
Sedari tadi Manda berdiri di depan pintu rumahnya untuk menunggu kedatangan Rara. Suatu kehormatan baginya karena Rara sudi menemuinya lagi setelah kejadian itu. Manda berharap ini adalah awal yang baik untuk hubungan rumah tangga antara dirinya dan Rara dengan suami yang sama. Manda berharap mereka bisa hidup rukun di dua cinta dalam satu atap, walau mereka nantinya akan tinggal di kota berbeda.
Harapan Manda terlampau tinggi. Ia belum mengenal Rara. Wanita yang terlihat lemah diluar, tetapi memiliki hati sekuat baja itu tidak mungkin mau menerima suaminya kembali.
“Mbak Rara,” teriak Manda dan langsung berlari menghampiri Rara yang baru saja keluar dari mobil yang ia pesan melalui jasa aplikasi online.
Rara tersenyum. Melihat Rara dengan raut wajah damai, membuat Manda semakin yakin bahwa suaminya telah menyelesaikan urusan mereka dengan baik.
“Mbak Rara, maafin aku.” Manda langsung memeluk Rara dan menangis.
“Ngga apa-apa, Nda. Semua sudah terlewati.” Rara mengusap punggung Manda.
Memang ikhlas itu nikmat. Bertemu Manda rasanya tidak lagi semarah dulu. Saat ini ia benar-benar sudah berdamai dengan semua yang terjadi.
“Kamu tidak mengajakku masuk? Sepertinya hari ini cuaca sangat panas,” kata Rara menyindir Manda karena sedari tadi mereka hanya diluar dengan sorot matahri yang cukup terik.
“Oh iya, aku sampai lupa.” Manda segera menghapus airmata yang membasahi pipinya dan mengajak Rara masuk.
“Mana Noah?” tanya Rara ketika menginjak ke dalam rumah itu.
“Bunda ...” Noah langsung berlari ke arah Rara.
“Hai, jagoan Papa Reza. Lagi ngapain?” Rara mengajak Noah untuk bertos ria dan mencium pipinya.
“Maen lobot-lobotan.”
“Wah, Bunda ikutan main dong.” Rara langsung digiring oleh Noah ke tempat mainan yang berserakan itu.
“Bunda ga ama Papa?” tanya Noah.
“Hah?”
“Iya, Mbak. Kemarin Noah nangis nanyain papanya dan aku bilang Papa lagi ada urusan sama Bunda. Terus Noah langsung ngga nanyain lagi.”
Ternyata, perlahan Manda sudah mengajak Noah untuk mengerti pentingnya posisi Rara bagi ayahnya.
“Kemarin aku sudah mengajak Kak Reza, tapi sepertinya dia sedang banyak urusan yang tertinggal karena urusan kita kemarin.”
Manda beralih ke dapur. Lalu, Rara mengikutinya.
“Oh iya, sebenarnya aku tidak lama di sini. Ayah sama Bunda nungguin aku di hotel buat balik ke Jakarta.”
__ADS_1
“Di hotel? Kenapa nginep di hotel? Kok ngga di apartemen Mas Reza.”
“Hmm ... aku ke sini juga sekalian mau bicarakan itu. Aku dan Kak Reza sudah bercerai.”
Prang
Manda terkejut dan menjatuhkan sendok yang berada di tangannya. Ia pun langsung bersimpuh di kaki Rara.
“Jangan, Mbak! Aku mohon jangan hukum Mas Reza. Dia sangat mencintai, Mbak.”
Rara memegang bahu Manda dan mengajaknya untuk berdiri. “Masalahnya bukan hanya karena kesalahan ini, Nda. Dari awal kami memang seharusnya tidak menikah. Banyak hal yang terjadi dan finaly memang keputusan ini adalah keputusan yang terbaik buat aku dan suamimu.”
“Mbak,” panggil Manda lirih. Airmatanya kini jatuh lagi.
“Maafin aku, Mbak. Aku tidak bermaksud merusak rumah tangga, Mbak.”
“Ngga, Nda. Dari awal rumah tangga kami memang tidak sebaik yang dilihat orang. mungkin karena kami sama-sama cinta buta, jadi tidak terlihat sesuatu yang sebenarnya terjadi.”
Manda masih menangis dan menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka ekspektasinya berbanding terbalik. Semula ia pikir Rara datang ke rumah ini karena telah menerima dirinya sebagai madu dan menganggapnya sebagai adik.
“Sudahlah, semua sudah terjadi. Kak Reza sudah menalakku, tinggal urusan pengadilan aja.”
“Mbak, mengapa seperti ini? Aku berharap kita bisa hidup damai bersama.”
Manda terdiam. Kata-kata Rara benar-benar masuk hingga menusuk tepat di dadanya. Ia terlalu naif menyamakan apa yang ada dipikirannya dengan pikiran orang lain. Jika Manda bersedia menjadi yang kedua, belum tentu Rara bersedia menjadi yang pertama.
Manda bisa menerima pernikahan ini karena posisinya adalah yang kedua, karena biasanya istri muda jauh lebih di sayang dibanding istri tua. Ditambah Manda juga memiliki apa yang tidak bisa dimiliki Rara. Coba saja jika nanti Reza menikah lagi dan ia menjadi istri pertama, mungkin Manda baru bisa merasakan apa yang Rara rasakan saat ini.
“Aku titip Kak Reza sama kamu.” Rara menepuk bahu Manda. Sedangkan Manda masih diam mematung.
Rara mengambil sendok dan mengambil alih membuat minuman dingin itu. “Oh, iya. Kak Reza tuh suka banget nasi goreng sosis. Dia juga suka sate kambing, gulai kambing. Pokoknya daging-dagingan gitu deh. Dia tuh paling ngga suka sayur. Sayur yang dia suka cuma sop sama tumis buncis.”
Rara tertawa. Tapi tidak dengan Manda.
Kemudian, Rara menoleh ke arah Manda. “Kok kamu diem aja, sih.”
“Aku ngga mau seperti ini, Mbak. Kalau ada orang yang harus pergi, itu adalah aku,” ujar Manda.
Ya, andai gadis ini tahu. Suaminya memang lebih memilih Rara dibanding dirinya. Bahkan Reza merencanakan akan mendepak manda setelah gadis itu melahirkan anak keduanya. Sadis sekali mantan suaminya itu.
Rara menggeleng.
__ADS_1
“Ada Noah dan bayi ini di antara kalian.” Rara mengelus perut Manda. “Kalau denganku? Tidak ada.”
Manda kembali memeluk Rara dan menangis. “Ampuni aku, Mbak. Ampuni aku.”
Rara menghelakan nafasnya kasar. Nyatanya ia masih belum setegar yang dirinya bayangkan. Melihat Manda menangis, kini ia pun ikut menangis. Padahal ia sudah berjanji tidak akan menangis lagi.
Itu adalah kali terakhir, Rara bertemu Manda dan Noah.
****
Satu bulan kemudian. Rara hadir di persidangan terakhir perceraiannya dengan Reza. Sejak pertama sidang perceraian itu di gelar, Reza tak pernah hadir. Menurut Kemal, Reza memang tak bisa hadir dalam persidangan ini, karena jika ia hadir dan melihat wajah Rara lagi, ia pastikan persidangan itu tidak akan berjalan lancar, bahkan bisa jadi ia akan mengamuk dan membatalkannya.
Rara pun tidak masalah, yang penting urusannya dengan sang mantan suami selesai. Ia ingin menata hidupnya kembali.
Setelah Reza mengantarkan Rara dari rumah sakit menuju hotel di kota Bandung, Rara tak lagi bertemu pria itu hingga saat ini. Rara pun tak pernah mencari tahu tentang Reza atau pun tentang Zayn. Ia sudah mengubur masa lalunya sedalam mungkin, bahkan Rara telah mengganti nomor ponsel, termasuk penampilannya.
Kini, Rara berbalut hijab. Wanita itu terlihat lebih anggun dan mempesona. Ia merasa jauh lebih tenang ketika menyerahkan segala urusannya pada sang khalik. Kakinya melangkah lebih ringan.
Menurut Mia, Reza tetap tinggal di apertemen yang dulu ditempati Rara dan Reza. Pria itu tetap mendatangi Manda pada minggu kedua saja, hanya bertandang ketika ia memantau keadaan pabriknya di sana. Sikap Reza ke Manda pun tidak berubah. Malah pria itu menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Kedatangan Reza ke rumah itu hanya untuk Noah.
Sedangkan Zayn, menurut Mirna dan Kemal, Zayn sudah kembali ke Paris setelah menyelesaikan projeknya di Lembang.
Tok ... Tok ... Tok
Akhirnya hakim mengetuk palu, menandakan Rara resmi bercerai dari Reza secara gama dan negara. Lalu, Rara memeluk Ayah dan ibunya, kedua orang yang selalu menemani Rara selama persidangan berlangsung.
Di sana, juga ada Kemal dan Mirna. Mereka sengaja belum kembali ke Paris selama urusan Rara dan Reza belum selesai.
Usai persidangan itu, Mirna dan Kemal mendekati Rara dan kedua orang tuanya.
“Maafin Mama, Sayang.”
“Tidak ada yang salah, Ma. Ini semua sudah takdirNya.”
“Mama tetap akan menganggapmu putri Mama,” kata Mia lagi.
Rara mengangguk. “Terima kasih, Ma. Rara juga selalu menyayangi Mama dan Papa.” Arah mata Rara tertuju pada Kemal yang sedang tersenyum ke arahnya.
Lalu, mereka pun berpelukan bersama.
Dari kejauhan, Reza hanya bisa melihat Rara tanpa bisa di sentuh. Tanpa sepengetahuan Rara, Reza memang selalu mendatangi Yayasan tempat Rara mengajar, hanya untuk melihat dari jauh wanita yang selalu bertahta di hatinya. Bahkan Reza yang semula menonaktifkan media sosialnya sejak lima tahun lalu, kini ia mengaktifkan kembali hanya untuk menjadi stalker Rara dan mengintai keseharian mantan istrinya itu. Semua ini ia lakukan hanya untuk menghilangkan kerinduannya pada Rara.
__ADS_1
Rara juga baru mengaktifkan sosial medianya lagi, karena pasca menikah, ia dan Reza sepakat untuk tidak menggunakan sosmed agar terhindar dari orang ketiga. Padahal orang ketiga hadir bukan hanya dari sosmed walau banyak yang terjadi seperti itu. Di sosial media milik Rara juga sudah tidak ada lagi foto Reza yang tengah bersama dengan Rara, padahal dulu sebelum menikah, Rara sering mengunggah foto kebersamaan dan kemesraan mereka. Sedangkan di apartemen Reza, foto Rara masih tetap ada dan semua tata letaknya tidak ada yang berubah.
Benar kata Sanjaya, sepertinya Reza akan menyesali kesalahan itu seumur hidupnya.