Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Penantian panjang


__ADS_3

Rara duduk di meja ruang guru. Ketika semua orang sudah beranjak pulang, Rara tetap duduk di sana sembari menelaah perkataan Reza tadi. Rara melamun, mengingat semua kejadian yang semula tidak ada dalam ingatannya.


Rara mengingat beberapa percakapan dengan Reza dulu, ketika mereka baru menikah. Ia selalu ingin bertanya tentang jahitan yang berada di bawah perutnya.


“Mengapa di perutku ada luka jahitan, Kak?” tanya Rara pada Reza.


“Itu akibat kecelakaan, Sayang. Saat kecelakaan, perutmu tergores bagian besi truk itu. Lukanya cukup menganga hingga dokter menjahitnya,” jawab Reza dengan meyakinkan.


Rara mengusap bagian perutnya. Lalu, perut itu kembali terluka karena oleh operasi pengangkatan rahim itu.


Rara terus berpikir dan mencoba mengingat suara itu. suara samar-samar yang terdengar ketika ia koma. Dan, ia meyakini bahwa suara itu adalah milik Zayn.


“Aku minta maaf, Ra.” Kata itu yang sering Rara ingat, karena hampir setiap hari Zayn mengucapkan kalimat itu.


“Ayo bangun, Ra. Semua orang menanti kehadiranmu.”


Hingga Rara mengingat sebuah ucapan yang juga ia yakini sebagai suara Zayn dan itu adalah hari terakhir Zayn menemaninya, karena setelah itu suara Zayn tak terdengar lagi hingga ia terbangun dari koma setelah beberapa hari kemudian.


“Sekali lagi maafkan aku.”


“Tapi aku tidak menyesal melakukannya karena aku mendapat sesuatu yang terindah darimu. Terima kasih.”


Tiba-tiba lamunan Rara di sadarkan oleh Bu Nur.


“Ra ... Miss Rara,” panggil Bu Nur sembari menepuk bahunya.


Sontak Rara tersentak. “Oh, ya. Miss.”


“Saya pulang duluan ya. Miss Rara ngga pulang?” Bu Nur kembali bertanya.


“Nanti, Miss. Saya belum merapihkan meja saya,” jawab Rara.


“Iya gimana mau rapih, Miss. dari tadi Miss Rara bengong aja.”


Rara nyengir.


“Lagi ada yang dipikirin, Miss?” tanya Bu Nur lagi.


“Ada, sedikit,” jawab Rara tersenyum.


“Ya udah semoga urusannya cepat selesai ya, Miss.”


Rara ikut tersenyum karena Bu Nur tersenyum ke arahnya sambil berpamitan.


“Iya, Miss. hati-hati.”


Bu Nur pun mengangguk dan meninggalkan Rara seorang diri di ruangan itu.


Kemudian, Rara mengambil ponselnya dan menelepon sang ayah. Ia teringat lagi perkataan sang ayah ketika mengunjungi apartemennya kemarin. Ayahnya ingin bicara sesuatu, hanya saja waktu itu Sanjaya tak lagi melanjutkan perkataannya karena kedatangan Reihan.


Tut ... Tut ... Tut ...


Nada panggilan pada ponsel Sanjaya seperti nada yang sedang sibuk. Lalu, Rara kembali mendial nomor itu.


“The number you are calling is switch off ...” Rara memutuskan sambungan telepon itu, karena terdengar hanya suara operator saja.

__ADS_1


Lalu, Rara mendial nomor ayahnya kembali.


“Huft, Ayah kenapa ponselnya tidak aktif?” gerutu Rara. Ia sadar ayahnya di sana juga sedang mengatasi masalah, mungkin di sana dia sedang sibuk.


Kemudian, Rara beralih dengan mencari nomor telepon Zayn. Sayangnya, saat ini ia menggunakan ponsel baru yang di dalamnya pun menggunakan kartu baru. Sedangkan ia sengaja tidak mencatat nomor Zayn di ponsel ini setelah ia mengingat semuanya, karena Rara berusaha untuk melupakan semua kejadian itu dan juga melupakan kakak beradik itu. Walau faktanya ia bisa melupakan Reza tapi tidak dengan Zayn.


Rara harus segera pulang ke apartemen dan meangtifkan kembali ponsel lamanya. Kemudian, ia segera merapihkan meja itu dan keluar menuju apartemennya.


Di Jogya, Zayn dan timnya sudah tiga hari berada di kota ini. Semalam, projek mereka sudah selesai. Walau pun Zayn dan Jack harus lembur dan hanya tidur empat jam dalam dua hari terakhir, tetapi mereka puas karena projek itu dapat dirampungkan dengan cepat.


Usai sarapan di hotel pagi tadi, ia dan tim bisa bersantai ria. Dan, rencanya siang ini mereka akan berbelanja sambil berjalan-jalan di pusat kota itu.


“Jack, kapan jadwal kepulangan kita?” tanya Zayn.


Zayn masih asyik membidik suasan Malioboro di siang hari. Ia juga memotret beberapa kuliner khas di kota itu.


“Jam empat,” jawab Jack.


“Loh, kok lama banget? Kan kita udah selesai dari semalem.”


“Sorry Zayn, kemarin pas beli tiket berangkat gue juga udah sekalian beli tiket pulang. Karena perkiraan gue, kita bakal selesai siang ini. Eh, ternyata lebih cepet.”


Zayn hanya mengangguk.


Ketika sedang asyik berjalan-jalan santai bersama Jack di pinggiran jalan, tiba-tiba seseorang meraih tas kecil yang Zayn selempangkan, seharusnya tas itu dikaitkan dipinggang. Namun, saat itu Zayn hanya mengaitkan di pundak kanannya.


Srek


“Woi maling,” teriak Zayn.


Sontak Jack berlari ke arah orang yang mengambil ts bosnya. Zayn pun tak kalah cepat. Ia berlari sembari memegang kamera SLR itu dengan hati.


Zayn dan Jack terus berlari, hingga sesuatu benda keras hendak menubruk si pencuri tas Zayn tadi dan mengeluarkan bunyi nyaring.


Ngiiiik ...


Terdengar suara rem yang ditekan keras oleh pengemudinya dan mobil itu pun terhenti di depan tubuh si pencopet tas Zayn tadi.


“Aaa ...” teriak si pencopet itu, hingga topi yang membungkus seluruh rambutnya di sana terbuka dan ia tergeletak.


“Gila, ternyata cewek,” kata jack dari kejauhan.


Zayn dan Jack saling melirik dan kembali berlari ke arah wanita itu. untung saja, wanita itu hanya pingsan karena syok.


Zayn dan Jack mendekati wanita itu. kini, rambutnya yang panjang terurai di aspal. Jack berjongkok di depan wanita itu.


“Gimana Zayn?” tanya Jack.


“Piye, Pak? Saya tidak sengaja. Dia berlari kencang.” Supir mobil itu terlihat panik.


Zayn masih terdiam. Ia melihat wajah si pencopet itu dengan seksama ketika ia mengambil tasnya dari tangan pencopet itu.


“Chintya,” gumam Zayn dengan suara yang cukup terdengar oleh Jack.


“Siapa? Chintya? Lu kenal?”

__ADS_1


Zayn menagngguk. “Istri Reihan. Salah satu dari lima orang yang tidak ditemukan jasadnya saat isiden kecelakaan pesawat itu.”


“Sh*t. Kalau begitu kita bawa dia ke rumah sakit.”


Zayn mengangguk. Ia masih terkesima dengab apa yang ia lihat. Lalu, Zayn dan Jack membopong wanita itu dan memasukkannya ke dalam mobil yang hendak menabraknya tadi.


“Pak, jangan laporkan saya ke polisi.” Si supir mobil itu masih ketakutan.


“Tenang, Pak. Tidak akan. Lagi pula wanita ini tidak apa-apa. Dia hanya pingsan dan syok,” jawab Jack.


“Ya, kami hanya meminta Bapak mengantar kami ke rumah sakit saja. Setelah itu wanita ini biar kami yang urus.”


“Terima kasih, Pak,” ujar si supir itu senang.


Di apartemen, Rara mengaktifkan kembali ponsel lamanya. Dengan tergesa-gesa ia mencari nomor Zayn dan meneleponnya.


Tut ... Tut ... Tut ....


Ponsel Zayn aktif tetapi tidak di angkat.


“Zayn kamu juga kemana sih?” tanya Rara dalam gumamannya.


Rara kembali mendial nomor itu.


Tut ... Tut ... Tut ...


Ponsel itu masih tidak di jawab pemiliknya, karena di sana Zayn tengah sibuk menunggu hasil pemeriksaan wanita yang ia yakini adalah istri Reihan.


Tanpa melihat panggilan telepon yang tertera di notif itu. Zayn menekan nomor Reihan dan memberi kabar pada pria itu bahwa dirinya bersama wanita yang mirip Chintya, hanya saja saat ini tubuh Chintya tidak seperti yang Zayn lihat dulu.


Kulit Chintya terlihat sedikit lebih hitam dan badannya kurus, mungkin karena memang wanita ini tidak mengurus tubuhnya. Jangankan mengurus tubuhnya, ingin makan saja, wanita itu harus mencuri tas orang lain termasuk Zayn yang sejak di jalan telah menjadi incaran wanita itu.


“Dok, bagaimana keadaannya?” tanya Zayn setelah dokter itu memeriksa Chintya.


“Dia sudah sadar. Secara fisik dia tidak apa-apa,” jawab pria paruh baya yang menggunakan jas putih itu.


“Adakah penyakit lain, Dok? Seperti amnesia?” tanya Zayn to the poin.


Ia yakin wanita ini adalah istri Reihan dan kalau pun dia tidak amnesia, pastinya dia sudah pulang ke rumah Reihan.


“Ya benar. Dari tanda-tandanya seperti itu. tapi untuk lebih lanjut sejauh mana amnesia yang di derita pasien. Itu harus melakukan serangkaian tes medis.”


“Lakukan, Dok,” jawab Zayn lantang.


“Baiklah.” Dokter itu pun mengangguk dan memerintahkan pada perawat di sana untuk membawa Chintya ke bagian yang dibutuhkan.


“Lu yakin, dia istrinya Reihan?” tanya Jack.


“Yakin gue, Jack. Seratus persen.”


Jack tersenyum menyeringai. "Waw ... sepertinya takdir kali ini sedang berpihak pada lu."


Zayn tersenyum sembari membuka panggilan telepon yang tertera lima kali panggilan. Ia semakin tersenyum karena panggilan telepon itu dari nomor wanita pujaannya.


Jack yang penasaran melihat bosnya senyam senyum itu pun ikut menoleh sekilas ke ponsel yang dipegang Zayn.

__ADS_1


"Nah kan? Akhirnya penantian panjang lu selama ini membuahkan hasil, Bro. let's get her!"


Zayn hanya tersenyum. Ya, takdir sepertinya sedang memihak pada Zayn, karena satu persatu pesaingnya mundur karena keadaan.


__ADS_2