Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Pemandangan menyakitkan


__ADS_3

Keesokan harinya, Zayn sudah menunggu Rara di lobby. Sudah setengah jam ia menunggu tetapi sosok Cleopatra belum juga muncul. Rara terkenal orang yang tepat waktu. Oleh karenanya Zayn sudah berada di sini sepuluh menit sebelum jam sepuluh.


Zayn mondar mandir sembari menatap jam di tangan kanannya. Ia sudah berdiri tepat di luar lobby.


Selang beberapa detik, Rara terlihat berjalan cepat menuju masuk ke dalam area gedung itu.


Zayn tersenyum, memperhatikan langkah Rara yang semakin mendekat ke arahnya. Dari kejauhan Rara lun tersenyum ke arahnya.


"Zayn, maaf aku terlambat."


Zayn menghelakan nafasnya. "Aku udah keriting nih nungguin kamu."


"Maaf, Maaf, tadi aku bangunnya kesiangan."


Zayn langsung terdiam. Seketika senyum itu hilang. Ia tahu mengapa Rara kesiangan.


"Semalam Reza sangat gan ..."


"Udah ayo jalan!" Zayn langsung menarik lengan Rara menuju parkiran karena ia sudah menyewa mobil dan terparkir di sana. Ia sengaja memotong perkataan Rara yang ia tahu akan ke arah mana.


"Kamu sewa mobil?" tanya Rara.

__ADS_1


Zayn mengangguk.


"Tidak bebas kalau harus naik taksi." Zayn membukakan pintu untuk Rara. "Ayo masuk tuan putri!"


Zayn memang selalu memperlakukan dirinya seperti ini sejak dulu.


Rara tersenyum. "Terima kasih pak kusir."


Zayn ikut tersenyum, lalu msmutar menuju krsi kemudi.


"Destinasy pertama, kita kemana?" tanya Rara.


"Terserah kamu."


"Baik, tuan putri." Zayn langsung menyalakan mesin mobil menuju ke tempat yang Rara tunjuk.


Pagi tadi, Rara memang bangun kesiangan, karena semalam Reza benar-benar menggempurnya, membuat ia sedikit kuwalahan dengan hasrat sang suami yang cukup tinggi. Lalu, saat ia membuka mata, Reza sudah pergi dan hanya meninggalkan sarapan serta sepucuk.surat yang mengatakan bahwa ia harus berangkat pagi-pagi sekali.


Kini, Zayn dan Rara hendak memasuki komplek rumah Manda.


"Dimana rumahnya?" tanya Zayn.

__ADS_1


"Setelah ini, belok kiri."


Tiba-tiba Rara melihat sosok pria yang sangat ia kenal sari kejauhan. Sementara Zayn tidak melihat persis apa yang Rara lihat karena dirinya masih fokus dengan jalanan area komplek itu.


"Zayn, pelankan mobilnya," ucap Rara sembari tangannya menahan setir mobil.


"Kenapa, Ra?" tanya Zayn bingung dan menoleh ke arah Rara, tetapi Rara tak menjawab pertanyaan Zayn, sehingga ia hanya mengikuti arah mata Rara.


Di sana ia melihat Reza yang tengah mencium kening seorang wanita dengan mesra dan wanita itu tengah menggendong anak kecil. Ia juga mengecup pucuk kepala anak itu sembari mengelusnya dan tersenyum lebar. Terlihat mereka seperti keluarga harmonis yang bahagia.


Zayn menatap Rara dan pemandangan di depan itu bergantian. Ia pun menatap tangannya yang sedang di remas kuat oleh Rara, seperti tengah melampiaskan kekesalan. Ia tahu bahwa Rara sedang sakit hati.


Sesaat di dalam mobil itu hening, Rara dan Zayn hanya menonton keluarga harmonis itu, tanpa bersuara.


Hati Rara seperti di sambar petir. Ia tak mampu berkata-kata. Ini seperti mimpi, menyaksikan sesuatu yang tidak pernah ada dalam bayangannya. Di tambah ia mengenal sosok wanita dan anak kecil itu.


Arah mata Rara tak henti melihat pemandangan menyakitkan ini. Hatinya bergemuruh, hingga sulit untuk menelan saliva itu di tenggorokan. Rasanya seperti tercekik. Sakit, ini teramat sakit.


Ternyata kesamaan mata yang terdapat di diri anak kecil itu dengan mata sang suami bukanlah suatu kebetulan karena anak kecil itu, memang anak suaminya.


Rara mengedipkan perlahan matanya dan tiba-tiba airmata itu mengalir di pipi mulusnya tanpa suara.

__ADS_1


Zayn menatap kesedihan itu, kesedihan yang sama ketika ia mendengar penuturan Rara yang membalas cinta kakaknya.


Zayn langsung memeluk Rara yang masih terdiam mematung, karena Rara menangis tanpa suara, wanita itu diam dengan air mata yang terus mengalir.


__ADS_2