Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Daddy, jangan sakiti Mommy! Nanti Mommy pergi lagi


__ADS_3

Hari ini Rara, Zayn, Zac, dan Zoey hanya menghabiskan waktu libur weekend mereka dengan bermain bersama di rumah saja. Mereka justru enggan pergi keluar rumah, karena di dalam rumah pun Zac dan Zoey sudah terlihat bahagia.


Setelah berenang, keluarga kecil ini menikmati makanan yang dimasak Rara tadi.


“Mom, sayuran ini lezat sekali,” ucap Zoey sembari mengayunkan sendok dan garpunya. Ia menunjuk ke arah Sayur capcay yang Rara tumis tadi.


“Oh, ya?” tanya Rara tersenyum. “Kaalu begitu habiskan.”


“Really, ini benar-benar lezat. I like it.” kata Zoey yang memang penggemar segala jenis sayuran. “Zac, kau harus mencobanya.”


Zoey menyodorkan sayuran itu tepat di mulut Zac.


“No, Zoey. I don’t like.” Zac menyingkirkan tangan Zoey.


“Coba dulu, Zac. Ini sangat lezat. Masakan Mommy enak.” Zoey memaksa sang kakak untuk memakan makanan itu.


Zayn dan Rara duduk berdampingan sembari menikmati makanan itu dan memperhatikan interaksi kedua anaknya.


“Ya, coba dulu Zac. Ini enak.” Zayn menambahkan.


“No,” ucap Zac dengan nada yang sedikit tinggi karena ia tidak suka dipaksa.


“Ya sudah tidak apa, kalau Zac tidak mau. Habiskan saja olehmu Zoey,” sahut Rara lembut.


“Baiklah, kalau begitu. Aku akan habiskan ini tanpa harus berbagi. Yeaay ...” Ucap Zoey riang sambil memeluk mangkuk yang berisi makanan kesukaannya itu.


Zac memperhatikan Zoey yang memakan lahap makanan yang tadi ia tolak. Ia melihat Zoey sangat menikmati makanan itu.


“Apa makanan itu benar-benar enak?” tanya Zac pada Zoey.


“Tentu saja,” jawab saudara kembarnya.


“Kalau begitu aku ingin mencoba,” kata Zac lagi.


“Tadi katanya kamu tidak suka.”


“Ya, itu tadi. Tapi sekarang aku ingin mencobanya.” Zac mendekati saudara kembarnya dan mengambil makanan yang terkungkung di dekapan Zoey itu.


Zac mengambil sayuran itu. “Apa ini tidak pahit?”


“Tidak, Zac.” Jawab Zoey.


Lalu, Zac memasukkan makanan itu ke dalam mulut dan mengunyahnya perlahan. Seketika bibirnya tersenyum. “Hmm... enak.”


Zac mengamil lagi makanan itu dan menyuapkannya ke mulut. “Ya, ini enak.”


Lalu, ia kembali mengambil makanan itu dari piring yang masih terdekap di dada Zoey.


“Sudah. Aku tidak ingin berbagi.” Zoey menepak lengan Zac yang ingin mengambil makanan kesukaannya.


“Mom, Zoey pelit.” Adu Zac pada Rara.


Rara dan Zayn hanya menggelengkan kepala mereka.


“Zac, Zoey, bisakah kalian diam ketika makan?” tanya Zayn dengan membulatkan kedua bola matanya ke arah Zac dan Zoey.


“Tapi Zoey pelit, Dad. Aku ingin mencobanya lagi.”


“Zoey, bagi dua makanan itu dengan kakakmu.” Zayn memasang wajah serius pada kedua anak kembar itu dan Zoey langsung membagi separuh makanan itu untuk kakaknya.


Rara yang baru sehari berada bersama mereka pun memilih diam. Lagi pula, ini memang ranahnya Zayn sebagai kepala keluarga dan terbukti bahwa Zac dan Zoey cukup takut dengan ayahnya. Walau Zayn bukan tipe ayah yang galak tapi Rara bisa melihat ketegasan dalam diri suaminya itu.


Rara menatap wajah Zayn yang masih terlihat serius setelah menengahkan si kembar yang berseteru tadi. Rara memperhatikan gaya Zayn yang kembali menyuapkan makanan itu dengan tenang dan cool. Rara pun tersenyum. Ternyata Zayn bisa menempatkan diri. Pria itu bisa dewasa, bisa galak, bisa tegas, bisa sangat manja jika berada didekatnya dan bisa begitu mesum, seperti ciuman liar di kolam renang tadi.

__ADS_1


Makan pagi menjelang siang itu pun selesai. Mereka, terpaksa makan pagi di jam sepuluh lewat karena keasyikan berenang. Hari ini Zac dan Zoey masih libur karena hari minggu dan besok mereka kembali bersekolah, tetapi Rara masih mendapat izin dua hari lagi, karena sebelumnya ia mengambil cuti sebanyak lima hari. Semula cuti ini memang ia minta ke kepala sekolah untuk merawat Zoey yang sakit waktu itu. Namun, siapa sangka ternyata cuti itu pun menjadi cuti menikah karena Zayn memajukan rencananya.


Zoey tampak semakin sehat, bahkan baru dua hari Rara cuti saja, Zoey sudah jauh lebih sehat dan tak mengeluh apapun. Mungkin karena hatinya senang, membuat sakitnya pun seketika sembuh. Zac dan Zoey adalah orang yang paling bahagia dengan kehadiran Rara. Zayn, juga jangan ditanya! Diam-diam, ia selalu bersyukur dengan semua yang terjadi. Terlebih saat ini. Ia tidak akan menyia-nyiakan 9kebahagiaan yang tak bisa dibeli ini.


“Mom, biar saya saja,” ucap si Bibi yang melihat Rara merapihkan meja makan, usai mereka menyantap makanan itu bersama.


“Tidak apa, Bi. Cuma taro ke wastafel aja kok.” Rara tersenyum. “Bibi udah makan?”


Si Bibi menggeleng. “Belum, Mom.”


“Ya udah gih, makan dulu. Biar saya rapihkan ini. Nanti Bibi tinggal cuci piringnya.”


“Siap, Mom,” ujar Si Bibi yang langsung mengambil makanan dan berlalu keluar dari dapur.


Zac dan Zoey juga sudah berada di ruang televisi dengan mengeluarkan mainannya masing-masing.


“Baik banget sih istri aku,” tiba-tiba Zayn melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Rara yang berdiri di depan wastafel.


Bibir Zayn mencium punggung Rara yang terbuka karena kini Rara menggunakan dres sangat pendek dengan satu tali di bahu kanan dan kiri.


Zayn sudah berani mencium tubuh itu. Sejak diperbolehkan Rara mencium bibirnya di kolam renang tadi, Zayn terus mencium bibir itu ketika mereka sedang berdua dan sekarang Zayn pun berani mencium pundak dan leher Rara.


Rara hanya tersenyum. “Zayn, geli.”


Rara tidak marah dan tidak menghindari ciuman itu, justru ia hanya tertawa sambil berujar geli atau takut dilihat anak-anak.


Rara selesai mencuci tangannya. Namun, Zayn masih saja mencumbui leher jenjang dan punggungnya yang mulus. Suaminya itu pun memeluk erat tubuh Rara dari belakang.


“Zayn,” panggil Rara lembut sambil tertawa. “Geli.”


Zayn pun ikut tertawa. Bibirnya semakin gemas memainkan bagian itu hingga menggigitnya kecil dan menjadi berwarna keunguan.


“Aww ... sakit, Zayn. Ah” rintih Rara. Namun tetap tertawa. “Zayn jangan digigit!”


“Aku gemas, Sayang. wangimu memabukkan,” ujar Zayn.


“Tidak, mereka sedang bermain di ruang tengah.”


Rara tertawa, karena sensasi geli yang suaminya ciptakan dan Zayn senang akan hal itu, hingga terdengar suara Zac memanggil.


“Daddy, apain Mommy?”


Sontak Zayn melepas Rara dan membalikkan tubuhnya. Rara pun demikian.


“Daddy.” Zac berjalan mendekati Zayn dengan bertolak pinggang. “Jangan sakiti Mommy! Nanti Mommy pergi lagi,” kata Zoey menatap Zayn, membuat Zayn dan Rara tertawa.


“Tidak, Sayang.” Rara berjongkok di depan Zac. “Daddy tidak sakiti Mommy.”


“Tapi tadi Mommy merintih seperti orang kesakitan.”


“Tidak, Sayang. Hmm ...” Rara melirik ke arah Zayn yang hanya tersenyum dengan mengangkat bahunya.


Rara memberi kode pada Zayn untuk menjelaskan hal ini pada putranya yang melihat adegan mereka tadi. Namun, sepertinya Zayn menyerahkan Rara untuk menjelaskan hal itu pada Zac.


Rara merengutkan bibirnya ke arah Zayn.


“Ah iya, tadi Mommy kesengat serangga, jadi Mommy merintih terus Daddy meniupkan kulit Mommy yang perih akibat gigitan serangga itu.”


“Oh begitu. Baiklah kalau begitu.” Zac dengan gaya sok dewasa dan dingin itu, kembali berjalan keluar dari dapur.


Namun sebelum Zac melangkahkan kakinya keluar area itu, ia kembali membalikkan tubuhnya dan menoleh ke arah Zayn. “Awas ya Daddy! Tidak boleh sakiti Mommy. Aku tidak mau Mommy pergi lagi.”


Zayn tersenyum dan mengangkat kelima jarinya ke kepala. “Siap, Bos.”

__ADS_1


Rara tertawa melihat Zac yang sok dewasa. Zayn pun merangkul tubuh sang istri dan menempelkan kepalanya pada kepala Zayn.


“Mereka sangat menyayangimu,” kata Zayn lirih.


“Memangnya kamu tidak?” tanya Rara sembari melirik suaminya.


“Kalau aku.” Zayn mengarahkan tangan ke dadanya. “Jangan ditanya, Sayang! jika kita bertukar jiwa, kamu pasti tahu sebesar apa aku mencintaimu.”


Rara tertawa. “Seperti pernah denger lagu itu.”


Zayn tersenyum melihat istrinya tertawa. “Lagu apa?”


“Tukar jiwa. Liriknya seperti ini.” Rara berdehem untuk menyanyikan lagu yang cukup familiar itu.


Aku kehabisan cara 'tuk jelaskan padamu


Mengapa sulit 'tuk lupakanmu


Aku kehabisan cara 'tuk gambarkan padamu


Kau di mata dan di pandanganku


Coba satu hari saja kau jadi diriku


(Kau akan mengerti)


Kau akan mengerti bagaimana ku melihatmu


Mengagumimu


Menyayangimu


Dari sudut pandangku


Dari sudut pandangku


Mata Zayn tak beralih dari Rara dengan wajah cantik dan suara merdunya.


“Udah,” kata Rara menghentikan alunan lagu yang ia nyanyikan tadi. “Gitu lagunya.”


“Kok berhenti?” tanya Zayn. “Suara kamu bagus.”


“Bohong.” Rara tertawa.


“Beneran,” jawab Zayn serius.


“Masa? Dulu, kamu suka nyela aku kalau aku nyanyi. Katanya suara aku kaya Giant.”


Zayn tertawa. Mereka berdiri dengan tubuh yang dekat. Bahkan dada Rara menempel pada dada bidang itu. Zayn memang selalu menempel pada istrinya.


“Dulu, aku bohong,” ucap Zayn. “Suaramu merdu, Ra. Beneran.”


Rara mencibir. “Kenapa bohong? Kamu tahu, dari kecil sampai sekarang kamu itu neybelin. Sering bilang aku jelek. Suaraku jelek. Sering bentak aku. Sering bilang aku manja, ngga bisa nyelesaiin masalah sendiri, bisanya cuma nangis dan ngga bisa te ...”


Cup


Zayn mencium lagi bibi ranum yang sedari tadi banyak bicara. Zayn kembali ******* lembut bibir itu hingga menyesapnya dalam dan menjadi ciuman panas.


Rara membalas ciuman panas itu. Sambil lidah dan bibir mereka saling ******* dan menyecap, Zayn melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rara. Rara pun melingkarkan kedua tangannya di leher Zayn.


Mereka kembali menikmati ciuman panas yang bergairah dan cukup ganas. Mungkin setelah ini, bibir Rara akan terlihat bengkak.


Si Bibi baru saja ingin masuk ke dapur untuk meletakkan piring kotor, setelah ia makan tadi. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat majikannya di sana.

__ADS_1


“Huh, panas ... panas ...” Si Bibi mengibaskan tangannya ke leher.


Lalu, si Bibi berdiri di luar ruangan itu untuk berjaga-jaga agar Zac atau pun Zoey tidak memasuki area yang sedang di dominasi adegan tujuh belas plus itu, karena selain berciuman panas, si Bibi pun melihat tangan Zayn yang bergerilya di tubuh istrinya dengan meremas dada dan b*k*ng Rara.


__ADS_2