Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Setiap kesalahan, pasti akan ada konsekuensi


__ADS_3

Zayn mengikuti kemana pun Rara berjalan. Ia terus membuntuti wanita yang sedari tadi hanya diam dan belum mau berbicara padanya.


Zayn hanya bisa memandang wajah cantik yang terlihat lesu itu. Ingin sekali ia memberikan bahunya agar Rara dapat menangis sepuasnya di bahu itu. Namun, Rara nampak tegar dan biasa saja, walau Zayn yakin di dalam hati itu sedang tidak biasa-biasa saja.


Zayn lebih dulu keluar dari musholla yang cukup besar yang berada di pantai itu. Ia dan Rara baru saja melaksanakan sholat maghrib bersama dengan jamaah yang melakukannya. Ia duduk di depan musholla itu dan menunggu Rara keluar dari sana.


Arah mata Zayn terus tertuju pada pintu musholla untuk memastikan wanita itu sudah selesai dengan aktifitasnya. Bibir Zayn langsung menyungging ketika ia mendapati Rara yang berdiri di ambang pintu dan mencari keberadaaannya.


Rara tersenyum pada Zayn dari kejauhan tatkala melihat pria itu duduk menunggu di sana. Zayn pun langsung membalas senyum manis itu. Sungguh ia selalu terpesona dengan senyum itu.


Rara pun berjalan mendekati Zayn dan duduk di sampingnya sembari memakai sepatu.


“Kamu ke sini di suruh Papa?” tanya Rara sembari melirik ke arah Zayn dan kembali memakai sepatunya.


“Kamu tahu kalau Papa sudah mengetahui semua ini?” Zayn balik bertanya.


“Kamu memberitahu papa?” Mereka saling melontarkan pertanyaan.


Zayn mengangguk. “Maaf, aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu.”


Rara menoleh ke arah Zayn. “Papa sudah bertemu Manda?”


Zayn kembali menganggukkan kepalanya.


“Papa sudah bertemu cucunya? Dia tampan bukan? Pasti Papa senang karena sudah memiliki cucu. Walau bukan dari rahimku.” Seketika airmata Rara kembali mengalir.


Zayn langsung menarik tubuh itu dan memeluknya.


“Papa akan memiliki cucu kedua. Zayn. Kamu akan mendapat keponakan lagi.”


“Ssstt ... Jangan banyak bicara!”


Tangis Rara pecah. Ia terisak di dada bidang itu. Zayn pun tak melepaskan pelukannya.


Untung saja keadaan di tempat ini sudah semakin sunyi karena waktu maghrib sudah lama berlalu.


“Menangislah, Ra! Keluarkan semua beban di hatimu.”


Rara semakin terisak sembari meremas kuat lengan Zayn. Terkadang ia juga memukul dada bidang itu. Walau terasa sakit, tetapi Zayn menerimanya. Ia ikhlas menjadikan tubuhnya sebagai pelampiasan kekesalan Rara terhadap semua yang terjadi.


“Mengapa dia mengkhianatiku, Zayn? Mengapa? Katanya dia sangat mencintaiku tapi dia melakukan kesalahan itu lagi.” Rara meremas kuat kaos Zayn. “Padahal semula aku mau menerima kesalaahan itu. Aku mau menerima Noah dan menganggapnya sebagai putraku. Tapi mendengar dia akan memiliki anak lagi, aku merasa dikhianati Zayn.” Rara menangis.


Namun, sesaat kemudian Rara menghapus airmata yang sudah banyak membasahi pipinya. Ia pun menarik tubuhnya dari dada Zayn dan saling bertatapan.


“Aku ingin berpisah dari Reza.”


“Kamu yakin?” tanya Zayn.


Rara mengangguk. “Aku sudah memikirkannya.”

__ADS_1


“Lalu, bagaimana denganmu? Bukankah kamu sangat mencintai kakakku?”


“Cinta? Aku ngga tahu apa itu cinta?”


“Hei.” Zayn menangkup wajah Rara. “Jangan bilang kamu trauma dengan cinta! Tidak boleh, Ra! Karena diluaran sana cinta sejati untukmu masih menanti.”


Rara menatap manik-manik mata Zayn, begitu pun dengan Zayn. Mereka bertatapan cukup dekat hingga Zayn dapat melihat jelas bulu mata lentik itu mengejapkan beberapa kali.


Rara menggelengkan kepalanya. “Aku ngga tahu, Zayn. Tapi yang jelas, saat ini aku ingin keluar dari lingkaran ini.”


“Kamu tidak ingin mempertahankan pernikahanmu? Karena Manda bersedia meninggalkan kakak.”


“Tidak.” Rara menggelengkan kepalanya lagi. “Itu tidak boleh. Dia lagi hamil.”


“Ya, Papa juga tidak mengizinkan. Papa bilang, dia yang akan menceraikan kalian.”


Rara mengangguk. “Ya, itu memang keputusan yang baik. Jika aku yang pergi, tidak ada yang diberatkan. Jika Manda yang pergi, ada Noah dan calon bayi mereka yang akan memberatkan. Jadi lebih baik aku saja yang mengalah.”


Zayn kembali memeluk tubuh rapuh itu. “Ra, aku akan selalu ada untukmu.”


Rara pun membalas pelukan itu. “Terima kasih, Zayn.”


“Kamu tahu, aku juga mempunyai kesalahan besar padamu. Entah setelah kamu tahu itu, apa kamu masih mau berteman denganku?” batin Zayn dengan posisi mereka yang masih berpelukan.


Malam semakin larut. Rara pun semakin lebih tenang. Kehadiran Zayn benar-benar membuatnya jauh lebih tenang.


“Ayo aku antar pulang!” kata Zayn.


“Lalu?”


“Aku mau langsung pulang ke jakarta saja.”


“Kalau begitu. Ayo! Aku akan mengantarmu,” ucap Zayn.


“Tapi tidak sekarang, besok pagi saja. Aku ingin bermalam di hotel dekat sini. Aku masih suka pemandangan di sini.”


“Baiklah, aku akan menemanimu,” ucap Zayn lagi.


“Kamu memang tidak kerja? Bukannya kamu kesini untuk menjalankan projek? Aku bisa sendiri Zayn. Jika kamu ingin kembali ke Lembang. Kembalilah!”


“Ck ... Kamu itu, masih saja tidak mengerti aku.” Zayn langsung menarik lengan Rara dan menyuruhnya masuk ke mobil. “Aku ngga akan ngebiarinin kamu sendirian di sini.” kata Zayn sesaat sebelum menutup pintu mobilnya.


Lalu, Zayn duduk di samping Rara. “Aku bukan satu-satunya photografer di projek itu. Masih ada teman yang lain yang menggantikanku selama aku ada urusan.”


Kemudian, Zayn menyalakan mobilnya menuju hotel terdekat. Sedangkan Rara hanya pasrah.


Setelah menemukan hotel dan mendapatkan dua kamar, juga memastikan Rara beristirahat di kamarnya, Zayn membaringkan tubuhnya di kamarnya sendiri. Lalu, telepon Zayn berdering menampilkan nama “Papa” di layar itu. Zayn pun langsung mengangkatnya.


“Ya, Pa.”

__ADS_1


“Bagaimana, Zayn? Kamu sudah menemukan Rara?” tanya Kemal dengan suara yang masih terdengar panik.


“Sudah, Pa. Rara aman bersama Zayn. Zayn akan menjaganya.”


“Bagus kalau begitu. Besok pagi, Papa akan ke Jakarta untuk menemui Sanjaya dan melepaskan hubungan antara Rara dan Reza,” ucap Kemal lirih.


“Tapi kakak tidak mau berpisah, Pa.”


“Tetap harus Zayn. Ini konsekuensi dari kesalahannya.”


Kemal menutup sambungan telepon itu.


Zayn memijat pelipisnya. Sungguh kepalanya berat memikirkan ini. Ia tak ingin melihat sang kakak terpuruk, karena ia tahu bahwa Reza sangat mencintai Rara, hanya saja pria itu tidak bisa cara menjaga cintanya. Namun, ia juga tidak bisa melihat kesedihan Rara.


Di rumah Manda, Reza mengurungkan diri di ruang kerja. Sejak kepergian Kemal dan Zayn tadi, ia langsung memasuki ruangan itu dan tidak keluar sama sekali. Manda pun takut melihat kilatan kemarahan di wajah suaminya. Ia tak berani menunjukkan wajahnya di depan Reza saat ini, hingga ketika waktu makan malam tiba, Manda menyuruh pengasuh Noah untuk mengantar makanan itu ke ruang kerja Reza. Ia pun menahan putranya yang ingin menemui sang ayah. Ia tahu bahwa saat ini, Reza butuh sendiri.


Di dalam ruangan itu, Reza tampak kusut. Ia belum masih menggunakan kemeja yang sejak pagi ia kenakan. Rambutnya berantakan, matanya pun bengkak karena sedari tadi ia juga menangis. Sungguh ia menyesali semua yang terjadi. Ia tidak ingin kehilangan Rara, karena Rara adalah cintanya. Ia mencintai Rara sejak mengenal arti cinta. Ia menyukai wanita sejak mengenal Cleopatra. Hanya saja, ia terlalu egois dan menginginkan kesempurnaan dari wanita itu. Padahal jelas-jelas ia tahu bahwa Rara sudah tak sempurna lagi. Namun, ia tetap memaksa menikahinya.


Alih-alih memaafkan semua yang terjadi pada Rara dan Zayn, tapi justru dengan hidup bersama Rara, ia semakin tidak bisa melupakan kejadian itu.


Reza meraih ponselnya untuk menelepon sang ayah.


Dret ... Dret ... Dret ...


“Halo.”


Kemal menjawab panggilan telepon itu dengan cepat.


“Pa, sudah ada kabar dari Zayn?”


Reza memang tidak mencari Rara, setelah tahu bahwa Zayn sedang mencarinya, karena ia bingung harus mencari Rara dimana? Pikirannya saat ini benar-benar buntu.


“Sudah.”


Reza terdiam. Ia yakin bahwa Zayn akan memanfaatkan keadaan ini, padahal Zayn tidak seperti itu.


“Za, besok pagi Papa akan ke Jakarta untuk menemui orang tua Rara. Papa tunggu kamu di sana. Lepaskan Rara dengan gentle, Za. Ceritakan pada mertuamu tentang semua ini.”


“Pa, Reza tidak bisa hidup tanpa Rara.”


“Seharusnya kamu berpikir seperti itu sebelum melakukannya, karena semua kesalahan yang kita perbuat pasti akan ada konsekuensinya, Za.”


Reza lesu. Ia melepaskan ponsel itu dari telinganya dan menangis, membenturkan ponsel itu di keningnya beberapa kali.


Kemal yang tak mendengar suara putranya lagi di seberang sana, akhirnya menutup telepon itu. “Maafkan Papa, Za.”


Di dalam ruangan itu, Reza berdiri dan berjalan ke arah jendela. Ia menatap keluar, memandangi langit yang gelap dan dihiasi bintang-bintang kecil.


Rara pun melakukan yang sama. Ia berdiri di depan jendela kamarnya sembari melipat kedua tangan itu di dada. Ia menatap bintang-bintang kecil seperti titik, tapi mampu menyinari langit yang gelap. Sementara Zayn yang berada di samping kamar Rara, juga tengah berdiri di depan jendela, memandang langti yang indah sembari menyeruput secangkir kopi yang ia pegang.

__ADS_1


Ketiga insan ini mengingat saat-saat kecil, ketika ketiganya berbaring di rerumputan taman rumah Kemal dan memandangi langit. Mereka menghitung jumlah bintang itu bersama-sama sembari tertawa riang.


Namun, setelah ini sepertinya saat-saat itu tidak akan kembali, apalagi ketika dikemudian hari ingatan Rara kembali. Reza dan Zayn mungkin tidak akan bisa menjangkau Rara lagi.


__ADS_2