Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Bonchap 8


__ADS_3

“Kamu kenapa?” tanya Zayn melihat Rara yang tak kunjung bicara sejak masih di tempat permainan hingga mereka sudah berada di rumah, bahkan di dalam kamar mereka sendiri.


“Hmm … ngga apa-apa,” jawaban Rara masih sama seperti sebelumnya, karena ini adalah pertanyaan Zayn kesekian kali.


Zayn mendaratkan dirinya di tepi ranjang. Ia masih memperhatikan istrinya yang berkutat dengan beberapa pakaian yang baru saja disetrika oleh si Bibi untuk dimasukkan ke dalam lemarinya.


Zayn tersenyum melihat sang istri yang tengah cemburu. Bukan sehari dua hari, ia mengenal Rara. Ia cukup tahu bagaimana karakter wanita yang menjadi istrinya ini. Sejak kecil, Rara memang paling pintar menyembunyikan kesedihan. Wanita itu paling mahir menahan kekesalahan sehingga orang lain melihatnya tampak baik-baik saja. padahal Zayn yakin bahwa sang istri sedang tidak baik-baik saja.


“Kalau ga apa-apa, ga mungkin kamu diam seperti ini,” ujar Zayn.


“Memangnya mau bicarakan apa?” tanya Rara dengan wajah yang sama sekali tidak menoleh ke arah Zayn. Ia masih bergerak di depan lemari sambil merapikan pakaian di dalamnya.


Di dalam lemari itu cukup berantakan, apalagi bagian tumpukan pakaian Zayn. Pria itu tidak pernah rapi jika mengambil pakaiannya sendiri. Jika tidak disiapkan Rara, Zayn mengambil asal pakaian yang ingin ia gunakan dan membiarkan bagian atas atau bawah tumpukan pakaian itu berantakan.


“Zayn, kamu kalau ngambil pakaian tuh kaya anak kecil. Berantakan semua,” gerutu Rara membuyarkan percakapan tentang kekecewaan Rara yang mengetahui bahwa sang suami meminjamkan kemejanya untuk wanita lain.


Zayn mendekati istrinya yang sedang mengerutu. Lalu, melingkarkan kedua tangannya pada pinggang itu dan menempelkan dagunya di bahu kana Rara. “Ya, aku emang kaya anak kecil. Makanya aku butuh kamu.”


Rara hanya memonyongkan bibirnya tanpa membalas perkataan itu. Sementara, Zayn gemas lalu mengecup leher itu dan menggigitnya.


“Ah. Zayn, sakit.”


Rara mencoba melepaskan diri dari sang suami. Namun, kedua tangan Zayn semakin erat memeluknya.


“Lepas, Zayn.”


“Ngga.” Zayn menggeleng.


“Zayn,” rengek Rara.


“Aku tahu kamu marah sama aku,” ucap Zayn.


“Ngga.” Rara pura-pura mengelak.


“Aku lebih mengenalmu, Sayang. Bahkan kamu sendiri mungin tidak sebegitu besar mengenalku, seperti aku mengenalmu.”


Rara baru menolehkan wajahnya pada sang suami. “Masa?”


Zayn pun tertawa. “Sok kuat. Padahal ngga.” Ia mencubit ujung hidung istrinya cukup lama.


“Sakit, Zayn.” Rara mengusap ujung hidungnya yang hampir memerah karena ulah sang suami.


“Biarin. Abis gemes. Bilang ga apa-apa padahal lagi kesel.”


Rara masih cemberut. “Istri mana yang ga kesel kalau tahu suaminya meminjamkan kemeja pada wanita lain.”


Kini, Rara menampilkan wajah kesalnya pada Zayn. “Terus, kamu juga ga pernah cerita tentang itu.”


“Kalau aku cerita, kamu tetap marah dan cemburu,” jawab Zayn.

__ADS_1


Rara melepaskan diri dari pelukan Zayn. “Tapi paling ngga, aku ga shock karena udah tahu dari mulut kamu dibanding tahu dari mulut wanita itu.”


“Namanya Gladys,” sahut Zayn liri.


“Bodo amat. Mau namanya Mawar, Melati kek. Ga peduli,” kata Rara ketus.


Zayn malah tersenyum. “Galak banget. Tapi kamu semakin sexy kalau galak seperti ini,” godanya.


Rara melirik sekilas ke arah suaminya dan kembali memasang wajah tak bersahabat. “Wanita itu suka sama kamu. Bisa kelihatan dari cara dia mandang kamu.”


“Masa? Ngga ah. Itu perasaan kamu aja, Sayang.” Zayn kembali mendekati Rara dan mencoba meraih tubuhnya untuk dipeluk.


Namun, Rara menghindar sembari tetap mengomel. “Kalau aku yang pinjemin kemeja aku ke pria lain. Kamu juga marah kan?”


“Ngga,” jawab Zayn yakin dengan menggelengkan kepalanya. Padahal jangankan Rara memberi perhatian pada pria lain, memberi senyum saja pada pria lain, Zayn akan marah dan cemberut.


“Bener ya?” tanya Rara menantang sembari melangkah keluar dari kamar itu. Ia kesal dengan sikap Zayn yang menyebalkan.


“Mau kemana?” tanya Zayn melihat Rara hendak meninggalkan kamar ini.


Zayn masih duduk di tepi tempat tidur sembari meraih ponselnya yang berada di nakas.


“Mau bikin brownies.”


“Ngapain bikin brownies malem-malem?” tanya Zayn lagi dengan wajah yang berada di depan layar ponsel, karena ia baru menyalakan benda itu.


“Buat di kasih ke tetangga sebelah, kemarin dia bilang brownies buatanku enak,” jawab Rara dengan senyum jahil sembari hendak membuka pintu kamar.


Pasalnya, Zayn sangat cemburu dengan tetangga sebelah yang merupakan duda beranak dua karena Zayn kerap menangkap duda itu tengah memandang Rara tak berkedip saat sang istri sedang menyiram kebun atau berada di teras. Sepertinya Zayn akan meninggikan tembok pembatas antara umahnya dengan rumah tetangganya itu, agar gerak gerik Rara tak terlihat oleh duda itu. Dan, yang lebih parahnya lagi, si duda itu sering memuji Rara di depannya saat mereka tak sengaja berpapasan diwaktu jogging.


“Zayn, turunin.” Rara merengek.


Namun, Zayn tak menghiraukan dan malah membanting tubuh itu ke ranjang serta menghimpit tubuh Rara dengan kedua kakinya yang ditekuk.


“Zayn, ish.” Rara memukul pelan suaminya dan berusaha bangkit. Namun, Zayn menyeringai sembari kembali mendorong tubuh Rara agar terlentang.


“Zayn, aku mau ke dapur.” Rara berusaha bangkit lagi. Namun, Zayn kembali mendorongnya agar terlentang dan menindih tubuh itu.


“Awas aja kamu buatin dia kue lagi! Yang kemarin itu pertama dan terakhir,” ucap Zayn kesal.


Dua hari lalu, Zayn terkejut ketika si duda itu datang ke rumah ini dan mengembalikan piring. Ternyata, Rara memberikan kue untuknya. Rara yang gemar memberi, tak pernah berpikir sejauh itu terhadap tetangga sebelahnya itu. Hanya Zayn saja yang terlalu terbawa perasaan ketika Rara diperhatikan oleh pria lain.


Rara tersenyum. “Emangnya kenapa?”


“Pake tanya lagi, emangnya kenapa? Dia itu mupeng sama kamu.”


Rara kembali tertawa. “Masa? Ngga ah. Itu perasaan kamu aja, Sayang.” Ia mengemalikan ucapan Zayn tadi.


“Wah ngajak duel,” kata Zayn kesal mendengar Rara membalikkan perkataannya.

__ADS_1


Rangan Zayn menarik paksa tali gaun kimono malam Rara yang ada diatas perutnya.


Sontak, Rara langsung menutup buah dadanya yang tak mengenakan kain setelah kimono itu terlepas. “Zayn ah. Jangan rese deh!”


Zayn tersenyum menyeringai. “Biarin. Itu hukuman buat Cleopatra yang mulai nakal.”


“Yang nakal itu kamu. Kenapa aku yang dihukum? Kamu yang duluan.”


Zayn kembali tertawa. Ia semakin gemas melihat ekspresi istrinya itu. Lalu, Zayn membuka kedua tangan Rara yang menutupi asset di bagian atas itu. Dua benda kenyal yang sering menjadi mainan Zayn disaat malam dan pagi hari.


“Zayn, ah.” Lenguh Rara pasrah saat Zayn menarik paksa kedua tangannya hingga bagian itu pun terpampang di depan wajah Zayn.


“Akan aku buat kamu tidak bisa jalan besok pagi,” ledek Zayn dengan senyum menyeringai.


“Zayn, jangan!” rengek Rara. “Besok pagi aku janji mau anter Zac dan Zoey ke sekolah.”


“Biar, aku yang antar mereka.” tangan Zayn sudah berada di bagian sensitif itu dan memainkannya.


“Ah, Zayn.” Rara tidak pernah tahan dengan sentuhan sang suami. Ia akui, Zayn sangat lihai membuatnya bergairah.


Zayn terus menyungging senyum. Jarinya terus bergerak di sana, hingga terdengar suara merdua dari mulut Rara diiringi matanya yang sayu.


“Zayn,”


“Hmm … call me Daddy.”


“Dad. Eum … Stop!” pinta Rara lirih.


“No.” Zayn menggeleng.


“Kamu nyebelin, Dad.” Rara meringis seiring getaran di bawah sana sembari menahan dada suaminya.


Zayn tersenyum menang. Ia berhasil membuat Rara meledak dan terengah-engah.


“Kamu yang nyebelin, kenapa aku yang dihukum.” Rara kembali memukul suaminya.


“Karena aku ga akan macam-macam. Memilikimu sangat sulit, Ra. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan yang sudah aku miliki hanya untuk orang lain yang tidak aku kenal.”


Rara pun terharu mendengar penuturan Zayn. Namun, rasa haru itu berubah dengan bibirnya yang kembali cemberut. “Memangnya aku akan macam-macam? Aku juga ga bisa macam-macam.”


“Ya kamu tidak. Tapi lelaki itu bisa berbuat nekat kalau kamu memberi sinyal,” sahut Zayn.


Rara mengangguk. “Ya kamu benar. Dulu juga ada yang menyukaiku. Padahal aku ga kasih dia sinyal, tapi dia nekat dan memperkosaku.”


Seketika bibir Zayn kembali tersungging. “Makin pintar jawab ya sekarang.”


Rara pun tertawa.


“Kalau begitu aku akan berbuat nekat lagi seperti dulu,” kata Zayn sembari memulai aksinya.

__ADS_1


“Zayn,” teriak Rara yang tidak bisa menghalau keinginan suaminya yang menyebalkan.


__ADS_2