Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Andai ...


__ADS_3

“Mia, ayo makan siang dulu di sini!” ajak Mirna pada ibu Rara.


“Iya, ayolah!” Kemal pun mengajak Sanjaya.


Di ruang makan, Rara dan Manda menyiapkan makanan untuk makan siang. Sedangkan Reza sudah duduk diam di meja makan bersama Noah yang menggunakan kursi sendiri di sebelahnya. Sementara Zayn masih menemani Zac dan Zoey di ruang tengah.


“Ah, ngga usah Mal, Lagi pula aku sudah masak,” jawab Mia.


“Iya, nanti Mia marah kalau masakannya tidak aku makan,” sahut Sanjaya.


Sebenarnya, Sanjaya dan Mia hanya beralasan, karena malas melihat Reza dan istri sirinya itu. Padahal dahulu, Sanjaya dan Mia tidak pernah menolak ajak Mirna atau Kemal untuk makan siang atau makan malam di rumah ini. Namun, kini semua berbeda. Tapi yang membuat Mia heran, Rara tetap saja sama. Putrinya itu selalu baik pada semua orang, termasuk pada orang yang pernah membuatnya terluka. Di sanalah, kelebihan Cleopatra Kamila yang membuat Zayn sangat tergila-gila.


“Yah, baiklah kalau begitu,” ucap Mirna sedih.


“Maaf, ya Mir.” Mia mengusap lengan sahabatnya itu.


“Loh, Bunda sama Ayah mau pulang? Ngga makan sama-sama?” tanya Rara yang melihat kedua orang tuanya pamit.


“Ngga, Sayang. Bunda udah masak buat Ayah. kamu tahu kan kalau Ayah ngga makan makanannya pasti dia cemberut.” Sanjaya menatap istrinya yang dibalas cibiran dari Mia.


Rara tertawa. “Ya udah kalau gitu.”


“Kamu menginap di rumah kan?” tanya Sanjaya pada putrinya.


“Iya lah, Yah. setelah makan siang, kami ke sana.”


Sanjaya mengangguk. “Baiklah, Ayah tunggu.”


Lalu, Sanjaya dan Mia berpamitan pada Kemal dan Mirna, juga pada Zayn sambil menepuk bahu menantu barunya.


Reza berdiri dan menyalami punggung tangan mantan mertuanya itu, padahal baik Sanjaya atau pun Mia tidak ingin berpamitan pada pria itu. Namun, Reza tetap menunjukkan sikap sopan pada mantan mertuanya itu.


“Kalau begitu, Ayo kita makan! Zayn, Ayo!” Kemal mengajak Zayn yang masih duduk di ruang tengah.


Zayn pun berdiri dan mengajak kedua anaknya mengikuti langkah Kemal.


“Zac, Zoey. Ayo!” Mirna melambaikan tangannya ke arah si kembar sambil membentangkan kedua tangannya agar kedua anak itu masuk dalam pelukan Mirna.


Zac dan Zoey pun berlari ke arah Mirna.


“Rumah Oma besar juga,” ucap Zac.


“Ya, lebih besar dari rumah yang di Paris,” sambung Zoey.


Mirna tersenyum. “Ya, ini rumah tempat Daddy dan Kakaknya Daddy bermain.” Mirna menunjuk ke arah Reza yang berwajah datar.


Zac dan Zoey melihat ke arah pamannya yang tak bersahabat. Reza memang tidak begitu menyukai anak kecil. Hanya pada anaknya sendiri ia berusaha dekat.


Zayn melihat ke arah Zac dan Zoey yang juga beralih melihat ke arah sang ayah setelah melirik Reza. Zayn tersenyum. Kemudian, Zac dan Zoey pun tersenyum.


Rara berjalan melewati tempat duduk Reza. Ia berjalan memutar mendekati kedua anaknya dan menyiapkan piring di depan mereka. Sedari tadi Reza terus memperhatikan Rara. Bahkan gerakan tubuh Rara yang melewatinya membuat Reza seketika terdiam. Aroma tubuh Rara langsung terasa memenuhi area penciuman Reza. Aroma yang sangat ia rindukan.


“Kalian mau makan apa?” tanya Rara pada kedua anaknya sambil menundukkan tubuhnya.


“Itu apa, Mom?” tanya Zoey pada ibunya dengan menunjuk makanan yang terlihat menggoda.


“Oh, itu namanya sayur asem.”


“Mommy tidak pernah buatkan itu untukku,” ucap Zoey.


Rara tertawa. “Karena Daddy tidak suka.” Rara melihat ke arah Zayn.

__ADS_1


“Ya, Daddy mu memang tidak menyukai sayur asem,” sahut Mirna.


“Kenapa?” tanya Zac dan Zoey bersamaan.


“Karena asem,” jawab Zayn asal. “Daddy suka yang manis manis, seperti Mommy.”


Sontak Reza pun terbatuk. Ah, Zayn keceplosan. Ia lupa kalau ini bukan rumahnya dan ia lupa di sini ada Reza yang sedari tadi tak menegurnya.


“Sudah jangan bicara terus! Ayo makan!” Kemal mencoba mengalihkan suasana.


Manda duduk di samping Reza. Ia juga melayani suaminya.


“Segini cukup?” tanya Manda ke arah Reza yang hanya diangguki datar oleh pria itu.


Setelah melayani Zac dan Zoey, kini Rara beralih ke kursi suaminya. Reza kembali melirik ke arah Rara yang sedang berjalan ke arah suaminya. Zayn pun melihat itu. Mirna dan Kemal pun menyadari itu, apalagi Manda.


Setelah berdiri di samping Zayn, Rara menuangkan nasi sesuai takaran yang sangat Rara ketahui tanpa bertanya pada Zayn. Rara meletakkan piring itu lalu mengambil mangkuk untuk menuangkan sayur asem ke dalamnya.


“Sayang, aku ngga suka,” kata Zayn yang melihat Rara meletakkan mangkok itu di sampingnya.


“Cobain dulu, enak kok. Zoey dan Zac aja suka.” Rara menunjuk ke arah kedua anaknya yang duduk di seberang mereka.


“Ngga suka, Sayang.” Zayn masih mengelak. Sejak kecil Zayn memang tidak menyukai sayur itu dan Rara pun tahu.


“Cobain dulu. Aku juga ngga suka duren. Terus kamu paksa tadi dan hmm ... Not bad. Ayo coba!” Rara menyodorkan sendok yang berisi sayuran itu ke depan mulut Zayn.


Reza semakin jengah berada di antara Zayn dan Rara. Mereka seperti orang yang tengah memanas-manasinya, padahal sejak mereka datang, Reza sudah panas.


Manda melihat raut wajah suaminya yang kesal tapi tertahan. Ia tahu, saat ini Reza edang tidak baik-baik saja.


Zayn pun membuka mulutnya dan mencicipi makanan yang disodorkan Rara.


Ah, sayangnya yang bertanya ibunya. Kalau Rara yang bertanya pasti Zayn akan jawab “enakan kamu.”


Zayn tersenyum pada Mirna. “Iya, Ma. Enak.”


“Ah, kamu ke mana aja? Giliran Rara yang suapin baru bilang enak,” ledek Kemal, membuat Zayn dan Rara tertawa.


Manda pun tersenyum, kecuali Reza yang tetap fokus memakan makanannya.


Mereka pun menikmati makan siang itu dengan hening. Hanya sesekali terdengar ocehan para anak kecil yang meminta makanan tambahan.


“Ra, tolong ambilin ayamnya,” ucap Reza melihat ke arah Rara sambi menyodorkan piringnya.


Pasalnya, piring yang berisi ayam goreng ada di depan Rara dan entah sengaja atau tidak, Reza meminta makanan yang ada di dekat Rara, sudah dua kali.


Rara pun berdiri dan hendak mengambil piring Reza. Posisi duduk mereka berderet. Rara duduk di samping Zayn, sementara Zayn duduk di samping Noah dengan kursinya dan Reza duduk di samping Noah, setelah Reza baru Manda. Sedangkan Mirna, Kemal, Zac dan Zoey ada di seberang mereka.


“Sini, Mas. Biar aku saja yang ambil.” Manda langsung berinisiatif dan mengambil piring dari tangan suaminya, karena sebelumnya ia kecolongan membuat Rara yang akhirnya melayani permintaan Reza.


Zayn tahu betul bahwa Reza sedang mencari perhatian istrinya. Bahkan ia pun menyadari bahwa sedari tadi sang kakak terus melirik diam-diam ke arah Rara.


Usai makan siang. Reza kembali ke ruang kerja. Zayn berbincang sebentar dengan Kemal dan Mirna bersama Rara juga si kembar. Sedangkan Manda berada di kamar Noah yang uring-uringan dan ingin tidur siang.


“Ma, Pa. Rara pamit ya. Mau ke rumah Ayah dan Bunda,” ucap Rara kepada matan mertua yang kini kembali menjadi mertuanya, walau Zayn bukan anak kandung mereka, tetapi Kemal dan Mirna tetap orang tua Zayn.


Mirna dan Kemal mengangguk.


“Sayang, tunggu ya! Aku mau ketemu kakak dulu,” ujar Zayn sambil mengelus bahu istrinya.


Lalu, Zayn bangkit dan segera melangkahkan kakinya menaiki tangga itu.

__ADS_1


Kemal dan Mirna dapat melihat betapa Zayn sangat mencintai Rara. Segala perhatian dan kelembutan Zayn pada Rara sangat kentara.


Mirna merangkul bahu Rara. “Mama senang akhirnya kamu bahagia, walau bukan dengan putra kandung Mama.”


“Zayn juga sudah seperti putra kandung kita, Ma,” sahut Kemal dan Mirna pun mengangguk.


“Mama,” ucap Rara lirih dan ikut mengelus lengan Mirna yang menempel di bahunya.


Zayn mencari sang kakak di lantai dua. Jika tidak ada di kamarnya, pasti Reza ada di ruang kerja. Benar saja, Zayn melihat dari balik pintu yang sedikit terbuka, menampilkan sosok sang kakak yang sedang duduk di kursi kerja itu dengan menundukkan kepalanya pada kedua tangannya yang dilipat di atas meja.


Perlahan Zayn memasuki ruangan itu. Ia tahu saat ini sang kakak sedang frustrasi. Ia pun tidak menginginkan ini. Juajur, Zayn ingin kakaknya bahagia.


“Kak,” panggil Zayn lirih.


Zayn berdiri di hadapan Reza dan Reza menongakkan kepalanya.


“Apa, mau menunjukkan diri bahwa kamu menang?” tanya Reza sinis.


Zayn menggeleng. “Aku tidak mengambilnya. Kakak sendiri yang mencampakkannya”


“Andai kamu tidak melakukan itu padanya. Semua tidak akan seperti ini,’ ucap Reza.


“Andai kakak tidak menuduhku sebagai penghianat. Aku mungkin tidak akan kesal dan melakukan itu. Aku tahu aku salah, Kak. Tapi aku berusaha mati-matian untuk tidak menunjukkan rasa suka aku padanya, karena aku sadar dia milikmu.”


Seperti kata Rara, saat kecil Zayn memang selalu ketus padanya. Sering mencela dan mengejeknya. Walau pada akhirnya, ketika Rara bermasalah, Zayn yang selalu terdepan. Sikap Zayn yang ketus, sering mengejek dan mencela Rara, hanya sebagai pengalihan agar cinta Zayn pada wanita itu tidak terus bersemi. Namun, seiring tumbuhnya mereka, Zayn semakin terpesona pada Rara dalam diam.


“Ah, bulshit.” Reza mengibaskan tangannya.


“Andai kakak bisa berada di posisiku waktu itu, mungkin kakak akan melakukan hal yang sama. Apalagi saat itu aku baru beranjak dewasa, yang hanya mengedepankan n*fsu tanpa logika.” Zayn menunduk. “Aku minta maaf, Kak. Jujur aku tidak ingin melihat kakak seperti ini. Aku ingin kakak bahagia.”


Reza terdiam.


“Andai kakak menjaganya dengan baik. Aku tidak akan mengambilnya. Bahkan jika ingatannya kembali saat kakak masih bersamanya dan Rara menginginkan anaknya. Aku akan ikhlas memberikan mereka untuk kakak dan Dia.”


Sedari tadi kata ‘nya’ dan ‘dia’ yang ada dalam percakapan kaka beradik ini adalah Rara.


Reza kembali terdiam. Ia bungkam. Sejak lama, Zayn menginginkan momen ini. Ia ingin mengutarakan segala isi hatinya pada Reza sekaligus meminta maaf lagi atas apa yang telah ia lakukan pada sang kakak.


“Aku minta maaf, Kak. Sungguh, aku menyayangimu. Aku ingin melihatmu bahagia,” ujar Zayn yang kemudian hendak pergi meninggalkan Reza yang masih duduk di kursinya.


Reza memikirkan kembali perkataan Zayn. Mungkin sudah waktunya ia menerima takdir.


“Zayn,” panggil Reza.


Zayn pun membalikkan tubuhnya kembali hingga kedua pria ini saling berhadapan dengan jarak.


Sepertinya, Reza akan menuruti perintah sang ayah. Ia akan menyimpan cintanya di lubuk hati terdalam dan fokus pada Noah serta anak yang sedang dikandung Manda. Walau ia tak mencintai Manda dan mungkin tidak akan pernah mencintai wanita itu, tapi ia akan menjadi orang yang berguna untuk anak-anaknya nanti.


“Aku memaafkanmu.”


Zayn pun tersenyum dengan kalimat yang keluar dari bibir Reza.


Reza mengalah, karena ia pun melihat rona bahagia dari mantan istrinya itu sedari tadi. Sontak, Zayn pun berlari ke arah Reza. Sang adik memeluk kakaknya, seperti dulu, saat mereka masih kecil.


“Terima kasih, Kak.” Zayn memeluk tubuh sang kakak dan untuk pertama kalinya sejak insiden itu, Reza membalas pelukan Zayn.


“Bahagiakan dia, karena jika tidak, aku akan mengambilnya lagi,” ucap Reza.


Zayn melonggarkan pelukan itu. Ia pun tersenyum. “Pasti, Kak. Aku pasti akan membahagiakannya dan tidak akan ku biarkan kakak mengambilnya lagi,” ledek Zayn.


Reza pun tersenyum. Kini hatinya jauh lebih tenang. Lalu, mereka kembali berpelukan sebelum Zayn pamit dan pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2