
Setelah Zayn berbicara panjang lebar dengan Reza di ruang kerja. Ia keluar dari ruangan itu dengan nafas lega. Rasanya dadanya plong karena sudah mengungkapkan isi hatinya pada sang kakak. Lima tahun, Reza tidak pernah mau berbicara dengannya, bahkan untuk bertatapan saja pria itu enggan. Berulang kali Zayn meminta maaf pada sang kakak sebelum ia akhirnya meninggalkan negara ini. Namun, Reza tidak pernah menerima maaf Zayn.
Tapi hari ini, sang kakak sedikit melunak. Zayn mengulas senyum dan memasuki kamarnya. Ia melihat sekeliling kamar itu dan tersenyum. Lima tahun, ia tak menginjak ruangan ini, tapi ruangan ini tetap bersih dan tidak ada satu barang pun yang berpindah. Ya, Bi Nani memang selalu membersihkan kamar ini.
Rara menunggu suaminya di bawah, ditemani Mirna dan Kemal.
“Mom, Dad lama sekali,” ujar Zoey menatap sang ibu sambil bergelayut di pangkuannya.
“Daddy masih bicara dengan Uncle,” jawab Rara.
“Aku ingin menyusul Dad ke atas, Mom,” kata Zac.
Mirna yang mendengar rengekan cucu nya itu pun bangkit dari duduk dan mengajak Zac untuk ke atas. “Ayo Zac, Oma antar ke atas.”
Mirna juga penasaran dengan apa yang dilakukan kedua putranya di sana.
“Yeay, Come on, Oma.” Zac ikut bangun dari duduknya dan menghampiri Mirna.
“Aku juga ikut.” Zoey pun berlari ke arah Mirna dan Zac.
Kemal hanya tersenyum melihat si kembar yang pintar dan aktif. “Mereka makin pintar saja, Ra.”
Rara mengangguk. “Iya, Pa. Rara beruntung memiliki mereka.”
Kemal kembali tersenyum. “Kamu tidak ikut ke atas?” tanyanya.
Rara menggeleng. “Ngga, Pa.”
Rara tidak ingin teringat tentang kisahnya dulu dengan Reza, karena di rumah ini mereka memang banyak menghabiskan waktu bersama, terutama di kamar Reza yang saat ini di isi oleh Manda dan Noah.
Selama menginap di rumah ini, Reza justru lebih sering tidur di ruang kerja. Ia sendiri menghindari tidur di dalam kamarnya, karena kamar itu menyimpan sejuta kenangan bersama Rara saat wanita itu masih menjadi istrinya. Kehadiran Manda yang menggantikan posisi Rara sekaligus menempati ranjangnya, tidak membuat hati Reza bergerak untuk bisa mencintai wanita itu. Entahlah.
“Daddy,” teriak Zac saat mendapati sang ayah tengah berada di sebuah kamar yang hendak mereka lalui.
Zayn menoleh. “Hei.”
“Ini kamar siapa, Dad?” tanya Zoey.
“ini kamar Daddy kalian,” jawab Mirna.
“Oh, ya?” tanya Zoey antusias.
“Ya, dulu waktu Daddy kecil tidur di kamar ini hingga besar.”
“Wah, Daddy juga menyukai Captain America?” Zac melihat poster super hero itu di balik pintu lemari sang ayah yang sedang terbuka.
“Ya, karena dulu Daddy juga seorang kapten,” jawab Zayn sambil membawa sebuah kotak besar dari dalam lemari itu.
Kotak besar yang ia simpan rapi sebelum ia meninggalkan rumah ini.
“Daddy seorang kapten?” tanya Zoey bingung.
“Ya, dulu Daddy seorang kapten basket,” jawab Zayn membuat Zac tertawa.
“Kapten Amerika dengan kapten basket berbeda, Daddy.”
__ADS_1
“Sama, saja. Yang penting sama-sama kapten.” Zayn mengusap kepala putranya dan membawa kotak besar itu ke atas tempat tidur.
Zac bertolak pinggang dan menggelengkan kepalanya sambil tertawa. Daddy nya memang aneh, jelas beda kapten Amerika dengan kapten basket.
Mirna mendekati putra angkatnya. “Zayn, kamu sudah menemui Reza?”
Zayn mengangguk.
“Lalu, bagaimana?” tanya Mirna lagi.
Zayn menarik nafasnya kasar, lalu memegang kedua bahu Mirna. “Tenang, Ma. Semua sudah berakhir. Kakak sudah berbeda. Dia sudah bisa memaafkanku.”
“Oh, syukurlah.” Mirna langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zayn dan Zayn pun memeluk bahu rapuh itu.
“Sudah, Mama tidak usah banyak pikiran. Sekarang kami baik-baik saja,” kata Zayn.
“Tapi Mama masih memikirkannya, Zayn.”
“Doakan saja, Ma. Semoga kakak selalu bahagia. Seperti Mama yang selalu mendoakan kebahagiaan untukku.”
“Selalu, Sayang. Mama selalu mendoakan anak-anak Mama agar selalu bahagia.”
Zayn pun mengecup kening sang ibu.
Di sana, Zac dan Zoey sudah membuka kotak besar yang sedari tadi membuat mereka penasaran untuk melihat isinya.
“Dad, ini Mommy?” tanya Zoey.
“Ini Daddy dan Mommy waktu kecil?” tanya Zac.
Zayn tersenyum dan mengangguk. “Ya, ini punya Mommy.”
“Tidak aku yang akan membawanya.”
Zac dan Zoey merebutkan kotak besar itu untuk mereka bawa pada sang ibu.
“Apa ini hadiah dari Daddy untuk Mommy?” tanya Zac.
Zayn kembali mengangguk.
“Yeay ... kita harus segera berikan ini pada Mommy.” Zac dan Zoey tampak ceria.
Mereka bersemangat membawa kotak besar itu bersama.
“Zac, Zoey. Jangan lari!” ucap Mirna yang emngikuti langkah kaki cucunya.
Zayn langsung menghampiri kedua anaknya saat sudah berada di tangga. Zac dan Zoey tampak kesulitan membawa barang itu ketika akan menuruni anak tangga itu.
“Sudah biar, Daddy yang bawa. Kalian turun lebih dulu.”
Sebelum kaki Zac dan Zoey menuruni anak tangga itu. Terdengar suara pria dewasa memanggil mereka.
“Zac, Zoey. Tidak salim dengan Uncle dulu?” tanya Reza dari kejauhan.
Di dalam kamar Reza, Manda sudah terlelap bersama Noah. Wanita itu terlihat lelah lahir dan batin.
__ADS_1
Reza mendekati kedua anak Zayn dan Rara. Lalu, Zac dan Zoey melirik ke arah sang ayah sekilas untuk meminta persetujuan.
Zayn menganggukkan kepalanya.
Zac dan Zoey pun mencium punggung tangan Reza setelah pria itu mendekati ke arah mereka. Reza tersenyum dan mengusap kepala Zac dan Zoey. Reza memiliki dosa pada kedua anak ini, karena selama lima tahun, ia memisahkan kedua anak ini dari ibunya.
Reza berjongkok di depan Zac dan Zoey. “Zac, Zoey. Maafin Uncle ya.”
“Memang Uncle salah apa?” tanya Zac yang di angguki lucu oleh Zoey.
Reza tersenyum saat melihat wajah Zoey yang begitu mirip dengan ibunya.
“Uncle Reza meminta maaf karena selama ini tidak pernah menemui kita di Paris,” jawab Zayn.
“Ya, Uncle harus ke Paris. Di sana kami memiliki rumah pohon yang bagus. Bukan begitu Zoey?” Zac melirik ke arah adiknya.
“Ya. Eh. Tapi kita sudah tidak lagi tinggal di sana, Kak,” ujar Zoey.
“Oh iya, lupa.” Zac menepuk keningnya.
“Kalau begitu, Uncle harus datang ke rumah kami.”
“Ya.”
Reza kembali tersenyum menatap kedua anak Zayn yang pintar dan kompak. “Ya, kapan-kapan Uncle akan main ke rumah kalian.”
Zayn dan Mirna ikut tersenyum. Lalu, Reza mengantarkan Zayn turun. Di bawah, Rara sudah menunggu suaminya dari tadi.
“Kamu bawa apa, Dad?” tanya Rara yang melihat Zayn membawa kotak besar.
“Hadiah untuk Mommy,” jawab Zoey dan Zac pun ikut mengangguk.
“Hadiah?” tanya Rara bingung sambil melirik ke arah suaminya.
“Nanti saja dibukanya. Ayo!” Zayn menggandeng tangan Rara untuk keluar dari rumah ini menuju rumah Sanjaya.
Zac dan Zoey pun ikut keluar. mereka ditemani oleh Kemal, Mirna, dan Reza hingga teras. Zayn kembali mendekati Reza dan mereka berpelukan. Reza pun menerima pelukan itu, membuat Kemal, Mirna dan Rara tersenyum, karena akhirnya kedua kakak beradik itu berdamai.
Kemudian, Zayn mencium punggung tangan orang tuanya. Zayn dan Kemal pun berpelukan.
“Sering-sering main ke sini, Zayn,” ucap Kemal di sela pelukan mereka.
Zayn mengangguk. “Iya, Pa.”
Lalu, Mirna pun memeluk putranya. Kemudian, bergantian dengan Rara, Zac dan Zoey yang juga mencium punggng tangan Mirna dan Kemal.
Rara ragu untuk menyalami Reza, karena mereka memang sudah bukan muhrim lagi. Rara pun melewati Reza dan tidak bersalaman pada mantan suaminya itu.
“Ra, kamu tidak salaman denganku?” tanya Reza tanpa dosa.
Rara pun menoleh ke arah Reza, lalu melirik ke arah Zayn yang memberi persetujuan melalui matanya.
Rara pun menghampiri Reza. Pria itu sudah mengulurkan tangannya pada Rara dan Rara menerima uluran tangan itu. Kemudian, Reza sedikit mendekatkan tubuhnya pada Rara. Ia mencium kedua pipi Rara bergantian.
Rara terdiam mematung dan melirik ke arah Zayn yang saat ini tengah memalingkan wajahnya.
__ADS_1
“Ah, pasti dia cemburu,” batin Rara melihat ekspresi suaminya.
Padahal Reza melakukan itu untuk terakhir kali, sekaligus penawar rindu dan untuk meyakinkan hati bahwa saat ini Rara hanya sekedar adik iparnya. Itu saja.