
Pagi ini Zac dan Zoey bersiap untuk sekolah. Ini adalah hari pertama mereka bertemu teman-teman baru. Mereka juga tidak akan menyangka ketika yang akan menjadi guru mereka dalah Miss cantik atau sebenarnya adalah wanita yang melahirkan anak kembar itu.
“Daddy yang akan mengantarkan kami ke sekolah kan?” tanya Zac.
Zayn, Michlell, Zac, dan Zoey tengah duduk di meja makan untuk sarapan.
“Iya, Sayang. Papa yang akan mengantarkan kalian ke sekolah, karena ini hari pertama kalian. Untuk hari berikutnya akan di antar jemput Michelle. Oke.” Zayn mengangkat ibu jarinya ke atas.
“Oke,” jawab Zac dengan gaya yang sama seperti sang ayah.
“Oke, Daddy.” Zoey ikut tersenyum dengan dua kuncir kudanya seperti biasa.
Zayn pun tersenyum dan mencium pucuk kepala Zoey yang duduk di sebelahnya, sementara Zac dudu di seberang Zayn di samping Michell.
“Oh, ya. Kapan kamu mulai kuliah Mich?” tanya Zayn pada adiknya.
“Kata Jack menunggu penerimaan mahasiswa baru. Dia menyarankan aku untuk ikut test perguruan tinggi negeri. Katanya jarak kampusnya tidak jauh dari sini.”
“Ide bagus. Memang kapan ujiannya?” tanya Zayn sembari menyuapkan makanan ke mulut.
“Tiga bulan lagi. Jack sudah menyiapkan guru les untuk persiapan menghadapi ujian itu.”
“Oke. Kapan kamu mulai belajar?” tanya Zayn lagi.
“Hari ini. Jack sudah mengatur semua jadwalnya.”
“Waw.” Zayn mengangguk. “Kau harus berterima kasih padanya, Mich.”
Michelle mengangguk. “Ya, ya. Aku akan berterima aksih padanya, kalau aku diterima di perguruan tinggi negeri itu.”
Zayn tersenyum dan menggelng. “Terserah.”
Usai sarapan, Zac dan Zaoey masuk ke dalam mobil sang ayah. Lalu, Zayn mengemudikan mobil itu ke sekolah yang sama dengan sekolah tempat Rara mengajar. Namun sayangnya, hari ini Rara sedang izin sehingga kelas Rara saat ini diisi oleh guru lain.
Dan, Zayn tahu itu, karena semalam Reihan bercerita tentang rencananya yang akan membawa Rara untuk menjemput ibunya yang baru saja kembali ke Jakarta. Atas dasar itu juga, Zayn berani mengantar kedua anaknya langsung ke sekolah ini, karena tidak ada Rara.
“Hei ada anak baru,” seru anak-anak yang sedang bermain di taman itu.
Zayn datang dengan membawa Zac dan Zoey.
“Mereka itu teman-temanmu.” Zayn menunjuk ke arah anak-anak seusia Zac dan Zoey tengah bermain ayunan, seluncuran dan permainan lain yang di sediakan di taman itu.
Arah mata Zac dan Zoey mengikuti jari telunjuk sang ayah.
“Assalamualaikum, Pak. Perkenalkan, saya Zahra kepala sekolah Taman Kanak-kanak Yayasan Salahudin Al Ayubi.” Wanita paruh baya itu menangkup kedua tangannya di dada.
Zayn pun menoleh dan melakukan hal yang sama. “Waalaikumusalam, saya Zayn ayah dari Zac dan Zoey.”
“Iya, kemarin Pak Reihan sudah bilang bahwa hari ini akan ada temannya yang menyekolahkan anaknya di sini.”
“Ya, benar. Ini anak saya Zac dan Zoey,” jawab Zayn lantang.
Wanita paruh baya itu langsung menunduk dan mengulurkan tangannya pada anak kembar Zayn. Begitu juga wanita yang ebrdiri di samping Zahra.
Lalu, Zac dan Zoey pun menyalami kedua wanita itu.
__ADS_1
“Wah, manis sekali, pintar,” ucap Zahra ketika Zac dan Zoey mencium punggung tangan kedua wanita itu bergantian.
“Oh, iya kebetulan hari ini biasa yang pegang kelas anak bapak sedang izin. Untuk hari ini kelasnya akan diganti oleh Bu Nur.” Kepala sekolah itu memperkenalkan wanita paruh baya yang sedari berdiri disampingnya.
“Oh begitu.” Zayn pura-pura baru tahu, padahal sebelumnya ia sudah tahu informasi ini dari si pemilik yayasan langsung.
“Untuk selanjutnya kelas Zac dan Zoey akan dipegang Bu Rara. Mungkin jika besok Pak Zayn mengantarkan anak bapak, akan bertemu Ibu Rara.”
Zayn tersenyum dan mengangguk. “Baik, bu. Terima kasih.”
“Ya, Pak. Sama-sama,” jawab Zahra.
“Ayo, Pak. Saya antarkan ke kelas,” kata Bu Nur, guru yang menggantikan Rara hari ini.
Zayn pun mengangguk dan menggiring kedua anaknya untuk mengikuti langkah kedua wanita itu.
Tap ... Tap ... Tap ...
Suara langkah kaki mereka yang tengah berjalan menuju kelas. Kedua wanita paruh baya itu pun menghentikan langkahnya setelah berada di sebuah ruangan yang dipenuhi oelh hiasan bunga dan gambar binatang-binatang lucu.
Zayn pun menghentikan langkahnya, membuat Zac dan Zoey yakin bahwa sidinilah kelas mereka.
Zayn berjongkok di depan kedua anaknya. “Daddy tinggal ya. Kalian belajar yang pintar dan Hmm...” Zayn mengunci mulutnya dengan gerakan seperti sedang meresleting bibir itu.
Ia meminta kedua anaknya untuk tidak banyak bicara, karena setahu Zayn, Zac dan Zoey itu anak yang cerewet dan sering kali ia lelah dengan beribu pertanyaan yang dilontarkan pada kedua kembar itu.
Zac dan Zoey pun mengangguk. Lalu mereka di bawa Bu Nur untuk masuk ke kelas dan memperkenalkan diri pada teman-temannya di sana.
Sepulang mengantarkan Zac dan Zoey, Zayn membeli bubur ayam yang katanya cukup enak di depan minimarket yang tak jauh dari sekolah kembar. Ia tersenyum ketika membawa bubur ayam dan kantong belanjaan di minimarket yang membeli buah, telur, dan es krim. Ia ingat bahwa Rara menyukai es krim, karena hingga sudah kuliah, Rara masih saja menyukai es krim dan yang membuat Zayn gemas, Rara masih saja memakan es krim itu dengan berantakan ke semua bibirnya.
Hanya butuh lima belas menit, Zayn sudah berada di dalam lift menuju kamar unit apartemen Rara sesuai yang dikirimkan Jack. Ia pun bertandang ke tempat ini sekaligus untuk menjemput Jack dan berangkat ke kantor bersama.
Ting Tong
Zayn menekan bel. Di dalam sana, Rara masih dengan tangtop dan celana pendeknya.
“Ih, siapa sih?” gerutu Rara karena saat ini ia masih berpakaian seksi.
Ting Tong
Bel kembali berbunyi, sedangkan Rara baru mengganti pakaian dengan piyama lengan panjang dan celana panjang yang bermotif polkadot hitam putih.
“Iya, sebentar.” Rara menggunakan jilbab langsung berwarna hitam yang tidak begitu panjang tapi tetap menutup sedikit dadanya.
Ceklek
Rara membuka pintu itu dan mendongakkan kepala. “Kamu.”
Dengan cepat Rara hendak menutup kembali pintu itu, tapi kaki Zayn lebih cepat mengganjal pintu yang hendak di tutup itu.
“Katanya sudah memaafkanku,” ujar Zayn.
“Ya aku kan sudah bilang. Aku sudah memaafkanmu tapi jangan harap hubungan kita akan sama seperti dulu,” jawab Rara dengan melipat kedua tangannya di dada dan membiarkan pintu itu terbuka.
Srek
__ADS_1
Zayn membuka lebar pintu itu dan masuk, lalu menutup pintu itu kembali. “Memaafkan itu tanpa syarat, Ra. Kalau kamu masih pakai syarat berarti belum memaafkanku.”
“Siapa suruh masuk? Keluar ngga!” pinta Rara dengan penuh ancaman tapi nada suaranya tetap saja tidak menandakan bahwa ia sedang engancam lawan bicaranya.
"Nggak." Zayn tersenyum dan menggeleng.
“Ish, kamu tuh ya. Muka tembok dasar.”
Tiba-tiba Zayn menyandarkan wajahnya pada dinding yang dekat dengan dirinya ebrdiri. “Berarti wajahku sama ama tembok ini!”
Rara menoleh melihat wajah Zayn yang dibuat innocent. “Ngga lucu.”
“Biarin. Kalau lucu mending aku jadi badut aja daripada photografer.”
Lalu, Rara mengerucutkan bibirnya.
“Oh, iya. Aku bawa makanan untuk kamu. Sarapan ya.”
Zayn meletakkan bubur ayam di meja mini bar itu dan memasukkan makanan yang ia beli di minimarket itu ke dalam lemari es Rara. Lalu, Zayn menggiring tubuh Rara untuk duduk. “Ayo duduk! Jangan sungkan anggap ini apartemenmu.”
Zayn mengeser kursi itu dan mendudukkan rara di sana. ia juga membuka bungkusan bubur ayam itu lengkap dengan alat makannya.
“Pasti kamu baru bangun tidur. Aku tahu, kamu kan suka tidur lagi kalau habis subuh. Jadi pasti kamu belum membuat coklat panas.” Zayn berjalan ke dalam kitchen set itu. “Aku buatkan ya.”
Rara hanya menopang dagu sembari melihat kelincahan Zayn di dapur. Sejak dulu, jika Rara sedang kesal, Zayn memang selalu bersikap seperti ini.Pria itu akan melakukan apapun untuk meluluhkan hati Rara agar suasana hatinya kembali normal.
Setelah mengaduk bubuk coklat yang sudah dilarutkan air hangat di gelas itu, Zayn menyerahkannya pada Rara. Lalu, ia ikut duduk di hadapan Rara yang sedang menyuapkan bubur ayam itu kemulutnya.
“Kamu ngga makan?” tanya Rara yang melihat Zayn hanya menyeruput kopi.
“Aku sudah sarapan.”
“Ck, ngebeliin orang makanan tapi sendirinya ngga makan.”
“Liat kamu aja udah kenyang,” jawab Zayn tersenyum.
“Ish apaan sih? Ngga jelas.”
Zayn tertawa. Lalu arah matanya berkeliling ke seluruh penjuru ruangan ini. Dan ... Ya. Ia menangkap sesuatu. Di antara jejeran foto yang Rara pajang di sana, ternyata ada foto dirinya. Zayn bangkit dari tempat duduk dan menghampiri foto itu.
“Kamu masih menyimpan foto ini.”
Rara pun langsung bangun dari tempat duduknya dan berusaha menghalangi foto itu. “Ish, jangan liat-liat Zayn.”
“Tunggu, aku mau lihat foto itu.”
“Ngga.” Rara berusaha mendorong tubuh Zayn agar menjauh dari meja itu.
Foto itu adalah Foto Rara berdua dengan Zayn saat remaja. Tidak tahu mengapa, ia ingin memajang foto itu. Foto yang sejak dulu memang ada di kamarnya, tetapi saat ia menikah dengan Reza, foto itu tidak diperkenankan Reza untuk ada di dalam kamarnya lagi.
“Jadi selama ini kamu juga merindukanku?” tanya Zayn dengan menatap kedua bola mata Rara.
Rara tak mampu menjawab pertanyaan Zayn. Ia hanya bisa menatap kedua bola mata itu juga. Ingin rasanya ia mengusir Zayn dari sini, tapi entah mengapa ia malah memilih diam.
Sepersekian detik mereka saling bertatapan, hingga Rara memutuskan pandangan itu dan beralih pada kursinya lalu melanjutkan sarapannya. Sebenarnya Rara masih marah pada Zayn, tapi tidak tahu mengapa ia tidak bisa galak pada pria yang telah merenggut kehormatannya itu.
__ADS_1