Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Say yes


__ADS_3

Kriiing


Bel sekolah Zac berbunyi. Semua anak-anak yang berada di kelas masing-masing tengah bersiap untuk pulang. Mereka berseru mengucapkan salam pada gurunya masing-masing di kelas itu, lalu keluar. Di luar sana, para orang tua atau pengasuh mereka sudah menunggu untuk menjemput.


Mulai sekarang, Zac tidak lagi di jemput Michelle karena Rara sendiri yang akan mengantar anaknya pulang.


“Mom, kita langsung pulang?” tanya Zac pada sang ibu ketika Rara tengah membereskan kertas yang berserakan hasil dari kegiatan belajar anak-anak didiknya hari ini.


Di kelas ini hanya tinggal ada Zac dan Rara. Zac mengerti, jika dalam kegiatan belajr ia akan memanggil Rara dengan sebutan Miss tapi ketika mereka hanya berdua, maka Zac akan memanggil Rara dengan sebutan Mommy.


“Sebentar ya, Sayang. Mommy rapihkan ini dulu.”


Zac mengangguk. Bahkan anak laki-laki itu berinisiatif untuk membantu sang ibu yang tengah membereskan kelas. Rara tersenyum melihat empaty sang anak. Lalu, ia mengelus pucuk kepala Zac membuat keduanya saling tersenyum.


“Anak Mommy pintar.”


“Zac juga sering bantu Daddy kalau Daddy lagi di rumah.”.


“Oh, ya? Bantu apa?” tanya Rara.


“Membersihkan mobil, atau tanaman Oma. Kami juga membereskan kamar kami sendiri setelah bangun tidur,” jawab Zac.


“Di suruh Daddy?”


Zac mengangguk. “Kata Daddy, ngga boleh malas. Kalau malas nanti Mommy ngga pulang-pulang.”


“Loh, kok bawa-bawa Mommy?” tanya Rara sembari tersenyum.


Zac mengerdikkan bahunya seperti orang dewasa. “Ngga tahu. Pokoknya kalau Zac berantem sama Zoey. Daddy ngancemnya selalu begitu.”


Rara tertawa. “Berarti kalau Mommy pulang, Zac ngga akan beresin kamar lagi setelah bangun tidur dan sering bertengkar dengan Zoey gitu?”


Zac menoleh ke arah ibunya. “Ya, tidak begitu juga sih, Mom.”


Rara pun tersenyum. Sepertinya Zayn mendidik anak mereka dengan baik. Rara bersyukur atas itu.


“Wah, seru banget!” tiba-tiba Bu Zahra, kepala sekolah itu menghampiri Zayn dan Rara.


“Eh, Bu Zahra.”


“Ini surat cuti kamu, Ra,” kata Bu Zahra.


Rara sedikit membungkukkan tubuhnya. “Terima kasih, Bu.”


Bu Zahra tersenyum dan mengelus kepala Zac. “Seneng ya, sudah ketemu Mommy.”


Zac tersenyum dan mengangguk. “Seneng banget, ternyata Mommy Zac, Miss cantik guru kesayangan.”


Keduanya pun tertawa.


“Pantes loh, Ra. Pas melihat Zoey itu aku seperti familiar. Ternyata anak cantik itu mirip kamu,” ucap Bu Zahra.

__ADS_1


“Ah, Bu Zahra bisa aja,” jawab Rara malu.


“Sepertinya masalah ini akan menjadi konsumsi publik, Ra.”


“Ya, tidak apa-apa, Bu. Sepertinya yang lain lambat laun akan tahu kalau Zac dan Zoey adalah anak saya, soalnya mereka akan memanggil saya Mommy di luar belajar.”


Bu Zahra mengangguk. “Ya, soalnya banyak guru yang tanya ke saya, karena hari ini mereka mendengar Zac memanggil kamu Mommy.”


“Iya, tidak apa, Bu. Katakan saja apa adanya. Saya juga tidak ingin ada yang ditutupi, karena faktanya saya memang ibu mereka.”


Bu Zahra kembali mengangguk.


Rara dan Bu Zahra berjalan beriringan menuju ruang guru bersama Zac. Sedangkan Zac kembali main di area permainan, ketika Rara masuk ke ruang guru. Sementara Bu Zahra kembali ke ruangannya.


Dari sekian guru yang berani bertanya langsung mengenai Zac yang memanggil Rara dengan sebutan Mommy adalah Bu Nur, karena kebetulan posisi tempat duduk Rara dan Bu Nur di ruangan itu bersebelahan.


“Jadi Pak Zayn itu?” tanya Bu Nur pada Rara.


Rara mengangguk.


“Ya ampun, Miss.” Bu Nur memeluk Rara.


“Tragis memang hidupku, Miss. tapi mau diapakan lagi. Mereka tetap anugerah terindah,” sahut Rara.


“Ya, benar.” Bu Nur mengangguk. “Jadi kapan peresmiannya?”


“Peresmian apa?” tanya Rara bingung.


“Entahlah, Miss. Tapi dia maksa minta minggu depan.”


“Waw, minggu depan saya kondangan dong.”


Rara tertawa. “Saya tidak mau ada resepsi, Miss. Malu sama umur. Lagian ini bukan pernikahan saya yang pertama.”


“Ya, ngga apa-apa Miss, secara Daddynya si kembar kan terkenal. Pasti banyak yang ingin tahu istrinya seperti apa?“ sahut Bu Nur.


“Ah, saya jadi malu pernah bilang Daddy Zac dan Zoey ganteng depan Miss Rara,” kata Bu Nur lagi sembari tertawa geli.


Rara pun demikian. “Emang iya, dia ganteng?”


“Ganteng lah, Miss. Say yes, Miss.”


Rara kembali tertawa. “So, Saya langsung bilang Yes gitu?”


Bu Nur mengangguk. “Demi Zac dan Zoey juga.”


Rara terdiam. Iya memang ingin merawat Zac dan Zoey dengan tangannya sendiri. Melimpahkan kasih sayang yang selama ini tidak di dapat oleh kedua anak itu. Namun, menjadi istri Zayn, rasanya ia masih tidak bisa, walau tak dipungkiri bahwa ada hati untuk Zayn, tetapi apa yang Zayn lakukan belum bisa hilang dari ingatan Rara. Tetapi, jika Rara menolak ajakan Zayn untuk menikah, ia tak ingin mengecewakan kedua anaknya. Apalagi jika ia sering menginap di rumah itu tanpa ikatan. Apa kata orang yang melihat?


Rara menarik nafasnya kasar. Entahlah? Ia pusing jika memikirkan hal itu. Tak lama kemudian, Rara pamit dengan Bu Nur dan mengajak Zac pulang.


****

__ADS_1


Di bandara, Zac tengah bersama Mirna dan Kemal. Kedua orang tua angkatnya itu sengaja datang lagi ke tanah air demi putra mereka. Kemal menuruti keinginan Reza yang ingin menetap di Bandung dan melepas perusahaannya yang berada di Jakarta. Dengan terpaksa, Mirna melepas usahanya di Paris dan menjual semua sahamnya pada Clara, karena kemungkinan Ia dan suaminya akan kembali menetap di sini.


Kemal dan Mirna ingin memberi support untuk Reza, karena seeprtinya Zayn sudah mendapatkan kebahagiaannya. Apapun yang sudah dilakukan Reza, Kemal dan Mirna tetap orang tuanya dan Anak-anak Reza dari Manda juga tetap cucu mereka. Walau hingga saat ini, mereka belum bisa menerima apa yang dilakukan putranya terhadap Rara, tetapi mau tidak mau mereka tetap akan menerima Noah dan bayi yang masih dalam perut Manda.


“Ma, Pa. Tunggu Ayah dan Bunda ya. Zayn janji sekalian menjemput mereka.”


Kemal dan Mirna mengangguk. Mereka berada di sebuah cafe yang berada di dalam bandara. Kemal dan Mirna sudah tiba satu jam yang lalu dan sesuai jadwal penerbangan, rencananya Sanjaya dan Mia tiba dua puluh menit dari sekarang.


“Mama mau pesan lagi?” tanya Zayn.


Mirna menggeleng. “Tidak usah, ini cukup, Nak.”


“Papa?”


“Tidak Zayn.” Kemal menggeleng.


Sepuluh menit lagi, pesawat Sanjaya dan Mia tiba. Zayn pun pamit pada kedua orang tuanya untuk menunggu orang tua Rara di pintu kedatangan.


“Mama sama Papa tunggu sini ya!”


Mirna dan Kemal mengangguk dan melihat putra bungsunya itu berlari keluar.


“Semangat sekali dia,” ucap Mirna tersenyum.


“Menjemput calon mertua,” sahut Kemal.


“Seharusnya, sejak dulu mereka menikah. Dulu, Mama sudah merasa bahwa pernikahan Rara dan Reza adalah salah,” kata Mirna lagi.


“Sudah lah, Ma. Semua sudah terjadi. Kita yang salah karena tidak pernah berkata tidak pada Reza. Sehingga apa pun yang dia inginkan harus dia miliki,” jawab Kemal sembari menghelakan nafasnya dan bersandar pada punggung kursi cafe itu. “Tapi sepertinya sekarang, Reza sudah berubah.”


Mirna mengangguk. “Semoga. Tapi pasti itu sulit, Pa.”


Kemal mengangguk. “Ya, pasti. Tapi dia memang harus belajar itu.”


Ya, Reza memang sedikit berubah. Ia tidak se angkuh dulu dan tidak meremehkan orang lain. Sebagai pemimpin perusahaan, Reza sering meremehkan bawahannya, mengomeli mereka di depan umum dengan kalimat yang pedas. Tapi, kini hal itu semakin meredam. Banyak yang berbeda dari Reza sekarang kecuali satu, cintanya pada Rara tidak akan berubah. Sikapnya pada Manda pun tidak berubah. Seeprti hari ini, Reza sudah tiba di rumah Manda sejak pagi tadi. Ia berangkat dari Jakarta pagi-pagi sekali untuk bertemu Noah. Semula ia ingin pergi ke pabrik, tetapi karena Noah merajuk, akhirnya ia main bersama putra sulungnya hingga siang dan kini ia baru bisa membuka laptopnya.


“Mas, makan siang sudah siap,” kata Manda setelah memasuki ruang kerja Reza.


Manda berdiri di depan meja kerja suaminya. Reza masih fokus dengan laptopnya. Ia tak menghiraukan keberadaan Manda yang tengah mengajaknya makan siang.


“Mas,” panggil Manda lagi.


“Oh, ya.” Reza abru tersadar akan keberadaan wanita itu. Lalu, ia berdiri dan meninggalkan ruangan itu dalam keadaan laptop yang masih terbuka dan menyala.


Reza langsung pergi meninggalkan Manda yang masih berdiri di hadapannya.


Setelah Reza keluar dari ruangan itu, Manda pun sedikit melihat ke arah laptop Reza. Ia penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya hingga sebegitu fokus dan tak mendengar seruannya.


“Mbak Rara,” gumam Manda.


Ternyata layar itu memperlihatkan media sosial Rara dan Reza tengah membuka foto-foto yang terpampang di media sosial itu. Foto yang isinya hanya tinggal foto Rara seorang, karena semua foto kebersamaan Rara dengan Reza sudah Rara hapus selepas palu sidang cerai diketuk.

__ADS_1


__ADS_2