
Rara terus memukuli lengan Zayn yang semakin terlihat kokoh. Tubuh Zayn yang sudah tinggi tegap, kini terlihat semakin atletis dengan rambut sedikit panjang dan dikuncir
"Aww ... sakit, Ra." Zayn terus berpura-pura merintih ketika pukulan tangan Rara yang lemah memukul lengannya.
"Kesel, masih kesel sama kamu pokoknya."
Zayn mendekap lagi tubuh Rara, agar wanita itu tak memukulnya.
"Kenapa kamu menghilang, Zayn? Lima tahun loh." Rara menunjuk kelima jarinya.
"Aku lagi betapa, Ra. Lima tahun baru boleh keluar goa."
Rara tertawa. "Terus dapet wangsitnya?"
Zayn pura-pura berpikir. "Belum."
"Terus kenapa udah keluar dari goa?"
"Karena hari ini aku disuruh ketemu kamu dulu."
Rara memonyongkan bibir. Berbicara dengan Zayn seperti berbicara dengan alien sejenis karena jika dengan Reza, Rara tidak lebay dan sekonyol ini.
Zayn tertawa. Kemudian, Rara memukul lagi lengan itu dan ikut tertawa.
Mereka masih berdiri di depan gedung hotel, karena Rara baru saja berjalan sedikit dari luar gedung apartemennya sedangkan Zayn baru keluar dari taksi dan hendak menuju hotel untuk check in semalam karena besok siang ia akan langsung ke lembang. Malam ini ia hanya ingin memoto indahnya kota kembang di malam hari.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Rara dan Zayn bersamaan.
Mereka pun kembali tertawa.
"Oke, ladies first." Zayn mempersilahkan Rara bertanya lebih dulu sembari berjalan menuju hotel.
"Aku check in dulu ya. Naroh ransel bentar."
Rara mengangguk dan mengikuti langkah Zayn.
Zayn memang hanya membawa ransel yang tidak terlalu besar. Sedangkan kopernya sudah di bawa oleh asisten beserta timnya langsung ke resort lembang, karena projek yang akan ia kerjakan kemungkinan memakan waktu yang cukup lama.
"Aku ada projek di lembang, Ra. Tapi pengen mampir ke sini dulu, karena projeknya baru mulai lusa," kata Zayn sembari menerima kunci kamar yang diberikan resepsionis.
"Oh, kebetulan banget ya," sahut Rara dengan kaki mengikuti langkah Zayn.
Mereka berjalan beriringan. Lalu, Zayn menoleh ke arah Rara dan Rara pun menoleh ke arah Zayn.
"Apa?" Rara membulatkan matanya, ketika tatapan mereka bertemu.
Zayn tersenyum. "Galak banget."
"Masih kesel sama kamu."
"Kan udah ada Kak Reza."
"Beda Zayn," sahut Rara keceplosan. Entah mengapa ia mengucapkan itu.
Tepat di depan pintu lift, Zayn menghentikan langkahnya. Begitu pun Rara.
"Apa yang beda?" tanya Zayn. "Oh, kamu pasti butuh aku karena Kak Reza sibuk dan kamu merasa terabaikan."
"Ngga gitu Zayn. Nggak." Rara menggoyangkan lengan Zayn.
Lalu lift terbuka dan Zayn membiarkan Rara masuk terlebih dahulu.
"Persahabatan dan cinta itu beda, Zayn." kata Rara.
Zayn terdiam dan menatap wajah Rara. "Persahabatan dan cinta itu beda tipis, Ra." ucapnya dalam hati.
"Kamu juga sepakat itu kan?" tanya Rara.
__ADS_1
Zayn hanya mengerdikkan bahunya.
"Udah ah. Sepertinya sejak jadi nyonya Reza, kamu semakin bawel."
Tring
Pintu lift terbuka tepat di lantai empat. Zayn keluar lebih dulu meninggalkan Rara. Namun, bibirnya tersenyum karena Rara mengejarnya. Sungguh, ia rindu momen seperti ini.
"Zayn, tunggu." teriak Rara.
Rara terus berlari mengejar langkah Zayn yang panjang dan cepat. Mereka berada di lorong kamar hotel untuk mencari nomor yang sama dengan kunci yang dipegang Zayn.
"Aww ..." Rara jatuh tersungkur karena kakinya berbenturan ketika berjalan cepat.
Sontak, Zayn langsung menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dan berlari cepat ke arah Rara.
Rara memang sering seperti, sejak kecil ia manja dan lemah, tidak pernah melawan ketika di sekolah ada yang menindas. Oleh karena itu, Zayn selalu menjadi perisai untuknya.
"Kamu ngga apa-apa?" tanya Zayn lirih sembari memberikan tangannya untuk membantu Rara berdiri.
"Jalan kamu kecepetan, Zayn."
Zayn menghelakan nafasnya. Jika seperti ini, biasanya ia akan menggendong belakang Rara karena tidak sabar menyeimbangkan langkah Rara yang seperti keong.
Zayn langsung berjongkok dan memberikan punggungnya. "Ayo naik sini!"
Rara tersenyum. "Ada ransel kamu."
Zayn melepaskan ranselnya dan mengaitkan di depan. Lalu, Rara menaiki punggung Zayn.
Hap
Zayn mengangkat kedua kaki Rara yang melingakr di belakang pinggangnya.
"Dasar manja. Emang sama Kak Reza ngga pernah diginiian."
Rara menggeleng. "Ngga berani."
Rara hanya nyengir. "Kalo sama kamu malu-maluin ya."
Rara tertawa geli, membuat Zayn ikut tertawa. Bersama Zayn, Rara seperti menemukan dirinya sendiri.
"Nah ini dia kamarku." Zayn menghentikan kakinya dan menurunkan tubuh Rara tepat di depan pintu kamar itu.
Zayn membuka pintu itu dengan kartu yang ia pegang tadi.
Bip
Pintu pun terbuka.
Zayn membuka pintu itu lebar dan membiarkan Rara masuk terlebih dahulu seraya berkata, "kamu belum jawab pertanyaanku. Ngapain disini?"
"Nemenin suami lah." Rara mendudukkan diri di depan cermin.
Sedangkan Zayn meletakkan barang bawaannya di tempat yang di sediakan. Ia juga langsung membuka ransel yang berisikan sedikit pakaian.
Rara melihat Zayn yang sedang merapihkan pakaiannya satu persatu dari ransel itu hingga semua tergantung.
"Makanya cari istri, supaya ada yang ngurusin kek gini-giniannya," celetuk Rara.
"Belum ada yang cocok," jawab Zayn.
"Aku kenalin sama temen aku, mau."
"Ogah. Nanti aku malah kepincut sama mak comblangnya."
"Dasar gila." Rara tertawa, begitu pun Zayn.
__ADS_1
Rara tahu bahwa pria ini memang senang sekali bergurau. Padahal Zayn menjawab pernyataan Rara dengan bersungguh-sungguh.
"Kamu dan Kak Reza tinggal di hotel ini juga?" tanya Zayn.
Rara menggeleng. "Tidak, aku di gedung sebelah."
"Oh, iya. Papa juga cerita kalau Kak Reza membeli apartemen di kota ini karena pabriknya ada di kota ini."
Rara mengangguk.
"Besok, Papa juga akan berangkat ke sini."
"Oh, ya?" tanya Rara dengan mata berbinar.
Zayn mengarah pada wajah Rara. Lalu, mengangguk.
"Katanya pabrik di sini sedang mengalami trouble besar dan Kak Reza butuh Papa untuk meminta bantuan."
"Iya, memang. Sekarang aja Kak Reza belum pulang. Setiap hari ke pabrik dan tidak ada libur sama sekali. kasihan sih," jawab Rara.
Rara sungguh polos, seharusnya ia yang dikasihani karena telah dibodohi tetapi malah mengasihani sang suami yang bekerja tanpa libur.
"Oh, pantes kamu bisa keluyuran," sahut Zayn.
"Cuma sebentar. Abis suntuk banget di apartemen sendirian." Rara berjalan menghampiri Zayn dan duduk di tepi tempat tidur itu.
"Mau aku bantu beresin, Zayn?" tanya Rara menawarkan diri karena sedari tadi Zayn sibuk sendiri.
"Telat, udah mau selesai."
Rara nyengir dan Zayn tertawa.
"Aaa ..." teriak Rara ketika ia mendudukkan benda keramat milik Zayn.
"Apaan sih Ra? teriaknya kenceng banget."
"Ish, aku mendudukkan sesuatu." Rara mengambil benda itu dengan jijik dan melemparnya ke arah Zayn sambil menutup mata.
Benda itu adalah segitiga pengaman milik Zayn yang berwarna biru.
"Halah kaya yang baru liat beginian aja, Ra." Zayn meledek Rara dengan mengarahkan benda itu ke wajah Rara.
"Zayn, apaan sih. Ngga sopan tau." kesal Rara menepis benda itu dengan mata yang masih tertutup.
"Iya, iya ... maaf." Zayn tertawa.
Rara hanya memonyongkan bibirnya. Mereka asyik bercanda dan bercengkrama ria.
Sementara, Reza baru saja sampai di apartemen. Sebelum tiba di depan pintu kamar apartemen miliknya, ia tersenyum sendiri melihat sepuket bunga yang berada di tangan. Ia membayangkan wajah Rara yang senang dengan pemberiannya ini.
"Sayang ..." Panggil Reza, setelah ia memasuki unit apartemennya.
Reza melepaskan sepatu dan beralih ke dalam unit ini.
"Sayang ..." panggil Reza yang langsung melangkahkan kakinya ke kamar. Namun ia tak menemukan sang istri.
Langkah Reza yang semula berjalan pelan, kini tergesa-gesa mencari istrinya. Ia beralih ke kamar mandi, ke balkon, ke dapur, tetapi tetap tak menemukan sosok wanita yang sangat ia cintai itu.
"Ra kamu dimana?"
Seketika rasa ketakutan itu muncul. Tiba-tiba ia merasa takut kalau Rara sudah mengetahui apa yang ia sembunyikan. Lima tahun Reza menjalani hidup dengan Rara dan penuh rahasia. Menutupi aib Rara dan sekarang selama tiga tahun terakhir ia menutupi aibnya sendiri. Namun, kini ia lebih takut jika aibnya sendiri yang terbongkar. Ia tak ingin kehilangan Rara.
Reza kalut. Ia langsung mengeluarkan ponsel.dan mendial nomor Rara.
Tut ... Tut ... Tut ...
Dering nada sambung di telinga Reza, beriringan dengan bunyi ponsel Rara yang berada di meja ruang televisi.
__ADS_1
Rara lupa membawa ponselnya saat keluar dari kamar ini.
"Sial, ponselmu kenapa tidak dibawa, Ra." gumam Reza kesal.