Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Pura pura merajuk


__ADS_3

“Mom, temani Zoey ke sini.” Zoey menarik tangan Rara agar di temani ke sebuah ruangan.


“Miss, saya mau ke sana.” Tangan Rara pun di tarik oleh salah satu siswanya untuk masuk ke ruangan yang lain.


“Miss, saya mau yang itu.” siswa yang lain pun merengek ke arah Rara.


“Sabar, sabar. Tunggu perintah dari Miss Nur. Ya. Sekarang baris dulu. Oke,” jawab Rara lembut pada anak didiknya termasuk anak kandungnya.


Sekolah Zac dan Zoey tengah mengadakan kegiatan di luar. Para siswa terlihat sangat antusias. Rara selaku tim pengajar pun mengikuti acara itu dan menjaga anak didiknya termasuk kedua anaknya sendiri. Kegiatan itu tidak berada di luar kota, karena di dalam kota tepatnya di daerah Jakarta Selatan ada sebuah permainan anak yang menyediakan berbagai macam edukasi dan profesi. Si anak diperkenalkan dengan berbagai macam profesi, karena tempat ini terinspirasi dari pekerjaan-pekerjaan yang ada di industri-isdutri di dunia sesungguhnya.


Miss Nur membagi siswanya menjadi beberapa kelompok dan satu kelompok ditemani oleh guru pembimbing mereka masing-masing. Rara meminta Miss Nur agar kedua anaknya masuk ke dalam kelompok yang ia bimbing.


“Mom, Zac ingin menjadi pilot.” Kelompok Rara lebih dulu mendatangi ruang Aviation Academy.


Di sana anak-anak diberikan pendidikan dan pengalaman tentang tugas-tugas seorang pilot, awak kabin, dan petugas pra penerbangan.


Berbanding terbalik dengan Zac yang sangat antusias di ruangan ini, Zoey justru terlihat bosan. Rara hanya tertawa melihat itu.


Berjam-jam mereka berada di tempat ini hingga semua lelah. Akhirnya, acara pun usai. Semua siswa di giring untuk masuk ke dalam bus dan pulang bersama.


“Miss, saya, Zac dan Zoey ga ikut bus ya. Daddy nya kebetulan lagi kerja di daerah sini dan dia mau langsung jempit kami,” kata Rara pada Miss Zahra selaku kepala sekolah dan pada beberapa guru di sana termasuk Miss Nur yang memang sudah tahu sejak berada di dalam gedung.


“Oke, Miss Rara. Kalau begitu kami duluan ya,” ujar Miss Zahra sambil menepuk bahu Rara.


Zac dan Zoey langsung mengulurkan tangan ke kepala sekolah dan guru-gurunya untuk dicium tanpa Rara menyuruhnya.


“Iya, Miss. Terima kasih.” Rara pun bersalaman dengan tim nya itu dan melihat semuanya masuk ke dalam bus.


Bus mulai bergerak dan berjalan pelan meninggalkan gedung permainan. Menyisakan Rara, Zac, dan Zoey di sana.


“Mom, Daddy jadi jemput kita kan?” tanya Zac.


“Tapi kok Daddy belum sampai?” Zoey pun bertanya.


Zac dan Zoey melihat ke arah luar dan tak tampak mobil sang ayah muncul menghampiri mereka.


“Sebentar, Mommy telepon Daddy.”


Tut ... Tut ... Tut ...


Rara mencoba menelepon Zayn tapi hanya terdengar nada sambung tanpa ada suara Zayn yang mengangkat panggilan itu.


Satu, dua, tiga kali, Rara mencoba menelepon Zayn tetapi masih belum diangkat. Mereka pun sudah menunggu tiga puluh menit.


“Mom, hungry.” Zac merengek sambil memegang perutnya.


“Sebentar, Sayang. mungkin Daddy lagi nyetir jadi ga bisa angkat telepon Mommy.”

__ADS_1


“Apa Daddy masih lama?” tanya Zoey yang terlihat semakin jenuh.


“Sabar, kita duduk di sana.” Rara menunjuk ke sebuah kursi tunggu.


Zac dan Zoey mengikuti langkah ibunya.


Tiba-tiba telepon Rara berbunyi dengan tertera nama ‘Daddy’


“Halo, kamu di mana?” Rara langsung mencecar pertanyaan.


“Di jalan.”


Padahal Zayn baru keluar dari ruangan. Ia memang berada di sebuah hotel yang tak jauh dari tempat Rara menunggu. Ia tengah berdiskusi dengan kliennya di sini.


“Sebentar, Sayang. sebentar lagi aku sampai. Tunggu ya,” ucap Zayn lagi yang baru saja merapikan perlengkapan diskusi tadi dan baru keluar ruangan, lalu berlari menuju parkiran.


“Kalau ga bisa jemput, ga usah dipaksa Dad. Kami bisa naik taksi,” kata Rara kesal.


“Bisa, Sayang. Bisa. Ini lagi di jalan. Sepuluh menit lagi sampai. Tunggu ya!”


“Hmm ... hati –hati!”


“Oke, Sayang. Mmuaachh ...”


Rara tersenyum dan menutup panggilan telepon itu.


Janji Zayn yang akan sampai sepuluh menit justru menjadi satu jam. Rara semakin kesal. Padahal ini tidak akan rumit jika sedari awal Zayn tidak memaksa menjemputnya.


Rara menghela nafasnya sambil melihat jam di tangan kirinya. Tak lama setelah itu, akhirnya ia melihat mobil Zayn masuk dan menghampirinya.


Rara cemberut, wajahnya terlihat ditekuk ketika Zayn keluar dari mobil dan menghampirinya. Tidak ada senyum dari bibir manis itu.


“Maaf, Sayang.” Zayn mencium pipi istrinya.


“Kalau ga bisa jemput, ga usah janji.”


“Maaf. Tadi pas aku mau jalan, aku dihadang lagi dengan klien itu dan kami kembali berbincang sebentar,” Jawab Zayn apa adanya.


Rara kembali menghela nafasnya kasar.


“Sayang, Wake up. Ayo pindah ke mobil!” Zayn menepuk pipi Zac untuk bangun sementara ia menggendong Zoey yang sudah terlelap.


“Daddy lama sekali,” ujar Zac saat membuka matanya.


“Sorry, Dude. I’m sorry.” Zayn memang selalu memposisikan Zac sebagai teman.


Zac masuk ke dalam mobil disertai Zoey yang Zayn letakkan di kursi penumpang belakang. sedangkan Rara sudah duduk di kursi sebelah Zayn dengan wajah yang masih tertekuk.

__ADS_1


Zayn duduk di kursi kemudi. Ia melihat ke arah Rara yang tak melihat ke arahnya. Pandangan Rara lurus ke depan tanpa senyum.


“Kamu marah?” tanya Zayn sambil memakaikan Rara sabuk pengaman.


“Kalau aku sendiri yang nunggu, aku ga marah Dad. Tapi ada mereka.” Rara menunjuk ke arah Zac dan Zoey yang duduk di belakang. “Mereka lelah dan lapar.”


Wajah Zayn tepat berada di depan Rara tanpa jarak. Ia tersenyum. “Beruntung sekali Zac dan Zoey memiliki Mommy sepertimu.”


Zayn mencubit ujung hidung Rara, tapi Rara segera menepisnya.


“Is, masih marah?” Zayn mencubit dagu Rara dan menarik wajah itu agar melihat ke arahnya.


Rara menatap mata Zayn. “Lain kali jangan seperti ini! Kalau ga bisa ga usah menawarkan diri atau memaksa.”


Cup


Zayn mengecup bibir istrinya yang cemberut tanpa kata. Zayn hanya tersenyum.


“Udah jalan!” Rara memerintahkan agar Zayn melajukan mobilnya.


“Oke, my queen.” Zayn kembali duduk dengan benar di kursinya.


Namun, sebelum menancapkan gas, ia kembali memajukan tubuhnya dan hendak mencium bibir Rara.


“Daddy, ayo jalan!” Zac bersuara.


“Ups, sorry. Daddy kira kamu tidur lagi,” jawab Zayn pada Zac.


“I’m hungry.”


Rara tersenyum, karena Zayn gagal beraksi. Zayn kembali duduk di kursinya, lalu menoleh ke arah Rara.


“Nanti kita lanjut di rumah,” ujar Zayn tersenyum ke arah Rara.


Rara menggeleng. “Ogah, aku masih ngambek.”


Zayn tersenyum dan mengelus kepala Rara. “Gemesin. Sampe rumah aku abisin kamu.”


Rara memonyongkan bibirnya ke arah Zayn, lalu kembali mengarahkan pandangan lurus ke depan tanpa ekspresi dan sengaja menahan untuk tidak tersenyum, membuat Zayn semakin gemas.


Zayn mulai menjalankan mobil sambil sesekali melirik ke arah Rara dan ternyata Rara pun tengah melirik ke arahnya, hingga pandangan mereka bertemu, tapi Rara masih mempertahankan mood pura pura merajuk.


“Apa liat-liat? Udah fokus nyetir aja. Ga usah lirik-lirik,” kata Rara.


“Oke, sekarang aku ngalah. Tapi ngga akan kalau udah sampai rumah.” Zayn tersenyum menyeringai.


__ADS_1


__ADS_2