Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Mencari keberadaanmu


__ADS_3

Reza masih mencari keberadaan Rara. Setelah pulang kerja atau sebelum tiba di kantor, ia menyempatkan diri untuk mendatangi beberapa tempat yang menjadi aktifitas Rara. Namun, wanita yang ia cari tidak pernah ada di tempat itu, sehingga satu waktu Reza memberanikan diri untuk menemui Reihan dan bertanya pada pemilik Yayasan tempat mantan istrinya bekerja. Ingin sekali Reza menanyakan keberadaan Rara pada Sanjaya atau Mia, tetapi ia tidak cukup berani menampakkan wajahnya di hadapan orang tua Rara pasca dirinya berterus terang pada waktu itu. Ia yang selalu berjanji pada kedua orang tua Rara untuk selalu membahagiakan putrinya, ternyata gagal.


Sanjaya yang setuju untuk menghilangkan jejak kesalahan Zayn demi menyatukan Reza dan putrinya, ternyata salah. Dahulu Ia pikir putrinya begitu mencintai Reza, apalagi ketika melihat pancaran bahagia dari Rara yang kala itu dilamar oleh Reza. Sanajay yakin bahwa kebahagiaan putrinya adalah bersama pria pujaannya itu. oleh karenanya, ia pun setuju pada keinginan Reza yang meminta Zayn untuk membawa semua jejak kesalahan itu. dan ketika Rara pulih seolah semua kejadian buruk itu tidak pernah terjadi. Namun ternyata, Reza pun tidak bisa diandalkan, pria itu pun menyakiti putrinya. Dan yang lebih membuat Sanjaya terkejut, Rara dengan begitu mudah melupakan Reza.


Sanjaya melihat foto putrinya. Sudah hampir satu minggu Rara tidak memberi kabar.


“Yah, kamu ngapain?” tanya Mia sembari menaruh kopi di teras. Sedangkan Sanjaya berdiri dan melihat beberapa foto putrinya dari berbagai usia yang terpajang di sebuah meja panjang.


“Ayah menyesal, Bun. Ayah menyesal karena dulu ayah kira hanya Reza yang bisa membahagiakan putri kita.” Mata Sanjaya mulai berkaca-kaca.


Mia mendekati suaminya dan berdiri di belakang. “Ya, seandainya kita membiarkan Zayn bertanggung jawab. Mungkin putri kita sudah bahagia dengan anak dan suaminya. Dan, mungkin Rara tidak harus mengalami pengangkatan rahim.”


“Maafkan ayah, Bun.” Tiba-tiba Sanjaya menangis. “Apa Rara akan membenci ayah, Bun?”


Mia memeluk kepala suaminya. Airmata Sanjaya pun tumpah di bahu sang istri. Sanjaya khawatir jika Rara akan membencinya ketika tahu bahwa dirinya telah memisahkan Rara dengan anak yang telah dilahirkan.


Mia ikut menangis. “Rara selalu bilang kalau dia perempuan cacat dan tidak sempurna, padahal dia sempurna. Putri kita sempurna dan mempunyai anak sepasang.”


“Apa mereka sudah besar, Bun?’ Sanjaya menatap wajah istrinya.


“Kata Mirna, mereka sudah berusia lima tahun. Bahkan anak perempuan itu mirip sekali dengan Rara.”


“Zac dan Zoey. Mereka cucu kita, Bun. Sungguh Ayah sangat menyesal.”


Mia mengusap kepala suaminya. “Sudahlah Yah, semua sudah terjadi. Saat itu memang pikiran kita sedang kalut dan tidak bisa berpikir jernih. Kita mengambil keputusan terlalu cepat dan tidak berpikir akibatnya nanti.”


Sanjaya mengangguk. “Ayah ingin menemui Rara, Bun.”


Mia pun mengangguk. Ya, mereka ingin mengunjungi apartemen putrinya.

__ADS_1


****


“Ra, udah sih ngga usah repot-repot. Ngga usah masak!” Reihan melarang Rara untuk terus berkutat di dapur.


“Aku ngga masak kok. Cuma nyiapin sarapan aja. Aku Cuma bikin krim sup, itu juga pakai resep instan.” Rara nyengir sembari memperlihatkan bungkusan sup krim instan itu. “Ngga apa-apa kan sekali-kali pakai yang instan.”


Reihan mengangguk dan tersenyum. “Ya ngga apa-apa.”


Reihan mengambil cangkir dan menuangkah kitcher teh yang sudah disiapkan Rara. “Bulan dan Bintang masih tidur?”


“Sepertinya masih, soalnya semalam mereka tidur agak malam.”


“Loh, kok bisa? Bukannya kalian masuk kamar dari jam sembilan ya?” tanya Reihan sembari meneyruput teh hangat dengan sedikit gula itu.


“Anak-anak kamu bawel. Ada aja yang mereka tanyain. Jadi kami ngga tidur-tidur.”


“Ya, mereka memang bawel,’ sahut Reihan tersenyum.


“Eh, enak aja.”


Lalu, keduanya tertawa.


“Oh, iya Ra. Kemarin Reza menatangiku.”


Bibir Rara yang semula tertawa itu pun langsung terdiam.


“Ngapain Dia nemuin kamu?” tanyanya.


“Dia nanya keberadaan kamu. Ternyata benar, mantan suamimu itu masih belum move on, Ra.”

__ADS_1


“Terus kamu jawab apa?” tanya Rara lagi.


Reihan mengangkat bahunya. “Seperti yang kamu minta, aku jawab tidak tahu.”


Rara mengangguk setuju.


“Tapi sepertinya dia ngga percaya,” kata Reihan lagi.


“Terus gimana dong supaya dia ngga nyariin aku terus?” tanya Rara dengan serius sembari menatap ke arah Reihan.


“Menikah lagi.”


“Maksudnya?” tanya Rara bingung.


“Kamu harus cepet nikah lagi supaya dia ngga ngejar-ngejar kamu terus. Supaya dia bisa move on dan menjalani hidupnya karena kamu juga sudah menjalani hidup barumu.”


Rara memonyongkan bibir. “Modus lagi.”


“Bukan modus, Ra. Tapi memang itu solusinya. Karena kamu belum menemukan pasangan baru, dia masih mengira kamu juga belum move on dan dia mengira masih memiliki kesempatan untuk bisa menggapaimu lagi.”


“Begitu kah?” tanya Rara.


“Please, Ra. Aku juga laki-laki dan apa yang aku ucapkan berdasarkan cara pandang seorang pria.” Reihan menaikkan alisnya, membuat Rara tertawa.


“Sepertinya kamu harus buka bisnis baru,” kata Rara.


“Apa?”


“Praktek dokter cinta. Pasti banyak yang minta konsultasi nanti.”

__ADS_1


“Ngeledek? Dokter cinta tapi sih jomblo,” ujar Reihan.


Lalu, keduanya pun kembali tertawa. Reihan memang pria yang menyenangkan. Rara nyaman dengan pertemanan ini. Ia masih tidak melibatkan hati bersama Reihan. Hatinya masih terpaut pada masa lalu dan Reihan tahu itu. oleh karenanya ia pun sangat berhati-hati jika bicara tentang hati pada Rara.


__ADS_2