
"Zayn di sini, Pa? Ngapain?" tanya Reza pada Kemal saat Rara selesai membereskan piring ke dapur.
Reza dan Kemal masih duduk di meja makan.
"Dia ada projek di Lembang," jawab Kemal sembari menyesal air mineral dari gelas yang tengah ia oegang dengan tangan kanannya.
"Ah, si*l." umpat Reza.
"Sudahlah, kamu tidak usah berlebihan seperti itu. Toh Rara sudah jadi istrimu. Yang penting jaga dia baik-baik. Jangan kamu sakiti dia!"
Deg
Reza langsung merasa tersentil dengan perkataan sang ayah. Ya, saat ini ia sudah tidak menjaga Rara dengan baik, ia sudah menyakitinya.
Reza duduk mematung. Suaranya terasa tercekat. Ia tak mampu membalas perkataan sang ayah.
Kemal pun berjalan kembali menuju kamarnya. Ia ingin menelepon istrinya, karena sejak tiba di kota ini ia belum mengabarkan sang istri. Ia juga ingin menelepon Zayn, karena anak itu melanggar janjinya dan telah menemui Rara diam-diam. Padahal Zayn dan Rara tidak sengaja bertemu.
Di dapur, Reza langsung menghampiri Rara yang sedang mencuci piring. Ia berdiri persis di samping istrinya itu.
"Jadi kamu bertemu Zayn?" tanyanya.
Rara mengangguk dengan tetap berfokus pada cucian piring yang hampir selesai.
"Kenapa tidak bilang?"
"Kamu tidak tanya."
"Ra, aku sedang bicara padamu." Reza menarik lengan Rara untuk menatapnya.
"Aku lagi nyuci piring, Kak. Lagian kenapa kamu sebegitunya benci terhadap Zayn? karena dia tidak hadir di pernikahan kita? Atau karena yang lain?" tanya Rara menyelidik.
Reza terkejut. Ia terdiam karena Rara tidak boleh tahu kejadian itu, Rara tidak boleh tahu bahwa Zayn juga mencintainya. Biar dia hanya tahu bahwa Zayn adalah adik iparnya saja.
Rara dan Reza saling bertatapan dekat. Keduanya terlihat tidak baik-baik saja.
Kemudian, Rara melepaskan tatapannya dan kembali membersihkan piring yang tersisa.
Reza menghelakan nafas. Ia ingin sekali marah, tapi tidak bisa. Semua amarahnya tertahan.
"Kalian kemana saja hingga larut malam?"
__ADS_1
"Hmm... hanya jalan-jalan dan makan siang. Mengenang zaman putih abu-abu dulu. Aku dan Zayn memang sering jalan-jalan kan."
Reza mengepalkan tangannya. "Brengs*k, aku kecolongan," batin Reza.
Ya, ia tak seharusnya terlena dengan keluarga barunya hingga mengabaikan Rara. Ia tak ingin Rara dan Zayn dekat kembali.
"Kamu tahu, tidak seharusnya seorang istri terlalu dekat dengan adik suaminya. Dulu kalian boleh dekat karena kita belum menikah, tapi sekarang kita sudah menikah dan kamu tidak boleh sedekat dulu dengan Zayn."
Rara mengeryitkan dahinya, setelah mengelap kedua tangannya usai mencuci piring.
"Banyak berita-berita tentang affair antara istri dengan adik iparnya," kata Reza lagi.
Rara tertawa sinis. "Kamu berlebihan, Kak."
Lalu, Rara berjalan meninggalkan Reza sembari menggelengkan kepala. Ia bingung dengan jalan pikiran suaminya. Ia tidak mau istrinya dekat dengan pria lain tetapi dirinya juga dekat dengan wanita lain bahkan sudah dinikahi dan memiliki anak.
Reza menarik lagi lengan Rara yang hendak meninggalkannya. "Aku belum selesai bicara."
"Kamu tidak perlu khawatir dengan kedekatanku dan Zayn. Kami hanya sahabat dan aku bukan penghianat. Aku bukan wanita yang suka selingkuh, apalagi dengan adik ipar," ucap Rara santai.
"Oh iya, di novel yang aku baca memang sering ada judul affair dengan kakak ipar, tapi sepertinya judul affair bos dengan sekretarisnya lebih banyak."
Deg
Entah mengapa malam ini banyak orang yang menyindirnya. Apa mereka sudah tahu tentang Noah?
****
Matahari kembali bersinar. Kali ini, Rara memasak untuk sarapan pagi. Ia pun sudah bangun lebih oagi dari suaminya, karena Kemal.memamg selalu bangun pagi-pagi.
"Kamu terlihat berbeda, Nak?" tanya Kemal yang melihat Rara tanpa lipstik dan rambut yang dicepol asal ke atas.
Sebenarnya walau Rara tak menggunakan gincu, bibirnya sudah terlihat berwarna merah muda. Namun, ia tetap tidak percaya diri di hadapan sang suami, ia ingin selalu berpenampilan cantik di depan Reza.
"Eh, iya. Maaf Pa. Rara tadi memang belum sempat mandi karena langsung ke dapur supaya makanan untuk sarapan cepat selesai." Rara menatap dirinha dari atas hingga bawah. "Rara jelek ya, Pa?"
Kemal memeluk bahu Rara dari samping, setelah menantunya menata rapih makanan untuk sarapan di meja itu.
"Justru, kamu semakin cantik, Nak. Natural."
Rara tersenyum. "Eum ... makasih Pa." Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Kemal.
__ADS_1
Sedangkan Kemal khawatir Zayn akan semakin tidak bisa terlepas dari pesona ini, karena Zayn memang menyukai Rara yang natural dibanding Reza yang selalu menuntut istrinya untuk tampil maksimal setiap saat.
Kemudian, Rara kembali ke kamar dan menyiapkan baju untuk suaminya bekerja.
Tak lama kemudian, Reza keluar dari kamar mandi. Ia menatap tubuh Rara yang tengah memunggunginya. Di sana Rara sedang berdiri menyiapkan baju itu dan ia letakkan di tepi ranjang
Reza kembali menghelakan nafasnya panjang. Sungguh ia sangat mencintai sang istri. Ia tidak ingin ada pertengkaran seperti semalam. Apalagi setelah itu Rara tidur dengan tidak menghadapnya sama sekali dan hal itu sangat menyesakkan dada.
Perlahan, Reza menghampiri Rara dan memeluknya dari belakang.
"Sayang, maafkan aku." Reza melingkarkan kedua tangannya pada pinggang itu dan meletakkan kepala di bahu Rara. "Aku tidak bisa didiamkan olehmu. Maaf kalau perkataanku semalam menyakitkan, itu karena aku terlalu mencintaimu."
Rara terdiam. Ia terenyuh dengan apa yang Reza ucapkan. Ingin sekali airmatanya turun, tapi ia tahan karena ia tak ingin Reza curiga.
Rara membalikkan tubuhnya. Ia menatap wajah lesu Reza.
"Tidak ada wanita yang aku cintai selain kamu," ucap Reza, lalu memeluk Rara.
Rara bisa merasakan cinta itu. Cinta yang besar dari sang suami untuknya. Ia pun teringat kata-kata Manda yang menjelaskan kesalahan sang suami malam itu hingga hadirnya Noah.
"Dia tidak pernah mencintaiku, Mbak. Aku juga tidak berani muluk-muluk mendapatkan cintanya, karena aku tahu dia sangat mencintai istrinya."
Seketika, Rara luluh saat ingat curhatan Manda waktu itu.
"Jika ada wanita yang menggodamu, apa kamu tidak tergoda?" tanya Rara.
Reza melonggarkan pelukan itu dan menatap kedua bola mata Rara yang bulat. "Apa aku bisa terpesona dengan wanita lain sedangkan milikku jauh lebih mempesona hingga para pria di luar sana menginginkannya."
Rara tersenyum.
"Kalau ternyata kamu tergoda?" tanya Rara lagi.
"Tidak akan," jawab Reza.
"Ini seandainya, Kak."
"Kalau pun seandainya itu terjadi, itu pasti karena kesalahan dan tidak benar-benar terjadi dalam kesadaranku, karena jika dalam sadar, cintaku adalah kamu, inginku adalah kamu," jawab Reza dengan sebenarnya.
Reza seolah lega saat menjawab pertanyaan aneh dari sang istri. Namun, entah mengapa ia lega setelah menjawab pertanyaan itu, seolah ia ingin memberitahu pada Rara tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Manda.
Sungguh ia menikahi Manda hanya karena sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab pada Noah putranya dan Manda yang telah rela mengandung serta melahirkan putranya. Untuk cinta, tidak ada rasa sedikit pun cinta pada Manda. Kalau pun mereka bermesraan di depan umum, itu hanya sekedar kewajiban dan rasa ibanya pada Manda yang sudah menjadi ibu yang baik untuk putranya dan menjadi istri yang baik untuknya walau hanya yang kedua.
__ADS_1