Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Beruntung memiliki orang tua dan teman yang menyayangi


__ADS_3

Sepulang dari gedung pengadilan agama, Mirna dan Kemal langsung menuju bandara untuk kembali ke Paris. Selama satu bulan di Jakarta, Mirna sama sekali tak menemui Manda dan cucunya. Mirna pun masih belum menerima kenyataan ini. Ia masih belum menerima istri kedua Reza serta cucunya, sedangkan Kemal masih bisa bersikap bijaksana.


Sementara Rara dan kedua orang tuanya pulang ke rumah Sanjaya. Di sana, ketiga ibu-ibu rumpi plus Husna menunggu kedatangan Rara. Mereka datang ke rumah itu untuk memberi support pada teman sejawatnya di Yayasan.


Rumah Kemal yang berada persis di samping rumah Sanjaya, tampak kembali sepi dan hanya diisi oleh petugas keamaan serta maid yang membersihkan rumah itu.


“Rara.” Bu Ratmi langsung membentangkan kedua tangannya ketika melihat Rara turun dari mobil.


“Bu Ratmi.” Rara tersenyum dan berlari menuju keempat teman-temannya yang baik hati.


Rara dan Ratmi saling berciuman pipi. Kemudian, ia pun beralih pada Nayra, Widya, dan Husna.


“Ya ampun, repot-repot banget sih, ampe dateng ke sini,” ujar Rara terharu melihat kedatangan teman-teman sesama mengajar di Yayasan milik Reihan.


Hari ini adalah hari kerja. Rara sudah jauh-jauh izin hari ini pada Yasmin untuk menghadiri sidang perceraian terakhirnya. Yasmin sangat terkejut saat mengetahui kabar bahwa Rara dan Reza bercerai. Kepala sekolah Taman kanak-kanak itu adalah istri dari teman kerja Reza. Ia tahu betul keharmonisan Rara dan Reza, apalagi mereka cukup dekat dan sering bertandang ke rumah masing-masing.


Kabar perceraian Rara dan suaminya sudah tersebar seantero Yayasan milik Reihan, termasuk Reihan sendiri. Banyak orang yang tidak percaya akan hal ini, pasalnya Reza begitu manis ketika memperlakukan istrinya dan semua orang bisa menjadi saksi sikap manis Reza untuk istrinya itu.


“Ra, yang sabar ya,” kata Ratmi sembari memeluk Rara dari sisi kanan.


“Semua orang hidup psati ada ujiannya, Ra.” Nayra memeluk Rara dari sisi kiri.


Widya dan Husna ikut menganggukkan kepala, setuju dengan apa yang diucapkan Ratmi dan Nayra.


Rara tersenyum dan membalas pelukan dari sisi kanan dan kirinya. “Yap, betul.” Rara pun iktu mengangguk.


“Ra, ajak temen-temennya masuk dong, masa diluar aja!” ucap Mia pada putrinya.


Lalu, Rara mengajak teman-temannya ke dalam.


“Bu yasmin tadi titp salam, Ra. Katanya maaf ngga bisa ke sini karena anaknya lagi demam,” ucap Widya.

__ADS_1


Rara menghampiri teman-temannya sembari emmbawa nampan yang berisi makanan, sedangkan Bi Inah mengikuti langkah anak majikannya dengan membawa minuman dingin.


“Iya ngga apa-apa. Lagian ngapain sih pada repot-repot ke sini. emang ngga di tungguin sama suami-suami di rumah?” ledek Rara.


Widya, Nayra, Ratmi, dan Husna sengaja datang ke rumah ini setelah mereka selesai bertugas di Yayasan itu.


“Kalau aku sih ngga ada yang nunggu, Mba.” Sahut Husna.


“Ada lu yang nunggu,” ledek Widya.


“Siapa ih, ngaco.” Husna melengos dan emncomot kue yang disajikan Rara tadi.


“Itu, tukang cilok depan kosan Lu, Na. Katanya dia suka nungguin depan kosan.”


“Ya elah, dia mah emang dagang di depan kosan. Bukan nungguin aku, Mba Widya cantik jelita.


Kelima wanita itu tertawa, termasuk Rara.


“Aku seneng lihat kamu ketawa, Ra.”


Kata Nayra dan Widya bergantian.


“Kalau ngga punya anak, aku juga akan melakukan hal yang sama seperti kamu Ra,” kata Ratmi yang menjadi salah satu istri yang dipoligami.


“Bu Ratmi hebat,” sambung Rara.


“Bukan hebat, Ra. Tapi terpaksa. Ya mau gimana lagi, soalnya ada anak dan anak-anak butuh bapaknya. Aku ngga bisa egois dan melihat masa depan anak-anak hancur,” kata Ratmi lagi.


“Keputusanmu udah tepat, Ra.”


Rara mengangguk.

__ADS_1


“Oh iya, tau ngga, Mbak. Aku sering banget loh lihat mobil suaminya mbak ...”


“Mantan ...” seru Nayra dan Widya memotong perkataan Husna.


“Iya, mantan suami maksudnya. Halah, Pak Reza deh.”


“Eit, ngga boleh sebut merk, udah mantan soalnya,” sahut Ratmi.


“Ish, ribet.” Husna memonyongkan bibirnya.


“Ish, kalian nih. Kasihan Husna mau ngomong ngga jadi-jadi.” Rara tertawa begitu pun Nayra, Widya, dan Ratmi.


“Duh kasian, mau ngomong apa sih, Na?” tanya Nayra.


“Ck ... ngga jadi deh.”


“Dih ngambek,” sahut Widya.


“Yah, ngomong dong. Na,” kata Rara tersenyum sembari ikut mengambil kue camilan di depannya.


“Itu loh, Mbak. Aku sering lihat mobil mantan suami Mbak Rara di luar gerbang. Sepertinya dia mau liatin mbak Rara aja, karena ngga lama terus pergi.”


“Hoax, ra. Hoax. Jangan dengerin!” sahut Widya.


“Beneran?” tanya Rara.


“Beneran. Aku kenal banget mobil yang suka jemput Mbak Rara.”


“Dia masih belum move on sama kamu, Ra.” Kata Ratmi.


“Tapi kan dia udah punya istri dan anak, Bu.”

__ADS_1


“Yah, itu kan biologis doang, Ra. Tapi hati hanya dia yang tahu buat siapa? Dan aku yakin untuk hati, kamu yang menang, Ra.”


Rara terdiam dan berpikir. Ia tidak tahu bahwa selama ini Reza sering datang ke tempatnya mengajar hanya untuk melihtnya sebentar. Ia juga tidak tahu bahwa Reza kembali membuka akun media sosialnya hanya untuk menstalker sang mantan istri.


__ADS_2