Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
"Cleoptara Kamila. Boleh aku mencium keningmu?"


__ADS_3

“Apa kening Zoey masih sakit?” tanya Sanjaya pada cucu perempuannya.


Zoey mengangguk. “Masih, Kek.”


Sanjaya memangku kedua cucunya di paha kanan dan kiri. “Istirahat dan minum obatnya supaya lekas sembuh.”


Zoey kembali mengangguk.


“Kalian kalau bercanda hati-hati. Tidak boleh kejar-kejaran seperti itu lagi, oke.”


Zac mengangguk. “Baik, Kek.” Zoey pun demikian.


“Cucu kakek memang pintar.” Sanjaya kembali memeluk Zac dan Zoey.


“Ayah, di minum tehnya!” Pinta Rara sambil meletakkan nampan gelas yang di siapkan si Bibi ke depan Sanjaya, Mia, Mirna, dan Kemal. “Mama, Papa, Bunda. Ayo di minum. Perjalanan kalian tadi cukup jauh. Pasti lelah.”


“Kamu tidak membuatkan Zayn minum juga?” tanya Mirna pada Rara.


Rara melirik ke arah Zayn yang juga sedang menatapnya dengan tersenyum.


“Ini kan rumahnya, Ma. Dia bisa bikin sendiri,” jawab Rara yang juga tersenyum menyeringai ke arah Zayn.


“Tega sekali kamu, Ra,” ledek Kemal.


“Rara emang gitu, Pa. Kalau sama Zayn bawaannya sewot mulu,” sahut Zayn.


Zayn dan Rara terlihat saling melirik. Namun, semua orang di sana pun dapat melihat cinta pada kedua insan ini.


“Itu namanya benci tapi cinta. Bukan begitu, Ra?” tanya Mirna membuat Rara malu.


“Apa sih, Ma.”


Kemudian, semua orang di sana pun tertawa.


Mirna dan Kemal dapat melihat kebahagiaan dari wajah Rara dan Zayn yang menampilkan senyum malu-malu di bibir keduanya.


Kini, Mirna dan Kemal sudah melihat Zayn bahagia. Mereka pun ingin melihat putranya bahagia. Setelah ini, Mirna dan Kemal akan ke Bandung untuk menyambangi rumah Manda. Walau Mirna masih belum bisa menerima Manda sebagai istri putranya, wanita yang telah merusak rumah tangga sang putra. Namun, mereka tetap ingin bertemu cucu mereka dan tetap memberi support pada Reza. Walau Reza telah mengecewakan mereka dengan ulahnya, tapi orang tua tetaplah orang tua yang akan selalu memaafkan anaknya.


“Terus, rencananya kapan Mommy dan Daddymu ke sini, Zayn?” tanya Sanjaya pada pria yang tengah duduk di seberangnya.


Zayn tampak tegang berhadapan dengan Sanjaya, padahal ini bukan kali pertama ia berbincang dengan ayah Rara.


“Lusa, mereka akan ke sini, Ayah,” jawab Zayn.


“Bagus kalau begitu.”


Rara bingung dengan apa yang diperbincangkan para orang tua dan Zayn. Di ruang tamu ini duduk orang tua Rara, orang tua angkat Zayn beserta Rara dan Zayn sendiri. Zac dan Zoey di ajak ke lantai dua oleh Michelle dan Jack. Untung saja Michelle dan Jack sudah kembali. Ternyata mereka hanya keluar sebentar untuk membeli kue untuk para orang tua yang tengah ada di sana.


“Oh iya, kita sudah bicara sejauh ini. Apa tidak ada yang bertanya Rara setuju?” tanya Mia.


“Setuju apa, Bun?” Rara balik bertanya.


“Loh, Zayn tidak memberitahumu?” tanya Mirna.


Rara menggeleng.


“Zayn,” Mirna membulatkan matanya ke arah Zayn.


“Rara pasti setuju, Ma. Bun. Karena ini demi Zac dan Zoey,” jawab Zayn.


“Maksudnya?” tanya Rara lagi sambil memajukan tubuhnya untuk mendengar lebih saksama perbincangan ini.

__ADS_1


“Zayn memintamu pada Ayah,” ucap Sanjaya. “Bukankah masa idahmu sudah selesai?”


Rara mengangguk. “Ya, kemarin.”


Ternyata perkiraan Zayn salah, masa idah Rara jauh lebih cepat dari dugaannya.


“Zayn ingin menikahimu segera, Nak,” sahut Mia. “Kamu mau kan?”


Rara membulatkan matanya ke arah Zayn. Ia tak menyangka bahwa Zayn se-nekat ini. Bahkan ia tak mengetahui rencana Zayn hari ini.


Zayn pun menatap Rara. Ia harap-harap cemas, menanti jawaban dari ibu yang melahirkan anak-anaknya itu.


“Ya, aku ingin menikahimu, Ra. Aku ingin Zac dan Zoey memiliki orang tua yang utuh serta kasih sayang yang sempurna. Aku ingin kita bersama membesarkan mereka.”


Rara terdiam. Sesekali ia memandang Mia dan Sanjaya. Mereka pun mengangguk. Ia juga menatap Mirna dan Kemal, mereka pun melakukan hal yang sama.


“Apa ini tidak terlalu cepat?” tanya Rara.


“Mereka membutuhkanmu, Sayang,” kata Mirna dengan menatap Zac dan Zoey yang mengintip dari pagar lantai atas.


Rara pun menoleh ke atas dan melihat wajah Zac, Zoey, juga Michelle. Mereka duduk sambil mengintip di sela-sela pagar di lantai dua yang berbentuk “U”. Pagar itu dapat terlihat sisi ruang tamu dari atas sana.


“Say yes, Miss,” ucap Michelle dari lantai dua.


“Say Yes, Mom,” Zac dan Zoey ikut-ikutan.


Rara kembali menunduk, lalu menatap ke arah Zayn. Ia menarik nafasnya kasar sembari mengucap basmalah sebagai awal dalam mengutarakan keputusannya.


Rara mengangguk.


“Kamu mau?” tanya Zayn lagi untuk meyakinkan keputusan Rara.


Rara kembali menganggukkan kepalanya.


“Iya, Rara mau menjadi istri Zayn, Bun. Ayah.”


Zayn langsung menghembuskan nafasnya kasar. Rasanya lega mendengar kalimat itu. Sungguh ia seperti mimpi. Tidak pernah sama sekali ia membayangkan akan hidup bersama dengan Rara dan menjadi suaminya. Selama ini, ia cukup bahagia memiliki Zac dan Zoey di sisinya. Selama lima tahun sendiri, sempat terbesit mencari ibu sambung untuk Zac dan Zoey. Namun, ia tidak pernah menemukan wanita yang cocok dan pas di hatinya. Padahal semua teman, keluarga sudah mengenalkannya dengan segala bentuk wanita dan karakternya. Tetapi, Zayn tetap tidak mau.


Dan, mungkin ini jawaban dari ke tidak ter tarikannya pada sebagal jenis wanita yang sering disodorkan oleh teman, sahabat, dan kerabat ketika ia tinggal di Paris.


Zayn tersenyum ke arah Rara dengan senyum semringah. Sedangkan Rara hanya tersenyum tipis. Ia tak tahu, apa nantinya ia akan bisa melayani Zayn karena ia masih trauma dengan kesalahan Zayn dulu. Entahlah? Yang jelas ia mengambil keputusan ini hanya untuk Zac dan Zoey. Rara ingin memberi kasih sayang yang selama lima tahun ini tidak di dapat dari anak kembar itu.


Zac langsung turun, diikuti Zoey.


“No, jangan lari! Zac .. Zoey.” Michelle mengejar kedua ponakannya.


“Mommy ...” teriak Zac dan Zoey yang ingin memeluk ibunya.


Sontak Zayn dan Rara pun bangkit dan berlari mendekati tangga untuk menangkap kedua anaknya yang menuruni anak tangga itu.


“Zoey, kamu masih sakit. Jangan lari!” perintah Zayn yang sudah menangkap tubuh putrinya.


Rara pun sudah menangkap tubuh putranya.


“Kami senang, Dad,” ucap Zac.


“Jadi Mommy akan tinggal bersama kita?” tanya Zoey dan Zayn mengangguk.


“Mulai hari ini?” tanya Zoey lagi.


“Belum sayang, Daddy harus menikahi Mom dulu,” jawab Zayn.

__ADS_1


“Tapi tadi Mommy bilang, Mommy akan menginap di sini,” ucap Zac.


Zayn menoleh ke arah Rara. “Benarkah?”


Rara mengangguk. “Aku sudah terlanjur janji pada Zoey. Kebetulan aku dikasih cuti dua hari, sambil mengurus Zoey hingga dia sembuh.”


Zayn tersenyum menyeringai. “Kalau begitu aku akan mempercepat pernikahan kita.”


“Ya, Zayn. Kalau perlu lusa. Minta ayahmu untuk berangkat besok,” celetuk Sanjaya dengan langkah kaki yang mendekati keluarga kecil itu.


“Ide bagus, Yah,” kata Zayn.


“Ayah ...” rengek Rara.


Zayn tersenyum dan memeluk mertuanya. “Terima kasih atas saran Ayah.”


“Zayn, minggu depan saja,” ucap Rara.


Zayn menggeleng dan tersenyum licik, membuat Rara kesal. Senyum Zayn pun semakin mengembang melihat bibir yang cemberut itu. Menggemaskan.


****


“Saya nikahkan dan kawinkan Ananda Zayn Pradipta dengan putri saya yang bernama Cleopatra Kamila binti Ahmad Sanjaya dengan mas kawin seperangkat alat Shalat dan emas dua ratus gram dibayar tunai.”


Sanjaya mengeratkan genggaman tangannya yang sudah tergenggam oleh tangan kanan Zayn, agar Zayn menyambung kalimat yang ia lontarkan tadi.


“Saya terima nikah dan kawinnya Ananda Cleopatra Kamila binti Ahmad Sanjaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”


“Sah.”


“Sah.”


“Sah.”


Setelah mengucap kata itu, Pak penghulu mengangkat kedua tangannya yang diikuti kedua mempelai serta seluruh orang yang hadir di sana. Pak penghulu itu pun mengucap serangkai doa setelah ijab qobul yang diucapkan Zayn dengan lantang tanpa jeda itu selesai.


Dengan satu tarikan nafas, akhirnya Rara menjadi bagian dari nafasnya.


Zayn mengusap wajahnya cukup lama. Ia berdoa diiringi tetesan air mata di sela itu. Ia berjanji akan membahagiakan Rara. Ia berjanji tidak akan ada air mata yang menetes setelah ini dari mata Rara karena kesedihan. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan.


Rara pun mengusap wajahnya cukup lama. Ia hanya memohon yang terbaik. Ia akan berusaha untuk menjadi istri yang baik bagi Zayn dan ibu yang baik untuk Zac dan Zoey. Walau Rara masih belum tahu pasti apa ia bisa menjadi istri yang baik bagi Zayn karena pastinya setelah ini mereka akan menghadapi kecanggungan ketika tinggal satu atap.


Zayn menoleh ke arah Rara dan Rara pun demikian. Mereka terlihat benar-benar canggung.


“Cium tangan suamimu, Nak,” ucap Mia.


Rara terdiam sejenak dan Zayn berdiri di depan Rara dan mengulurkan tangannya hingga akhirnya Rara mengangkat tangan kanannya untuk menerima uluran tangan itu dan mencium punggung tangan Zayn.


“Cium ... Cium ...” teriak Michelle, Jack, Zac, Dan Zoey, membuat Zayn tersenyum kikuk.


“Cium kening Rara, Zayn,” ucap Mirna dan Clara bergantian.


Sanjaya, Kemal, dan Marco hanya tersenyum melihat kedau mempelai yang kikuk itu.


Zayn memajukan tubuhnya hingga ia dan Rara berhadpaan tanpa jarak. Lalu Zayn mendekatkan wajahnya pada wajah Rara.


“Cleopatra Kamila. Boleh aku mencium keningmu?” tanya Zayn lirih, hingga suara itu hanya bisa di dengar Rara.


Rara mengangguk dan memejamkan mata.


Lalu, Zayn mencium kening itu mesra di hadapan para sahabat dan kerabat yang menyaksikan pernikahan ini.

__ADS_1


Sorak sorai semua orang yang melihat adegan mesra itu. Aroma chemistry kedua mempelai itu begitu kuat menyeruak hingga sampai oada semua orang yabg hadir di sana.


Kesalahan Zayn memang tidak serta merta hilang dari ingatan Rara dan Zayn sadar akan hal itu. Zayn pun tidak akan memaksa Rara. Biarlah waktu yang akan melerai kecanggungan itu.


__ADS_2