Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Ingin memilikinya karena cinta


__ADS_3

Setelah dua jam berada di mall, Reihan, Rara, bulan dan bintang menuju supermarket yang terletak di lantai paling bawah. Bulan dan Bintang sudah puas bermain dan mereka pun sudah menikmati makan siang bersama ayah dan guru kesayangannya. Tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah tempat ini, mengingat sepulang dari tempat ini, mereka akan membuat kue dengan Rara.


Dua puluh menit Rara ditemani Bulan dan Bintang mencari berbagai bahan yang diperlukan untuk membuat kue. Reihan pun setia menemani mereka. Reihan tampak bahagia melihat kedua anaknya yang bahagia bersama Rara.


“Mas, aku cari pembersih muka dulu ya di sana.” Rara meminta ke arah yang cukup kauh dari Reihan, Bulan dan Bintang, karena mereka tengah berada di peralatan sport.


Reihan mendampingi Bintang yang ingin membeli bola basket berserta ringnya. Kebetulan supermarket ini sangat besar dan menyediakan berbagai macam barang, dari mulai bahan makanan, alat rumah tangga, alat olah raga, dan lain-lain.


Rara berjalan menuju peralatan kosmetik dengan berbagai jenis merk. Di sana, Zayn juga tengah memisahkan diri dari Michelle, Jack, Zoey dan Zac.


Zayn tengah memilih pembersih wajah pria. Ketika Zayn menengadahkan wajahnya ke atas. Ia melihat Rara yang tengah berdiri, sepertinya Rara baru saja berjongkok mengambil barang yang ia butuhkan yang didiplay di rak paling bawah, lalu berdiri.


Rara masih menunduk memutar-muta benda yang ia pegang untuk membaca komposisi di dalamnya dan tanggal kadaluarsa.


Rara dan Zayn di apit oleh rak display yang tingginya sebatas dada Zayn dan se leher Rara. Zayn menatap lurus wajah Rara yang semakin cantik dengan penampilannya yang baru. Seketika bibir Zayn tersenyum, ternyata Rara memang bukan wanita manja dan lemah. Justru ketika dia diterpa badai, wanita itu semakin kuat. Zayn semakin terpesona pada Rara yang selalu membuatnya terpesona.


Sesaat kemudian, Rara tengah mengedarkan pandangannya lurus ke depan. Dengan cepat, Zayn berjongkok.Dada Zayn berdegup kencang. Akhirnya, ia bertemu lagi dengan Rara setelah ingatan wanita itu kembali. Sungguh, Zayn masih takut bertemu Rara. Ia masih khawatir Rara belum memaafkannya.


Lalu, Rara beralih ke display yang lain dan Zayn mengikutinya dari belakang. Rara berdiri di sebuah rak yang isinya tisu wajah dan kapas. Ia hendak meraih benda yang terletak di rak paling atas. Namun ia tak bisa menggapai benda itu.


Di belakang Rara, Zayn melihat wanita itu berjinjit dan mencoba meraih benda yang hendak ia ambil, tapi tetap tidak bisa digapai. Zayn tersenyum, lalu mendekati Rara dan mengambil benda itu dari belakang tubuh Rara.


Zayn mengambil benda itu dengan mudah dan memberikannya pada Rara.


“Terima ka ...” perkataan Rara terpotong karena melihat wajah si penolong itu adalah pria yang ia benci sekaligus yang selalu ia ingat.


Zayn tersenyum manis ke arah Rara. “Apa kabar?”


Zayn juga mengulurkan tangannya. Namun, Rara langsung membalikkan tubuh. Dadanya bergemuruh. Terdengar dag dig dug di dalam sana tak berhenti, hingga Rara memegang dadanya.


“Masih marah padaku?” tanya Zayn. “Aku minta maaf.”


Rara kembali membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan Zayn. “Mungkin kalau aku masih tetap amnesia, kamu tidak akan minta maaf.”


“Aku tidak diizinkan untuk minta maaf padamu dan aku juga tidak diizinkan untuk bertanggung jawab padamu.”


“BulSh*t.” Rara membulatkan matanya dan kembali membalikkan tubuhnya untuk pergi dari hadapan pria brengsek ini.


Namun, dengan cepat Zayn memegang lengan Rara untuk menahan kepergian wanita itu. Zayn masih rindu, masih ingin bersama wanita ini sebentar saja.


Rara menoleh lagi ke arah Zayn dan mengarahkan matanya pada lengan Zayn yang masih memegang lengannya sebagai isyarat untuk ddilepaskan.


“Lepas Zayn!”

__ADS_1


“Aku akan melepaskanmu, jika kamu mau memaafkanku. Aku mohon, Ra. Kamu bisa memukulku, menamparku atau apapun untuk melampiaskan kesalmu. Tapi, aku mohon, jangan diamkan aku!”


“Kita tetap tidak bisa lagi menjadi teman, Zayn. Kamu telah membuatku kecewa.”


“Aku tahu, Ra. Aku juga tidak akan berharap lebih. yang penting aku ingin mendengar bibirmu mengucap menerima maafku. Itu saja.”


Dada Rara naik turun. Semua rasa seperti campur aduk antara marah, sedih, dan rindu. Lama keduanya terdiam dan hanya saling bertatapan.


Ah, ingin sekali Zayn memeluk wanita ini, bahkan kalau bisa mencium lagi bibir ranum itu, karena apapun yang ada di diri rara begitu membuatnya tergoda.


“Apa?” tanya Rara menantang, karena tatapan Zayn seperti yang tengah ingin memakannya. “Ingin memperkosaku lagi?”


Zayn ingin sekali tertawa. Lalu, ia mengalihkan dengan tersenyum. “Tempat ini terlalu ramai.”


“Cih, dasar pria brengs*k.”


Zayn masih tersenyum. Wajah Rara yang sedang marah seperti ini, sangat mirip dengan Zoey, hanya saja Zoey versi anak kecil sehingga lebih menggemaskan.


“Aku menjadi pria brengs*k karenamu, Ra. Aku tidak pernah brengs*k dengan wanita lain selain kamu.”


“Zayn.” Mata Rara semakin membulat.


Zayn masih tersenyum dan menikmati wajah menggemaskan itu. Ia pun masih tetap memegang lengan Rara.


Zayn tak menghiraukan perintah Rara.


“Kamu ngga butuh dada aku buat menangis?” tanya Zayn.


Rara terdiam. Walau bagaimana pun saat-saat terpuruk dirinya waktu itu, ada Zayn yang haadir untuk menenangkan.


“Udah ngga penting.”


“Berarti aku juga udah ngga penting buat kamu?” tanya Zayn lagi.


Rara menggeleng dan mengalihkan pandangannya. “Ngga.”


“Kenapa jawabnya ngga lihat mataku. Berarti kamu bohong.”


“Zayn udah cukup. Aku mau pergi. Lepaskan tanganmu!” ucap Rara dengan suara yang tidak keras, padahal ia sedang marah.


Rara sangat lucu. Ia marah tetapi nada suaranya tetap lembut. Hal itu yang membuat Zayn selalu tersenyum.


“Bukan begitu cara mengancam orang. seperti ini.” Zayn memeragakan orang yang sedang marah. “Lepaskan tanganmu!” bentak Zayn membuat Rara tersentak.

__ADS_1


Rara menggeleng. “Ngga bisa. Suaraku bisanya seperti ini.”


Zayn tertawa. “Kalau begitu aku ngga akan lepaskan tanganmu.”


“Zayn,” panggil Rara kesal.


Zayn memajukan langkahnya hingga semakin dekat dengan Rara. “Mau memaafkanku?”


“Zayn, lepas!” Rara belum bisa menjawab permintaan Zayn, walau dalam hatinya, sudah lama ia memaafkan Zayn.


“Bilang kamu memaafkanku, Ra!” pinta Zayn lirih.


Rara menarik nafasnya kasar. “Baiklah. Tapi setelah ini, jangan ganggu aku!”


Zayn mengangguk.


“Aku memaafkanmu,” ucap Rara.


Lalu dengan cepat Zayn melepaskan tangan Rara dan berganti memeluknya. “Terima kasih, Ra. Terima kasih, Sayang.”


Sontak tubuh Rara membeku. Ia berdiri emmatung mendengar Zayn yang memanggilnya Sayang. rara kembali emngingat malam itu, dimana Zayn terus mengatakan sayang dan cinta padanya.


“Sudah,” kata Rara dengan tubuh yang tidak menerima pelukan itu.


Kemudian, Zayn pun melepaskan pelukan.


“Aku sudah memaafkanmu, jadi kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Anggap saja aku tidak pernah menjadi temanmu.” Rara berlari meninggalkan Zayn.


“Kamu salah, Ra. Justru hubungan kita tidak akan pernah berakhir karena ada Zac dan Zoey diantara kita,” gumam Zayn sembari melihat punggung Rara yang semakin menjauh.


Zayn sedikit mengejar Rara, karena ingin melihat terus punggung wanita itu. Lalu, Langkah Zayn terhenti saat Rara berada di tengah-tengah sebuah keluarga.


“Ra, kamu kenapa lari?” tanya Reihan yang melihat Rara terengah-engah saat menghampirinya dan kedua anaknya.


“Aku dari tadi mencari kalian tapi ngga ketemu, jadi sedikit lari,” jawab Rara berbohong.


“Aku ngga akan lari dari kamu, Ra. Justru malah aku yang akan ngejar-ngejar kamu,” ledek Reihan.


Di arah yang cukup jauh, Zayn melihat itu.


“Rara dan Reihan?” tanyanya dalam gumaman.


Zayn menarik nafasnya kasar.

__ADS_1


Apakah ia masih bisa menggapai Rara? Entahlah. Ia tidak ingin menggunakan Zac dan Zoey untuk memudahkan keinginannya memiliki wanita yang sangat ia cintai itu. Zayn ingin Rara menerimanya karena wanita itu juga mencintainya bukan karena sebuah tanggung jawab Rara sebagai ibu yang ingin memberikan keluarga utuh untuk Zac dan Zoey.


__ADS_2