panggil Oma dan opa.


“That’s right,” sahut Rara.


Manda tersenyum ke arah kedua anak Rara yang pintar dan menggemaskan. “Mereka pintar sekali, Mbak.”


Rara tersenyum dan Manda menerima uluran tangan Zac dan Zoey.


“Ganteng dan cantik, Mbak,” kata Manda lagi setelah punggung tangannya dicium Zac dan Zoey.


“Sayang, kita ke rumah Mama dan Papa dulu?” tanya Zayn tiba-tiba yang langsung merangkul pinggang Rara.


Rara menurunkan Noah. “Terserah kamu.” Rara menangkup pipi Zayn.


“Tapi, aku sudah memarkirkan mobilku di rumah Ayah.”


“Ya udah, ngga apa-apa.”


Tangan Zayn terangkat lembut untuk merapikan rambut kecil Rara yang keluar dari balik hijabnya.


“Aku lupa pakai dalaman,” ujar Rara sambil merapikan rambut kecil yang ingin melihat dunia saat di luar.


Zayn tersenyum dan tetap merapikan rambut Rara ke tempatnya dengan gerakan lembut, di iringi gerakan ibu jarinya yag mengelus pipi mulus itu.


“Lisptiknya juga berantakan,” ujar Zayn merapikan bagian lipstik yang meleber ke luar sudut bibir bawah Rara.


“Ini karena kamu.” Rara cemberut karena Zayn memang sering mencium bibirnya dimana saja, yang penting tidak ada Zac dan Zoey.


Zayn tertawa. Mereka berinteraksi mesra dan melupakan kehadiran Manda di sana. Entah mengapa Zayn cukup kesal dengan Manda, karena wanita itu sempat membuat wanita pujaannya sakit hati, walau seharusnya Zayn berterima kasih karena dengan hadirnya Manda, Zayn bisa memiliki Rara saat ini.


Manda tersenyum ke arah Zayn dan Zayn pun membaalsnya dengan tersenyum tipis.


“Kita temuin Mama Papa aja dulu deh, tanggung udah di sini.”


Zayn mengangguk.


“Den, Zaayn,” teriak satpam Kemal yang baru saja masuk ke dalam gerbang rumah itu bersama pembantu Zayn yang sudah Zayn anggap ibunya juga.


Pak satpam dan Bibi yang baru turun dari motor itu langsung menghampiri Zayn.


"Den Zayn."


“Hai, apa kabar Bi?” Zayn menyapa para pekerja yang ada di rumah orang tua angkatnya, terutama pengasuhnya dulu.


Zayn memeluk Nani yang dulu menjadi Nanny-nya dan sekarang tetap menjadi asisten rumah tangga di kediaman Kemal.


Mereka tampak senang dengan kehadiran Zayn. Suara riuh dari luar itu membuat Kemal dan Mirna yang berada di dalam pun keluar. Mereka tersenyum melihat kedatangan Zayn bersama keluarga kecilnya. Tampak Zayn terus menempel pada Rara. Tangan Zayn terus merangkul pinggang istrinya di iringi kedua putra putrinya yang cantik dan tampan.


Manda hanya mematung melihat keharmonisan keluarga itu. sedangkan, Reza diam-diam memperhatikan Zayn dan Rara dari jendela kamarnya yang terletak di lantai dua. Jendela yang dapat melihat jelas situasi di pekarangan rumah itu.

__ADS_1


Rahang Reza mengeras, ia pun mengepalkan tangannya. Hatinya panas melihat tawa Zayn. Apalagi Rara pun tampak bahagia. Di tambah Zayn yang sepertinya menempel terus pada tubuh mantan istrinya itu. Sungguh, Reza sangat panas. Ia masih belum rela melihat kebahagiaan Zayn. Apa ia sanggup menemui mereka? Entahlah.


__ADS_2