
Zayn membuka kedua matanya, ia melihat raut wajah istrinya yang teduh. Seketika bibirnya menyungging senyum. Lalu, tangannya terangkat untuk mengelus wajah cantik itu. semalam, Zayn sampai ke rumah ini cukup larut. Sesampainya di dalam kamar, ia mendapati Rara sudah terlelap. Ia pun tak ingin menganggung istrinya dan setelah membersihkan diri, ia ikut berbaring di samping Rara, lalu terlelap sambil memeluk tubuh sang istri.
Zayn masih bermalam di rumah orang tua Clara. Zac dan Zoey juga masih betah liburan di kota ini bersama Marco, Clara, dan juga Michelle. Ibu sambung Zayn itu memang hanya tinggal bersama ayahnya saja di rumah ini, karena kebetulan wanita paruh baya itu adalah anak tunggal.
Perlahan, Rara membuka mata karena gerakan tangan Zayn yang mengusik tidurnya. Sedetik kemudian, Rara tersenyum. “Maaf semalam aku ketiduran.”
Zayn pun ikut tersenyum. “Ngga apa-apa.”
Keduanya berbariing dengan saling berhadapan. Tangan Zayn masih setia mengelus pipi, hidung, dan dagu Rara yang panjang.
“Kamu pulang jam berapa?” tanya Rara.
“Hmm ... jam berapa ya? Dua belas mungkin.”
“Katanya sebentar,” protes Rara.
Zayn tersenyum. “Maaf.” Lalu, ia kembali mengingat nama wanita yang disebutkan Sam semalam. Ia ingin menanyakan nama itu pada Rara.
“Sekarang jam berapa, Dad?” tanya Rara sambil merentangkan tubuhnya.
Arah mata Rara tertuju pada jam dinding.
“Belum subuh. Mungkin sebentar lagi,” sahut Zayn.
Rara mengangguk. Lalu Zayn mendekatkan tubuhnya pada tubuh Rara dan memeluknya.
“Sayang, kalau nama istri Kak Reza sekarang, siapa deh?” tanya Zayn.
“Manda.”
“Maksudku, nama panjangnya.”
“Sarasmanda. Kenapa?” tanya Rara dengan menatap Zayn
Zayn terdiam sejenak. “Apa da orang yang sama, yang dicari Sam.”
“Dicari Sam? Maksudnya?” tanya Rara.
“Ya semalam Sam cerita tentang kisahnya dengan wanita yang bernama itu. Aku juga ngga tahu apa hanya kebetulan namanya sama atau memang wanita yang sama.”
“Terus?” tanya Rara antusias hingga tubuhnya ia arahkan ke arah Zayn.
Namun, baru saja Zayn akan menceritakan pada Raar tentang apa yang diceritakan Sam, tiba-tiba ponsel Zayn berdering.
“Sebentar, Sayang.” Zayn mengambil ponselnya dan tertera dan Mirna di sana.
“Siapa?” tanya Rara sesaat ketika Zayn melihat layar ponselnya.
“Mama. Tumben Mama telepon pagi-pagi sekali,” ucap Zayn yang kemudian menekan tombol hijau di layar itu.
“Iya, Ma.”
“Zayn ... Hiks ... Hiks ... Hiks ...” suara Mirna terdengar parau dengan sedikit terisak.
“Mama kenapa? Mama ngga apa-apa kan?” tanya Zayn panik.
Rara pun ikut panik dan mendekat ke tubuh suaminya agar bisa mendengar percakapan suami dan ibu yang telah membesarkannya itu. Lalu, Zayn menekan loudspeaker.
“Anak Reza, Zayn.”
“Noah? Kenapa Noah?” tanya Zayn.
“Bukan, bukan Noah. Tapi anak yang ada di dalam kandungan istrinya.”
__ADS_1
“Manda sudah melahirkan, Ma?” tanya Rara tak sabar mendengar Mirna yang ebrkata hanya sedikit-sedikit.
“Ya, dia sudah melahirkan. Tapi ...”
“Tapi, kenapa Ma? Mama bicara jangan setengah-setengah!” ujar Zayn.
“Anaknya tidak dapat tertolong, Zayn. Anak kedua Reza meninggal,” jawab Mirna.
“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un,” sahut Zayn dan Rara bersamaan.
“Kalau begitu, kami kesana sekarang, Ma,” ucap Zayn yang kemudian meminta Mirna menyebutkan nama rumah sakit beserta ruangannya.
Lalu, Zayn menutup telepon itu. Rara dan Zayn segera mengganti pakaian dan berangkat menuju rumah sakit setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Di dalam mobil, Rara gelisah. Ia dan Zayn ikut panik mendengar berita ini.
Di rumah sakit MM Hospital Bandung, Reza termenung. Berkali-kali Kemal memarahi putranya atas apa yang telah Reza lakukan pada istrinya. Di ruang tunggu, Reza terduduk lemah. Saat itu, si Bibi tidak bisa menandatangani operasi persalinan, karena menunggu kedatangan Reza sebagai suaminya yang berhak memutuskan tindakan medis itu. Padahal saat itu air ketuban di dalam perut Manda sudah kering, hingga ketika operasi berlangsung dan bayi dikeluarkan, dokter tidak berhasil memacu detak jantung bayi itu. Apalagi, Manda melahirkan dalam kondisi bayi yang belum saatnya dilahirkan.
Ini adalah masa keterpurukan Reza yang paling terpuruk. Ia merasa tidak berguna karena terus melakukan kesalahan pada orang-orang yang ia cintai. Bukan untuk Manda tapi untuk bayi yang dikandung Manda dan untuk Rara dulu. Keegoisan dan keangkuhannya, menjadikan semua berantakan. Seharusnya sejak dulu ia bersyukur atas apa yang telah ia miliku. Seharusnya dari awal ia menerima takdirnya dan puas atas apa yang ia punya.
Reza menangis di kursi itu. Sedangkan Kemal mengurus administrasi agar bayi yang baru saja dilahirkan Manda segera dimakamkan. Di dalam ruang perawatan, Mirna menemani menantunya. Mirna iba melihat kepedihan wanita itu.
“Kak,” panggil Zayn berdiri dihadapan Reza.
“Zayn.” Reza langsung memeluk tubuh adiknya. “Anakku meninggal Zayn.”
Zayn pun tak kuasa melihat keterpurukan sang kakak. Ia ikut menangis melihat Reza yang menangis, karena Zayn tak pernah sekalipun melihat sang kakak mengeluarkan air mata.
Rara berdiri di belakang Zayn. Ia mengelus punggung Reza yang tengah berpelukan dengan adiknya. “Yang sabar, Kak.”
Reza melerai pelukan itu dan menoleh ke arah Rara. Pria itu langsung memeluk tubuh Rara. “Maafkan aku, Ra. Aku banyak dosa sama kamu. Tolong, maafin aku.”
Rara pun tak kuasa meneteskan air mata. Kepalanya menggeleng. “Semua sudah berlalu, Kak. Kita semua salah dan kita juga sudah saling memaafkan.”
Reza kembali menangis. “Aku juga sayang kalian.”
Hati Reza sedikit tenang dan lega. Ternyata, kini ia bisa menerima keadaan. Ia seperti dejavu saat berpelukan bersama. Ia ingat ketika Kemal bersikeras mengharuskan Reza berkuliah di fakultas yang sama sekali tidak ia sukai, dan saat itu Rara bersama Zayn menjadi orang yang menyemangatinya. Seperti saat ini.
Setelah menenangkan Reza, Rara beralih ke kamar perawatan untuk bertemu Manda. Sementara Reza masih ditemani Zayn.
Rara berjalan perlahan memasuki ruangan itu. Ia melihat Mirna yang sedang menemani menatunya di sana. Kemudian, Manda pun menoleh ke arah Rara yang tengah berjalan menghampirinya.
“Mbak Rara,” panggil Manda lirih sambil membentangkan kedua tangannya.
Rara berlari ke arah Manda dan memeluk tubuh rapuh itu.
“Maafkan Manda, Mba. Maaf karena telah merusak rumah tangga, Mbak. Manda sudah terima balasannya. Ma ...”
“Ssstt ...” Rara yang sudah meneteskan air mata pun menutup bibir Manda yang terus berkata maaf.
Rara menggelengkan kepalanya sambil keduanya ebrtatapan. “Semua orang melakukan kesalahan. Tidak terkecuali aku. Dan, selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Yang penting, kita tidak melakukan kesalahan itu lagi dikemudian hari.”
“Mbak.” Manda kembali memeluk erat Rara.
Rara mengusap kepala Manda. Sedangkan Mirna, hanya bisa menyaksikan kedua wanita itu. Mirna akui memang hati Rara begitu lembut dan baik. Ia tidak pernah menjudge orang lain dan selalu berpikir positif. Mirna pun beranjak keluar dari ruangan itu dan membiarkan Manda bersama Rara.
“Sabar, Nda. Selalu ada pelangi setelah hujan. Yakinlah, bahwa akan ada kebahagiaan setelah ini.”
Manda menggeleng. “Tidak akan, Mbak. Aku ngga akan bahagia. Mas Reza sudah membenciku.” Manda menceritakan kronologis malam itu dan ia juga menceritakan bahwa ada pria lain yang menyentuhnya sebelum Reza.
“Jadi Noah?” tanya Rara.
Manda menggeleng. “Aku ngga tau Noah anak dia atau Mas Reza. Yang aku tahu setelah itu aku tidak lagi datang bulan hingga dinyatakan hamil.”
__ADS_1
Rara kembali memeluk Manda.
“Aku tidak berniat menjebak Mas Reza, Mbak waktu itu, tapi aku juga salah karena membiarkan Mas Reza melakukannya padaku.”
“Sudahlah, Kamu jangan banyak pikiran. Saat ini yang penting adalah kondisimu,” ucap Rara menenangkan Manda karena baginya, ia sudah tidak memerlukan penjelasan itu.
“Sebenarnya aku juga tidak minta pertanggung jawaban dari Mas Reza, Mbak. Tapi Mas Reza sendiri yang menawarkannya waktu itu.” Manda kembali bicara.
“Ya, sudahlah. Tenanglah, Nda.” Rara terus menenangkan wanita itu ditemani oleh beberapa medis yang baru saja masuk ke sana.
Kemudian, suster itu menyuntikkan obat ke infusan Manda. Wanita itu terlihat lebih tenang. Rara menemani Manda hingga wanita itu terlelap.
Rara miris melihat keadaan Manda. Ia pun mengurus wanita itu dengan telaten. Tidak ada rasa sakit hati sedikit pun pada Manda. Hanya saat kejadian itu saja, Rara merasa sakit hati. Tapi sekarang, rasa itu hilang berganti dengan sedih dan rasa iba yang luar biasa. Hikmah dari kehadiran Manda dan kesalahan Reza adalah membuat Reza dan Rara berpisah. Namun, siapa sangka dari berpisah itu, justru Rara merasakan cinta sesungguhnya dan bahagia bersama anak-anak mereka.
Begitu pun dengan Reza dan Manda. Ada hikmah dibalik musibah ini. Kini Reza menyadari keegoisannya. Ia tak lagi seangkuh dulu, bahkan kata maaf sudah sering terlontar dari bibirnya. Hatinya pun tak sekeras dan sedingin dulu, karena keterpurukan itu membuat gunung es itu mencair. Manda juga tak lagi memaksakan kehendaknya. Ia sadar bahwa Reza memang tidak pernah bisa membuka hati untuknya. Ia pun pasrah, ketika nanti Reza akan menalaknya.
Keluarga Reza tengah berkabung. Anak kedua Reza dimakamkan di jakarta, di kompleks pemakaman umum yang tak jauh dari tempat tinggal Kemal. Semua kerabat, teman, bahkan kolega Reza dan Kemal berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa.
Zayn, Rara, dan orang tua Rara pun selalu menemani keluarga mereka. Rara yang selalu menemani Manda, lalu Zayn yang juga selalu menemani Reza. Noah pun ditemani oleh Zac dan Zoey. Kemudian Mirna dan Kemal yang selalu mendapat support dari Sanjaya dan Mia.
Musibah itu, membuat keluarga mereka kembali menyatu. Itulah hikmahnya dan hingga kini Reza belum melakukan tes DNA untuk Noah. Ia menunggu masa berkabung usai.
“Apa rencana kakak nanti?” tanya Zayn yang sedang berada di ruang kerja bersama Zayn.
“Melakukan tes DNA pada Noah,” jawab Reza.
Reza menceritakan semua kisahnya dengan Manda pada Zayn. Walau Zayn tahu pria pertama Manda adalah sahabatnya yang bekerja dengannya, tetapi Zayn tidak mengatakan itu pada Reza. Ia cukup menjadi pendengar sang kakak saja.
“Kapan?” tanya Zayn lagi.
“Setelah empat puluh hari Nabila.”
Ya, anak yang dilahirkan Manda berjenis kelamin perempuan. Seharusnya mereka bahagia karena Nabila menjadi pelengkap buah hati mereka. Namun bagi Reza takdir ini adalah yang terbaik. Walau ketika kehilangan Nabila begitu menyesakkan dada, tapi kini ia mengerti maksud takdir ini. Tuhan tidak membiarkan Nabila menderita karena ulah orang tuanya.
“Jika hasilnya, Noah adalah anakmu. Kamu akan tetap menceraikan Manda?” tanya Zayn.
Reza mengangguk. “Ya.”
“Lalu, bagaimana dengan Noah?” tanya Zayn lagi.
“Kami tetap akan membesarkannya bersama, walau tanpa ikatan. Aku tidak bisa hidup dengannya, Zayn. Aku tidak mencintainya.”
Zayn menghelakan nafas. “Maafkan aku, Kak.”
Reza tersenyum. “Kenapa minta maaf?” tanyanya.
“Karena aku mengambil wanita yang kamu cintai.”
“Tapi dia lebih mencintaimu,” ucap Reza.
Zayn menoleh ke arah kakaknya. Begitu pun Reza. Mereka saling bertatapan.
“Tatapan mata Rara kepadamu, tidak seperti tatapan matanya padaku. Aku juga pernah menjadi suaminya. Dan, aku merasakan perbedaan itu,” kata Reza sambil tersenyum tipis.
“Kak,” panggil Zayn yang merasa tak enak mendengar kalimat itu.
“Itu kenyataan, Zayn. Dan, aku menerimanya. Kita memang sama-sama mencintai Rara. Tapi yang terpenting adalah siapa yang dicintai Rara dan jawabannya adalah kamu.”
“Kakak juga pasti akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Rara nantinya. Pasti,” jawab Zayn dengan yakin.
Reza tertawa. “Semoga.”
Kini, hubungan Zayn dan Reza benar-benar sudah kembali seperti dulu. Kakak beradik yang saling menyayangi. Reza pun belajar untuk mencintai Rara seeprti adiknya sendiri.
__ADS_1