
Zayn dan Rara duduk di kursi penumpang belakang. Mereka menaiki taksi bersama menuju rumah Zayn, karena Rara sudah berjanji pada Zoey akan menemuinya di sana.
Selama di perjalanan, Zayn dan Rara hanya diam. Walau mereka duduk berdampingan. Rara terus memalingkan wajahnya dan menatap ke jendela. Sedangkan, Zayn bingung harus memulai pembicaraan darimana?
Zayn sesekali menggaruk telinganya yang tak gatal. Ia melihat tangan Rara yang berada di atas pahanya. Ingin sekali Zayn menggenggam tangan itu. namun, itu tak mungkin. Zayn menghargai Rara yang masih marah padanya dan ia pun menghargai Rara yang sudah berpakaian tertutup.
Sesekali, Zayn menoleh ke arah Rara. Ia tersenyum. Sungguh dari samping saja, wanita itu terlihat cantik. Hidung bangir dan mancung itu, membuat Zayn rindu.
Rara sadar bahwa Zayn selalu menatapnya. Lalu, Rara menoleh ke arah Zayn.
“Apa liat-liat?” tanya Rara dengan membulatkan mata ke arah Zayn.
Zayn menggeleng sembari tersenyum. “Ngga apa-apa. Emang ngga boleh.”
“Ngga boleh lah.”
“Pelit,” ucap Zayn yang kemudian meluruskan pandangannya ke depan.
Lalu, Rara kembali memalingkan wajah ke arah jendela sambil tersenyum. Ia ingin memberi sedikit pelajaran pada Zayn bahwa dirinya bisa marah, bisa tidak mudah memaafkan. Walau sebenarnya dari lubuk hati Rara yang paling dalam, ia memaafkan Zayn dan mengerti kondisi Zayn saat itu.
Beberapa menit kemudian, taksi itu sampai di depan rumah Zayn. Zayn memberikan uang pada supir taksi itu.
“Pak, istrinya lagi ngambek?” tanya si supir taksi keypoh. Memang sedari tadi supir itu memperhatikan Zayn dan Rara yang duduk seperti bermusuhan dari balik kaca spion dalam.
Zayn tersenyum ke arah Rara dan mengangguk. Sedangkan Rara yang belum keluar dari mobil itu pun membuatkan matanya lagi.
“Saya kalau istri lagi marah, tel*njang aja depan dia. Nanti istri saya pasti ketawa,” ucap si supir memberi saran sembari menoleh ke belakang dan memberi uang kembalian pada Zayn.
“Wah boleh juga tuh idenya, Pak.” Zayn semakin melebarkan senyumnya ke arah Rara dan Rara semakin membulatkan matanya.
Kemudian, Zayn dan Rara turun dari mobil itu.
Supir taksi itu membuka jendela sebelum ia menjalankan mobilnya dan berkata lagi pada Zayn, “Pak, Jangan lupa saran saya!”
Zayn mengangguk. “Iya, Pak. Akan saya praktekkan. Terima kasih.”
“Ish, nyebeiln.” Rara mencubit lengan Zayn cukup keras hingga pria itu meringis, sesaaat setelah taksi yang mereka naiki tadi pergi.
“Aww ... Sshhh ... sakit, Sayang.” Zayn mengusap lengannya yang perih karena cubitan Rara. Cubitan Rara memang terkenal paling sakit.
“Lagian apa sih? Obrolan ngga mutu. Apanya yang mau dipraktekin?” tanya Rara melirik ke arah Zayn.
Zayn membuka pagar rumahnya. “Yang Bapak itu tadi bilang.”
“Zayn,” teriak Rara. “Ngga lucu. Aku masih marah sama kamu, tahu.”
“Aku tahu. Tapi aku tetap cinta sama kamu. Gimana dong?”
Rara kembali melirik tajam ke arah Zayn. “Ish ... Ngga nyambung.”
“Biarin.”
Zayn kembali menutup rapat pagar rumahnya. Sedangkan Rara langsung berjalan menuju pintu rumah itu.
“Mommy,” teriak Zac dan langsung berlari ke arah Rara.
Rara pun langsung memeluk Zac. “Dimana adikmu?”
“Di kamar. Zoey dari tadi nungguin Mommy.”
__ADS_1
“Oke, kita ke sana. Yuk!”
“Ayo!” Zac begitu riang dan semangat menggandeng tangan Rara menuju kamarnya.
Di balik tubuh Rara, Zayn hanya tersenyum melihat interaksi anak dan ibu itu.
Begitu sampai di kamar Zoey. Rara langsung di sambut Zoey dan Michelle. Zoey tengah disuapi krim sup oleh Michelle, tapi anak kecil itu tidak mau. Zoey ingin menunggu Rara dan disuapi oleh ibunya.
“Zoey, kok ngga dimakan sih supnya?” tanya Rara yang melihat mangkuk ditangan Michelle masih penuh.
“Iya, nih. Zoey jadi manja sejak ada Mommy. Padahal biasanya mau makan sendiri,” jawab Michelle.
Rara tersenyum dan meraih mangkuk dari tangan Michelle. Michelle pun berdiri, membiarkan Rara duduk di tepi ranjang Zoey agar wanita itu lebih dekat dengan putrinya.
“Terima kasih, Michelle.” Rara tersenyum ke arah adik Zayn. “Terima kasih karena selama ini telah menemani Zac dan Zoey.”
Rara mengelus tangan mulus Michelle.
“Tidak apa, Miss. Aku menyayangi mereka, karena aku pun tidak punya adik jadi mereka seperti adikku. Makanya aku tidak mau dipanggil Aunty.” Michelle nyengir.
“Ya, Michelle tidak mau terlihat tua, Mom.” Sahut Zac
Rara dan Michelle pun tertawa.
“Ayo, Sayang! sekarang makan dulu.” Rara meminta putrinya untuk makan dan minum obat.
Zoey mengangguk patuh. Ia pun langsung membuka mulutnya ketika Rara menyuapkan makanan itu. Benar kata Michelle tadi, Zac dan Zoey terlihat manja ketika mengetahui bahwa Rara adalah ibunya. Padahal sebelumnya, kedua anak ini sangat mandiri.
Rara, Michelle, Zac, dan Zoey bercengkrama ria di kamar itu. Mereka berempat saling bercerita dan tertawa. Michelle juga menceritakan tentang dirinya, ayah Zayn yang juga ayahnya, juga Clara, ibu kandung yang merupakan ibu sambung Zayn.
Zac dan Zoey pun ikut memeriahkan cerita itu dengan meragakan gaya Marco dan Clara, ketika mereka berbuat salah.
“Kalau Mama Mirna dan Papa Kemal. Apa kabar? Tempat tinggal kalian berdekatan?” tanya Rara.
“Iya, Miss. Zac dan Zoey terkadang menginap di rumah Uncle Kemal dan Aunty Mirna.”
“Ya, kata Daddy Oma dan Opa juga mau pindah ke sini,” ucap Zac.
“Oh, ya?” tanya Rara.
“Iya, Miss. katanya sih gitu. Mungkin mereka ingin menemani putranya,” sahut Michelle.
“Seru banget sih ngobrolnya,” ujar Zayn yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar putrinya.
Zayn duduk di tepi ranjang yang berseberangan dengan Rara. “Dari tadi Daddy di cuekin nih. Mentang-mentang ada Mommy.”
Zoey sudah menghabiskan sup itu dan kini ia hendak memiun obat.
“Kami kangen Mommy,” kata Zac yang tiba-tiba naik ke ranjang Zoey. Anak lelaki itu ingin berada dekat dengan Rara dan Zayn.
“Kalau begitu Michelle keluar dulu. Kasihan Jack diluar tidak ada yang menemani.” Michel pamit untuk memberi kesempatan pada keluarga sang kakak berkumpul.
“Oh, ya. Suruh dia pulang,” kata Zayn pada adiknya.
Michelle mengangguk.
“Ayo, Zoey! Sekarang minum obatnya,” kata Rara yang sudah menungakan sirup berwarna merah itu di sendok.
“Hmm ...” Kepala Zoey menggeleng sembari menutup mulutnya. “Itu pasti pahit.”
__ADS_1
“Ya, memang pahit. Tapi nanti lukamu cepat sembuh.”
“Kalau tidak diminum memang kenapa?” tanya Zoey pada ibunya.
“Kalau tidak diminum, Zoey akan lama masuk sekolah dan di rumah sendirian,” jawab Rara.
“Iya, Zoey. Besok aku sekolah dan kamu di rumah sendirian. Kalau kamu tidak minum obat. Kamu akan lebih lama di rumah,” sahut Zac pada adiknya.
Rara tersenyum. Zayn pun ikut tersenyum. Memang anak-anaknya membutuhkan ibu. Mereka membutuhkan Rara. Jika saja, Rara mau ia nikahi sekarang, maka esok pun akan ia lakukan.
“Baiklah.” Zoey membuka mulutnya.
Namun, hampir saja sendok itu masuk ke dalam mulut mungil itu, tiba-tiba mulut itu tertutup. “Pahit, Mom.”
“Setelah ini, langsung minum agar pahitnya hilang. Oke!” Rara menyerahkan gelas ke tangan Zoey. “Ayo minum obatnya! Dan, langsung minum airnya! Satu ... Dua ... Tiga.”
Aap
Glek
Zoey melakukan sesuai intruksi sang ibu. Dan, berhasil menelan obat itu hingga tuntas tanpa drama atau dimuntahkan. Padahal selama ini, selalu seperti itu jika Zoey minum obat. Untungnya Zoey memang jarang sakit, karena ia menyukai segala macam buah dan sayuran.
“Yeay ... Zoey hebat.” Zayn memberi applouse pada putrinya.
“Yeay ...” Zac pun bertepuk tangan.
Dan, Rara tersenyum. “Nah, gitu dong anak Mommy. Mommy jadi makin sayang.”
Zoey ikut tertawa bangga kerena ia berhasil menghilangkan ketakutannya untuk minum obat. “Mommy juga sayang Daddy?” tanya Zoey seketika membuat senyum Rara dan Zayn pudar.
“Ekhem ...” Rara berdehem untuk menghilangkan kecanggungan itu.
“Mommy sudah tidak marah lagi dengan Daddy kan?’ tanya Zac.
“Iya, kata Daddy Mommy akan pulang jika sudah tidak marah lagi dengan Daddy,” sambung Zoey.
Rara melirik ke arah Zayn yang juga sedang menatap ke arahnya. Zayn menunggu jawaban Rara.
“Abis, Daddy nyebelin sih. Jadi Mommy butuh waktu buat maafin Daddy. Semoga kalian mengerti ya,” jawab Rara yang membuat Zayn sedih. Ternyata benar, Rara belum memaafkannya.
“Berarti, Mommy tidak tidur di sini?” tanya Zoey.
“Belum bisa, Sayang.” Rara menggeleng. “Tapi tenang, kan kita setiap hari ketemu di sekolah. Setelah itu, Mommy juga akan mengantar kalian pulang dan menemani kalian di rumah hingga malam. Bagaimana?”
Zac dan Zoey mengangguk.
“Hmm ... tapi Mommy sayang kan dengan Daddy?” tanya Zoey lagi, karena pertanyaan itu memang belum dijawab Rara.
Deg
Sontak Rara kebingungan. Harus kah ia jujur? Tapi kejujuran itu pasti akan membuat Zayn diatas angin. Di tambah saat ini, Zayn juga tengah menanti jawaban itu dengan memasang telinga dan wajah yang cukup dekat. Padahal, jika pertanyaan ini dilontarkan dari bibir Zayn, mungkin Rara akan menjawab bohong, tapi ketika Zac atau Zoey yang menanyakan ini, ia tidak bisa berbohong.
Rara menganggukkan kepalanya pelan. “Iya, Mommy sayang Daddy.”
Sontak, bibir Zayn tersungging lebar.
“Kalau begitu mulai minggu depan, Mommy akan tinggal di sini.” ucap Zayn.
“Benarkah, Dad?” tanya Zac dan Zoey riang.
__ADS_1
Zayn mengangguk. Sedangkan Rara, kembali membulatkan matanya ke arah Zayn. Ia belum mengambil keputusan, tetapi Zayn sudah mengambil keputusannya sendiri. Memang benar-benar menyebalkan pria ini. Menyebalkan sekaligus membuatnya rindu setengah mati.
Zayn menyeringai senyum dan menaikkan alisnya. Ia pastikan, minggu depan Rara akan ia tarik ke KUA.